ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 76 | Apakah aku harus memiliki tanduk dan sayap?


__ADS_3

Di dalam kuil, John duduk berhadapan dengan Guru Shu Wan yang sudah lama tidak pernah dia temui.


“Apakah sudah di mulai tuan?” tanya Shu Wan pada John


“Iya, aku sudah melakukan pembersihan sarang di seluruh belahan dunia.” sahut John


“Syukurlah, keberadaan vampire ini seperti pandemi, sangat berbahaya penyebarannya” kata Shu Wan kembali


“Aku juga menemukan murid-muridmu telah juga menyerang salah satu sarang vampire di China ini” kata John


“Aih, murid-muridku terlalu ceroboh. Kekuatan mereka masih jauh dari pasukan tuan. Aku sebenarnya ingin mereka bergabung dengan pasukan tuan. Tapi tuan baru hari ini muncul disini” sahut Shu Wan


“Aku memang memilih China sebagai tempat terakhir untuk mengembangkan pasukan. Karena aku percaya dari perguruan ini sudah bergerak bersamaku” sahut John dengan tenang.


“Hehehe... aku tahu pikiran tuan” sahut Shu Wan


“Oh ya, bagaimana dengan senjata tulang yang diwariskan di perguruan ini sejak lama?” tanya John


“Aku memberikannya pada Xiao Min. Coba aku tanyakan padanya” sahut Shu Wan


Shu Wan lalu memanggil Xiao Min yang kemudian masuk ke dalam kuil dengan sedikit gugup.


“Guru. Ada apa memanggilku?” tanya Xiao Min sambil melirik ke arah John dengan gugup.


Guru Shu Wan tersenyum geli melihat tingkah murid kecilnya ini.


“Xiao Min, dimana senjata yang aku berikan padamu itu” tanya Shu Wan


“Ini Guru” sahut Xiao Min sambil menyerahkan pisau tulang itu kepada Gurunya.


Guru Shu Wan mengambil pisau tersebut dan menyerahkannya pada John.


“Aku tidak menyangka pisau pemberian kakek padaku ini ternyata yang bisa membunuhku dan Khaga” kata John mengamati pisau tersebut.


“Benar tuan. Namun pisau itu baru akan bisa dipakai untuk membunuh kalian jika dilengkapi dengan kelima permata itu padanya” sahut Shu Wan


“Aku berharap Khaga tidak menemukan pisau ini. Karena saat ini kelima permata sudah berada di tangannya” kata John yang membuat Shu Wan menyipitkan matanya


“Apa? Khaga sudah mendapatkan kelima permata itu?” sahut Shu Wan terkejut


“Secara fisik belum lengkap, baru 4 yang dia pegang. Karena satunya aku tanamkan pada jantung kekasihnya untuk mengembalikannya menjadi manusia dari seorang vampire” sahut John


“Oh... Jadi jika Khaga ingin membunuhmu, dia harus membunuh kekasihnya dulu untuk mengambil permata itu kan?” tanya Shu Wan

__ADS_1


“Benar.” sahut John


“Ah, tuan terlalu sadis. Hehehe...” kata Shu Wan sambil terkekeh


“Bukan begitu. Aku hanya ingin Khaga memilih untuk mengurungkan ambisinya demi kehidupan kekasihnya” sahut John


“Apakah Khaga akan melupakan ambisinya demi seorang wanita?” tanya Shu Wan


“Aku berharap demikian” sahut John sambil menerawang kosong ke luar halaman kuil.


“Baiklah, karena kita baru bertemu lagi. Biarkan aku melayani tuan lagi di usia tuaku ini untuk berterima kasih padamu” sahut Shu Wan sambil berdiri hendak menyiapkan sesuatu


“Guru, biarkan aku muridmu yang melakukannya. Guru disini saja berbincang dengan tuan” Xiao Min berdiri hendak membantu Gurunya.


“Baiklah. Tolong buatkan makanan yang enak untuk kami makan” sahut Shu Wan yang kemudian duduk kembali


“Juga ambilkan botol anggur lama yang aku simpan khusus untuk menyambut kedatangan tuan” lanjutnya.


“Hahaha... kamu memang anakku yang sangat baik. Tapi sifat bermainmu tadi tidak pernah berubah” kata John


“Hahaha... itu karena aku tahu tuan tidak akan mati oleh senjata ku tadi” sahut Shu Wan sambil tertawa.


Mereka pun berbincang mengenang masa lalu bersama, sementara Xiao Min telah menyiapkan beberapa masakan yang lezat untuk mereka makan.


“Guru” Xiao Min melihat ke arah gurunya dengan wajah bingung.


“Aku sudah tua tuan, aku tidak bisa menjaga mereka. Jadi aku mohon bantuan tuan untuk menjaga murid-muridku ini” sahut Shu Wan.


John menyesap minumannya setelah selesai makan, dia melirik ke arah Xiao Min yang kemudian menundukkan kepalanya dengan wajah merah.


“Baiklah, aku akan menerima muridmu dalam pasukanku. Tapi ini pertempuran terakhir kami. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjaga mereka, sementara diriku sendiri juga menjadi sasaran utama mereka” sahut John


“Aku percaya padamu tuan” sahut Shu Wan


“Ah, kamu seperti itu lagi” kata John sambil mengambil cangkir minumannya kembali


“Kamu tahu aku tidak bisa menolak dengan wajah memelasmu itu” lanjut John yang di balas dengan senyuman Shu Wan padanya.


“Terima kasih tuan” sahut Shu Wan padanya


“Xiao Min. Selanjutnya kamu harus menuruti kata-kata tuan Araga” pesan Gurunya Shu Wan pada Xiao Min


“Ba... Baik Guru.” sahut Shu Wan.

__ADS_1


“Bahkan jika tuan memintamu untuk menemaninya tidur, kamu tetap harus menurutinya” pesan guru Shu Wan selanjutnya menggoda John dan Xiao Min.


Air dalam cangkir John tumpah dan dia hampir menyemburkan minum di mulutnya mendengar kata-kata Shu Wan. Sedangkan raut wajah Xiao Min menjadi merah karena hal itu.


“Guru!” teriak Xiao Min ingin protes


“Hahaha... Sudahlah, aku hanya bercanda” tawa gurunya Shu Wan kembali


Namun kata-kata itu sudah masuk dalam pikiran Xiao Min dan membuat hatinya menjadi kacau setiap melihat John.


“Sudahlah, aku akan segera pergi. Jika pertarungan ini berhasil aku menangkan. Aku akan datang dan tinggal disini untuk menemanimu hingga kamu terkubur nantinya” kata John sarkastik.


“Hahaha... baik tuan. Aku akan menunggumu untuk itu” sahut Shu Wan


“Guru, aku juga pamit untuk berkumpul dengan saudara seperguruan” sahut Xiao Min.


“Xiao Min, kamu pegang senjata ini. Simpan baik-baik bersamamu. Jangan memperlihatkannya pada siapapun” pesan John


“Baik tuan” sahut Xiao Min yang kemudian menyimpan pisau itu kembali


Ketika hendak pergi, Shu Wan berteriak pada mereka.


“Xiao Min, ingat baik-baik pesanku tadi” teriak Shu Wan


Wajah Xiao Min menjadi merah mendengarnya, karena pesan terakhir itu yang paling jelas diingat olehnya


“Dasar anak tua sialan itu” gumam John yang kemudian masuk ke dalam mobil bersama Xiao Min


“Mari kita kembali ke markas pasukanku untuk bertemu dengan teman-temanmu” kata John


“Baik tuan” sahut Xiao Min yang sudah memahami situasi dari penjelasan Gurunya.


Dalam perjalanan, John menutup matanya untuk sedikit beristirahat sambil memikirkan rencana selanjutnya. Namun Xiao Min diam-diam selalu melirik ke arahnya, seakan-akan ingin bertanya sesuatu.


“Katakanlah, apa yang ingin kamu ketahui” kata John padanya


“Tuan, benarkah anda abadi?” tanya Xiao Min yang ternyata masih belum mempercayai apa yang dilihatnya hari ini.


“Bukankah kamu melihat sendiri dia menembakku tepat didadaku dengan senjata api shotgun tadi?” sahut John


“Belum lagi kata Gurumu bahwa aku lah yang memang memungut dan merawatnya sejak dia kecil” lanjutnya


“Benar, tapi aku tidak melihat perbedaanmu dengan manusia normal lainnya.” sahut Xiao Min sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Apakah aku harus memiliki tanduk atau sayap di punggungku untuk membuatmu percaya?” senyum John padanya.


__ADS_2