ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 35 | Aku menemukanmu


__ADS_3

“Siapa kamu, berani menyentuh kami” kata salah satu lelaki itu.


“Aku John” jawab John dengan polos


Kedua lelaki itu berusaha menyerang John, namun sebelum mereka bergerak John sudah menampar mereka berdua.


Plak! Plak!


Mereka berdua melayang menabrak meja di dalam bar tersebut. Keduanya memegang wajahnya yang bengkak “Ka..Kamu berani memukulku”


“Kenapa? Apakah masih kurang?” tanya John sambil melangkah mendekati mereka.


“Awas kamu, kami akan kembali. Kamu akan menerima konsekuensi memukul kami” kata lelaki itu yang pergi meninggalkan bar.


Cindy yang melihat kejadian itu tidak percaya, sosok John dari belakang, kejadian ini mirip dengan kejadian sepuluh tahunan yang lalu.


Sekitar sepuluh tahun yang lalu, Cindy yang berusia dua puluhan mengalami kejadian serupa sebuah bar di Kanada. Saat itu dirinya juga mengalami pelecehan seperti ini, namun seorang pemuda menolongnya dan juga mengatakan hal yang sama seperti kata-kata John, lalu pergi meninggalkannya. Saat itu dia tidak sempat mengucapkan terima kasih, hanya melihat sosoknya dari belakang seperti melihat John saat ini.


“I..Itu kamu?” kata Cindy tergugup bercampur gembira dalam hatinya. Seorang pahlawan yang menolongnya sepuluh tahunan lalu yang menjadi cinta pertamanya, membuatnya penasaran dan melajang hingga saat ini. Apakah itu kamu John, pikirnya


John yang membalikkan badannya dan berjalan ke arah Cindy, membuat hati Cindy berdegup kencang. Lalu Cindy pun menubruk tubuh John dan memeluknya. Hal ini membuat John terkejut tak berdaya lagi.


John bisa membaca perasaan hati Cindy, dia tidak dapat berbuat apa-apa. Lalu perlahan dia mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Cindy.


“Ada apa Cindy. Apa yang ingin kamu sampaikan padaku” tanyanya


“Aku menyukaimu John, sejak dulu sepuluh tahun yang lalu kamu menolongku hingga saat ini” kata Cindy sambil menundukkan wajahnya yang memerah.


“Sepuluh tahun yang lalu?” John tampak kebingungan dia mencoba-coba mengingat sepuluh tahun yang lalu di Kanada. Ah, rupanya kejadian saat itu. John teringat dirinya memang pernah menolong seorang wanita di bar seperti kejadian tadi.


Dia tidak bisa menjawab apapun, kecuali hanya tersenyum kepada Cindy.


“Berarti usiamu saat ini tentu lebih tua dariku. Kenapa wajahmu kelihatan masih lebih muda?” tanya Cindy penasaran


Tentu saja aku jauh lebih tua ribuan tahun darimu Cindy, kata John dalam hatinya geli sambil tersenyum.


“Wajahku memang baby face kata orang-orang, awet muda” sahut John sambil menyengir.

__ADS_1


“Ah, aku jadi kelihatan lebih tua darimu. Sudahlah, yang penting aku sudah menemukanmu” kata Cindy dengan hati gembira.


“Ohya, ada hal apa yang ingin kamu bicarakan denganku disini” tanya John


Cindy kemudian menenangkan dirinya dari kegembiraan lalu mulai berkata “Kami akan kembali lagi ke ekspedisi, sepertinya di Rusia kami tidak menemukan apa yang dicari. Aku dengar selanjutnya kami akan berangkat menuju Amerika Selatan”


“Amerika Selatan?” tanya John


“Iya, Aku harap disana kita menemukan sesuatu. Awalnya aku merasa ekspedisi ini melakukan sesuatu yang sia-sia, membuang waktu, namun setelah melihat permata tadi di kamarmu, aku menjadi bertambah semangat. Bagaimana menurutmu John?


“Apa yang harus aku lakukan, menghentikan ini atau melanjutkannya?” tanya Cindy kemudian


“Kembali padamu Cindy, apapun keputusanmu aku akan mendukung penuh” sahut John.


“Kalau begitu, karena sudah terlanjur memulai, aku ingin menyelesaikannya hingga tuntas” kata Cindy bersemangat lagi.


Tadinya aku ragu untuk melanjutkannya John, karena usia dan juga aku harus menentukan langkah hidupku, mencari cinta pertamaku atau memilih bersamamu. Namun aku menemukan ternyata kamulah cinta pertamaku, takdir menemukanmu kembali bersamaku, kata Cindy dalam hati sambil menundukkan kepala dan tersenyum sendiri.


Mata John berkedut mendengar kata hati Cindy tersebut, dia menjadi kikuk tidak tahu harus bagaimana. Hanya bisa diam sambil melihat Cindy tersenyum sendiri.


“Kamu mengkhawatirkanku John?” sahut Cindy dengan mata lembut memandang


Perlukah aku menjawabnya?, kata John dalam hati dan menghela nafasnya “Ayo kita kembali” lalu berjalan keluar dari bar.


Cindy pun mengikutinya sambil merangkul tangan John, yang membuatnya agak risih namun dia tidak melepaskannya.


Tiba-tiba diluar bar sudah berkumpul puluhan orang yang menghadang mereka.


“Itu mereka ketua” kata lelaki yang wajahnya bengkak ditampar oleh John


“Orang ini yang memukulmu?. Kamu benar-benar memalukanku. Kalian lemah sekali.” sahut orang yang dipanggil ketua itu.


“Ta..tapi dia sungguh kuat sekali ketua” kata orang itu lagi sambil gugup


Orang yang dipanggil ketua itu berdiri ditengah jalan sambil menyalakan cerutunya, sementara bawahannya berdiri melingkar di belakangnya yang menghalangi jalan, membuat John dan Cindy berhenti. Cindy gemetar ketakutan, namun John berusaha menenangkannya.


“Hei, Jadi kamu yang memukul anak buahku? Kamu sungguh berani membuat keributan di wilayahku” kata ketua itu sambil menghisap cerutunya

__ADS_1


“Memangnya kamu siapa?” tanya John dengan wajah polos.


“Kamu tidak tahu, ini bos Dimitri, ketua cabang geng Srigala Merah disini” teriak lelaki disebelahnya


“Hanya bos cabang saja sudah berlagak, bos besarmu ada disini pun aku tidak takut” sahut John.


“Jahanam, kamu terlalu banyak omong kosong. Kamu pikir kamu bisa melawan kami, hahahaha? Dimitri tertawa mendengar kata-kata John.


“Kalian membuang-buang waktuku, jika mau maju, sekalian saja semuanya sekaligus untuk menghemat waktuku” kata John sambil menyuruh Cindy untuk mundur bersembunyi ke dalam bar.


“Dasar pembual! Kalian hajar orang ini” teriak Dimitri yang langsung membuat seluruh bawahannya menyerbu ke arah John.


John hanya tersenyum menyeringai melihat orang-orang itu menyerang ke arahnya, lalu dia menghindari setiap serangan tersebut sambil menampar mereka satu persatu.


Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!


Setiap tamparan memiliki kekuatan yang besar, sehingga mereka terpental berhamburan berjatuhan.


Hanya tak lebih dari dua menit, seluruh bawahan Dimitri sudah terkapar tak berdaya. Dimitri menjatuhkan cerutunya melihat kejadian ini seakan tidak mempercayai matanya. Lalu mengambil pistol dari balik bajunya.


Sebelum dia mengeluarkan pistolnya, John sudah bergerak lebih cepat merampas pistol tersebut lalu mengarahkannya ke kepala Dimitri.


“Bagaimana? Masih tidak mempercayaiku? Aku bisa menghabisi kalian semua sebelum kamu menghabiskan cerutumu” kata John


“Ka.. Kamu siapa?”


“Namaku tidak layak untuk kamu tahu. Apakah kamu belum puas? Kamu bisa memanggil bos besarmu untuk datang kesini” kata John sambil membongkar pistol ditangannya menjadi kepingan-kepingan.


“Pergi dari sini!” usir John.


“Kamu mencari mati, kamu tunggu saja. Aku akan memanggil bos besar untuk menghajarmu” kata Dimitri sambil pergi.


John lalu memanggil Cindy yang bersembunyi di dalam bar.


“Kamu tidak apa-apa John?” tanya Cindy khawatir.


“Tidak apa” kata John sambil tersenyum, lalu mereka pun kembali ke hotel bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2