
“Kenapa harus di Turki?” tanya Sara saat duduk di kedai makanan dekat kampus
“Entahlah, mungkin penyelenggara memilih Turki karena Turki adalah salah satu tempat yang memiliki banyak peninggalan bersejarah di dunia” sahut Cindy
“Bolehkah aku ikut kesana?” pinta Sara.
“Ah, kamu kan sedang menyelesaikan tugas akhir. Kalau sudah selesai tentu kamu bisa ikut serta setelah menjadi salah satu arkeolog” jawab Cindy yang membuat Sara tersenyum masam.
Pasti kamu ingin bertemu dengan John disana, pikir Sara dalam hatinya yang cemburu.
“Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu untuk menyelesaikan tugas akhirku dengan cepat” kata Sara sambil cemberut.
“Ok adik manis, lakukan dengan semangat yah” kata Cindy dengan senyuman.
Sara tidak langsung menuju rumahnya, namun segera menemui profesor di ruangannya. Setelah mengetuk pintu, terdengar profesor mempersilahkan Sara untuk masuk.
“Profesor, saya dengar bahwa akan ada pertemuan arkeolog dunia di Turki. Bolehkah saya ikut serta pergi untuk menambah wawasan sebagai bahan penyusunan tugas akhir saya?” tanya Sara.
Profesor melihat keseriusan dalam ucapan Sara. Sara merupakan salah satu mahasiswanya yang berbakat dan sangat menyukai sejarah. Dan Sara merupakan salah satu murid favoritnya yang dia bimbing dalam tugas akhirnya.
“Boleh saja, Sara. Namun kami tidak bisa menanggung biaya perjalanan dan akomodasimu disana. Aku hanya bisa mengajakmu untuk ikut hadir di pertemuan itu nanti” kata profesor itu selanjutnya.
“Terima kasih profesor. Tidak masalah soal transport dan akomodasinya” sahut Sara dengan gembira sambil membungkukkan badannya.
“Baiklah. Aku berharap banyak padamu Sara. Kamu bisa mengambil banyak pengetahuan dan informasi dari pertemuan itu nanti” lanjut profesor kembali.
“Terima kasih profesor atas dukunganmu” sahut Sara kembali.
Kemudian Sara pun pergi dengan hati gembira. Dia menelepon kedua orang tuanya untuk minta ijin akan pergi ke Turki menghadiri pertemuan arkeologi disana untuk keperluan study akhirnya.
Tentu saja kedua orang tuanya mengijinkan anaknya pergi demi kepentingan study nya. Hal ini membuat semangat Sara naik lalu sesampainya di apartementnya dia mengerjakan tugas akhir nya dengan hati berbunga-bunga. Sesekali dia berhenti melamunkan dirinya berjalan-jalan di Turki dengan John. Sungguh romantis pikirnya yang membuat pipinya memerah.
Istanbul Turki, di pagi hari gedung Halic Kongres Center telah dipadati oleh para arkeolog yang datang dari seluruh penjuru dunia. Benar seperti dugaan John, penyelenggara pertemuan ini adalah New World Company yang berada di Turki.
Diluar halaman gedung tampak Cindy yang telah menghubungi John untuk bertemu, menunggunya di depan pintu gedung Halic. Beberapa kenalan Cindy melihatnya kemudian menyapa satu persatu dan saling berbagi informasi.
__ADS_1
Tak lama kemudian John muncul dengan penampilanya seperti biasa yang sederhana. Para arkeolog tidak terkejut dengan penampilan John, karena penampilan bukanlah hal yang menjadi perhatian utama para arkeolog.
Melihat kedatangan John, Cindy segera menghampirinya dengan hati gembira. Cindy setelan kerja namun tetap menampilkan keanggunannya.
“Akhirnya kamu datang juga John, mari aku ikuti aku masuk ke pertemuan ini” kata Cindy sambil meraih tangan John dan menariknya untuk masuk ke dalam gedung.
“Cindy. Kamu datang juga” tiba-tiba terdengar suara memanggil Cindy yang tak asing di telinganya.
“Anthony” teriak Cindy setelah menoleh dan melihat seorang kenalannya.
Merekapun berpelukan layaknya seorang kerabat yang telah lama tidak bertemu. John yang berada di dekat Cindy tidak terlalu memperhatikan hal itu, matanya sibuk mengamati sekeliling ruangan di dalam gedung itu.
“Ohya Anthony, kenalkan ini tunanganku, John.” kata Cindy sambil menarik tangan John.
“Tunangan?” kata Anthony sambil melihat John dengan menyipitkan mata.
Iya. Tunangan? pikir John pun sama sambil menoleh protes pada kata Cindy namun tidak dia ucapkan. Bukankah sandiwaranya sudah berakhir. Pertunjukannya hanya untuk kedua orang tua Cindy kan? Kenapa tiba-tiba berlanjut hingga kesini?
Tanpa memperdulikan protes John, Cindy tiba-tiba menginjak kaki John yang dibarengi tangannya menggandeng tangan John yang dibuat pusing olehnya.
“Kenalkan, aku Anthony Spencer. Aku salah satu anggota ekspedisi new world ini.” lanjut nya sambil mengulurkan tangannya.
“Aku John. John Araga” jawab John sambil membalas uluran tangan Anthony.
“Selamat datang di konferensi ini. Aku dan Cindy dulu adalah teman kuliah di universitas Harvard” lanjut Anthony sambil tersenyum.
Kemudian merekapun berbincang-bincang menceritakan masa lalu kuliah mereka serta menanyakan kabar teman-teman mereka satu sama lain. John hanya tersenyum mendengarkan pembicaraan mereka sambil sesekali melihat sekeliling ruangan konferensi tersebut.
“Anthony, kamu rupanya juga ikut konferensi ini ya” tiba-tiba terdengar suara yang mereka kenali.
“Profesor” kata Anthony dan Cindy hampir bersamaan begitu mereka melihat profesor universitas datang mendekati mereka berdua.
Namun hal yang tidak diduga oleh Cindy dan John adalah kemunculan Sara yang mengikuti profesor di belakangnya.
“Sara?” kata Cindy dan John hampir bersamaan.
__ADS_1
“Kenapa? Apa kalian berdua tidak senang melihatku datang?” tanya Sara sambil cemberut.
“Bukan begitu Sara” ucap Cindy yang merasa tidak enak hati.
“Kalian berbincanglah dulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan John” kata Sara sambil menatap tajam kepada John. Untuk sesaat John merasa ngeri dalam hidupnya, dia yang telah melalui hidup mati selama berabad-abad, tidak menduga akan merasa takut pada tatapan mata seorang wanita muda ini.
Namun John merasa lega, karena kedatangan Sara membuatnya bisa menghindar dari pembicaraan membosankan tentang masa lalu dan sejarah diantara para arkeolog itu.
John pun pergi mengikuti Sara yang menuju ke sebuah sudut di ruangan itu. Cindy hanya bisa melihat mereka berdua pergi dengan sedikit kecewa di hatinya. Kedatangan profesor membuatnya tidak bisa bebas untuk menemani John. Jadi Cindy hanya merelakan John dan Sara berlalu.
“Kenapa kamu bisa ikut kemari?” tanya John sedikit gugup
“Kenapa? Apakah aku mengganggu acara kamu dan Cindy?” balik Sara bertanya.
“Tidak” sahut John.
“Aku memiliki alasan sendiri untuk mengikuti pertemuan ini” lanjut John tanpa memberitahukan alasan yang sebenarnya.
“Kalau bukan karena janjiku pada kakekku. Aku tidak akan datang kemari” kata Sara sambil melipat tangannya dan membuang wajahnya.
“Janji apakah itu?” tanya John menggodanya
Wajah Sara memerah mendengar kata-kata John. Dia tidak berani mengucapkan bahwa dia berjanji menjadi istri John kepada kakeknya.
“Aku berjanji untuk menjaga dan mengawasimu” sahutnya berbohong kepada John yang dibalas dengan senyuman John.
“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Sara sambil memelototinya.
“Ah, tidak. Aku hanya tersenyum senang melihatmu saja” sahut John menghindari tatapan mata Sara.
“Mari masuk, kelihatannya mereka sudah akan memulai konferensi ini.” ajak John untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut
Sara pun mengiyakan dan berjalan mengikuti John masuk ke dalam ruang konferensi yang luas.
Di ruangan konferensi yang luas, terdapat layar yang sangat lebar hingga bisa dilihat dari bagian belakang ruangan. John duduk di deretan kedua dari belakang bersama Sara yang juga ikut duduk disebelahnya.
__ADS_1
Sementara Cindy duduk di deretan ketiga di depan bersama profesor dan kawan-kawan dosen utusan dari universitas harvard lainnya.