Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Jalan hidup yang dipastikan


__ADS_3

" Antaresta Mage... atau siapapun nama asli yang dirikupun tidak mengetahuinya. Sesosok manusia yang tidak sengaja diriku panggil atas kegagalanku sebagai seorang summoner kala itu.... " ucapnya sembari melihat sosok Anma yang tengah berada di sebuah ruangan bersama Shofia dan Tia bersaudara.


" Entah karena sistem dunia yang sengaja menarik dirinya atau karena sebuah kebetulan semata, mantra pemanggilan yang diriku ucapkan kala itu membuat gerbang pemanggilan justru menyatu dengan gerbang reruntuhan dari sosok penghancur yang telah di segel oleh para dewa dewi terdahulu." tambahnya disaat melihat kembali sosok Anma yang bersiap menghadapi Imortal Aifrit.


. " Walaupun itu bisa dianggap sebagai kegagalanku kala itu, siapa yang akan menyangka bahwa dia benar benar mengalahkan sosok penghancur itu yang bahkan para dewa dewi hanya mampu menggores dirinya. " gumamnya kesal sesaat setelah mengingat kembali kejadian yang membuat lara dewa dewi kala itu terkejut.


" Namun karena sebuah titel yang tidak diketahui tiba tiba muncul dengan aura mengerikan tidak lama setelah dirinya berhasil keluar dari sana. Dengan sebuah alasan dari dewa dewi kala itu yang menyebutkan bahwa dirinya adalah sebuah ancaman besar karena dia berpotensi sebagai sosok penerus yang mampu menghancurkan alam langit dan bumi. " Tambahnya setelah melihat gelar Armageddon yang setiap alfabetnya berupa deretan batuan retak dengan setiap isi retakkannya berwarna merah menyala layaknya sebuah lava.


" Meskipun sudah hampir 34000 tahun atau 58 tahun waktu alam langit berlalu, siapa sangka dirinya mampu berevolusi menjadi sosok yang lebih mengerikan setelah berhasil selamat dari dunia bawah. " ucapnya kembali sembari membandingkan statistik data dari Anma yang saat pertama kali dirinya panggil dengan statistik barunya setelah menampakkan dirinya kembali.


" Mungkin jika dirinya tidak memakai pelindung itu, sebuah aura mencekam dapat menyelimuti sebagai alam langit dan bumi serta gelar yang diwariskan pun, akan membuat dirinya layak menjadi sosok penghancur itu sendiri. " gumamnya setelah mengingat pertemuannya dengan Anma kala itu.


" Walaupun demikian, setidaknya aku masih bisa bersyukur atas arti lain dari gelar itu yang mungkin dapat membawanya pada kebahagiaan. " ucapnya setelah melihat sebuah arti lain dari gelar " Armageddon" yang berarti " Penghancur kesombongan."


" Ne~ Anma. Mungkin sudah terlambat untuk diriku membuatmu menjadi pahlawan. Namun mengingat takdir yang telah membawamu kesini, setidaknya biarkanlah aku untuk bertanggung jawab atas duka yang selama ini kamu rasakan. " tambahnya sembari menghela nafas panjang


" Walaupun hal ini nampak terlambat bagi diriku, aku harap kamu bisa menjalani kehidupan yang penuh kebahagiaan agar akupun dapat beristirahat dengan tenang seperti kaka dan lainnya... " ucapannya sembari melihat ke arah sebuah tugu yang berisi puluhan nama layaknya nisan


" Selamat pagi, nona Fortune... " ucap seorang sesaat setelah melihat sosok Fortune yang nampak tengah berdoa di hadapan sebuah tugu.


" Selamat pagi juga, Nantara. Apakah ada yang bisa saya bantu?" balasnya setelah selesai melakukan apa yang sedang dilakukannya.

__ADS_1


" Tidak, nona Fortune. Saya kemari hanya untuk menikmati waktu sesaat. Namun setelah melihat anda di sini, saya hanya ingin menyapa anda sebentar. " balasnya dengan sopan.


" Jika tidak salah, seharusnya kamu mengawasi para keturunan dari pahlawan sebelumnya, kan? " balasnya setelah meminta Nanta duduk disebuah kursi panjang yang tidak jauh dari tempatnya berada.


" Itu benar, nona. Saya yang mengerjakan hal itu. Namun beberapa hari terakhir ini, saya merasa malas melakukan hal itu karena sosok pahlawan baru justru membuat diriku merasa kecewa. " balasnya dengan mengeluarkan keluh kesahnya.


" Jika itu benar, maka mungkin itu adalah salahku. Maaf ya, Nanta. Karena diriku, kamu harus menerima tugas yang seperti itu. " ucapnya menyesal.


" Tidak, nona. Bukan seperti itu yang saya maksudkan. Saya tidak kesal atas pilihan nona memanggil sosok pahlawan itu, karena yang membuat saya kesal adalah otoritas yang terlalu memanjakan sosok pahlawan itu sendiri. " balasnya menyangkal.


" Bukankah Nona Fortune sendiri paham atas keluarnya jalur kestabilan dari harkat dan martabat dari para pahlawan? Mereka yang seharusnya tidak terlalu mementingkan permainan dan keturunannya disaat dunia masih bersitegang dengan para iblis? " tambahnya dengan wajah yang menampakkan secara jelas sebuah kekecewaan.


" Ah... iya, nona... maafkan saya. " ucapnya sembari bersujud di hadapannya.


" Sebagai salah satu dari dewa pengawas.... ah.. tidak, maksudku adalah sebagai salah satu dewa yang sudah lebih lama dari yang lainnya, seharusnya kamu mengetahui tata krama yang harus kamu ingat dalam diri mengenai kesakralan tempat ini. " ucapnya menasehati Nanta.


Fortune menasehati Nantara cukup lama hingga membuat Nantara menetesian air matanya karena merasa bersalah dan menodai tempat suci yang merupakan area suci nan sakral.


" Untungnya saat ini hanya ada diriku seorang, Nata... Jika tidak, kamu mungkin akan mendapatkan hukuman yang berujung pada pembuangan dan karena kamu adalah sosok yang cukup disegani di sini, untuk kalih ini saja, aku memaafkan dirimu atas kelalaian yang dirimu buat. " tambahnya sembari mengusap kepala Nantara untuk menghiburnya.


" Lalu, mengenai otoritas yang kamu ucapkan sebelumnya. Aku pun sudah mengetahuinya sejak lama. Maka dari itu, kamu cukup mengerjakan apa yang kamu mampu kerjakan karena aku sudah mempersiapkan sesuatu untuk menangani masalah itu. " lanjutnya setelah menghadapkan dirinya ke arah lain.

__ADS_1


" Dengan segala hormat, Nona Fortune. Saya sebagai seorang pengawas merasa sangat malu dan menyesali apa yang telah saya katakan sebelumnya. Maka dari itu pun, saya sangat berterima kasih kepada nona karena telah memaafkan diri saya yang lalai ini. " balasnya yang masih tersujud meminta pengampunan.


" Sudahlah, Nanta bersihkan wajah sedih itu karena bawahan mu sedang berjalan kemari. " ucap Fortune sembari menjaga jarak Nanta.


" Dan lagi.... ingatlah selalu untuk tidak melakukan hal lalai seperti tadi dan tetaplah memenuhi tugas yang kamu terima. " tambahnya sebelum menghilang.


" Tuan.... kami ingin meminta tuan untuk pergi bersama kami untuk kembali membahas sosok manusia yang kita lihat sesaat sebelum Cermin Panatua rusak. " ucap sosok berpakaian merah muda.


" Baiklah, Elin... aku akan segera ke sana. Pastikan bahwa seluruh dewa dewi yang masih belajar mengenai pengawasan untuk tidak ikut pada pembahasan kalih ini karena aku merasa ada yang janggal dengan sosok itu. Terlebih lagi, jang lupa untuk membawakan beberapa arsip yang aku minta sebelumnya " tambahnya dengan nada bersahabat.


" Permintaan dokumen yang anda minta telah disiapkan oleh Athem di ruang pertemuan. Saya sendiri pun sudah mastikan bahwa para dewa dewi yang masih dalam proses pengajaran tidak akan mengetahui tempat yang akan kita gunakan sebagai ruang pertemuan. " balasnya sembari melihat papan tugas yang dirinya bawa.


" Lalu... mengenai kabar kematian dari Cris.. bagaimana? apakah sudah ada yang mengetahui hal itu selain kita? " ucapnya lirih


" Mengenai kabar buruk itu, belum ada dewa ataupun dewi lain yang mengetahuinya. Maka dari itu kami sempat berfikir untuk menghilangkan jejak keberadaannya melalui proses pemakaman yang bersamaan dengan dilaksanakannya festival dari kebangkitan sosok pahlawan beberapa hari lagi. " balasnya melaporkan.


" Baguslah jika begitu. Saya sendiri merasa sangat kehilangan atas sosok Cris yang selama ini hanya duduk dan membaca buku pengetahuan di area Cermin Panatua. Walaupun begitu, setidaknya kita harus melakukan apa yang kita bisa sebagai bentuk penghormatan kepada Cris yang kehilangan nyawanya tanpa kita sadari. " jelasnya lirih.


" Baik, tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghormati sosok Cris.... " balasnya dengan nada rendah sebelum kembali bersemangat.


" Sepertinya Nanta akan sedikit mengalami masalah dengan dia. Walaupun harus kembali bergesekan dengan beberapa dewa dan dewi lain sepeti dirinya, setidaknya aku masih bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpa dirinya " gumamnya setelah mengalihkan pandangannya ke sebuah pecahan cermin yang menampakkan sosok Anma tengah serius menghadapi pertanyaan dari Shofia dan Tia bersaudara.

__ADS_1


__ADS_2