ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 37 | Aku malaikat maut yang menjemputmu


__ADS_3

“Bagaimana menurutmu orang itu Luci?” tanya Amelia selanjutnya


“Orang itu tidak sederhana walau penampilannya sangat sederhana” sahut Luciana


“Sudahlah, mari kita berbincang. Sudah lama kita tidak bertemu” lanjutnya.


“Baiklah, mari kita berbincang di hotel tempatku menginap sambil makan malam bersama” sahut Amelia kembali.


Lalu mereka berdua pergi menuju hotel tempat Lady Amelia menginap di kota Moskow.


Sasha mengendarai mobilnya mengantar John untuk kembali ke hotel tempatnya menginap. Dia tidak merasakan ada sebuah mobil yang membuntuti mereka, namun John menyadarinya.


Dengan indra pendengarannya yang tajam, John mengetahui ada Dimitri dan Yankov lah yang membuntuti mobilnya. Kemudian dia meminta Sasha untuk mengantarnya dan menurunkannya ke sebuah kedai makanan di dekat hotelnya.


Sasha yang tidak menyadari sesuatu berpamitan kepada John lalu meninggalkannya. John yang melihat mobil Dimitri berhenti tak jauh dari kedai tersebut tersenyum kepadanya, lalu berjalan mendekati mereka.


Dimitri yang menyadari bahwa kehadiran mereka telah diketahui lalu turun dari mobil bersama Yankov dan pengawalnya Demian.


“Rupanya hanya gerombolan srigala yang mengikutiku” ujar John sambil menyeringai.


Demian yang hendak menyerang dihentikan oleh Yankov “Anak muda, mulutmu terlalu bau mencemari lingkungan disini”


“Tidak perlu tata krama untuk berbicara dengan srigala sampah” sahut John kemudian


Dimitri menggertakkan giginya “Orang ini terlalu kurang ajar boss”


Mata Yankov berkedut mendengar kata-kata John “Apa kamu sadar dengan ucapanmu anak muda. Apakah kamu tahu konsekuensi ucapanmu itu”


Yankov mengambil cerutunya yang kemudian dinyalakan oleh Dimitri, lalu menghembuskan asapnya ke arah John.


“Konsekuensi apa yang bisa aku terima? Apakah digigit srigala ompong?” tanya John yang tersenyum geli sendiri.


Dimitri yang sudah tidak sabaran segera berteriak “Hajar saja dia boss”


“Kamu tidak perlu mengajariku melakukan sesuatu Dimitri” sahut Yankov sambil memandang Dimitri dengan marah.


“Maaf boss. Aku hanya tidak suka dengan kelakuan orang ini” kata Dimitri


“Tahukah kamu bahwa kami menguasai sebagian besar wilayah hitam di Rusia. Bahkan pihak polisi dan pemerintah pun tidak berani gegabah bertindak pada kami” lanjut Yankov.


“Kalian terlalu lama duduk disana. Kini saatnya kalian direformasi” kata John.


“Hahahaha... mulutmu terlalu besar nak” kata Yankov sambil tertawa


“Memangnya kamu siapa?” tanya nya kembali


“Aku adalah malaikat pencabut nyawa kalian” sahut John dengan nada serius

__ADS_1


“Hahahaha.. kamu sungguh berani”


“Beri dia pelajaran Demian!” perintah Yankov. Demian lalu bergerak dengan cepat menuju ke arah John.


“Demian adalah mantan pasukan khusus yang sudah malang melintang di berbagai pertempuran. Mari lihat seberapa besar mulutmu dengan keberanianmu itu” kata Yankov sambil kembali menyesap cerutunya.


Demian kemudian mengeluarkan pisau komando dari balik pakaiannya, hendak segera menyelesaikan pertempuran ini. Gerakannya cepat menebas ke arah John.


Dimitri melihat kejadian itu bergidik “Nasib malangmu hari ini nak. Tahun depan akan diperingati kematianmu”


John hanya menyeringai mendengar kata-kata Dimitri. Dia menghindari setiap tebasan dari Demian, seolah-olah mempermainkannya.


Demian yang tidak banyak bicara menambah kecepatannya dan menyerang John dengan bertubi-tubi.


“Cukup sudah” teriak John lalu menampar wajah Demian


Plak!


Demian terbang setelah menerima tamparan dari John, lalu menabrak mobil yang mereka tumpangi. Lalu dia muntah darah dengan menggigil ketakutan sambil memegang wajahnya yang bengkak.


Dia merasakan tamparan sederhana dari John seperti sebuah truk yang menabrak ke badannya. Dengan susah payah dia berusaha untuk bangkit namun kakinya lemah tak berdaya.


Dimitri dan Yankov yang melihat kejadian itu menganga hingga cerutunya terjatuh. Wajah mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


John lalu mendekati Yankov dan menepuk wajahnya, “Srigala tua, pergilah dari sini. Nikmati masa tuamu dengan baik.”


“Kalian tidak mendengarkan kata-kataku dengan baik” kata John menghentikan langkahnya.


“Kamu memang pandai bertarung, tapi apakah kamu bisa menghindari peluru ini” kata Yankov selanjutnya.


John membalikkan badannya “Jika kamu berani menarik pelatuknya, aku berjanji kamu tidak akan bisa melihat matahari esok”


“Kamu mengancamku? Kamu tidak melihat situasi ini? seringai Yankov.


“Kamu pikir aku takut menarik pelatuk pistol ini? Aku sudah malang melintang di dunia hitam dengan darah ditanganku ini” kata Yankov dengan bangga.


“Hahaha.. kamu hanya semut dimataku” sahut John sambil berjalan perlahan mendekati Yankov.


“Sialan. Kamu memaksaku” sahut Yankov sambil menarik pelatuk pistolnya dengan klik.


John bergerak lebih cepat, lalu menampar Dimitri hingga terpental menabrak pohon disekitar kemudian pingsan.


Yankov yang menarik pelatuk merasakan tidak bisa menggerakkan tangannya karena tangan John sudah menahannya terlebih dahulu. John lalu merampas pistol ditangannya dan menghancurkannya.


“Ka..kamu.. siapa kamu?” tanya Yankov yang saat ini sudah menggigil ketakutan melihat kecepatan John.


“Aku sudah katakan, aku malaikat maut yang akan menjemputmu. Aku sudah memberikanmu kesempatan, tapi kamu tidak memanfaatkannya” kata John sambil mencengkeram leher Yankov dan mengangkatnya.

__ADS_1


“Kamu tidak akan berani membunuhku” kata Yankov dengan gugup.


John tidak banyak bicara lagi lalu mematahkan leher Yankov, yang membuat mata Yankov tidak percaya bahwa lelaki dihadapannya memang malaikat maut yang mengantar kematiannya.


John tidak mempedulikan kejadian itu kemudian pergi meninggalkan mereka.


Sesampainya John di dalam kamar, sebuah telepon menghubunginya dengan nomor tidak dikenalinya. “Halo”


“Tuan, Apakah anda sudah tidur?” suara lembut dari seberang.


“Nona Luciana?” tanya John


“Iya, ini aku.” sahut Luciana di seberang telepon


“Ada apa menghubungiku nona?” tanya John.


“Jika tuan ada waktu besok, aku ingin tuan berkunjung ke tempatku. Aku ingin memperlihatkan koleksi permataku pada tuan”


“Baiklah, aku akan menemuimu besok” sahut John


“Kemana aku menjemput anda tuan?” tanya Luciana kemudian.


“Aku akan kirimkan lokasiku padamu” kata John sambil menutup teleponnya.


Luciana lalu menerima alamat hotel yang ditempati oleh John, kemudian dia merebahkan badannya di tempat tidurnya.


“Apakah kamu orang yang aku cari John?” gumam Luciana sambil menutup matanya.


Sementara itu di hotel lain tempat Lady Amelia menginap, Amelia sedang duduk termenung sambil menyesap anggurnya.


“Siapakah kamu. Mengapa kamu mengetahui tentang permata keluarga kami?” gumam Amelia sambil mempermainkan gelas anggurnya.


“Nona, kami telah mencari informasi peserta pelelangan hari ini” kata seorang laki-laki yang berdiri disamping Amelia.


“Katakan” sahut Amelia


“Nama orang itu adalah John Araga. Dia mendapatkan tiket masuk dari keluarga Romanov, dan datang bersama Sasha Romanov seorang agen rahasia Rusia.” sahut laki-laki tersebut.


“Agen rahasia?” gumam Amelia dengan wajah penasaran


“Apakah John ini juga seorang agen?” tanya Amelia selanjutnya


“Tidak nona. Dari informasi yang didapatkan, dia seorang arkeolog dan juga seniman gambar yang berasal dari Kanada” kata laki-laki itu.


“Hmm.. seorang arkeolog dan agen. Apakah ini ada hubungannya dengan ekspedisi new world itu?” kata Amelia dalam hatinya.


“Baiklah. Temukan informasi lebih lanjut tentang ekspedisi new world, apakah ada hubungannya dengan kedua orang itu” lanjutnya.

__ADS_1


“Juga hubungi orang yang bernama John ini besok, katakan aku mengundangnya kemari”


__ADS_2