
Tidak terasa sudah dua hari berlalu mereka berada di Turki, Cindy segera mengurus ijin dari universitasnya untuk mengikuti ekspedisi. Sedangkan Sara juga mengurus cuti kuliahnya untuk mengambil magang untuk penyusunan tugas akhirnya sambil ikut serta dalam ekspedisi.
Dalam dua hari, para peserta ekspedisi dari seluruh dunia sudah melebihi harapan penyelenggara, lalu merekapun membagi peserta menjadi lima tim A, B, C, D dan E. Agar Ken bisa satu tim dengan Sara dan Cindy, Ken lalu mengontak William, seorang jenius komputer untuk menghack jaringan new world.
Akhirnya Sara, Cindy dan Ken diatur dalam satu tim yaitu Tim E yang bersiap untuk menyusul menuju Rusia. Namun sebelum semua tim diberangkatkan, mereka akan mendapat pembekalan selama tiga hari di Turki dan terjun sehari di penelitian yang sedang berlangsung disana.
“John, ayo kita makan siang bersama” pinta Sara meneleponnya setelah melihat nama mereka keluar dalam daftar tim ekspedisi.
“Baiklah. Share lokasi kalian, aku akan segera menyusul” sahut John.
“Tuan, nama mereka bertiga masuk tim yang akan segera berangkat menuju Rusia. Lalu apa rencana tuan selanjutnya?” tanya Selena yang tengah berbincang dengan John.
“Rusia. Kebetulan sekali aku juga ingin berlatih disana. Apakah kita memiliki kontak di Rusia?” tanya John berikutnya.
“Ada tuan. Namanya Nikolai, mantan pasukan khusus Rusia dan pensiunan agen rahasia. Saya akan segera mengirimkan profilnya padamu” sahut Selena.
“Bagus. Tolong segera urus persiapan keberangkatanku ke Rusia melalui Croatia, Jerman, Belarusia dalam seminggu.” lanjut John untuk menghindari mata-mata lawan.
“Aku akan melalui jalur darat dari Belarusia menuju Rusia” kata John selanjutnya
“Baik tuan” kata Selena.
“Satu hal lagi, kirim agen kita untuk mengikuti kegiatan ekspedisi mereka di setiap lokasinya. Dan segera laporkan apabila mereka menemukan sesuatu disana” lanjut John
“Baik tuan” lanjut Selena yang segera mengerjakan semua perintah John.
John pun segera meluncur menuju tempat makan yang dishare oleh Sara.
Sebuah restoran di daerah Besiktas, tampak Cindy dan Sara tengah duduk menunggu kedatangan John. Mereka tidak menyadari bahwa Ken berada tak jauh dari mereka sambil memantau sekelilingnya.
John kemudian muncul dan mencari keberadaan Ken, lalu menganggukkan kepalanya setelah melihatnya. Ken lalu bergegas meninggalkan mereka dan kembali ke hotelnya. Saat melihat sekelilingnya, John menajamkan indra pendengarannya mendapati ada dua orang yang memperhatikan ke arah Sara dan Cindy.
Kemudian dengan santai dia mendekati ke arah dua orang itu yang lalu berpura-pura untuk tidak mempedulikan mereka. John pun tersenyum, kemudian menegurnya.
“Jika ingin menyampaikan sesuatu, katakanlah secara langsung. Tidak perlu bersembunyi” kata John kepada kedua orang tersebut.
“Maaf, siapa kamu?” tanya salah seorang dari mereka yang berpura-pura tidak mengenalinya.
“Katakan kepada Violet, tidak perlu memata-matai kami. Aku mengetahui keberadaan kalian dalam jarak 300 meter didekatku” sahut John sambil tersenyum yang membuat perubahan raut wajah kedua orang tersebut.
__ADS_1
Lalu John pun berlalu menuju ke arah restoran yang dituju, sementara kedua orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu melaporkan hal itu kepada Violet.
“Kemampuan yang luar biasa Araga” gumam Violet sambil tersenyum menerima laporan dari kedua orang itu.
“Baiklah, tarik semua mata-mata kita, tidak perlu lagi memata-matai mereka. Joli, persiapkan keberangkatan mereka segera setelah pembekalan” kata Violet
“Baik nona” sahut Joli
“Aku ingin lihat John, apakah kamu akan ikut dalam ekspedisiku” gumam Violet kembali.
Di restoran, Sara dengan semangat menceritakan tentang persiapaan dan pembekalan ekspedisinya. Juga tak lupa mereka menceritakan bertemu dengan Ken yang satu tim dengan mereka.
“John, Ken itu kelihatannya baik, gagah dan juga tampan. Senang rasanya ada orang senegara bersama dalam ekspedisi ini disamping Cindy” kata Sara seraya melirik John berharap dia cemburu.
John tetap dingin seolah-olah tidak mendengarkan perkataan Sara.
“Cindy, apa rencana mu selanjutnya di ekspedisi tersebut. Apa tujuan ekspedisinya?” tanya John yang malah bertanya pada Cindy dan membuat Sara cemberut.
“Dalam pembekalan, kami belum mendapatkan detail apa yang sedang dicari. Namun saat konferensi aku mendapatkan informasi dari Anthony, teman kuliahku dulu. Bahwa mereka sedang mencari pisau yang terbuat dari tulang manusia pertama” sahut Cindy
“Pisau?” kata John dan Sara hampir bersamaan.
“Pisau dan Permata” gumam John mengerutkan keningnya.
“Kenapa John, mengapa kamu ingin mengetahui tentang ekspedisi ini?” tanya Cindy yang penasaran.
“Iya. Kenapa juga tidak ikut sekalian mendaftar dalam ekspedisi ini John” timpal Sara.
“Seperti yang pernah aku sampaikan, aku merasa ekspedisi ini cukup berbahaya. Jadi aku tidak mau kalian berada dalam bahaya” sahut John.
“Kenapa John, apakah kamu mengkhawatirkan kami?” tanya Cindy menggodanya sambil mendekatkan tubuhnya dan merangkul lengan John.
Muka Sara memerah melihat sikap Cindy, dia pun tidak mau kalah.
“Apakah kamu suka sama kami?” timpal Sara sambil juga mendekat dan merangkul lengan John yang satunya.
Mata John berkedut, hidungnya meneteskan darah merasakan dua buah benjolan terasa di kedua lengannya. Kepalanya tiba-tiba pusing.
Anak-anak jaman sekarang terlalu blak-blakan secara spontan. pikir John
__ADS_1
“Ng.. anu, sebagai teman tentu saja aku khawatir pada kalian” sahut John sambil berusaha melepaskan rangkulan mereka pada kedua lengannya.
Cindy dan Sara pun cekikikan geli melihat tingkah John yang gugup.
“Kakak, jangan dimonopoli sendiri donk” kata Sara.
“Jadi adikku ingin berbagi?” kata Cindy sambil tersenyum pada Sara mengedipkan matanya.
John pun merinding mendengar pembicaraan mereka yang dibarengi gelak tawa Cindy dan Sara.
Setelah menyelesaikan makan mereka pun kembali ke rumah Selena.
Hari keberangkatan pun tiba, Sara dan Cindy bersiap untuk berangkat menuju Rusia kemudian diantarkan oleh John dan Selena menuju bandara Turki. Setelah keberangkatan mereka, John dan Selena mencari sebuah tempat untuk makan siang.
Baru saja duduk, John mendengar langkah tiga orang datang dengan bersenjata ke dalam restoran kemudian melakukan tembakan ke arah orang-orang didalam restoran terutama ke arah John dan Selena.
John dengan reflek melindungi Selena dari terjangan peluru. Mereka berdua pun jatuh ke lantai dengan berpelukan yang membuat wajah Selena merona merah.
“Kamu tidak apa-apa? tanya John
“Tidak apa-apa tuan” sahut Selena.
“Kamu tunggu disini” perintah John sambil membalikkan meja untuk melindungi Selena.
John lalu bergerak dengan cepat menyerang ke arah para penembak tersebut. Tak lama berselang dia pun sudah merubuhkan ketiga orang itu. John melihat sekelilingnya, tampak beberapa orang terluka parah. Kemudian John segera memberikan pertolongan pertama kepada mereka sebelum akhirnya ambulance dan polisi datang ke tempat kejadian.
Sebelum kedatangan petugas, John sudah mengajak Selena pergi meninggalkan tempat itu.
“Tuan, apakah mereka menargetkan kita. Siapa mereka?” tanya Selena
“Aku belum pasti. Tapi satu hal yang pasti mereka tidak ada hubungannya dengan Khaga. Dia tidak mungkin melakukan hal sia-sia yang bodoh seperti itu” sahut John.
Sesampainya di rumah, Selena membersihkan badan John dan mengeluarkan beberapa peluru yang menembus badannya.
“Apakah kamu punya kontak orang kepolisian setempat?” tanya John.
“Ada tuan” sahut John.
“Kontak dia dan selidiki siapa mereka dari informasi yang dikumpulkan polisi. Aku akan kembali ke tempat kejadian melakukan penyelidikan sendiri” lanjut John.
__ADS_1