
Di kamar hotel, John merebahkan tubuh Sasha yang lemah.
Maafkan aku Sasha, karena aku dirimu mendapat kesulitan seperti ini, pikir John.
Lalu John meninggalkan Sasha untuk beristirahat sendiri di kamar dan menuju bar yang ada di dalam hotel tersebut.
Di dalam bar, John menelepon Ken menanyakan keadaan mereka di ekspedisi. Ken mengatakan bahwa Sara dan Cindy sedang berlibur. Sedangkan Ken masih mendapat jadwal kerja di ekspedisi, karena tidak ada masalah ini membuat hati John sedikit lega.
Pikiran John melayang mengingat Sherman, seorang sahabat yang dia kenal penakut, karena kelalaiannya pada saat itu membuatnya menurunkan dendam dari generasi ke generasi hingga saat ini.
“Sherman, maafkan aku karena telah meninggalkanmu di medan pertempuran saat itu” gumam John sedih.
Pagi hari, Sasha yang terbangun mendapati dirinya diatas tempat tidur hotel, segera mencoba untuk berdiri dan melihat kesekelilingnya “Dimana aku?” katanya sambil memegang kepalanya yang masih agak pusing.
“Oh, John. Kamu dimana?” gumamnya setelah mengingat kejadian tadi malam
Tak berapa lama, pintu kamar terbuka dia melihat sosok yang masuk berjalan ke arahnya. Begitu melihat wajah John, Sasha langsung melompat dan memeluknya seakan tidak mau melepaskannya.
Mata John berkedut melihat kelakuan Sasha, namun dirinya tak kuasa untuk melepaskan pelukannya. Dia hanya bisa terdiam untuk sementara waktu.
“Sasha, tentunya kamu lapar, mari kita sarapan di restoran” ajak John seraya meregangkan pelukan Sasha.
“Baiklah. Aku membersihkan diri dulu. Kamu ke restoran lah dulu, aku menyusul nanti” jawab Sasha dengan wajah malu.
Kemudian John pun berjalan ke arah restoran lalu duduk di sebelah jendela melihat pemandangan yang ada di luar hotel. Tak lama teleponnya berdering “Sara” nama nama di telepon tersebut.
“Halo” kata John
“Halo John, Apa kabarmu? Kami sedang berlibur, Aku dan Cindy sedang berjalan-jalan di kota Moskow. Kami akan sarapan, apakah kamu sudah sarapan?” kata Sara sambil berjalan menuju restoran bersama Cindy
“Moskow?” sahut John tiba-tiba merasa indra pendengarannya merasakan mendengar sosok yang dikenalnya lalu menoleh.
“Iya, saat ini pagi disini. Kamu sedang dimana sekarang?” tanya Sara
“Di belakangmu” sahut John tanpa sadar ketika dirinya melihat dua wanita hendak duduk di meja tak jauh darinya.
“Hah?” Sara pun menoleh ke belakang melihat John yang sedang tersenyum tipis melihat kearahnya.
__ADS_1
Oh, dunia terlalu sempit untukku, pikir John.
Sara segera berlari ke arah John, dibarengi oleh Cindy dengan wajah ceria. Tidak menyangka mereka akan bertemu di hotel yang sama. Lalu mereka pun duduk di depan John.
“Bagaimana kabarmu John, kenapa bisa ketemu disini?” tanya Cindy memulai pembicaraan.
“Iya, ternyata dunia memang benar-benar kecil. Atau memang kita ditakdirkan untuk bertemu terus” kata Sara menimpali. “Kamu kangen kami gak?”
Begitu banyak kejadian kemudian pertanyaan tiba-tiba, membuat John tak mampu untuk berkata-kata menjawabnya satu persatu.
“Mereka siapa John?” tiba-tiba terdengar kembali sebuah pertanyaan yang menambah pusing kepala John
Tampak Sasha yang telah tiba di restoran dan menemukan John sedang duduk bercakap-cakap dengan dua orang wanita cantik yang membuat hatinya sedikit kacau.
“Duduklah, mari aku perkenalkan kalian semua, Ini Cindy, Sara, Sasha” kata John singkat lalu mengambil teh di atas meja dengan tangan sedikit gugup. Matanya berkedut melirik diam-diam pandangan ketiga wanita cantik yang menatapnya.
Dalam pikiran John ingin rasanya kabur secepat kilat menghindari situasi ini. Kakeknya tidak pernah mengajarinya untuk menghadapi situasi berat seperti ini.
“Mari kita pesan makanan” kata John dengan santai tidak menghiraukan pandangan ketiga mahluk cantik di depannya namun dia tidak berani menatap mata mereka bertiga.
Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Tolong selamatkan aku, gumam John di dalam hatinya.
“Teman” jawab John dengan santai sambil menyesap tehnya
“Mereka siapa John?” tanya Sasha hampir bersamaan
“Teman” jawab John kembali sambil meletakkan minumannya.
“Kita semua berteman, mari makan bersama, makanan sudah datang” sahut John sambil memulai makan.
Setelah agak tenang, John lalu memulai pembicaraan. “Maaf, aku ingin bicara denganmu Sasha” katanya seraya berdiri agak menjauh yang membuat curiga Sara dan Cindy
“Sasha, mereka belum tahu identitasku. Jadi hati-hati berbicara ya” bisik John yang dibalas kerutan kening Sasha.
“Sara, Cindy, ini teman yang dikenalkan oleh Selena untuk membantuku selama berada di Rusia” kata John
“Kenapa juga temannya harus wanita. Aku akan protes dengan bibi Selena” gumam Sara sambil terus menikmati makanannya
__ADS_1
Cindy melihat lebih dalam pada Sasha yang hampir seumuran dengannya “Kamu kenal dengan bibi Selena?”
“Iya.” jawab Sasha dengan tersenyum.
Tiba-tiba telepon John berdering, lalu John mengangkat teleponnya. “Halo tuan Araga, apakah butuh bantuanku saat ini?”. Kemudian John pun melihat sekelilingnya, dan di ujung restoran tampak seorang wanita melambaikan tangannya ke arah John sambil tersenyum dengan memegang teleponnya.
“Ada apa?” sahut John sambil melihat ke arah Violet.
Sikap dan kata-kata John diperhatikan oleh ketiga wanita di depannya, lalu mereka pun menoleh ke arah pandangan John dan menemukan Violet disana.
“Violet!” kata Sara dan Cindy hampir bersamaan.
“Siapa Violet” tanya Sasha.
Kemudian, tampak Violet berjalan menggoyangkan pinggulnya dengan tubuhnya yang seksi mendekat ke meja mereka. “Aku baru tahu ternyata tuan Araga memiliki pesona yang luar biasa pada banyak wanita” godanya kembali
Wajah Sara, Cindy dan Sasha merona merah semua. Mata John berkedut mendengar kata-kata Violet.
“Apakah kamu kesini mencariku?” tanya John
“Tidak tuan Araga. Aku juga kebetulan sedang berlibur dengan para pekerjaku di kota ini. Tapi karena kita kebetulan bertemu disini, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu” sahut Violet kembali.
“Maaf, jika aku mengganggu acara makan kalian. Boleh kah aku berbicara berdua dengan tuan Araga?” kata Violet tanpa minta persetujuan langsung pergi meninggalkan mereka menuju mejanya.
John segera menyusulnya pergi ke meja Violet. Dalam hatinya merasa bersyukur bisa keluar dari tatapan ketiga wanita itu.
“Ada apa Violet” tanya John tidak sabaran
“Tenang dulu tuan Araga, aku sedang menyelamatkanmu kan. Kamu berhutang budi padaku” senyum Violet.
“Aku tidak ada meminta untuk diselamatkan. Ceritakan ada perlu apa?” tanya John kembali.
“Aku butuh bantuanmu tuan Araga.” kata Violet singkat dengan wajah serius.
John memandangnya berusaha untuk memahami maksud dari perkataan Violet ini.
“Apa maksudmu Violet” John mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Aku rasa, hanya tuan Araga yang bisa membantuku” kata Violet selanjutnya sambil menuangkan minuman pada cangkir untuk John.
“Ceritakanlah” kata John sambil mengambil cangkir minuman yang diserahkan oleh Violet