
Pagi harinya, John terbangun dari tidurnya, mendengar teleponnya berdering. “Cindy”. Sekilas John melihatnya dan menjawab telepon “Halo”
“John, apakah kamu sibuk siang ini?” tanya Cindy diseberang telepon
“Tidak. Ada apa?” kata John sambil duduk mengusap wajahnya di tempat tidur.
“Maukah kamu menemaniku berbelanja?” tanya Cindy kembali
“Baiklah” kata John kembali
“Kemana aku harus menjemputmu?” tanya Cindy lagi
“Aku tinggal di apartement pelangi. Nanti aku share lokasinya” jawab John
“Baiklah, sampai ketemu nanti” lanjut Cindy kembali sambil menutup teleponnya.
Untuk menghindari identitasnya terbongkar, John meminta Jiro untuk memesankan suatu tempat yang sederhana untuk bisa dia tinggali selama di kota Terrace. Kemudian Jiro membeli apartement pelangi dan mengirimkan John untuk tinggal disana.
Sekitar pukul 10an sebuah mobil bentley berhenti di depan gedung apartement pelangi. Lalu turun Cindy dengan pakaian atas dress casual yang dikombinasikan dengan blazer dan bawahan jeans, membuatnya terlihat anggun dan smart.
John yang sudah menunggu sekitar lima menit lalu berjalan ke arah Cindy “Hai, kemana kita hari ini?” tanyanya.
“Ayo masuk dulu John, kamu akan tahu nanti” lanjut Cindy.
John lalu berjalan masuk ke dalam mobil dan duduk dikursi kopilot. Cindy lalu menginjak pedal gas bentley nya, kemudian mobil meluncur ke arah pusat kota.
Mobil kemudian memasuki areal parkir sebuah pusat perbelanjaan yang cukup ramai di pusat kota. Lalu Cindy menggandeng tangan John, yang membuat John kelihatan kikuk. Cindy tertawa kecil dalam hatinya memperhatikan pacar pura-puranya ini sambil berkata “Kita harus memainkan drama dengan maksimal kan? Siapa tahu nanti ada yang melihat kita ditempat ini”.
Mata John berkedut oleh kata Cindy, kepalanya jadi berat tidak tahu harus berkata apa. Tapi demi predikat aktor terbaik tahun ini, John mulai membiasakan diri dengan hal itu. Cindy lalu mengajak John untuk melihat-lihat toko-toko pakaian dan tas terkenal di pusat perbelanjaan itu. Hermes.
“Selamat datang nona Cindy” sapa seorang pramuniaga di toko tersebut. Sepertinya Cindy sudah sering berbelanja disana, sehingga semua pramuniaga disana tersenyum padanya. Salah satu pramuniaga disana segera berlari ke belakang menemui manager toko.
Dengan tergopoh-gopoh, manager toko itu berlari menuju Cindy.
__ADS_1
“Selamat datang nona Cindy” kata manager itu sambil menyeka keringat di wajahnya dengan sapu tangannya. “Ada yang bisa kami bantu” lanjutnya.
Manager itu sedikit menyipitkan matanya melihat tangan Cindy yang menggandeng John yang berpakaian sederhana. Beberapa pramuniaga toko mulai berbisik memperhatikan kedua tamu mereka itu. Namun John tidak terlalu memperhatikan tingkah orang-orang disana, dia hanya melihat sekeliling toko tersebut.
“Aku mencari satu set sepasang pakaian untuk makan malam” kata Cindy sambil malu-malu.
Kemudian mereka pun memilih dan mencoba sepasang pakaian untuk Cindy dan John.
“Hai Cindy” tiba-tiba sebuah suara datang menyapanya.
Cindy memalingkan wajahnya melihat pasangan setengah baya menghampirinya. “Bibi” sahutnya kemudian.
“Wah lama tak berjumpa, sepertinya kamu sudah semakin dewasa Cindy” kata lelaki setengah baya di sebelahnya.
“Ah, Paman. Iya hampir sekitar lima tahunan kita belum pernah ketemu” sahut Cindy kembali
“Inikah pacarmu Cindy?” tanya bibi Cindy sambil memandang John dari atas kebawah yang tetap santai mencoba ukuran pakaiannya.
“Eh iya bi, mari kuperkenalkan. John ini bibi Evelyn dan paman Howard” lanjut Cindy sambil menarik tangan John.
Evelyn pura-pura tidak melihat tangan John, lalu berlalu menarik tangan suaminya sambil berpura-pura melihat barang-barang di toko tersebut.
Memperhatikan hal tersebut, John hanya menghela nafas, namun dirinya tidak terlalu mempedulikan hal-hal seperti itu. Hanya Cindy yang merasa bersalah lalu meminta maaf kepada John.
Setelah memilih setelan yang sederhana namun elegan, Cindy dan John pun segera menuju ke meja kasir untuk membayar. Disaat bersamaan Evelyn dan Howard juga hendak membayar barang yang mereka beli. Sesampainya di kasir, Cindy mengeluarkan kartu kreditnya untuk melakukan pembayaran.
“Cih, jadi pria kok tergantung pada wanitanya. Malu jadi pria jaman sekarang hanya bisa memanfaatkan wanita” sindir Evelyn.
Wajah Cindy memerah, namun John terlihat cuek saja seolah-olah dia tidak mendengarkan perkataan Evelyn.
Cindy malas bertengkar dengan bibinya, lalu setelah membayar dia menarik tangan John lalu menggandengnya keluar toko, walaupun dia melihat tatapan aneh orang-orang didalam toko pada mereka.
“Jangan terlalu dipikirkan ya John, apa yang mereka katakan” kata Cindy.
__ADS_1
“Apa?. Oh, orang-orang tadi yah. Tidak apa-apa, tidak masalah bagiku” sahut John cuek
“Aku capek John. Kita cari makan yuk” pinta Cindy kemudian.
“Yuk.” jawab John singkat
Selama perjalanan Cindy lebih banyak berbicara daripada John. John hanya menjawab singkat namun tetap tersenyum melihat Cindy yang bersemangat. Mereka pun masuk ke dalam lift yang menuju ke restoran di lantai atas gedung perbelanjaan itu.
Tiba-tiba Evelyn dan Howard juga ikut naik ke dalam lift. Wajah Evelyn mendengus melihat John dan Cindy dengan hidungnya.
“Loh, kalian juga mau makan ya?” tanya Howard kepada mereka.
“Iya paman” jawab Cindy singkat dengan anggukan. Perasaan Cindy menjadi tidak enak bertemu mereka berdua lagi. Kemudian dia melirik ke arah John yang tetap cuek aja tidak terlalu memperhatikan.
Lantai tujuh belas merupakan puncak dari gedung perbelanjaan tersebut, ada sebuah restoran mewah “Heaven” yang dimiliki oleh seorang pensiunan tentara khusus yang dijuluki Daddy di kementerian tentara. Nama aslinya adalah Tom Smith, namun tidak ada banyak yang tahu nama tersebut.
Restoran ini memiliki beberapa ruangan khusus vip yang biasa digunakan untuk perjamuan orang-orang di kalangan kelas atas. Hanya ada empat ruangan vip di restoran berkelas bintang lima tersebut. Diamond, Gold, Silver dan Bronze room. Sesuai namanya Diamond merupakan kelas tertinggi di restoran itu, yang tentu saja harga dan pelayanan nya merupakan top services di restoran itu
Disamping keempat ruangan itu, restoran juga memiliki hall yang cukup luas untuk tempat makan yang orang biasa bisa ikut menikmati masakan disana.
Evelyn dan Howard segera memesan tempat untuk Gold di restoran itu.
“Maaf, room Gold dan Bronze kami sudah ada yang memesan. Hanya sisa Silver saja” sahut petugas di restoran itu.
“Kalau begitu, Silver saja sahut Howard kemudian.
Dia tidak berani memesan Diamond karena itu merupakan tempat paling khusus, hanya tamu penting dan atas persetujuan Daddy bisa memesan tempat itu.
Cindy terlihat kecewa mendengar pamannya telah lebih dahulu memesan tempat dan room vip lainnya semuanya sudah terisi.
“Tidak apa-apa, kita makan disini di hall saja Cindy” kata John melihat kekecewaan di wajah Cindy.
Mendengar kata John, Cindy menghela nafas lalu mereka pun mencari tempat duduk di hall itu kemudian memesan makanan.
__ADS_1
Saat menikmati makan siang mereka, tiba-tiba Cindy mendengar suara “Cindy kamu ada disini”
Cindy lalu menoleh ke arah suara itu dan menemukan Robert Pattison datang bersama teman-temannya. What a small world, pikir Cindy sambil tersenyum kecut melihat mereka yang datang menghampirinya.