ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 49 | Master Juan


__ADS_3

“Pablo, mari kita sama-sama menyerangnya” ajak Daniel. Lalu mereka berdua mengeluarkan pisau komando maju menyerang ke arah John dengan beringas.


Melihat serangan mereka, John hanya tersenyum mengejek “Aku akan menampar kalian, bersiaplah ini bukan serangan diam-diam”. Kemudian John bergerak lebih cepat ke arah mereka berdua.


“Matilah kau” teriak Daniel ketika ujung pisaunya mengarah ke dada John, sementara pisau Pablo mengarah ke tenggorokan John.


Plak! Plak!


Tanpa banyak bicara John yang bergerak lebih cepat menampar Daniel dan Pablo hingga keduanya terpelanting menabrak meja hidangan kemudian terkulai. Wajah keduanya bengkak, darah muncrat dari kedua mulut mereka. Tubuh mereka bergetar lemas kehilangan kekuatannya.


Para tamu yang hadir menggigil ketakutan melihat kejadian itu, mereka melihat John seperti iblis pencabut nyawa yang akan menghabisi mereka.


John kemudian berjalan mendekati mereka namun tiba-tiba muncul Luciana menghadang langkah John.


“Ampuni mereka tuan, demi keluarga Lemann, biarkan mereka pergi” pinta Luciana kepada John.


“Kamu lihat Daniel, jika bukan karena Luciana, aku tidak akan pernah mengampunimu” kata John.


“Ingatlah, kamu hutang nyawa anjingmu pada keluarga Lemann” lanjutnya sambil berbalik meninggalkan Daniel dan Pablo yang sudah kehabisan nafas terkulai lemas.


“Mereka layak menerimanya karena berani memprovokasi tuan Araga” sahut Putri Amelia yang sejak awal melihat kejadian itu.


“Daniel, bawa pergi orang-orangmu dari sini” kata Luciana


Kemudian Daniel dan Pablo mengangkat teman mereka yang pingsan lalu pergi dari rumah Luciana dengan luka dalam.


“Tuan, maafkan mereka telah berani menyinggungmu. Bagaimana pun mereka adalah teman kami” kata Luciana sambil menundukkan wajahnya.


Melihat wajah sedih Luciana, John sudah meredakan marahnya lalu tersenyum “Itu bukan apa-apa Luci, tapi aku jadi lapar lagi karenanya. Sayang sekali”


Luciana yang mendengar kata John merasa tenang “Tuan jangan khawatir, aku akan meminta orang untuk menyiapkan makanan kembali. Tunggulah” sahutnya sambil berlari ke dapur.


John kemudian mengambil kursi lalu duduk di depan sebuah meja. Para pelayan mulai membersihkan tempat kejadian yang berantakan akibat perkelahian tersebut.


“Tuan Araga, kami sebagai tuan rumah mohon maaf atas tindakan mereka. Mohon untuk tidak dimasukkan ke hati” kata Ibu Luciana yang datang mendekatinya sambil membungkukkan badannya.


“Ah bibi, aku yang minta maaf karena berlebihan sehingga mengacaukan pesta ulang tahun bibi” sahut John sambil tersenyum


Kemudian para pelayan muncul dengan berbagai hidangan untuk John. Luciana pun ikut bergabung duduk bersama Amelia menemani John makan.

__ADS_1


Pesta berlangsung terkendali hingga waktunya berpamitan, tamu-tamu silih berganti berpamitan. John yang terakhir berpamitan diantar oleh Luciana dan Amelia menuju mobilnya.


Begitu sampai di depan mobilnya, tiba-tiba rombongan orang datang dengan beberapa mobil besar. Kemudian dari dalam mobil keluar orang-orang berpakaian hitam dengan membawa senjata tajam bahkan senjata api.


“Luci, kamu ajak Amelia masuk ke dalam dulu” kata John


“Tapi tuan..” sahut Luciana


“Mereka tidak bermaksud baik, kalian sembunyilah. Aku tidak apa-apa. Percayalah” lanjut John memotong kata-kata Luciana


Walaupun hatinya ragu, Luciana pun masuk ke dalam rumah bersama Amelia. Dia tahu akan menjadi beban bagi John jika berada disana.


Seorang lelaki setengah baya berwajah keras turun dari mobil diiringi oleh seorang yang jangkung tinggi disampingnya. Tampak di mobil lain turun Daniel dan Pablo dengan tertatih-tatih berjalan menyusul lelaki itu.


Mereka pun berhenti di depan John, lalu lelaki itu memandang John dari atas ke bawah menilik penampilan John.


“Lelaki ini yang telah memukul murid-muridku?” kata lelaki itu tidak percaya dengan penglihatannya lalu mendengus.


“Be.. benar guru. Dialah orangnya” kata Daniel


“Kalian benar-benar murid tidak berguna. Hanya melawan seorang kurus seperti ini saja tidak becus” sahut lelaki itu sambil menggelengkan kepalanya.


“Hei anak muda, jika kamu berlutut di depanku memohon pengampunan. Lalu patahkan kedua kaki mu, maka aku akan melepaskanmu. Aku tidak mau menindas orang yang lemah” kata lelaki itu sambil menyilangkan tangannya di punggung.


“Apa katamu?” kata Pablo menggertakkan giginya.


“Nak bicaramu sungguh lancang. Apa kamu tidak takut kamu akan mati tanpa tempat untuk dikuburkan?” sahut lelaki itu.


“Apa aku bisa mengatakan bahwa kamu mengancamku?” tanya John dengan acuh


“Kamu akan segera mati. Berpura-pura berani lah terus” teriak Pablo


“Guruku adalah master Jiu Jitsu level abadi dari belahan Amerika Selatan ini. Master Juan dari dataran tinggi Guyana. Membunuhmu sama seperti menginjak semut” lanjut Daniel menimpali


“Master level abadi? Hehehe..” John terkekeh mendengar sebutan aneh seperti itu.


“Kamu meremehkan guruku. Aku ingin tahu apa nanti kamu masih bisa berdiri setelah dihajar olehnya” lanjut Daniel


“Guru, orang ini terlalu sombong. Mohon guru memberikan keadilan pada murid” kata Daniel sambil membungkukkan badannya kepada Master Juan.

__ADS_1


“Baiklah, Suarez, hajar orang itu” perintah gurunya pada laki-laki jangkung disebelahnya.


Suarez yang tinggi itu memiliki badan yang tegap lalu bergerak maju ke depan, menggerakkan kakinya yang lincah sambil berguling melompat kesana kemari mendekati ke arah John.


“Kamu akan mati John, Suarez adalah master Capoeira nomer satu dari Brasil” teriak Pablo dengan semangat.


“Hanya kelas penari seperti ini. Kamu pikir membuatku takut?” kata John yang masih tidak bergerak melihat pertunjukan itu.


Lambat laun gerakan Suarez makin lama makin cepat, lalu dia berkelebat seperti bayangan mengelilingi John yang hanya berdiri tidak bergerak. Kemudian John merasakan desiran serangan kuat dari arah kanannya yang mengarah ke kepala John.


“Mati kamu John!” teriak Pablo kembali


Namun sebelum serangan itu mengenai John. John hanya mundur selangkah, lalu bergerak ke kanan menghadang serangan itu secara langsung.


Plak!


Hanya dengan sekali serangan menggunakan telapak tangan kirinya, John memukul wajah Suarez hingga dia terjerembab ke tanah.


Bugh!


Badan Suarez tumbang membentur tanah membuat retakan disekitar tubuhnya. Wajahnya bengkak, beberapa gigi lepas dari mulutnya yang mengalirkan darah.


Mata orang-orang yang datang terbelalak melihat kejadian itu, tidak percaya hanya dengan satu serangan Suarez seorang master dijatuhkan oleh John. Suarez, memegang wajahnya berusaha untuk bangkit, namun kepalanya masih pusing oleh serangan tersebut.


“Ka..kamu menyerangnya diam-diam” teriak Pablo yang membuat orang-orang disekitarnya geram mendengarnya.


Mendengar itu John hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya, “Kalian memang tidak mengetahui tingginya langit”


“Hari ini kami tidak akan membiarkanmu hidup. Kamu akan pergi ke neraka. Semuanya, tembak dia!” teriak Daniel pada orang-orang dari agensi mereka yang turut datang bersenjata api.


Sebelum para agensi itu menarik pelatuk senjata api mereka, John sudah menghilang. Dengan pergerakan yang cepat, John sudah merubuhkan orang-orang yang bersenjata api itu. Sekitar puluhan orang bersenjata api sudah jatuh meringis di tanah.


Lagi-lagi mata Daniel dan Pablo terbelalak melihat kejadian itu.


“I..Ini. Siapa kamu?” kata Daniel gugup.


Master Juan yang melihat gerakan John, matanya juga berkedut tidak menyangka John bisa memiliki kecepatan seperti itu.


“Kalian kurung dia” teriak Master Juan memerintahkan murid-muridnya yang bersenjatakan pedang dan pisau.

__ADS_1


Walau ragu, namun murid-murid itu tetap bergerak mengelilingi John sambil mengacungkan pedang mereka bersiap menunggu perintah.


“Kalian akan membuatku lapar lagi setelah ini” kata John sambil menghela nafasnya.


__ADS_2