Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Amarah


__ADS_3

" Ka.... Aku takut... " Kata Lunastia sembari menarik mundur Lenastia.


" Kamu tidak perlu takut Luna. Disini ada kakak kakakmu yang akan melindungimu jika hal buruk akan terjadi " Lenastia mencoba menghibur Lunastia disaat Lindastia dan Listia berdebat.


" Ne... Apakah ini hanya perasaanku saja, ataukah memang jubah Luna mulai bercahaya? " Kata Lanastia yang memilih mengabaikan pandangan Shofia dan para saudarinya.


* scring..... * sebuah tombak hitam muncul di tangan sosok hitam itu.


Sosok hitam itu menatap ke arah manusia ciptaan Anma tanpa menyadari keberadaan Anma di belakangnya.


" Bukankah hal ini pernah terjadi sebelumnya? " Lenastia menyadari suatu keanehan.


" Celaka " Teriak Lindastia sembari mendorong saudarinya menunduk.


* scring..... * cahaya yang semula remang remang dari jubah Luna berubah menjadi terang benderang secara tiba tiba.


Cahaya dari jubah Luna yang begitu terang membuat sosok hitam tadi mengalihkan pandangannya ke arah Shofia dan Tia bersaudara.


* swugh..... * sosok itu melesat dengan cepat ke arah Shofia dan Tia bersaudara.


* dung!!!! * makhluk itu terpental dan jatuh ke tempatnya semula.


Sosok hitam yang hanya tahu menggeram dan menyerang mulai terlihat kebingungan setelah menyadari adanya sebuah penghalang yang mengurungnya.


Sosok itu terus memukul penghalang itu dengan seluruh kekuatan miliknya.


" Hey....!!!! " Anma memanggil sosok hitam yang kebingungan itu.


* Swugh....!!! * sosok hitam itu melemparkan tombaknya ke arah Anma


* scoplash!!! * tombak hitam yang dilempar ke arah Anma secara mengejutkan menusuk balik sosok hitam itu dari belakang tubuhnya.

__ADS_1


" Gker..?! Grea!!!!!" Sosok hitam itu berteriak kesakitan ketika tombak yang ia lempar justru menusuk dirinya sendiri.


Mengabaikan teriakan dari sosok hitam itu, Anma mulai berjalan mendekat.


" Ayah!!!! " Flora memanggil Anma yang berjalan ke arah sosok hitam itu namun di tahan oleh Quinn.


" ..... " Quinn terdiam dengan ekspresi takutnya.


Flora yang berniat memberontak pada Quinn akhirnya membatalkan niatnya.


* dhm.... Dhm.... Dhm.... * sosok itu memukul mukulkan tangannya ke arah penghalang yang memisahkannya dengan Anma


" Kemarilah " Anma menarik tubuh dari sosok hitam itu hanya dengan mengangkat tangannya.


" Grrrraaaaaaaarrrrrr....... " Sosok itu menggerang kesakitan ketika tubuhnya ditarik paksa melewati penghalang yang kokoh itu.


* swuuuuuuuuups * Lunastia yang terbawa oleh mantel sihir miliknya sampai di hadapan Anma dan sosok hitam itu.


" Luna!!!!! " Tia bersaudara sempat memanggil Luna sebelum mereka terjatuh dari tangga lantai dua.


" Ha...h.... Ya ampun. " Anma membatalkan serangannya pada sosok hitam yang mengambil tubuh iron maiden.


Sembari mengusap bagian wajahnya dengan tangan kanan, aura merah yang di lihat oleh Lunastia pun mulai berganti menjadi aura putih seperti saat pertama kali.


" Hey.... kalau tidak salah, kamu adalah Luna kan? " Anma berjongkok di hadapan Lunastia sembari bertanya.


" I... i.... iya. " Lunastia yang ketakutan mulai membaik akibat aura putih milik Anma.


" Apakah kamu masih mengingatku? Kita pernah bertemu kemarin " Anma mencoba mengakrabkan diri.


" Em... Em.. Eto.. Ap... apakah tuan yang.. yang ada di kamar kakak beberapa hari yang lalu? " Jawab Lunastia.

__ADS_1


" Nah. Kamu benar Luna. Aku adalah orang itu. Syukurlah kamu mengingatnya " Anma mengusap kepala Lunastia agar ia lebih baik.


* Scriiiiiiiiiiiiing * jubah yang di pakai Lunasyia ber reaksi terhadap sentuhan tangan Anma.


" Akh.... Senang rasanya bisa tahu bahwa firasatku selami ini benar adanya. " Anma berkata pada sosok yang muncul ketika jubah Lunastia bercahaya.


" Hehehe.... " Lunastia tertawa seolah dirinya bukanlah dirinya.


" Mungkin akan terdengar aneh jika aku mengatakannya. Tapi.... Raizaz, senang rasanya melihatmu kembali " Anma membuka kedua tangannya pada Lunastia


" Hehehe.... Aku pun senang melihatmu kembali Anma. " Jawab Lunastia.


" Maaf ya. Anma. Mungkin disaat kamu melihatku saat ini, kamu mungkin akan bersikap lembut padaku. Atau mungkin kamu ingin memelukku. Hehehehe " Lunastia menggoda Anma.


" Jika kamu merasa demikian, aku akan merasa sangat senang untuk kembali memelukmu seperti saat itu. Namun, jika kamu melihat ku seperti ini, itu berarti salah satu keturunanku bisa bertemu denganmu. " Lunastia menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedih.


" Tapi tak apa. Aku tidak mempermasalahkan pertemuan kita yang seperti ini. " Tambah Lunastia sembari mencoba mengusap kepala Anma namun tidak sampai.


" Bisa dikatakan, aku berhasil membuat sebuah mantel sihir dengan salah satu bagian dari kampak darah milik Liah. Yah walaupun butuh banyak waktu untuk membuatnya, setidaknya aku senang bahwa akau telah berhasil membuat mantel ini untuk menyampaikan pesanku. " Lunastia berjalan mendekati sosok hitam yang masih terkurung.


" Saat ini, kami tengah bersembunyi dari para parajurit suatu negri. Jika kamu bertanya mengenai siapa kami? Ya tentu saja kami adalah kami. Aku, Lilitiah, Flora, para demi human yang tidak dapat ku sebutkan namanya dan adapun para elf yang kamu tolong di malam itu. Yah, walaupun sudah hampir dua tahun berlalu semenjak kamu menghilang setidaknya kami terus mencari dan menunggumu di depan goa aneh itu. Sebenarnya saat itu aku sangat ingin menemukanmu dan mengatakan pada Liah dan Flora bahwa keberadaanmu ada dan bukan sekedar halusinasi ku saja. Namun saat itu Lilitiah dan Flora masih tidak mengingat tentangmu. Sedangkan seorang bernama Alpa dan Sese yang terlihat asing bagiku justru meyakinkan ku bahwa kamu benar benar ada. Oleh karena itu aku memutuskan untuk menyampaikan pesan ini menggunakan sebuah mantel yang dulu aku berikan padamu. Karena aku sangat yakin, bahwa benda benda yang kamu buat akan selalu ada walaupun pemiliknya telah tiada..... " Lunastia menjelaskan.


" Mungkin kamu akan sedih mendengarnya. Tapi, saat ini Alpa dan Sese telah dikalahkan. Sementara Lilitiah telah ditawan sebagai tahanan perang. Ini adalah akhir bagi kami yang ingin mewujudkan perkataanmu di waktu itu. " Lunastia kembali menjelaskan


" Neflhim. Tempat dimana semua ras hidup dalam kesetaraan dan kedamaian " Anma bergumam ketika mengingat makan malam di waktu ia menyebutkan kata itu.


" Selain itu, saat ini Flora sedang merasa kesakitan karena terluka parah akibat melindungi kami dari sebuah serangan yang sangat dasyat...... Yang tersisa dari kami saat ini hanyalah aku, Flora, Willa, Willna, Sera, Nila dan Nicole. Setidaknya hanya mereka lah yang berhasil Flora lindungi..... Para elf yang tersisa sesaat sebelum serangan terjadi memilih untuk mengorbankan diri mereka dan menyatu dengan tubuh Flora...... Sementara demi human lain telah terbantai dengan sangat kejam......" Jelas Lunastia kembali.


" Inti dari pesan ini hanyalah kami ingin kamu memenuhi janjimu pada kami. Agar pengorbanan kami tidaklah sia sia walapun kami telah tiada. Kami sangat berharap bahwa kami dapat di bangkitkan kembali dengan kekuatanmu. Namun sepertinya kami tidak bisa mengharapkan hal itu yah? Tubuh kami mungkin sudah hancur tak bersisa ketika kamu melihat pesan ini. Jadi, setidaknya temuilah mereka yang masih tersisa dan sayangilah mereka seperti kamu menyayangi kami. " Lunastia memeluk erat tubuhnya sendiri


" Ayah......!!!!!!! Flora menyayangi ayah " Lunastia berlari ke arah Anma sembari memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2