ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 45 | Inspeksi


__ADS_3

Ketika sampai di dalam kamar sebuah hotel di Rio, John lalu membuka kotak permata yang diberikan oleh Luciana padanya. Dia memperhatikan permata berwarna ungu ditangannya yang memancarkan cahaya aura berwarna ungu redup namun memberikannya perasaan nyaman dan hangat.


Aku tidak boleh memberikan permata ini pada Khaga untuk menghindari peperangan kembali. Khaga tidak akan melakukan serangan apabila belum memiliki senjata dan permata untuk membunuhku, pikir John


Kemudian John memutar teleponnya memanggil Jiro.


“Iya tuan, apakah anda sudah berada di Brasil?” tanya Jiro di seberang telepon.


“Iya, aku sudah di Rio.” sahut John


“Apakah kita memiliki markas disini?” tanya John kembali


“Ada tuan, saya akan meminta orang disana menjemput tuan” kata Jiro


“Bagus, berikan alamatku. Aku akan mengunjungi mereka” sahut John sambil menutup teleponnya


Jiro kemudian melakukan kontak pada anggota kelompok eternal di Brasil yang mengawasi kegiatan di wilayah Amerika Selatan.


Sekitar satu jam kemudian, muncul sebuah mobil di depan hotel. Seseorang berusia sekitar setengah baya turun dari mobil lalu berjalan ke arah lobby. Matanya tertuju pada John yang telah duduk menunggu di lobby hotel.


“Tuan Araga?” tanya orang itu


“Iya. Aku Araga” kata John


“Saya Diego, komandan kelompok eternal Brasil datang menjemput tuan” kata lelaki bernama Diego tersebut sambil membungkukkan badannya.


“Baiklah, mari kita berkunjung ke markas eternal” kata John


“Siap. Silahkan tuan” kata Diego sambil mengiringi John menuju mobil


Mobil pun bergerak menuju ke arah utara, keluar dari kota Rio menuju daerah terpencil di perbukitan Valadares.


“Tuan, di kota Rio kita memiliki kantor untuk bisnis eternal, namun lokasi markas perkumpulan berada di daerah perbukitan terpencil di Valadares.” kata Diego


“Disini tempat pelatihan para anggota perkumpulan dan pusat agen kita untuk wilayah Amerika Selatan” lanjutnya


“Ada berapa anggota kita di Brasil?” tanya John


“Hingga saat ini, kami telah mengumpulkan anggota sekitar 300 elit dan 50 agen mata-mata” sahut Diego.

__ADS_1


“Kami semua telah berkumpul hari ini menyambut kedatangan tuan di Brasil” kata Diego bersemangat.


“Baiklah, mari kita temui mereka” kata John


Mobil pun meluncur melewati hutan tropis menuju ke tempat yang cukup luas dengan bangunan tersembunyi di dalam hutan. Di depan bangunan terdapat pos penjagaan yang dijaga oleh lima orang penjaga yang memberikan hormat ketika mobil yang ditumpangi oleh John memasuki areal tersebut.


Tampak di depan pintu bangunan berdiri tiga orang yang melihat kedatangan mobil yang ditumpangi oleh John. Saat mobil mendekat, ketiga orang itu memberikan hormat dan mendekati mobil lalu membuka pintu mobil John


“Tuan, ini para jendral yang ada di kelompok kita di Brasil” kata Diego


“Ini Jendral Faron yang memimpin resimen tempur” kata Diego


“Siap. Jendral Faron menunggu perintah” teriak Faron dengan wajah tegas kemudian membungkukkan badannya


“Ini Jendral Lucio, yang memimpin resimen pedang” lanjut Diego


“Siap. Jendral Lucio menunggu perintah” teriak Lucio seperti Faron kemudian menundukkan badannya.


“Ini. Jendral Ana yang memimpin agen mata-mata” lanjut Diego


“Siap. Jendral Ana menunggu perintah” teriak Ana kemudian membungkukkan badannya


“Mari tuan, kita ke dalam markas untuk bertemu pasukan kita” kata Diego sambil mengantar John menuju ke dalam bangunan tersebut.


Mereka kemudian berjalan menuju sebuah ruangan yang sangat luas, dimana tampak ratusan prajurit dengan mengenakan pakaian seragam masing-masing resimen berdiri tegak begitu melihat John dan para Jendral memasuki ruangan.


Seluruh pasukan disana memberikan penghormatan pada John saat memasuki ruangan. Kemudian pasukan diistirahatkan, lalu John pun duduk di tepan mereka didampingi oleh Komandan Diego dan ketiga Jendralnya.


Ruangan hening, pasukan tegang dengan wajah tertegun karena baru pertama kalinya melihat wajah John secara langsung. Selama ini mereka hanya melihat John dari foto saja. Namun kini mereka melihat sendiri John yang tampak berusia sekitar dua puluhan berpenampilan sederhana.


“Para sahabat, sungguh hari yang berbahagia kita kedatangan tuan Araga di markas kita di Brasil. Kita telah lama mengenal beliau dari catatan dan fotonya, namun kini merupakan kehormatan bagi kita melihat langsung beliau hadir disini” kata Diego membuka pidatonya.


“Untuk itu, kita mohon agar tuan Araga dapat memberikan sedikit kata untuk kita disini” lanjutnya sambil mempersilahkan pada John.


John lalu berdiri dan memulai pidatonya.


“Para sahabat yang aku cintai, Aku Araga, kalian bisa memanggilku John. Aku tahu kalian semua sudah mengetahui identitasku dan tujuan aku membentuk kelompok pasukan seperti ini.”


“Kemarin aku mengaktifkan Salvation plan untuk kita bersiap. Hal ini dipicu oleh kejadian di Inggris dimana aku telah membantai sarang pasukan vampire milik saudara kembarku Khaga” lanjut John

__ADS_1


Pasukan yang mendengar hal ini, raut wajahnya berubah tegang dan serius mendengarkan setiap kata dari John.


“Untuk itu, dalam perjalananku kali ini, aku berkeinginan untuk meninjau kesiapan kalian dalam menghadapi peperangan yang mungkin tidak bisa kita hindari di masa mendatang” lanjut John dengan wajah muram


“Saudaraku Khaga telah membuat mahluk abadi dari hasil eksperimennya yang kita sebut vampire, namun mahluk itu masih memiliki kelemahan masih dapat kita bunuh dengan menusuk langsung ke jantung mereka.”


“Mahluk ini telah membuat sarang mereka di seluruh belahan dunia, namun gerakan mereka tersembunyi dan dilakukan pada malam hari. Kita harus tetap waspada akan pergerakan mereka. Mereka hidup dengan meminum darah untuk memperpanjang hidup mereka. Beberapa kasus kehilangan dan pembunuhan mungkin terkait dengan mereka.”


“Jadi, kita harus bersiap untuk menghadapi mereka di masa mendatang” lanjut John


“Selama dua minggu ini, aku akan memberikan kalian pelatihan khusus untuk meningkatkan efektifitas tempur kalian. Kita akan melakukan latihan di sore dan malam hari, untuk melatih kemampuan tempur kalian saat perang terjadi pada malam hari” lanjut John


Setelah mengakhiri pidatonya, pasukan pun diistirahatkan. Lalu merekapun makan bersama yang selanjutnya berupa tanya jawab dan perbincangan bebas.


Saat tanya jawab, seorang prajurit bertanya “Tuan Araga, bolehkah kami melihat langsung kekuatan tuan agar kami bisa belajar”


“Lancang! Apakah kamu menyangsikan kekuatan tuan Araga” teriak Jendral Lucio kepada prajurit nya yang bertanya


“Tidak.. Tidak berani” jawab prajurit itu


“Tidak apa-apa Lucio.” sahut John sambil tersenyum


“Kalian semua perhatikan baik-baik. Aku akan memperlihatkan sedikit tata cara pengolahan nafas dan membangkitkan kekuatan diri kita” kata John sambil berjalan ke depan.


Kemudian John berdiri di depan sambil tersenyum menarik nafas lalu meledakkan kekuatan auranya. Angin berhembus dengan kencang menyapu sekitarnya berdiri, beberapa prajurit yang tidak kokoh berdiri terpental oleh hembusan angin tersebut.


Para Jendral dan Komandan terdorong kebelakang beberapa langkah, kursi dan meja terpelanting. Tanah yang dipijak oleh John terbelah oleh tekanan kekuatannya.


Pasukan yang melihat kejadian itu berdecak kagum, tidak percaya dengan kekuatan Araga.


“Ini hanya kekuatan sebesar 20% saja” kata John yang membuat orang disana ternganga olehnya.


Bagaimana jika 100%, apakah bangunan ini masih akan berdiri disini pikir mereka.


“Sekarang perhatikan gerakanku” kata John yang kemudian menghilang dari hadapan mereka.


Kemudian mereka mendengar langkah kaki John dan desirang angin di berkeliling ruangan. Mata pasukan tidak bisa melihat langsung gerakan tersebut, lalu John berhenti tepat di tengah-tengah pasukan diantara barisan mereka.


Pasukan sekitarnya kaget dan terjatuh oleh kehadiran John yang tiba-tiba muncul diantara mereka.

__ADS_1


Inikah kekuatan tuan Araga? pikir mereka. Kekaguman muncul di wajah setiap orang yang berada di ruangan itu.


__ADS_2