
Luciana dan Putri Amelia duduk bersama seorang temannya di dalam restoran itu. John mendekati mereka dan menyapanya “Halo Luci, Putri”
Luciana dan Amelia tampak senang melihat kedatangan John, namun tatapan mata mereka sedikit gelisah melihat dua orang wanita cantik lainnya yang mengikuti John di belakangnya.
“Ini?” Amelia bertanya pada John sambil menunjuk ke arah Sara dan Cindy.
“Ini Cindy dan Sara, mereka arkeolog yang ikut dalam ekspedisi new world” kata John menjelaskan.
Wanita cantik yang bersama Luciana dan Amelia sedikit terkejut mendengar kata ekspedisi new world, namun segera berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
“Ini Mona, teman kami kolektor dari Mesir.” jelas Amelia kemudian.
Pandangan mata Sara dan Cindy menatap aneh kepada Luciana dan Amelia, mereka berempat saling memandang satu sama lain, membuat suasana menjadi dingin.
John dan Mona melihat kejadian ini merasa kikuk dan tidak tahu harus mengatakan apa.
“Siapa mereka John?” tanya Cindy.
“Ini Luciana dari Brasil dan Putri Amelia dari Inggris. Ini temannya Mona dari Mesir. Mereka para kolektor benda antik yang juga memiliki banyak batu permata sebagai koleksinya” sahut John singkat.
Tiba-tiba mereka berempat memandang ke arah John dengan tatapan yang mencurigakan membuat mata John berkedut dan jantungnya berdegup tak menentu.
“Astaga, apa yang terjadi ini. Kenapa aku merasa sesuatu akan terjadi” pikir John.
“Cih, John keterlaluan, baru ditinggal sebentar saja sudah mencari wanita lain lagi” pikir Sara.
“Jangan harap kalian bisa mendekati John. Aku bersaing dengan Sara saja sudah berat. Apalagi ada kalian” pikir Cindy
“Apakah salah satu dari mereka ini kekasih tuan Araga? Atau keduanya?” pikir Luciana
“Hanya arkeolog saja, aku putri kerajaan tidak akan kalah dengan mereka. John pasti jadi milikku” pikir Amelia
“Lelaki ini boleh juga, sepertinya keempat wanita ini semua menyukainya. Apakah orang ini semenarik itu?” pikir Mona
Kepala John pusing tujuh keliling mendengar suara hati mereka, dia hanya bisa menunduk terdiam merenungi nasibnya.
“John!” teriak mereka hampir bersamaan membuat John terkejut dari lamunannya.
“I..Iya. Eh, aku permisi sebentar mau ke belakang” kata John sambil buru-buru pergi dari situasi itu
Di toilet John termenung
“Apa yang terjadi?, Aku harus fokus. Aku ke Mesir untuk menemukan informasi tentang kristal darah ini, bukan untuk berkencan dengan mereka.”
“Tapi.. Sial, bagaimana cara memulainya. Mereka pasti sedang perang dingin disana”
Dengan lemas John lalu berjalan perlahan menuju meja tempat mereka berlima duduk. “Eh, apa yang terjadi? Kenapa mereka bisa selancar itu berbincang.”
__ADS_1
“Kemari John” panggil Cindy.
“Ada apa?” tanya John sambil mendekati mereka lalu duduk
“Kami baru saja berbincang tentang kristal darah, rupanya mereka telah menemukan juga di Peru.” sahut Cindy kembali
“Iya, itulah kenapa kami kemari. Kami menemukan cerita tentang batu kristal darah dari kolektor di Peru yang katanya berasal dari Alexandria ini” kata John
“Rupanya mereka sedang mencari informasi tentang kristal darah” pikir Mona
“Nona Mona, apakah kamu pernah melihat kristal darah di Mesir?” tanya John menyelidiki pikiran Mona.
“Apakah aku harus menceritakannya atau tidak?” pikir Mona kembali
“Tidak. Aku belum pernah mendengarnya” kata Mona berbohong.
“Mengapa dia berbohong? Apa sebenarnya yang ingin dia ceritakan?” pikir John
“Sayang sekali, aku pikir Mona pernah mendengar tentang kristal darah.” sahut Amelia.
“Iya, kudengar Mona memiliki beberapa batu permata. Bolehkah kami melihat-lihat koleksimu?” pinta Luciana berharap bisa melihat koleksi Mona.
“Iya Mona, kami ingin menambah wawasan tentang permata” sambung Amelia.
“Ng..Boleh saja. Tapi koleksiku berada di Kairo” sahut Mona.
“Tidak apa-apa. Kami masih lama di Mesir. Kami mau jalan-jalan dulu berkeliling Mesir” sahut Luciana.
“Oh, Semoga mereka tidak ke tempat itu” pikir Mona.
“Tempat apa yang tidak boleh kami kunjungi?” pikir John setelah mendengar pikiran Mona.
“Ini semakin menarik” pikir John
“Nona Mona, apakah kamu pernah mendengar tentang Penjaga Makam?” tanya John langsung untuk melihat ekspresi Mona.
“Penjaga Makam? Apa itu John?” tanya Sara
“Oh tidak, ternyata mereka cukup tahu tentang informasi rahasia ini” pikir Mona dengan sedikit gelisah.
“Kami mendengar tentang kelompok Penjaga Makam di Mesir ini” lanjut John menyesap tehnya sambil mendengarkan pikiran Mona.
Kemudian John menceritakan tentang Penjaga Makam yang diketahuinya dari tuan Akins, yang membuat Sara dan Cindy terpana oleh cerita itu.
“Jadi kita akan mengunjungi beberapa situs purbakala dan makam-makam di Mesir untuk menemukan kristal darah di tempat-tempat itu” kata John memancing pemikiran Mona.
“Oh tidak, semoga mereka tidak ke Damietta” pikir Mona dengan cemas.
__ADS_1
“Kena kamu” pikir John sambil tersenyum.
“Kenapa kamu tersenyum John?” kata Cindy melihatnya aneh.
“Tidak, sepertinya kita memulai untuk mengunjungi kota Damietta terlebih dahulu” kata John memancing kembali.
“Oh tidak, aku harus segera memberi tahu teman-teman di sana” pikir Mona.
“Maaf, aku harus melakukan telepon terlebih dahulu. Aku ada rencana untuk sore ini, tapi aku harus membatalkannya agar bisa menemani kalian” kata Mona sambil tersenyum.
Mona lalu ke pojok restoran untuk melakukan panggilan telepon, namun John memasang indra pendengarannya untuk mendengarkan pembicaraan Mona.
“Hassan, tolong beritahukan pimpinan untuk menutup situs kita. Agar tidak bisa dikunjungi oleh wisatawan” kata Mona
“Ada apa Mona?” tanya seseorang bernama Hassan di seberang telepon.
“Aku memiliki teman-teman yang ingin berkunjung kesana. Mereka sedang menyelidiki tentang Kristal Darah dan Penjaga Makam” sahut Mona.
“Apakah kami harus melenyapkan mereka?” tanya Hassan kembali.
“Jangan! Mereka temanku. Tutup saja situsnya” kata Mona.
“Ok Mona” sahut Hassan di seberang lalu menutup teleponnya.
Mona menghela nafas lega setelah melakukan panggilan tersebut. Namun dia tidak menyadari bahwa John telah mendengar semua percakapan mereka.
“Sepertinya wanita ini tidak sederhana” pikir John
“Aku harus lebih banyak mengorek informasi darinya”
“Bagaimana Mona? Kamu bisa menemani kami kan?” tanya John sambil tersenyum.
“Bisa. Aku sudah membatalkan acaraku sore ini untuk menemani kalian” sahutnya sambil tersenyum.
“Kalau begitu ayo kita berangkat menuju Damietta” kata John bersemangat.
“Ah, untung aku sudah memberitahu mereka tepat waktu sebelumnya. Mereka ini arkeolog dari ekspedisi new world. Mereka tentu sangat ahli tentang benda-benda purbakala. Takutnya mereka memiliki niat lain” pikir Mona tak menentu selama perjalanan.
“Mona, kenapa kamu diam saja?” tanya John dalam perjalanan.
“Mona, ku dengar sebuah informasi, bahwa markas Penjaga Makam ini berada di Damietta” kata John tiba-tiba memancing reaksi Mona.
“Darimana orang ini tahu? Apa saja yang telah dia ketahui? Aku harus berhati-hati padanya” pikir Mona gugup.
“Aku belum pernah mendengar sebelumnya tentang Penjaga Makam ini seumur hidupku. Darimana kalian mendapat informasi ini?” tanya Mona kembali
“Darimana kamu tahu itu John?” tanya Amelia penasaran
__ADS_1
“Ah, itu hanya rumor yang aku dengar dari beberapa sumber” sahut John tersenyum
“Aku mendapat informasi ini justru darimu Mona. Hehehe..” kata John dalam hatinya.