Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Rencana lain dari sosok Dewi


__ADS_3

" Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Kita dapat menguburkan beberapa bgaian yang tidak lengkap itu bersama orang-orang yang tewas dalam lokasi itu. " ucapnya sambil memenadang sebuah tombak dalam lemari kaca.


" Tapi... jumlah korban jiwa yang ada di sana hanya dua orang. bagaimana bisa kita melakukan pemalsuan seperti itu " jawabnya sambil menulis beberapa laporan.


" Kita buat saja seakan beberapa tubuh yang tidak utuh ditemukan di sana. tapi karena bagian itu tidak lengkap, kita tidak bisa mengidentifikasi orang malang itu. " balasnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah Listia.


" Sepertinya itu bisa saja dilakukan mengingat lokasi itu dekat dengan pemukiman padat itu. " jawabnya menyetujui.


" Iya kan... hehehe... oh iya, apakah kamu sudah mengetahui siapa tuan dari para pelayan itu ? "


" Hm...? bukankah kaka sudah bertanya megenai hal itu tadi sore? " balasnya dengan cuek


" Heheh... iya. maaf kaka lupa mengenai hal itu. Jadi.... bagaimana menurutmu tentang orang itu? bukankah terasa aneh jika seorang baru saja tiba dan membeli sebuah mansion serta beberapa pelayan dan tidak lama setelah itu terjadi sebuah masalah di dalam kota? terlebih korbannya adalah para pelayan dari orang itu? " ucapnya sambil melihat saudarinya bekerja.


" Entahlah ka.. aku pun baru menerima laporan mengenai dirinya beberapa waktu lalu. Menurut data yang ada, dia hanyalah seorang pedagang biasa yang kehilangan semua barang jualannya disaat dirampok dalam perjalanan dagangnya. Di sini juga dijelaskan bahwa alasannya kemari adalah menemui temannya yang tidak dijelaskan. Tapi di dokumen lain sehari atau kurang, dia kembali masuk kedalam kota dengan menyebutkan nama Shofia. " balasnya dengan mencari laporan mengenai orang orang yang masuk kedalam kota.


" Kamu bilang menemui seorang teman. Namun kamu juga berkata ada laporan lain yang menyebutkan bahwa nama Shofia sebagai seorang teman... Ini terasa aneh untuk dipahami " balasnya dengan menggigit ibu jarinya.


" Maka dari itu, setelah laporan ini selesai, saya berencana pergi menemui Shofi terlebi dahulu sebelum menemui orang itu. " ucapnya sambil membagi beberapa kertas laporan.


" Mungkin sebaiknya kaka ikut dengan kamu ya.. untuk memastikan bahwa dia bukanlah orang yang berbahaya. " balasnya sambil membantu menguraikan laporan yang mungkin terselip dalam tumpukan kertas itu.


" Maaf ya ka... Seharusnya ini adalah hari libur untuk kaka tapi kaka harus mengalami masalah seperti ini " ucapnya disaat melihat saudara dekatnya membantu dirinya.


" Tidak perlu dipikirkan. Pekerjaan sedikit seperti ini bukanalah hal besar untuk seorang yang biasa berhadapan dengan laporan dari pusat fraksi perdamaian seperti diriku. " balasnya menyombongkan dirinya.


" Heheh... Iya, Duke Fransiska. The Peace front Duke. " balasnya menyebutkan titel miliknya


" Wahaha.... apa apaan itu Listi? hahaha.... " balasnya yang tertawa dengan ucapan saudarinya.


" Duke Peace, saja sudah cukup. Untuk itu jangan menambahkan sebutan lain lagi~ karena itu sangat merepotkan. " lanjutnya menyarankan.


" Heheh... ya sudah. Maafkan saya ya ka. hehe... mari kita selesaikan tumpukan ini dan setelahnya kita tidur. " balasnya menanggapi perkataan saudarinya


" Baik... " jawab Luna yang selesai mengerjakan sesuatu.

__ADS_1


" Ne kaka... kapan yah... kiranya saya akan mendapatkan guru yang mampu mengalahkan ka Lena? " tanbahnya sembari duduk di paha Linda.


" Kamu tidak perlu khawatir mengenai guru itu. Bukankah kaka sudah bilang bahwa suatu saat dia akan datang " jawabannya sembari mengusap kepalanya


" Hmph... kaka selalu saja berkata seperti itu sejak dulu. Tapi sampai sekarang belum ada satupun orang yang mampu mengalahkan ka Lena. " balasnya dengan wajah kesal.


" Hehehe... kaka minta maaf karena selalu mengatakan hal yang sama ya, Luna. " balasnya meminta maaf.


" Hmpft, aku tidak akan memaafkan kaka. Setidaknya sampai saat kaka kaka menemukan guru baru untukku. Heheheh..... " balasnya mengancam dengan wajah yang menggemaskan


" Hm.... yah... Kaka pasti akan membawakan seorang yang hebat kepadamu, Luna. Lagipun, tadi kaka menemukan seorang yang sangat hebat di rumah sakit. " ucapnya menerima tantangan dari Luna.


" Kaka pasti berbohong lagi. Mana ada orang hebat yang pergi kerumah sakit? " balasnya yang mulai tertarik atas apa yang Linda katakan.


" Hm~ kamu tidak tahu saja bahwa dia memeiliki kekuatan sampai 1 ova. " balasnya berbisik.


" 1 ovl? bukankah itu yang terendah ? " balasnya dengan tawa


" Bukan 1 ovl, Luna. Tapi 1 ova. Outher Value Antarest mana tapi karena penggunaan kata Antareast sampai saat ini tidak diketahui artinya, maka hanya diartikan menjadi Outher Value Unknown mana. " jawabannya membenarkan.


" Jadi... 1 ova sama dengan 100000 ovl. " ucapnya dengan mencubit pipi Luna dengan gemas.


" Eh?! E~!!! bagaimana kaka bisa menemukan orang seperti itu?!! " ucapnya yang terkejut


" Bagaimana~ kamu terkejut? " balasnya bertanya.


" Itu sangat hebat ka!!! Bagaimana kaka menemukan dia ?!! seperti apa orangnya?!!! apa saja yang bisa dia lakukan ka?!! dan... " Tambahnya yang terlalu bersemangat.


" Tenanglah Luna... pelankan suaramu atau saudara yang lain akan terbangun. " ucapnya untuk menenangkan Luna


" Hehehe... maaf ka. " balasnya sambil menutupi mulutnya.


" Iya, tidak apa. Jadi, bagian mana yang kamu ingin tahu lebih dahulu ? Tapi tentunya tapi jika kamu bertanya seperti tadi lagi... kaka tidak akan menjawab pertanyaan dari kamu. " ucapnya sambil memindahkan tubuh Luna untuk duduk berhadapan di atas kasur tingkat bawah.


" Baik ka... " jawabannya dengan semangat.

__ADS_1


Lindastia menjawab setiap pertanyaan Luna dengan berlebihan seakan sosok yang dia lihat itu memiliki kemampuan yang tidak terbayangkan. Walaupun demikian, Luna terlihat senag bahkan tidak merasa curiga atas penjelasan yang dikatakan kakaknya.


Dengan alasan bahwa dirinya masih belum mengenal dengan pasti sosok yang dia lihat sebelumnya, dia berkata pada Luna bahwa dalam beberapa hari lagi, sosok itu akan datang dan menjadi guru bagi Luna.


" Linda... apakah Luna sudah tidur? " tanya seorang dari balik pintu kamar.


" Emh...? ka Listi? " jawaban dengan mengusapkan matanya.


" Maaf ya, kaka mengganggumu. Kaka kemari untuk bertanya mengenai kertas yang mungkin tertinggal di rumah sakit tadi siang. Apakah kamu sempat melihatnya ataupun menemukannya ? " ucapanya mengatakan keperluannya.


" Hm... kerta apa yang kaka maksudkan. " balasnya setelah terduduk di balkon.


" sebuah kertas laporan berisi data seorang bernama Floran atau loran. " tanyanya kembali.


" Owhm... kerta itu? bukankah kaka menaruhnya di dekat meja dari kamar ketiga korban yang kritis? " balasnya dengan malas.


" Lalu... apakah kamu membawa kertas itu bersamamu? " balasnya dengan lenuh harap


" Iya... kertas itu seharusnya ikut terbawa bersamaku. Sebentar ya ka... akan saya carikan dahulu. " ucapnya sebelum pergi mencari beberapa map kertas berisi data pasien.


Listia yang merasa aneh karena Linda yang tidak kunjung kembali, akhirnya memutuskan untuk masuk dan melihat apa yang sedang dirinya cari.


Secara mengejutkan dirinya melihat Linda sedang memcari sesuatu dalam beberapa map yang memiliki tanggal waktu yang sama.


" Kaka!!! ke--kertas itu m--mungkin dibawa oleh orang itu.... " ucapnya dengan wajah ketakutan.


" Apa maksudmu orang itu...? " tanyanya penasaran


" Orang bernama Floran atau Loran itu... " jawabnya spontan


" Tapi... bagaimana mungkin?!!! " ucapnya terkejut


" Me--mengenai itu... sepertinya a--aku salah memberikan kertas berisi laporan dari kondisi ketiga pelayanannya dengan kertas milik kaka... " balasannya ketakutan.


" Hmph.... Syukur lah. Dengan ini dokumen terakhir yang berisi kebenaran dari dirinya berhasil lenyap dan kini hanya berisi beberapa informasi palsu yang telah diriku ubah. " ucapnya sambil melihat ke arah cermin pengawasan.

__ADS_1


" Siapa yang menyangka bahwa data dalam kristal ovl membutuhkan waktu yang lama untuk memasukkan perubahan data sampai sampai diriku ini harus menggunakan spesial item " tambahnya sambil memegang sebuah pena.


__ADS_2