ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 34 | Jangan sentuh wanitaku


__ADS_3

John lalu menoleh ke arah Sara “Aku akan membukanya di kamar. Tidak enak disini terlalu ramai” sambil berdiri untuk pergi ke kamar.


“Jika kalian ingin melihatnya juga, mari ikut aku ke kamarku” kata John sebelum pergi.


Sara yang penasaran segera ikut menyusulnya ke kamar John. Cindy dan Sasha saling menoleh, kemudian akhirnya juga menyusul mereka.


Di dalam kamar hotel John menaruh kotak tersebut di atas meja, sementara Sara, Cindy dan Sasha duduk di sofa tamu kamar tersebut. Kemudian John membuka kotak tersebut, sinar biru yang redup keluar dari dalam kotak tersebut.


“Permata?” teriak ketiga wanita itu hampir bersamaan, lalu berdiri untuk melihatnya lebih dekat.


John melihat permata itu berwarna biru gelap dengan aura yang cukup kuat, hanya dirinya yang bisa melihat aura tersebut. Ketiga wanita itu melihat permata seperti batu permata lainnya yang memantulkan cahaya biasa. Namun tidak dipungkiri permata tersebut tentulah cukup mahal harganya.


“Apakah ini salah satu dari permata itu John?” tanya Cindy yang mengingatkan tentang cerita permata yang dicari oleh ekspedisi mereka.


John menganggukkan kepalanya “Iya, ini salah satu permata itu. Mereka telah menemukan satu permata. Masih ada empat permata lagi yang belum ditemukan”


“Kalian membicarakan tentang apa?” tanya Sasha tampak kebingungan.


Cindy lalu menceritakan secara singkat tentang ekspedisi dan tujuannya kepada Sasha.


“Jadi, jika mereka menemukan pisau dan permata itu mereka akan..”sebelum Sasha melanjutkan kata-katanya John sudah mengedipkan matanya pada Sasha yang membuat Sasha tersadar dia hampir keceplosan mengungkap identitas John.


“Betul Sasha. Mereka akan membuat perubahan pemahaman pada dunia saat ini” lanjut John menutupi kalimat Sasha untuk menghindari keceplosan kata-kata Sasha.


“Betul. Jika memang benar permata dan pisau itu ada. Berarti penelitian selanjutnya tentu tentang keabadian, awet muda” sahut Sara bersemangat dengan mata berbinar melihat ke arah permata tersebut.


“Jika aku menjadi abadi dan awet muda, pasti banyak yang akan tertarik padaku” katanya selanjutnya sambil tertawa.


Sasha melihat ekspresi John yang sedikit mengernyit melihat antusias dari Sara tersebut.


John pun berjalan ke arah balkon di kamar hotelnya melihat kota Rusia di malam harinya sambil membawa segelas anggur. Pikirannya melayang ”Keabadian ini sesungguhnya akan membuatmu tersiksa Sara”


“Mengapa kamu tidak menceritakan identitasmu pada mereka John?” tanya Sasha dengan suara pelan yang berjalan mendekatinya


“Tidak untuk saat ini Sasha. Semakin sedikit yang mereka tahu, akan lebih baik untuk mereka” sahutnya


“Kamu lihat kan bagaimana manusia menjalani hidup mereka dengan bahagia, tanpa mereka tahu sesuatu sedang terjadi yang bermaksud menghancurkan kehidupan mereka”

__ADS_1


“Apa yang akan terjadi apabila mereka mengetahuinya? Tentunya mereka akan was-was, cemas dalam menjalani hidup mereka”


“Biarlah untuk saat ini, jangan membuat mereka cemas” senyumnya pada Sasha sambil menyesap anggurnya.


Aku sungguh kagum padamu John. Aku menjadi lebih mencintaimu, kata Sasha dalam hatinya yang membuat John terbatuk saat menyesap anggurnya.


“Kenapa John” tanya Sasha khawatir


“Ah tidak apa-apa” sahutnya sambil menyeringai kecil dan mengusap kepalanya.


“Mari masuk ke dalam, anginnya terlalu dingin disini” kata John selanjutnya.


Setelah mereka puas meneliti tentang permata itu, lalu ketiga wanita itu pun pamit untuk kembali ke kamar masing-masing.


John kemudian mengambil permata itu lalu menggenggam ditangannya “Aku seperti mengenal aura ini, tapi dimana?”


Kemudian John memejamkan matanya mengingat-ingat sesuatu, “Sara”. John lalu menelepon Sara.


“Sara, apakah kamu sudah tidur?” tanya John


“Belum. Kenapa John?” tanyanya.


“Kalungku?. Baiklah, aku akan membawanya kesana” sahut Sara yang penasaran


Tak lama kemudian Sara membawa kalungnya di dalam kotak ke kamar hotel John. Kemudian John membuka dan meletakkan kalung tersebut di atas meja disebelah permata tersebut.


“Oh. Kedua permata itu menjadi semakin bersinar. Ini?” kata Sara.


“Benar. Aku rasa kita telah menemukan permata yang kedua” kata John


Sara hanya melihat kedua permata itu apabila didekatkan semakin besar sinarnya, apabila dijauhkan semakin redup. Namun mata John melihat hal yang berbeda, aura kedua permata tersebut warna hijau dan biru semakin saling mengikat saat di dekatkan.


“Sara, aku harap kamu merahasiakan hal ini. Jangan memperlihatkan permata ini kepada orang lain siapapun itu, terutama Violet.” pesan John.


“Baiklah. Aku akan menyimpannya dengan baik” sahut Sara.


John merasakan banyak pertanyaan dalam hati Sara, namun dia tidak menjawabnya. Saat ini sebaiknya Sara jangan mengetahuinya dulu.

__ADS_1


“Lalu, apakah masih ada suatu hal yang lain?” tanya Sara sambil tersenyum genit dengan pipi merona merah memandang John.


Mata John berkedut merasakan gairah dan keinginan Sara, dengan gugup menjawab “Ti..Tidak ada lagi. Silahkan kembali”


Dengan wajah kecewa, Sara pun berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Namun sebelum dia pergi, tiba-tiba Sara berbalik merangkul John dan mencium pipinya. Lalu melepaskan rangkulannya seraya berkata “Besok aku akan kembali ke ekspedisi John”


John hanya bisa melihat Sara yang berjalan menuju kamarnya. Sejujurnya hatinya berdegup mengetahui perasaan Sara padanya. Namun John tidak tahu harus melakukan apa. Pengalaman hidupnya selama ini dipenuhi oleh kecemasan, pelarian, pertempuran, pengkhianatan. Tidak mudah baginya mempercayai siapapun selain para sahabatnya.


Namun saat ini dia mengenal sosok Sara, Cindy, Sasha yang memiliki karakter yang berbeda-beda namun penuh perhatian pada dirinya.


“Ah, aku harus memikirkan tentang permata ini. Sebaiknya pengamanan terhadap Sara makin diperketat” gumamnya.


Tiba-tiba telepon John berdering “Cindy”.


“Halo John. Apakah sudah tidur?” tanyanya


“Belum Cindy. Ada apa?”


“Bisakah menemuiku di bar di dekat hotel. Ada yang ingin aku sampaikan. Aku kirimkan lokasinya” kata Cindy


“Baiklah, aku akan menemuimu disana” sahut John sambil menutup telepon lalu berjalan menuju lokasi yang dikirimkan oleh Cindy.


Sesampainya di bar tersebut, John melihat Cindy sedang duduk sendirian didepan bar sambil meminum minumannya. John menatap Cindy yang sepertinya memikirkan sesuatu, lalu sebelum dia mendekatinya, tampak dua orang lelaki berjalan mendekati Cindy.


“Nona minum sendirian. Bolehkah kami menemanimu?” tanya salah seorang lelaki tersebut.


“Aku sedang menunggu seseorang” sahut Cindy tanpa menoleh ke arah mereka.


“Ayolah, temani kami minum malam ini” kata lelaki itu kembali sambil menarik tangan Cindy.


“Lepaskan. Aku sedang menunggu seseorang” kata Cindy sambil mencoba melepaskan tangannya.


Lelaki yang lain dengan cepat meraih pinggang Cindy dan memeluknya, membuat Cindy meronta hendak melepaskan dirinya.


Plak!


Cindy menampar wajah lelaki yang memeluknya hingga dia melepaskan pegangannya.

__ADS_1


Kedua lelaki itu pun geram, lalu mengangkat tangannya hendak menampar Cindy. Cindy menutupi wajahnya ketakutan, namun tamparan itu tidak sampai mengenai wajahnya. Cindy membuka tangannya melihat John berdiri didepannya memegang tangan orang yang hendak menampar wajahnya.


“Jangan menyentuh wanitaku dengan tangan kotormu” kata John dengan pandangan marah.


__ADS_2