
Sore harinya, John mendapat telepon dari Amelia yang akan menjemputnya di hotel John untuk mengajaknya ke kota Lima menemui seorang kolektor teman mereka. Mereka pun segera menuju sebuah rumah yang sangat besar di pinggiran kota Lima.
Sesampainya di rumah tersebut, seorang pelayan mengantarkan mereka bertiga untuk bertemu dengan tuan Akins seorang kolektor keturunan dari daerah timur tengah namun sudah lama menetap di Peru.
Mereka pun diajak untuk melihat-lihat barang koleksi dari tuan Akins terutama permata miliknya. John sedikit menyipitkan matanya ketika melihat sebuah kristal yang berwarna hitam kemerahan pekat dengan aura yang familier dirasakannya.
“Tuan Akins, kalau boleh tahu, kristal apa namanya ini?” tanya John.
“Oh, ini namanya Kristal Darah Hitam, ini adalah batu warisan dari leluhur kami yang dibawa oleh mereka dari daerah Mesir.” sahut tuan Akins sambil tersenyum.
“Keluarga kami percaya bahwa kristal ini memberikan keberuntungan dan umur panjang pada keluarga saat itu. Tuan Araga tentu tidak percaya dengan umur panjang kan?” lanjutnya.
Mendengar penjelasaan tuan Akins, John sedikit terkejut namun tersenyum. Luciana melirik ke arah John dengan kesan aneh, namun menyembunyikan hal itu.
“Benar, keluarga kami jaman dulu mungkin terdengar tahayul percaya dengan mitos umur panjang. Menurut cerita mereka, saat itu pernah mendengar berita bahwa ada mahluk yang berumur panjang hidup diantara mereka. Dan dipercaya kristal darah ini lah penyebabnya”
“Tapi, setelah beberapa kali melakukan penelitian pada kristal ini, saya sendiri tidak menemukan khasiat apapun kecuali menghasilkan efek memulihkan kondisi badan saat sakit” katanya sambil tersenyum.
“Konon, kristal ini bisa dibuat untuk bahan pengawetan mayat oleh masyarakat di Mesir. Ada kelompok yang dinamakan Penjaga Makam, yang menggunakan khasiat kristal ini untuk mengawetkan mummi di Mesir.”
“Penjaga Makam?” tanya John penasaran.
“Mari berbincang di ruang tamu” lanjutnya sambil mempersilahkan John, Amelia dan Luciana duduk di ruang tamunya.
Seorang pelayan menuangkan minuman teh kepada mereka disertai oleh camilan. Tuan Akins kemudian melanjutkan ceritanya.
“Penjaga Makam adalah organisasi misterius di Mesir yang sudah ada sejak jaman sebelum masehi yang konon dibentuk oleh salah satu keturunan Dewa di Mesir.”
“Di Mesir, konon para dewa hidup bersama manusia sejak dahulu dan menjadi raja di sana. Sering terjadi kesenjangan antara dewa dan manusia disana, benturan sering terjadi diantara mereka, tentu saja para dewa selalu menang dalam setiap pertempuran.” lanjutnya.
“Untuk mengalahkan para dewa, manusia membuat sebuah senjata khusus dengan menggunakan kristal darah ini untuk membunuh mereka. Sehingga para dewa mulai bisa dikalahkan oleh manusia dan pergi dari Mesir.”
“Kristal darah ini konon berasal dari darah dewa yang pertama kali terluka akibat pertempuran sehingga darahnya yang tertumpah membentuk kristal darah hitam. Yang kemudian ditemukan oleh pembuat senjata dan menjadikannya senjata untuk melawan dewa itu sendiri” lanjutnya
“Penjaga Makam dibentuk oleh keturunan dewa dengan manusia awalnya untuk merawat tubuh para dewa yang telah meninggal, namun keanehan muncul pada tubuh tersebut yang kemudian ditumbuhi oleh kristal-kristal darah hitam ini”
__ADS_1
“Begitulah asal muasal dari kristal darah hitam tersebut” kata tuan Akins sambil mengambil nafas lalu menyesap tehnya.
“Dimana lokasi makam itu? Dimana markas Penjaga Makam ini?” tanya John lebih lanjut
“Makam para dewa konon terletak di dalam piramida yang ada di Mesir” sahut tuan Akins.
“Untuk Penjaga Makam, tidak diketahui pasti dimana markas mereka dan apakah masih ada hingga saat ini. Tidak ada yang pernah menemukan mereka” lanjutnya.
“Terima kasih tuan Akins atas informasi yang anda berikan. Senang sekali bisa menambah wawasan saya tentang permata” kata John sambil tersenyum
Kemudian perbincangan mereka berempat berlanjut pada koleksi-koleksi barang antik lainnya.
Setelah malam, John bersama Luciana dan Amelia lalu berpamitan untuk kembali ke hotel John.
“John, bagaimana kalau kita makan malam di restoran dulu sambil berbincang” kata Amelia
“Baiklah, kebetulan saya juga masih lapar” sahut John.
Lalu mereka pun bergegas ke dalam restoran untuk bersantap makan malam bersama.
“Wah, tuan Araga memang idola pada gadis. Sekarang bisa bersantap dengan dua wanita cantik lagi” godanya yang membuat mata John berkedut dan pusing mendengarnya.
Wajah Luciana dan Amelia merona merah mendengar kata-kata Violet.
“Kenalkan, saya Violet, salah satu teman gadis tuan Araga” lanjutnya sambil menggoda kembali yang membuat wajah John bertambah merah
“Sa..Saya Luciana” sahut Luciana tergagap malu
“Saya Amelia” sahut putri Amelia.
“Amelia? Putri Amelia? Dari keluarga kerajaan Inggris kan?” tanya Violet
“Iya. Itu saya” sahut putri Amelia kembali.
“Wah, selera tuan Araga semakin tinggi. Tentunya Luciana ini teman dekatnya Amelia bukan? Kalian berdua adalah kolektor barang antik kan?” lanjut Violet sambil duduk di dekat John yang membuat kepala John tambah pusing.
__ADS_1
“Ada apa Violet?” tanya John memotong perkataan Violet
“Oh tuan Araga, saya kesini untuk berpamitan dengan tuan Araga. Saya akan berangkat ke Mesir besok. Apakah tuan mau mampir ke kamar saya malam ini?” goda Violet sambil merangkul lengan John
Mata John berkedut, seraya berusaha melepas lengan Violet. Wajah Luciana dan Amelia memerah karena cemburu melihat sikap dan kedekatan Violet pada John. Apalagi mendengar kata “mampir ke kamar” yang membuat senyuman di wajah mereka menjadi cemberut.
Violet tertawa geli dalam hatinya melihat ekpresi mereka bertiga, lalu dia berdiri.
“Jika tuan Araga ada yang mau disampaikan, saya akan menunggu di kamar. Hihihi...” katanya sambil berlalu meninggalkan mereka bertiga dengan tertawa dalam hatinya.
“Sialan, kamu masih bisa menertawakan aku Violet” kata John dalam hatinya mendengar tawa Violet.
John tanpa sadar melirik ke arah Luciana dan Amelia yang memandangnya dengan tatapan yang aneh membuat suasana menjadi panas.
“Kamu tidak menyusulnya ke kamar tuan?” tanya Luciana sambil menundukkan kepalanya dengan wajah merah
“Dasar playboy” kata Amelia dalam hatinya sambil memotong daging dengan kasar yang membuat kepala John pusing tujuh keliling mendengarnya
“Kenapa aku harus kesana?. Dia kalau mau pergi, ya pergi aja.” sahut John
“Apakah dia kekasihmu John?” tanya Amelia
“Bukan. Dia bukan kekasih ku” jawab John dengan sedikit gugup namun sikapnya diperhatikan oleh kedua pasang mata wanita di depannya.
“Oh Tuhan, kenapa akhir-akhir ini kamu berikan aku cobaan seperti ini” gumam John dalam hatinya.
John selama hidupnya tidak pernah berani terlalu dekat dengan para wanita, dirinya hanya sebatas berteman dengan wanita. Namun akhir-akhir ini dia dikejutkan oleh para wanita jaman sekarang yang begitu terus terang dan blak-blakan dalam bersikap.
“Aku juga akan berangkat ke Mesir setelah menyelesaikan beberapa hal di Peru ini” lanjut John.
“Ohya, kenapa bisa sama yah? Kami juga akan ke Mesir” sahut Amelia sambil melirik ke arah Luciana dan berkedip.
“Iya, seorang teman di Mesir juga mengharapkan kami untuk berkunjung belum lama ini. Jadi kami akan pergi kesana lusa untuk menemuinya” sahut Luciana mengiyakan.
“Oh, baiklah. Kalau begitu sampai ketemu di Mesir nantinya” sahut John dengan santainya.
__ADS_1