ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 43 | Buku wasiat keluarga Lemann


__ADS_3

Seminggu kemudian, John berangkat menuju Peru dari Amerika, lalu berjanji untuk bertemu Violet di salah satu hotel di kota Lima.


John mengetuk pintu salah satu kamar di hotel tersebut, lalu Violet tampak seksi membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan John untuk masuk.


Pakaian yang dikenakan oleh Violet adalah pakaian tidur yang transparan memperlihatkan lekukan tubuhnya yang indah, membuat mata John berkedut menikmati pemandangan di depannya.


Violet tersenyum “Apakah tuan menyukai pemandangan di kamar ini?”


John terbatuk mendengar kata-kata Violet yang membuat dirinya tidak nyaman.


“Ini permata kalian. Aku tidak perlu berlama-lama disini” kata John hendak berbalik untuk pergi.


“Tunggu tuan, apakah anda tidak ingin melihat permata yang telah kami temukan dari Inggris?” kata Violet.


Ini permata yang sudah pernah aku lihat, tapi apabila aku tidak mau melihatnya, Violet akan curiga aku menutupinya selama ini, pikir John.


“Apakah kamu membawanya. Baiklah, aku akan melihatnya” sahut John kemudian duduk di sofa dalam kamar hotel tersebut.


Violet kemudian mengeluarkan kotak permata satu lagi dan membukanya, tampak permata warna merah milik keluarga Amelia yang sudah pernah dilihat oleh John. Namun cahayanya lebih terang, auranya mengalir mendekati kotak yang John bawa yang berisikan permata biru.


Kedua aura biru dan merah menyatu saling berhubungan, yang hanya bisa dilihat oleh John. Mata Violet berbinar menyaksikan kedua permata bercahaya lebih terang dari sebelumnya dan sedikit bergetar. Ini menandakan bahwa kedua permata tersebut memang saling berhubungan.


“Kita telah menemukan dua permata John, semoga kita bisa menemukan tiga permata lainnya dan menemukan petunjuk tentang orang tua anda tuan” kata Violet mengingatkan John kembali.


“Baiklah, permata ini memang berhubungan. Jika tidak ada hal lain lagi, aku akan kembali” kata John lalu berbalik hendak pergi.


“Benarkah tuan tidak ingin bermalam bersamaku malam ini?” goda Violet dengan genitnya yang membuat mata John berkedut wajahnya memerah.


John dengan tergesa-gesa keluar dari kamar itu, diiringi oleh tertawa kecil dari Violet yang menggodanya


Di luar hotel, John lalu menghubungi Luciana untuk berjanji ketemu dengannya

__ADS_1


“Tuan Araga, apa yang membuatmu memiliki waktu untuk menghubungiku” kata Luciana dengan senyuman di wajahnya saat menerima telepon dari John


“Aku saat ini berada di Peru, aku akan segera berangkat ke Rio, Brasil malam ini” sahut John.


“Apabila ada waktu, aku akan mengunjungimu disana” lanjutnya


“Baiklah, alangkah senangnya atas kedatangan anda tuan. Aku akan menjemputmu di bandara malam ini” sahutnya sambil menutup telepon.


John belum sempat menjawab, Luciana sudah menutup teleponnya. Dia tidak berdaya untuk menolak tawaran Luciana untuk menjemputnya.


Rio de Janeiro, Brasil, pagi hari pesawat John telah tiba dari Peru. Ketika John keluar dari pintu keluar bandara, dia melihat seorang wanita cantik telah berdiri menjemputnya.


“Selamat datang tuan” kata Luciana menyambut kedatangan John


“Kamu tidak perlu menjemputku Luci, sungguh merepotkan dirimu” sahut John


“Sebagai tuan rumah tentu aku harus melakukan ini tuan. Mari aku antar ke kediaman keluargaku di Santa Cruz” lanjut Luciana sambil mempersilahkan John untuk masuk ke dalam mobilnya.


Sesampainya di mansion tersebut, Luciana mengajak John untuk masuk ke dalam rumah dan segera mengantarnya menuju ruang tamu. Luciana lalu memperkenalkan John kepada keluarganya yaitu ibunya dan adiknya Pedro.


Setelah itu, Luciana mengajak John masuk ke ruang kerjanya di dalam mansion, lalu menyeduhkan teh untuknya.


“Sungguh suatu kebanggaan bagi kami tuan bisa hadir berkunjung ke tempat kami ini” kata Luciana


“Ini hanya kunjungan biasa Luci, tidak ada suatu tujuan yang penting. Aku hanya ingin melihat koleksi barang antikmu saja” sahut John sambil tersenyum.


“Baiklah tuan. Namun ada sesuatu yang ingin kami tunjukan kepada tuan” kata Luciana selanjutnya berdiri, lalu membuka sebuah ruangan tersembunyi di dalam ruang kerjanya.


Luciana lalu mengambil sebuah kotak yang cukup besar di dalamnya, lalu menaruhnya di meja di depan mereka. Kemudian dia membuka kotak tersebut dan mengeluarkan kotak kecil di dalamnya lalu membuka dan menyerahkannya pada John.


Mata John terbelalak melihat sebuah permata berwarna ungu kebiru-biruan yang bercahaya di dalam kotak tersebut yang memiliki aura keunguan. Ini salah satu permata yang dicarinya. John lalu mengambil permata itu dan merasakan auranya yang mirip dengan permata yang pernah dia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


“Apa yang tuan rasakan dari permata itu?” tanya Luciana


“Perasaan nyaman dan hangat” kata John kepada Luciana sambil tersenyum.


“Sepertinya permata itu berjodoh dengan anda tuan, aku ingin memberikannya padamu” sahut Luciana kemudian dengan senyuman


“Mengapa?” tanya John kaget mendengar perkataan dari Luciana.


“Karena wasiat yang dituliskan oleh leluhur kami secara turun temurun dalam buku ini” kata Luciana sambil mengambil buku dalam kotak itu dan menyerahkannya pada John.


“Wasiat? Ini buku apa?” tanya John sebelum dia membukanya


“Buku ini adalah tulisan yang dibuat oleh leluhur kami secara turun temurun, tuan akan mengerti setelah membacanya” lanjut Luciana sambil tersenyum


John melihat buku yang telah tua, sedikit lusuh namun bersih dan bisa terbaca tulisannya. Lalu dia membuka halaman pertama buku tersebut.


Buku ini dari aku Shotala kepada anak-anakku untuk ditulis dan diwariskan kepada anak cucuku selanjutnya


“Shotala?” gumam John


“Iya tuan, itu nama leluhur kami yang mulai menulis pada buku ini, kemudian diteruskan menulis oleh anaknya, lalu cucunya dan seterusnya”


“Ini adalah perjalanan hidup leluhur kami yang telah diwariskan dan dirawat selama ini” lanjutnya


“Buku ini adalah warisan keluarga yang sangat berharga, aku merasa tidak sopan untuk membacanya” sahut John merasa ragu untuk meneruskan membacanya


“Tidak tuan, anda akan mengerti apabila membaca buku ini keseluruhannya” senyum Luciana


“Silahkan tuan melanjutkan membacanya, aku akan ke dapur sebentar untuk meminta pelayan agar menyiapkan makanan untuk kita” kata Luciana lalu berdiri untuk meninggalkan John membaca buku itu agar memberikannya waktu untuk mengetahui isinya.


Dengan ragu John kembali mengarahkan matanya pada buku itu. Apa yang ada dalam buku ini? Apakah berhubungan dengan diriku? Keraguan dalam pikiran John berkecamuk, hatinya bergetar dan gugup membuka halaman berikutnya pada buku itu.

__ADS_1


Mata John terbelalak membaca pada halaman pertama buku tersebut.


__ADS_2