
" Hmph....." Anma menghela nafas panjang sembari menatap ke arah lubang di atap mansion.
" Ne.... Arcanest, Flora, Quinn.... Apakah kalian baik baik saja? " Anma mengalihkan pandangannya ke arah mereka yang masih berdiri kokoh
" Hey......? " ucapnya kembali
Karena tidak ada jawaban dari ketiganya, Anma pun menarik tubuh ketiganya dengan sihir yang sama ketika ia menarik paksa sosok bertubuh hitam.
Tubuh manusia milik Arcanest berdiri tegap dengan bagian mata, telinga dan hidung mengeluarkan darah. Sementara bagian wajah Flora terbesit sebuah luka dengan menampakkan bagian daging layaknya akar di sebagian wajahnya. Sedangkan untuk wajah Quinn yang berada di dekat Flora hanya mengalami luka sobek di bagian telinga kanannya. Ketiga tubuh yang penuh luka itu memiliki sebuah tatapan kosong seolah mereka telah tiada.
" Hmph...... Sepertinya aku terlalu berlebihan tadi. " Gumamnya setelah mengingat amarahnya yang telah lalu
" Aku harap mereka yang berada di luar mansion tidak tumbang seperi mereka. " gumamnya setelah mengingat kembali kejadian sebelumnya.
" Eaten " Anma membuka tangannya ke arah para Legium sembari merapal sebuah mantra.
Sebuah portal hitam mulai muncul dan menghisap seluruh tubuh Legium beserta seluruh dekorasi dan makanan serta minuman yang ada dalam mansion itu.
" Dengan ini masalah mengenai pembersihan sudah selesai, nah sisanya... " Anma mengepalkan tangannya sembari melihat tubuh Tia bersaudara, Brotus dan Shofia yang ada di hadapannya.
Anma menggunakan sihir yang sama untuk menarik ke enam tamu yang ia undang.
" Eraser me...... " Anma merapal sebuah mantra penghapus ingatan mengenai hal yang telah terjadi, begitupun pesta, Legium dan sosok hitam serta penjelasan dari mantel sihir milik Lunastia serta beberapa hal yang tidak seharusnya mereka ingat dan mengubah hal yang telah terjadi layaknya sebuah mimpi yang sangat buruk bagi mereka.
" Hyosh.... Maaf ya Tia, Shofi, Brotus, dan yang lainnya. Aku harus merahasiakan hal ini dari kalian. Tapi setidaknya dengan ini, aku akan memikirkan kembali kehidupan kalian ke depannya. " gumamnya sembari menatap mereka.
Setelah semua mantra pemulihan diberikan kepada mereka yang tergeletak, Anma mengangkat tubuh mereka secara bersamaan dan melakukan teleportasi untuk memindahkan mereka ke tempat yang ia tahu.
__ADS_1
Tubuh Shofia di kembalikan ke konter guild dalam posisi tertunduk tidur, Brotus di letakan di kantornya dengan posisi terlentang, Lanastia diletakkan di kamar tempatnya berada dan karena ia tidak tahu tempat tidur dari saudarinya yang lain, ia memutuskan untuk menjelajahi isi rumah itu bersama tubuh mereka yang masih diangkat.
" Wah.... Berantakan sekali. " Anma masuk pada suatu kamar di depan kamar Lanastia.
Kamar itu di penuhi kerta kertas yang menumpuk, rak rak buku yang dipenuhi dengan buku buku yang terlihat begitu sulit dipahami serta sebuah kasur yang dipenuhi dengan lembaran kertas yang berhamburan.
" Hm.... Sepertinya kamu memiliki tuan yang sangat hebat ya. Youland " Anma mengusap sebuah lemari kaca berisi sebuah tombak putih dengan ukiran akar berlapis emas.
Berbeda dengan senjata milik Lanastia, senjata yang ada di balik lemari kaca itu tidak merespon keberadaan Anma karna suatu hal yang dirinya pun tidak ia ketahui.
" Berarti ini adalah kamar miliknya. " Anma meletakkan tubuh Listia dengan posisi yang sama seperti Shofia.
" Beristirahat lah dengan tenang ya. Mungkin, belum saatnya kita bertemu. Namun sebagai balasannya, aku berikan ini untukmu " Anma berjalan pergi meninggalkan kamar Listia yang telah ia rapikan sembari meninggalkan sebuah sarung tangan dengan sebuah slot batuan gem untuk meyakinkan dirinya bahwa tombak yang ada dalam lemari itu adalah tombak yang hampir sama seperti pedang ganda Carcer.
Anma kembali menjelajahi bagian dalam rumah itu. Tidak jauh dari kamar Lana dan Listia, Anma menemukan sebuah loteng yang tak terawat. Merasa benda benda itu tidak berharga baginya, Anma menuruni tangga dan sampai di lantai dua.
" Ini mengingatkanku pada kamar kusus milik brotus. " Anma melihat isi ruangan yang berbau harum itu yang nampak seperti kamar yang ditawarkan brotus.
" Sepertinya ini kamar milimu ya? Nona kecil ? Tapi sepertinya kamu tidak sendirian di sini? " Anma menatap ke arah Lunastia sesaat sebelum melihat tempat tidur bertingkat yang ada di sebelah pintu.
" Buku buku sihir, boneka beruang lucu, gambar buatan tangan bertema penyihir, meja rias..... " Anma melihat ke sekeliling kamar itu
" Semoga kak Linda segera sembuh " Anma membaca sebuah kertas yang tergeletak di meja belajar dekat gambar buatan tangan bertema penyihir.
" Kalau tidak salah, itu berarti dia tidur bersama nona kecil " Anma mengingat seorang dari Tia bersaudara yang semula di penuhi perban.
" Ya, sudahlah. Selamat tidur nona kecil dan ka Linda " Anma meletakkan tubuh Lunastia dan Lindastia di tempat tidur yang bertingkat.
__ADS_1
" Jadi, sisanya hanya kamu ya. " Anma meninggalkan kamar keduanya sembari melihat ke arah tubuh Lenastia.
Anma mulai berjalan ke lantai dasar untuk menjejaki rumah yang di tinggali Tia bersaudara.
Ia membuka satu demi satu pintu dalam rumah itu mulai dari dapur, ruang utama, ruang tamu, sampai akhirnya ia menemukan kamar Lenastia
" Hm.... Sepertinya hanya kamar ini yang terlihat lebih normal dari pada kamar kamar yang lain " Anma masuk dan melihat isi kamar Lanastia.
" Lemari baju kayu, tempat tidur yang bersih nanti rapi, meja kerja yang tertata rapi, dua buah perisai yang di segel di batu hitam, lalu sebuah cermin pengawas " Anma menatap ke arah cermin yang disa markan di antara jendela kamar Lenastia.
* Prepet...!!!! Pyar....!!!! * Anma meras cermin yang tersembunyi itu hingga hancur tak berbekas.
" Nah, nona manis. Tidur lah dengan aman dan nyaman yah. " Anma meletakkan tubuh Lenastia ke atas tempat tidurnya.
" Ne... Kalian pasti sangat kesakitan kan? " Anma mengusap kedua perisai yang tersegel pada batu yang aneh.
" Hm..... Jadi begitu. " Anma memegang dagunya setelah menganalisis batu aneh yang menyegel kedua perisai itu.
" Sepertinya dari sini ke sini..... Lalu.... Nah.... Selesai " Anma mengucap sebuah mantra sembari mengusapkan jarinya ke atas batu aneh itu.
Tidak lama setelah batu itu di usap, sebuah cahaya berwarna hijau muncul setelah cahaya berwarna merah dan kuning.
" Beristirahatlah dengan tenang, yah. Kalian berdua " Anma mengusap kepala dari tubuh Juan dan jian yang keluar dari kedua perisai itu layaknya Carmen dan Cermen.
Tubuh keduanya mulai memudar setelah terlihat sebuah senyuman di wajah mereka.
" Dengan ini, selesai sudah pekerjaanku untuk saat ini. " Anma mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar Lenastia sembari bersiap melakukan teleportasi.
__ADS_1
" Sekali lagi maaf ya, kalian harus melihat hal yang tidak seharusnya kalian lihat. " Gumam Anma sembari menutup pintu kamar Lenastia.