
“Jaga statusmu Putri, bagaimana kamu bisa berteman dengan orang biasa seperti itu” kata Pablo dengan geram.
“Aku berteman dengan siapa, apa hubungannya denganmu?” sahut Amelia sambil membuang wajahnya.
“Karena aku suka padamu Putri. Aku menyukaimu sejak lama” sahut Pablo sambil meraih tangan Amelia.
“Maaf Pablo, hatiku sudah milik orang lain. Bagiku kamu adalah temanku sejak dulu. Aku tidak pernah menaruh perasaan apapun padamu selain sebagai teman” kata Amelia dengan jujur sambil melepaskan tangannya dari Pablo.
“Mengapa? Apakah lelaki itu yang merebut hatimu?” kata Pablo sambil menunjuk ke arah John.
“Kalau iya kenapa? Ini pilihanku, aku sendiri yang merasakannya” kata Amelia kembali dengan wajah merah tersipu.
Aduh, Mata John berkedut kembali mendengar seluruh percakapan mereka. Tidak tahu bagaimana menghadapi anak-anak jaman sekarang yang blak-blakan seperti itu.
“Lihat Luci, kamu dengar sendiri kan, apa yang dikatakan oleh putri” kata Daniel yang berada tak jauh dari Amelia sehingga mereka mendengar apa yang dibicarakan oleh Pablo dan Amelia.
Luciana termenung, wajahnya sedikit sedih, namun hatinya berontak tidak menerima hal itu. “Itu bukan urusanmu Daniel. Dengan siapa aku suka dan tidak, diriku sendiri yang merasakannya” sahutnya.
“Jadi kalian berdua lebih memilih lelaki yang tidak diketahui latar belakangnya itu. Bahkan statusnya pun tidak jelas.” kata Daniel sambil menggertakkan giginya.
“Itu urusan pribadiku, tidak ada hubungannya denganmu” sahut Luciana yang kemudian pergi meninggalkan Daniel menuju ke dalam kamarnya.
Di dalam kamarnya, Luciana meneteskan air mata memikirkan kejadian tersebut, Entah mengapa dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap John sejak pelelangan di Rusia. Dia telah menyelidiki latar belakang John dan menemukan John kemungkinan kerabat jauh dari leluhurnya.
Walaupun kemungkinan usia dan jarak mereka jauh, tidak membuat hati Luciana goyah, dia ingin lebih mengenal dan dekat dengan John. Itulah mengapa dia mengundang John untuk datang ke Brasil menemuinya dan juga hari ini, agar bisa lebih dekat mengenal John.
“Baiklah. Aku tidak akan kalah darimu Amelia” tegas Luciana dalam hatinya sambil mengusap matanya. Amelia dan Luciana adalah sahabat, namun mereka sering bersaing satu sama lain dalam berbagai hal, termasuk sekarang dalam cinta.
John yang mendengarkan kejadian tadi jadi menggigil tidak tahu harus bersikap bagaimana. Sebaiknya aku segera pergi dari sini, gumamnya, lalu diapun segera bangkit hendak pergi dari sana.
Namun kedua orang yang masih berdiri yang mengawasi John mulai mendekati dan menghalanginya.
“Ada apa?” tanya John kepada kedua orang itu
“Kamu tidak bisa pergi kemana-mana John” kata Daniel yang berjalan ke arah John dengan tangan dipunggungnya.
“Silahkan duduk John, ada yang ingin aku bicarakan denganmu” lanjut Daniel yang kemudian duduk sambil mengambil segelas anggur dan menyesapnya.
__ADS_1
Kemudian John pun ikut duduk di depan Daniel dengan tangan terlipat di dadanya.
“Anggur yang sangat lezat” kata Daniel.
“Mungkin dalam hidupmu ini pertama kalinya kamu meminum anggur selezat ini, jadi kamu merasa ketagihan” sindir Daniel
“Apa yang mau kamu bicarakan, katakan saja langsung” kata John dengan acuh.
“Aku sudah tahu siapa dirimu John Araga. Apa yang kamu lakukan di Inggris saat itu membuatmu terkenal di seluruh dunia. Walaupun akhirnya pihak Inggris menarik informasi itu, tapi kami di seluruh dunia sudah mendapatkan data dirimu terlebih dahulu.” lanjutnya
John menyesap anggur nya lalu menjawab dengan tenang “Kamu terlalu bertele-tele. Katakan saja langsung apa maumu”
“Aku mau kamu menjauhi Luciana dan Amelia. Kalau tidak, kamu tidak akan dapat menanggung konsekuensinya” sahut Daniel yang kemudian membanting gelas anggurnya lalu berdiri dan berjalan mendekati John.
“Konsekuensi apa yang akan aku terima? Orang yang berani berkata seperti ini padaku sekarang rumput di kuburannya sudah tinggi” seringai John sambil berdiri berhadapan dengan Daniel.
Tatapan mata John dan Daniel bertemu, suhu sekitarnya terasa memanas oleh situasi ini. Orang-orang disekitarnya menggigil ketakutan oleh kedua orang itu.
“Hahahaha... kamu memang punya karakter John” teriak Daniel sambil tertawa lalu berbalik hendak pergi
“Apakah aku mengijinkanmu untuk pergi” kata John berjalan mendekatinya.
Daniel menghentikan langkahnya lalu berbalik. Ketiga orang yang mengikutinya termasuk Pablo segera mengelilingi John. Tamu disekeliling mereka sontak mundur melihat kejadian itu.
“Apa yang akan kamu lakukan? Kami sudah berbaik hati memberikan kamu kesempatan” kata Pablo
“Aku tidak pernah melepaskan orang yang berani mengancamku” sahut John singkat.
“Orang ini sudah syukur tidak dipukuli oleh mereka tapi masih tidak tahu tingginya langit” bisik seorang tamu disekitar mereka
“Apa dia pikir dia orang yang hebat, dia tidak tahu siapa keempat orang itu” bisik yang lainnya.
“Kami Empat Serangkai Bintang Selatan belum pernah menemui orang bodoh seperti ini” kata seorang dari pengepung John sambil menyeringai.
Empat Serangkai Bintang Selatan adalah agen khusus tingkat tinggi dari Brasil yang disegani oleh negara-negara di wilayah Amerika Selatan. Mereka terkenal kuat dan kejam dalam melaksanakan setiap misi dan ditakuti oleh lawan-lawannya.
Pablo mendekati John sambil menunjuk jarinya ke dada John “Kamu begitu bodoh berani menantang kami”
__ADS_1
Tanpa disadari tangan John sudah meraih jari Pablo sebelum menyentuh dadanya lalu mematahkannya.
“Aarrgh.. ka..kamu berani mematahkan jariku” sahut Pablo sambil merintih memegang jarinya yang dipatahkan oleh John. Kedua kawannya kaget melihat kejadian itu. Mata Daniel berkedut tidak menyangka John akan berani melakukannya.
“Serang dia” perintah Pablo kepada kedua temannya yang mengepung John. Namun John hanya berkelit ringan kemudian membanting kedua penyerang itu ke lantai.
Brak!
Lantai di ruangan itu hancur oleh kedua tubuh penyerang itu dibarengi oleh darah yang muncrat dari kedua mulut mereka. Keduanya pun pingsan ditempat.
Mata orang-orang sekitarnya ngeri melihat kejadian itu, mereka tidak percaya empat serangkai bintang selatan yang terkenal kuat dan kejam, tidak ada apa-apanya di depan John.
Sambil berjalan perlahan John mendekati Pablo yang mundur ke arah Daniel.
“Beraninya kamu memukul temanku di depanku” kata Daniel sambil menggertakkan giginya.
“Kalian cuma semut di mataku, kenapa aku harus takut” sahut John
“Kamu tahu apa akibat dari perbuatanmu ini?” ancam Daniel
Orang-orang sekitarnya menyeringai,”Anak ini berani memprovokasi Daniel yang terkenal kejam jika sudah bertindak. Dia pasti mati kali ini”
“Jangan banyak omong, aku ingin tahu apa akibatnya” sahut John lagi sambil mendekati ke arah mereka berdua.
“Sialan, aku akan memberimu pelajaran” kata Daniel sambil bergerak menyerang ke arah John.
Namun apa yang tidak di duga, John justru sudah berdiri di depannya lalu menampar wajah Daniel.
Plak!
Mata orang-orang sekitarnya terbelalak oleh kejadian itu, tidak menyangka John akan berani menampar Daniel hingga terlempar menabrak salah satu meja. Pablo juga kaget melihat kejadian itu “Kamu berani menyerang diam-diam” teriaknya
Dengan susah payah Daniel berusaha berdiri, wajahnya bengkak oleh tamparan John. Dia menggertakkan giginya, mulutnya mengalirkan darah.
“Kamu berani menyerangku secara diam-diam” teriaknya.
“Sungguh bodoh, kalian orang yang tidak tahu tingginya langit. Majulah bersama-sama agar menghemat waktuku” kata John membuat Pablo dan Daniel menggertakkan gigi mereka dengan wajah memerah.
__ADS_1