ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 5 | Bertemu orang tua Cindy


__ADS_3

Bandara Boston Logan yang terletak di semenanjung kota Boston adalah salah satu bandara tersibuk di Amerika Serikat yang padat oleh berbagai aktifitas penerbangan selama hampir 24 jam.


Sore harinya tampak Cindy sudah duduk di sudut lounge penumpang internasional untuk penerbangan menuju Terrace Kanada di Terminal C menggunakan Air Canada. Matanya berkeliling melihat orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya, mencari penampakan orang yang ditunggunya.


Sesaat kemudian Sara muncul di pintu masuk lounge dengan menggendong tas ransel di punggungnya lalu dia


melambai ke arah Cindy yang duduk sambil menatap ke arah pintu. Sambil tersenyum, Sara menghampiri Cindy “Maaf kak, aku belum terlambat kan?” tanyanya kemudian langsung duduk di sebelah Cindy.


“Apakah John sudah datang?” lanjut Sara bertanya sambil melihat sekelilingnya.


Cindy menggelengkan kepalanya menjawab “Belum. Jadwal tinggal 30 menit lagi untuk boarding, tapi aku belum


melihatnya”. Cindy tampak khawatir. Apakah John benar-benar akan datang bersamanya ke kota Terrace.


“Tenang kak, dia pasti berangkat. Dia juga ada urusan di kota Terrace kan. Jadi dia pasti akan berangkat.” kata Sara menenangkan Cindy, walaupun dia sendiri juga khawatir apakah John akan berangkat saat ini.


Tak lama kemudian terlihat sosok yang sederhana masuk melalui pintu lounge yang memupus kekhawatiran mereka berdua. “Apa kalian sudah lama menunggu?” tanya John.


“Ah, tidak. Kami baru saja tiba” sahut Sara dan Cindy hampir bersamaan, lalu mereka saling memandang berdua


yang membuat John tertawa kecil melihat tingkah mereka.


Mereka berdua tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Kemudian terdengar panggilan untuk segera boarding


tepat setelah John datang dan mereka pun segera naik ke atas pesawat untuk berangkat. Sekitar 8 jam perjalanan menuju Terrace, setelah ganti pesawat di Vancouver akhirnya mereka pun tiba di Bandara Northwest Terrace.


Setelah keluar dari pintu bandara, tampak papa dan mama Cindy, Andre Johnson dan Lydia Johnson,  sudah berada disana menjemput Cindy. Mereka pun melambaikan tangan ke arah Cindy dan Sara. Segera Cindy berlari menghampiri mereka kemudian memeluk papa dan mamanya. Sara yang berada disampingnya menyapa “Halo om, tante. Apa khabar?”


“Hai Sara, wah kamu sudah banyak berubah. Lama tak jumpa ya” sahut Lydia sambil memeluk Sara.


Sara tersenyum merasakan kehangatan pelukan mama nya Cindy.


“Dimana orang tuamu Sara, aku tidak melihat mereka?” tanya Andre sambil melihat sekelilingnya.


“Anu om, aku tidak mengabari mereka. Aku ingin memberikan kejutan karena pulang tiba-tiba kangen kota ini”


jawab Sara tersenyum.


“Kalau begitu mari bareng bersama kami. Kami akan mengantarkanmu ke rumahmu” ajak Andre selanjutnya.


“Terima kasih om.” jawab Sara sambil membungkukkan badannya.

__ADS_1


“Oh ya papa, mama, perkenalkan ini pacarku John.” lanjut Cindy setelah melihat John muncul keluar dari pintu bandara yang kemudian dia langsung memeluk lengan John dengan mesra.


Desh!


Andre dan Lydia langsung ternganga melihat kejadian itu.


Sara langsung berkedut matanya, hatinya serasa tertusuk oleh ribuan panah.


John sendiri kikuk setelah merasakan kehangatan pelukan Cindy yang dibarengi ada sesuatu yang menonjol


terasa di lengannya. Kepalanya terasa berat, namun dipaksakan mengeluarkan senyum diwajahnya demi drama yang baru saja akan dimulai.


“Malam om tante, perkenalkan saya John. John Araga” kata John sambil mengulurkan tangannya.


Pacar? Kedua orang tua Cindy tertegun tidak menyangka anaknya pulang hari ini menggandeng seorang pacar. Keduanya melihat penampilan John yang sungguh jauh dari harapan mereka berdua terutama rambutnya yang panjang. Dengan berat hati mereka berdua menjabat tangan “pacar” yang disebutkan oleh anaknya Cindy.


“Senang berkenalan denganmu nak” sahut Andre. “Apakah kamu menunggu jemputan?” tanya Andre selanjutnya


“Iya om, jemputanku sudah dalam perjalanan. Aku akan menunggu sebentar di coffee shop” sahut John.


Cindy merasa enggan untuk berpisah dari John, dia ingin mengantar John ke tempat tujuannya. Namun melihat


situasi kedua orang tuanya yang kaget, dia mengurungkan niatnya.


memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Mereka pun berempat naik ke dalam mobil, lalu Cindy dan Sara melambaikan tangannya kepada John yang hanya tersenyum berdiri di sana.


Dalam perjalanan, mama Cindy, Lydia mulai membuka pembicaraan. “Ceritakan pada kami apa yang terjadi” pinta


nya pada Cindy.


Cindy walaupun usianya sudah berkepala tiga, namun di hadapan kedua orang tuanya dia selalu merasa seperti anak kecil. Dengan tersipu dia menjawab “John adalah pacarku. Aku sudah mengenalnya cukup lama sekitar dua tahun yang lalu. Dan kami sudah tinggal bersama selama ini di Boston”


“Apa?” kedua orang tua Cindy terlihat kaget karena baru kali ini dia mendengar anaknya menceritakan tentang


John.


Demikian juga Sara, matanya berkedut kembali. Dalam hatinya geram namun dia harus mengakui kemampuan berakting Cindy. Iya. Tentu saja. Cindy dulu adalah seorang selebriti lokal sekitar 10 tahun yang lalu.


Sara sedikit pusing mendengar drama ini, dia berusaha untuk memejamkan matanya untuk menghindari pertanyaan dari kedua orang tua Cindy, namun.


“Sara, kamu juga tahu hal ini?” tanya Lydia memastikan berita ini dari mulut Sara.

__ADS_1


Sara, membuka matanya. Hatinya ragu untuk menjawab. Dalam hati ingin mengatakan bahwa semua ini hanyalah


sandiwara. Namun dia tidak tega mengingat kesedihan Cindy sebelumnya, dimana saat ini dia sudah melupakan kesedihannya dan terlihat gembira.


“Iya tante, saya juga mengenal John sekitar dua tahun yang lalu. Kak Cindy yang mengenalkannya padaku” kata


Sara selanjutnya sambil menoleh ke arah Cindy.


Cindy tersenyum lalu mengeluarkan gerakan dibibirnya menggumamkan “Thank you” kepada Sara yang dibalas Sara dengan senyuman, kemudian lanjut menutup matanya kembali.


Kedua orang tua Cindy menghela nafas, tidak tahu harus berkata apa lagi.


“Ceritakan lebih lanjut nanti di rumah” lanjut Lydia.


Oh Tuhan, bantulah aku melalui hal ini dengan baik. Doa Cindy di dalam hati untuk menenangkan kegugupan hatinya.


Mobilpun melaju menuju rumah keluarga Newman, orang tua Sara. Kedua orang tua Sara terkejut melihat kedatangan Sara yang mendadak. Setelah menurunkan Sara, mereka bertiga pun kembali menuju kediaman keluarga Johnson.


Sara, melihat kepergian Cindy bersama kedua orang tuanya.


Semoga semua berjalan lancar seperti harapanmu kak, gumamnya.


Sara lalu berpelukan dengan kedua orang tuanya Andy dan Lili Newman. Lalu Sara bertanya, “Dimana kakek pa?”.


Kedua orang tua Sara terkejut mendengar pertanyaan Sara, lalu dengan perlahan Andy menjelaskan bahwa kakeknya berada di rumah sakit. Giliran Sara yang terkejut,”Mengapa ayah dan ibu tidak menceritakan keadaan kakek padaku?”


“Sejak kapan kakek masuk rumah sakit? “ lanjut Sara bertanya.


“Seminggu yang lalu. Kami tidak mau mengganggu kuliahmu yang sudah menjelang tugas akhir” sahut mama


Sara, Lili.


Sara sedih mendengarnya, dia dan kakeknya sangatlah dekat. Di masa kecilnya, Sara lebih sering bersama kakeknya daripada kedua orang tuanya yang sibuk bekerja.


“Antarkan Sara ke rumah sakit pa,” pintanya sambil mengusap air matanya.


Sementara itu John yang masih menunggu di Coffee Shop, terlihat sebuah mobil Audi mewah kelas terbaru berhenti di depan Coffee Shop. Lalu turun seorang berperawakan umur lima puluhan tahun berwajah asia, namun masih terlihat gagah turun dari dalam mobil.


“Tuan Araga” sapa orang tersebut sambil membungkukkan badannya.


“Jiro, lama tak berjumpa. Ada hal apa mengundangku untuk datang ke kota ini” sahut John

__ADS_1


“Maaf, tuan Araga, mari kita berbicara di dalam mobil” lanjut lelaki bernama Jiro tersebut, kemudian membukakan pintu mobil mempersilahkan John untuk masuk.


__ADS_2