ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 52 | Terimalah takdirmu


__ADS_3

Malam itu John merasakan matanya berkedip seolah-olah merasakan ada yang menyebut namanya.


Keesokan paginya John menelepon komandan Diego untuk mencarikannya informasi mengenai Daniel dan Pablo. Segera Diego mencari informasi tersebut lalu mengirimkannya kepada John.


“Kirimkan orang untuk memata-matai kedua orang ini” kata John kepada Diego.


“Siap tuan” sahut Diego sambil menutup teleponnya.


Kemudian Diego mengirimkan mobil ke hotel John untuk menjemputnya kembali dan mengajaknya ke kamp pelatihan pasukannya.


Aktifitas latihan mereka dilanjutkan seperti kemarin, dari pagi hingga malam dengan berbagai porsi latihan kecepatan, kekuatan dan pembangkitan aura melalui meditasi hingga pelatihan di malam hari.


“Kalian lanjutkan latihan seperti tadi selama seminggu ini. Aku akan kembali setelah seminggu, ada urusan yang harus aku selesaikan dulu” perintah John kepada Diego


“Siap. Kami akan berlatih sekuat tenaga” sahut Diego.


Kemudian dia mengantarkan John kembali ke hotel tempatnya menginap. Di dalam kamar, John merasa gelisah entah apa yang membuatnya tidak tenang. Dia lalu mengambil segelas minuman untuk menenangkan dirinya.


Tiba-tiba dia mendengar teleponnya berdering. “Luciana”


“Halo Luci” kata John.


“Hahaha.. Apa kabarmu John, kamu pasti tidak menduga aku yang menjawab telepon Luci” kata Daniel dari seberang telepon.


John terdiam dengan menahan amarahnya “Dimana Luci?”


“Jika kamu menginginkannya, datanglah ke rumahnya malam ini. Kami menunggumu disini” kata Daniel kemudian menutup teleponnya.


“Aku akan membunuhmu Daniel” gumam John sambil menghancurkan gelas ditangannya setelah menutup teleponnya.


Segera John bergegas menghubungi Diego untuk menjemput dan mengantarkannya ke rumah keluarga Lemann.


Saat mobil tiba di kediaman keluarga Lemann, bau darah tercium oleh John walaupun jaraknya cukup jauh dari dalam rumah. John mendengarkan suara orang-orang ketakutan di dalam rumah keluarga Lemann. Lalu mobil berhenti di depan rumah tersebut.


“Diego, persiapkan dirimu. Kita mungkin akan bertempur hari ini” kata John


“Siap tuan” sahut Diego sambil mempersiapkan diri mengeluarkan dua buah pedang dari bagasi mobilnya.


“Kamu tunggu aba-aba dariku disini. Tetap waspada” kata John kepada Diego


“Baik tuan” sahut Diego sambil mencari tempat bersembunyi dan waspada disekitarnya.

__ADS_1


John lalu berjalan ke dalam rumah, tampak di ruang utama dia melihat keluarga Lemann telah diikat disana bersama para pekerja di rumah tersebut. Mereka menggigil ketakutan sambil menangis.


John melihat banyak percikan darah di ruangan itu, tampak beberapa mayat bergelimpangan di lantai membuat John geram dan marah. Ini pastilah ulah vampire pikirnya.


“Hahahaha... Kamu sungguh berani datang kemari sendirian John. Sungguh laki-laki yang jantan” kata Daniel melihat kedatangan John.


“Dimana Luci? tanya Daniel


Lalu Daniel bertepuk tangan, kemudian keluar Pablo sambil menyeret Luciana dan Amelia yang terikat badannya memasuki ruang utama tersebut.


John melihat keadaan Luciana dan Amelia dari kejauhan dan merasakan bahwa mereka baik-baik saja. Kemudian dia melihat sekelilingnya, tidak terlihat orang lain selain mereka berdua Daniel dan Pablo.


“Apa yang membuat kalian berdua memiliki nyali hari ini untuk datang kemari?” tanya John dengan penasaran. “Apakah ini ulah kalian?” kata John sambil menunjuk ke mayat-mayat yang ada di lantai.


“Benar, ini ulah kami berdua. Hari ini kami akan menagih hutang kami berkali-kali lipat atas perlakuanmu kemarin” kata Daniel kembali


“Daniel, apa yang telah kamu lakukan. Kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu ini. Lepaskan kami” teriak Luciana


“Diam kamu ******!” sahut Pablo sambil menampar pipi Luciana yang membuatnya terpental jatuh.


Melihat itu John menggertakkan giginya geram “Jauhkan tanganmu darinya Pablo”


“Apa? Apa yang akan kamu lakukan jika aku melakukannya” kata Pablo sambil mencekik leher Amelia, lalu menjilat wajah Amelia dengan jijik.


“Aku akan melakukan ini” kata John sambil bergerak secepat kilat mencengkeram Pablo lalu melemparnya hingga membentur dinding.


“Apa?” teriak Daniel tidak menduga gerakan John secepat itu.


Pablo yang membentur dinding lalu bangun kembali kemudian menggerakkan badannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


“Kamu tidak akan bisa membunuh kami John. Sekarang ini kami lebih kuat dari sebelumnya” kata Pablo sambil menyeringai


Luciana yang wajahnya bengkak ditampar oleh Pablo terkejut melihat kejadian tersebut. Dia menyesali permintaannya kemarin agar John tidak membunuh Daniel dan Pablo sehingga menyebabkan kejadian ini terjadi dan menewaskan beberapa orang pekerjanya.


Amelia terkejut lalu menggigil mengingat kejadian yang dialaminya waktu ditawan di Inggris


“Vampire!. Mereka telah menjadi vampire!” teriaknya yang membuat orang-orang di ruangan itu menggigil ketakutan


Diego yang mendengar suara benturan akibat lemparan John tadi segera masuk dan menghampiri John dan menyerahkan pedang kepadanya.


“Rupanya kamu mengajak bala bantuan kemari” kata Daniel

__ADS_1


“Hahahaha.. tapi kamu tidak akan bisa menang hari ini. Aku lebih kuat dan cepat dari kemarin. Aku akan membunuh kamu dan membuat Luciana menjadi milikku” lanjutnya


“Diego, jaga para sandera. Jangan biarkan mereka mendekatinya” bisik John.


“Siap tuan” kata Diego.


John lalu melepaskan ikatan Amelia dan Luciana lalu berbisik” Ambil pisau ini untuk senjata kalian” kemudian dia menyerahkan dua buah pisau kepada Amelia dan Luciana.


“Percuma John, sebentar lagi kamu akan segera mati bersama mereka” kata Pablo.


“Terimalah takdirmu mati ditanganku” lanjutnya sambil bergerak secepat kilat ke arah John.


John melihat gerakan Pablo lalu dengan tiba-tiba dia memukul kepala Pablo dengan tinjunya. Pablo terkejut, kepalanya pusing hampir pecah lalu tubuhnya terpelanting.


“Ba..bagaimana bisa kamu melihat gerakanku. Kenapa kamu masih kuat?” tanyanya dengan gugup lalu menyeringai kesakitan karena kepalanya retak akibat pukulan John.


“Kamu pikir dirimu lebih kuat dariku walaupun sudah menjadi vampire?” kata John.


“Kamu lupa, bahwa aku telah membantai sarang vampire di Inggris kan” lanjutnya


Daniel dan Pablo tertegun, terkejut oleh kata-kata John. Mereka baru sadar, sebelumnya mereka telah menerima informasi tentang kejadian di Inggris, namun mereka tidak mempercayainya apalagi tentang vampire.


Tapi saat ini kejadian itu adalah nyata, mengingat diri mereka sendiri adalah vampire saat ini. Kemudian keringat dingin mulai mengalir di tubuh mereka, mereka pun ketakutan akan dibunuh oleh John.


“Aku tidak percaya kamu melakukan pembantaian itu sendiri John, kamu pasti mengajak bantuan yang banyak” kata Daniel berusaha menenangkan dirinya.


“Aku saksi matanya, aku melihat sendiri John datang dan membantai puluhan vampire disana” teriak Amelia.


“Kalau kamu tidak percaya, coba saja. Aku akan membunuh kalian dalam dua gerakan” kata John yang membuat Pablo dan Daniel menggigil.


“Bersiaplah” kata John lalu dengan cepat bergerak ke arah Pablo. Pablo tidak bisa melihat kecepatan John, dan tanpa terasa sebilah pedang telah menembus jantungnya hingga ke dinding.


“Si..Sialan” kata Pablo mengucapkan kata terakhirnya sebelum mati. Kematian Pablo membuat Daniel mundur hendak melarikan diri.


“Kamu pikir dirimu bisa melarikan diri?” kata John kemudian menghadang Daniel di depannya.


“Si..Siapa kamu sebenarnya. Apakah kamu juga vampire?” tanya Daniel


“Aku adalah malaikat pencabut nyawa kalian” kata John tanpa basa basi langsung bergerak secepat kilat ke arah Daniel dan menusuk dadanya.


Daniel tidak mempercayai apa yang dilihatnya, dia sudah menjadi lebih kuat dan cepat, namun masih tetap dikalahkan oleh John.

__ADS_1


“Ini tidak adil” katanya menyesali dirinya untuk terakhir kalinya.


Lalu John merobek dada Daniel hingga darahnya berceceran dari jantungnya yang pecah. Sungguh tragis. Mata Daniel menatap John sebelum redup, dirinya tidak rela kematian ini.


__ADS_2