
“Serang dia!” perintah Master Juan pada murid-muridnya
“Ternyata seorang master hanya mulut besar mengorbankan murid-muridnya” kata John yang kemudian bergerak cepat lagi merubuhkan mereka yang mengelilinginya.
Tidak ada hitungan menit, semua orang yang mengelilinginya sudah tumbang. Tampak hanya tiga orang yang masih berdiri disana. Daniel dan Pablo gemetaran ketakutan melihat bagaimana John menghajar semua teman-teman mereka.
Mata Master Juan berkedut, keringat dingin keluar dari tubuhnya melihat semua orang-orangnya berjatuhan. Namun sebagai seorang master dirinya tidak boleh terlihat lemah, harga dirinya lebih tinggi dari rasa takut.
“Kamu berani menganiaya murid-muridku. Apa kamu sudah bosan hidup?” teriaknya sambil mengepalkan tangannya.
“Aku tidak akan melepaskanmu. Hari ini tahun depan adalah peringatan kematianmu” lanjutnya dengan amarah yang meluap-luap.
“Sini maju, jangan banyak bacot. Atau aku yang maju” kata John sambil berjalan perlahan mendekati Master Juan.
Master Juan tidak punya pilihan, dihadapan kedua muridnya, harga dirinya lebih utama. Dia pun bergerak dengan cepat ke arah John. Kecepatannya sungguh luar biasa untuk orang setengah baya. Memang layak menyandang gelar master Jiu Jitsu pikir John.
John pun mencoba bermain-main dengannya menghindari setiap serangan Master Juan. Tak satupun serangan kilat master Juan bisa mengenai tubuh John. Dengan santai John menghindarinya, sesekali tubuhnya mundur, bergerak kesamping lalu melompat ke atas.
“Kamu hanya bisa menghindar. Jika berani lawanlah” teriak Daniel
Mendengar teriakan Daniel, John pun mengubah langkahnya dengan melompat ke belakang untuk mengambil jarak.
“Baiklah, jika kamu ingin aku membalasnya. Bersiaplah” kata John.
Lalu John bergerak lebih cepat dari master Juan, lalu memukul dadanya yang membuat master Juan terpental ke belakang menabrak pohon yang ada di halaman parkir rumah Luciana.
“Ini..Ini tidak mungkin” pikir master Juan. Dia tidak percaya serangan John sangat kuat seperti itu. Dia dengan susah payah berusaha berdiri lalu menyemburkan darah dari mulutnya lalu ambruk tertelungkup ke tanah.
Mata Daniel dan Pablo terbelalak, mulutnya menganga tidak percaya dengan kejadian ini. Ini seperti mimpi gurunya yang master level abadi tumbang ditangan John. Sungguh tidak dapat dipercaya.
Lalu John menoleh ke arah Daniel dan Pablo yang membuat jantung mereka berhenti berdetak.
“Bagaimana, apa kalian akan menyerang juga. Kalau tidak puas silahkan maju” tantang John
Dengan gemetaran Daniel dan Pablo merasa lemas dilututnya lalu terjatuh berlutut.
“Maafkan kami, tolong ampuni nyawa kami” kata mereka hampir bersamaan dengan gemetaran.
John kemudian mendekati mereka “Kali ini aku mengampuni kalian demi Luciana, aku tidak mau melihat dia bersedih kehilangan kawannya. Tapi lain kali jika kalian berani melawanku lagi. Aku akan layani tanpa ampun”
__ADS_1
“Pergi dari hadapanku, bersihkan tempat ini” perintah John.
“Ba..baik. Terima kasih” sahut Daniel dan Pablo sambil mengangkat teman-teman mereka yang masih bisa berdiri.
Lalu mereka semua sambil menggotong yang terluka ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Luciana dan Amelia yang menonton kejadian itu sejak awal dari dalam rumah berlari mendekati John.
“Kamu tidak apa-apa tuan?” tanya Luciana.
“Tidak apa-apa” sahut John.
“Benar, guruku tuan Araga adalah orang yang kuat” kata Amelia sambil merangkul lengan John yang membuat mata John berkedut merasakan sesuatu yang menonjol dari balik lengannya.
Wajah Luciana merona merah melihat kelakuan putri Amelia, namun dia hanya bisa tersenyum.”Syukurlah tuan”
“Berani sekali Daniel dan Pablo kembali menyerang dengan teman-temannya” kata Amelia sambil mengepalkan tangannya.
“Sejak di pesta mereka sudah berkelakuan aneh. Kenapa mereka menyerangmu tuan?” tanya Amelia polos
Luciana menutup matanya mendengar pertanyaan bodoh dari Amelia yang tidak sadar bahwa dia dan dirinya lah penyebab mereka menyerang John.
“Mari tuan aku akan mengantarmu kembali” sahut Luciana sambil mengajak John menuju mobilnya.
“Aku ikut” sahut Amelia yang juga masuk ke dalam mobil.
Luciana menghela nafas lalu bergegas mengantarkan John kembali ke hotelnya.
Di tempat lain, sebuah bar di kota Rio, Daniel dan Pablo sedang minum untuk menghilangkan kekesalannya atas kejadian pesta tadi. Mukanya merah menahan marah, “Sialan. Dasar tidak berguna!” katanya sambil membanting gelas minuman ke lantai
Seorang lelaki melihat kejadian tersebut dengan tersenyum, lalu berjalan mendekati mereka.
“Sepertinya kalian babak belur habis dipukuli oleh seseorang” ejek lelaki tersebut.
“Jaga omonganmu, aku sedang dalam hati tidak baik. Aku bisa membunuhmu karena kesal” sahut Daniel sambil menyesap minuman lainnya.
“Kamu tidak akan bisa membunuhku” kata lelaki itu sambil tersenyum
“Sialan. Orang ini tidak tahu diri. Aku pukul kamu untuk melampiaskan kekesalanku” teriak Daniel sambil menyerang lelaki itu
__ADS_1
Lelaki itu hanya berkelit ringan menghindari setiap serangan dari Daniel, hingga dia menarik leher Daniel dengan kuat lalu mengangkatnya.
“Lepaskan temanku” kata Pablo yang kemudian ikut menyerang lelaki itu.
Namun lelaki itu dengan sigap menghindar kemudian meraih leher Pablo dengan tangan satunya lalu mengangkatnya.
“Kekuatan yang luar biasa bisa mengangkat kami berdua” pikir Daniel sambil meringis menahan sakit di lehernya
Lelaki itu tersenyum “Kalian tidak bisa mengalahkanku, kalian sangat lemah” cibirnya.
Lalu lelaki itu menghempaskan mereka ke lantai bar, sambil tertawa “Dengan kekuatan seperti itu pantas saja kalian dipukul hingga babak belur. Hahaha... “
“Siapa kamu?” tanya Daniel sambil memegang lehernya yang sakit karena cekikan lelaki itu.
“Nanti kamu akan tahu siapa aku. Jika kamu ingin menjadi kuat, ikuti aku” kata lelaki itu sambil berjalan keluar dari bar.
Daniel dan Pablo saling berpandangan, dalam hatinya merasa ragu untuk mengikuti lelaki itu. Tapi mengingat rasa malu yang diterimanya hari ini dipukuli oleh John, dengan memendam dendam ingin membalas mereka pun mengikuti lelaki itu.
“Masuklah dalam mobil” sahut lelaki itu yang sudah berada dalam mobilnya
“Kita akan kemana?” tanya Pablo
“Kamu akan tahu nantinya” kata lelaki itu singkat.
Keraguan kembali muncul dalam benak mereka berdua. Lelaki itu lalu berkata lagi “Aku bisa membuat kalian lebih kuat. Kalau kalian mau, silahkan ikut naik ke mobil. Jika tidak, aku akan pergi”
Mengingat kekuatan lelaki itu, Daniel dan Pablo merasa mereka harus mengikutinya untuk bisa membalaskan dendam hari ini. Lalu mereka pun naik ke dalam mobil tersebut.
Mobilpun melaju di kegelapan malam menuju ke arah utara menuju pinggiran kota Rio, hingga berhenti di sebuah rumah yang cukup besar dekat perbukitan di sekitar hutan tropis.
Lelaki itu pun turun dari mobil lalu berjalan menuju rumah tersebut diikuti oleh Daniel dan Pablo yang waspada melihat sekelilingnya.
Lelaki itu tersenyum pada mereka “Mari silahkan masuk. Kita berbicara di dalam”
Kemudian mereka bertiga pun memasuki rumah menuju ruang tamu dan lelaki itu mempersilahkan mereka untuk duduk, lalu dia memanggil pelayan untuk menyediakan anggur untuk mereka.
“Perkenalkan namaku Guerra” kata lelaki itu sambil menyesap anggurnya
Daniel dan Pablo pun duduk sambil ikut menyesap minuman anggur yang telah disiapkan oleh pelayan.
__ADS_1