
* Pyar..... !! * sebuah suara benda pecah terdengar di sebuah ruang kosong yang Fortune tempati.
" Peringatan!! Pelanggaran peraturan terdeteksi!! Peringatan!! Pelanggaran peraturan terdeteksi!! " Sebuah retakan dimensi mulai terlihat.
" Celakalah aku.... !! Jika sudah begini... Apa boleh buat " Seorang wanita terlihat panik akan sesuatu yang datang
" Baiklah.... Nah..... Semoga ini berhasil.... " Ucap wanita itu setelah menciptakan sebuah pentagon biru berisikan ribuan nama.
" Demmassife.....Retribution....emperor...!! " Wanita itu erapal sebuah mantra sambil menekan sebuah baru berisi nama seorang.
* bizt...!! * tubuh wanita itu berubah menjadi setumpuk partikel bercahaya dan masuk ke dalam petagon biru tadi.
Bersamaan dengan hilangnya pentagon biru di ruang kosong tadi, sesosok pria berpakaian putih keluar dari dalam retakan dimensi.
" Jadi kamu benar benar bertekad untuk memberontak yah? " Pria berbaju putih itu mengusap sebuah debu yang bercahaya sambil tersenyum.
" FantraliXnuronddimensions " Pria tadi merapal sebuah mantra di atas sisa sia partikel yang ada.
* Sbrum....!!! * Partikel yang tersisa tadi terbakar oleh api dan di akhiri sebuah ledakan kecil.
" Sampai bertemu di panggung kehancuran kita berdua. Kawan... " Pria itu tersenyum sesaat sebelum melangkah kembali kedalam retakkan dimensi tadi.
Setelah wanita tadi terhisap masuk kedalam pentagon sihir, sesuatu mengikuti wanita itu di dalam lorong ruang dan waktu yang tercipta di dalam pentagon itu.
" Celaka... Sesuatu sedang bergerak ke arahku. Aku harus cepat" Tubuh wanita itu yang semula hanya berbentuk butiran debu, mulai berubah menjadi sebuah batu besar dan melesat jauh ke ujung lorong dari pentagon itu.
* Pyar...... * Wanita itu menjadi satu dengan seorang wanita yang telah ia pilih sebagai wadahnya.
" Akh.... Kepalaku... " Flora terbangun dari tidurnya.
" Jadi, mulai sekarang kalian akan menggantikan ke lima belas demi human yang dulu pernah bersama denganku. Dan untuk kalian ber lima, kalian akan menjadi iron maiden untukku. " Anma kembali menegaskan apa yang sebelumnya ia tegaskan.
" A... Ayah? Apakah itu kamu ayah? " Flora berusaha bangkit dari atas tempat tidur sambil memegangi kepalanya.
" Flora.... Hai hati... " Anma menangkap Flora di saat Flora terjatuh.
" Ayah... Aku senang bahwa ayah baik baik saja " Flora mengelus wajah Anma dengan mata yang berkaca kaca.
__ADS_1
" Iya, Flora. Ayah baik baik saja. Dan lagi, maaf karena telah membuatmu khawatir. " Anma mengusap air mata yang keluar dari mata Flora.
" Ayah!!! Ak-aku pikir, aku akan kehilangan ayah lagi dan ak-aku akan kembali sendirian lagi. " Flora menggenggam erat tangan Anma sembari menenggelamkan kepalanya ke dada Anma.
" Sudahlah... Sudah... Jangan menangis lagi Flora. " Anma mengusap kepala Flora yang masih tertunduk.
" Ayah....!! " Flora menangis lebih keras dari sebelumnya
" Ya, baiklah. Kamu boleh menangis sepuasmu " Anma mengusap kepala Flora sembari merapal sebuah mantra.
Mantra yang Anma berikan pada Flora, memberikan sebuah positif aura dengan tambahan efek pemulihan.
" Jadi.. Apakah kamu sudah baikan, Flora? " Anma mengusap kepala Flora yang mulai terdiam
" I-iya.. Aku sudah baikan ayah. " Flora mengusap air matanya disaat dirinya menatap Anma.
" Syukurlah kalau begitu. Dengan begini, kita akan bersiap menuju rumah baru kita " Anma menyentuh bibir Flora dengan kedua jarinya untuk membuat sebuah senyuman
" Ayah!!! Hehehe.... " Flora menepuk tangan Anma sebelum dirinya kembali ceria.
" Hehehe.... Nah sekarang, ayo kita pergi. " Anma menggendong Flora layaknya seorang putri dan mulai berjalan keluar dari kamar khusus di bar milik Brotus.
" Ayah... Kenapa mereka terlihat berbeda dari sebelumnya? " Flora bertanya pada Anma sembari melihat para pelayan yang ia lewati.
" Ah... Mereka? Mereka menjadi seperti ini setelah mereka melewati sebuah latihan dari ayah " Anma menjawab Flora dengan senyuman
" Akh... Kepala ku... " Flora kembali memegang kepalanya yang kesakitan.
" Eh...? Flora... Apakah kamu sudah keluar dari dalam sitem yang menngikat dirimu? " Anma terkejut ketika Flora berhenti menyebutkan nama dirinya ketika berbicara.
" Sitem... ? Sistem apa yang ayah magsud? " Jawab Flora terheran heran.
" Tak apa Flora. Lupakan saja apa yang tadi ayah katakan. " Anma menggelengkan kepalanya karna suatu alasan.
" Baiklah ayah. Oh iya, mengenai latihan yang ayah bicarakan tadi, apakah itu adalah latihan yang dulu ayah bicarakan dengan Juan dan lainnya? " Flora menatap Anma serius.
" Ah... Juan. Ya, mungkin itu adalah hal yang sama. Tapi, sepertinya kamu masih melupakan sesuatu ya? Flora " Anma tersenyum ketika Flora mengingatkannya pada diskusi yang ia lakukan bersama Liah.
__ADS_1
" Sesuatu.... Em.... Em.... " Flora menunjukan wajah lucunya ketika ia sedang mencoba mengingat sesuatu.
" Hehehe... Sudah sudah.... Kamu sudah tidak perlu berfikir keras seperti itu. " Anma tertawa saat melihat tingkah Flora.
" Na....hm.. " Flora menunjukan wajah kesalnya.
" Ah... Tuan Anma... Senang melihat anda kembali. Dan.... ? " Brotus menyambut Anma disaat Anma berjalan untuk keluar dari bar.
" Senang melihatmu juga Brotus. Oh iya, tolong jangan menatap putriku dengan wajah seperi itu. Kamu mengerti?! " Anma mengeluarkann aura intimidasi miliknya sesat setelah ia tersenyum menyapa Brotus.
" Hehehe... Maafkan saya tuan Anma. Saya berjanji bahwa saya tidak akan melakukan hal yang sama seperti hal tadi " Brotus langsung bersujud dan meminta maaf kepada Anma.
" Oh, iya. Tuan, apakah tuan saat ini sedang menuju rumah baru yang tuan pesan lima bulan lalu? " Tambah Brotus.
" Iya, kamu benar Brotus. " Jawab Anma singkat
" Kalau begitu, mari saya antarkan tuan ke lokasi rumah itu. " Brotus bangkit dari sujudnya sembari merapikan bajunya.
" Hmph.... Sudah selama itu yah. Aku kira itu baru kemarin saja " Anma menghela nafasnya disaat ia mulai melangkah keluar dari bar.
Anma berjalan bersama dengan Brotus menuju rumah baru miliknya. Sepanjang perjalanannya menuju rumah itu, seluruh penduduk kota menatap tajam ke arah Anma beserta Brotus dan pelayannya.
" A... Ayah... Apakah ayah tidak merasa bahwa ini terlalu berlebihan? " Tanya Flora pada Anma yang hanya terfokus pada jalannya.
" Hm... Yah... Tidak apa. Ini adalah hal yang wajar bagi ayah. Lagi pula, banyak hal sudah ayah lalui ketika kamu tertidur cukup lama.
" E....? Memang apa yang sudah aku lewatkan? " Flora terkejut dan melepaskan diri dari gendongan Anma.
" Yah... Sekarang, ayahmu ini sudah menjadi satu dari lima petualang tertinggi di kota ini. Jadi, wajar jika ayah menjadi pusat perhatian. " Anma mengusap kepala Flora.
" He.....? Benarkah itu....? " Flora melepaskan tangan Anma karena tidak percaya.
" Maaf mengganggu... Tapi, itu benar. Nona Flora. " Alpa menyapa Flora dari samping Anma.
" E....? Ka...kamu....? Kamu.... Siapa? " Flora yang kehilangan ingatan terkejut ketika melihat seorang yang terlihat familiar baginya.
" Hehehe.... Dia ? Dia adalah Alpa, Flora " Anma mencubit pipi Flora karena gemas.
__ADS_1
" Ano... Maaf mengganggu pembicaraan tuan, tapi saat ini, kita masih berada di alun alun kota. Jadi... Saya fikir, akan lebih baik jika tuan dan nona melanjutkannya ketika kita sudah sampai di mansion yang di tuju." Brotus meminta kepada Anma, Flora dan Alpa yang sedang bicara.