Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Kisah lama


__ADS_3

" Iya. Kamu benar. Aku memang ingin membahas hal itu lagi. " Quinn tersenyum puas dan mulai mendekat pada Anma.


" Bukankah sudah aku bilang, bahwa kamu mulai menyadari keberadaanku di lantai lima puluh. Tepat di saat kamu melawan seekor monster dengan ras siren. Ah.. Tidak.. Bukan seekor monster. Namun tepatnya dia adalah demi human. Seorang demi human dengan ras siren. " Quinn menepuk kedua bahu Anma dari depan.


Anma terdiam sembari berusaha mengingat kejadian yang telah lalu.


" Hey? Apakah kamu sudah mengingatnya? " Quinn menjatuhkan sentuhannya dari pundak ke bagian tengah dada milik Anma


" Siren? Lantai ke lima puluh? " Anma berfikir lebih keras


" Ne... Sepertinya kamu memang tidak mengingatnya ya? Kamu tahu.... Siren itu memohon pengampunan darimu. Disaat dia terkena sebuah pukulan langsung darimu." ucap Quinn sembari menatap ke arah wajah Anma.


" Mungkin kamu akan bertanya, bagaimana dia masih hidup kan? Yah... Sederhana saja. Aku sempat menghalangi pukulanmu agar siren itu selamat dan sebagai ganti pertolonganku, aku memintanya untuk menyerangmu dengan sihir air dengan sebuah tingkat kesulitan di atas pengetahuan manusia atau bisa juga di sebut air mata Luna. " Quinn menempelkan telinganya tepat di tempat sentuhan tangannya berada.


" Lalu, disaat siren itu menyerangmu dengan sihir air itu, kamu kembali menyerang nya. Jika di ingat ingat, pertempuran itu serasa pertempuran hidup dan mati untukku dan siren itu. Sementara kamu, kamu hanya menyerang kami dengan serangan serangan dasar. Seperti memukul, menendang dan bertahan. " Tambah Quinn.


" Apakah yang kamu katakan itu benar? " Anma tersentak ketika mendengar penjelasan Quinn.


" Dengan tangan ini, aku membunuh seorang demi human? " Anma mengangkat kedua tangannya dan menatapnya.


" Hyup.... Hu.....h " Quinn menghela nafas karena Anma berulang kali melupakan kejadian penting itu.


" Disaat masa kritis kami berdua, Siren itu berhasil menyerangmu dengan tombak air yang mungkin merupakan perwujudan dari air mata Luna. Walaupun diriku tidak tahu mengenai wujud asli dari sihir itu. Tapi yang pasti, disaat tombak itu menancap ke tengah tubuhmu. Sebuah aliran air dari tombak itu yang semula tak berwarna, mulai berwarna merah kehitaman. " Quinn mengelus bagian tubuh yang pernah tertancap tombak.


" Seperti sebuah aliran darah busuk yang mengalir dari tubuh monster yang tidak pernah mandi " Quinn tertawa disaat dirinya membandingkan Anma dengan monster yang tidak pernah mandi.


" Tapi sayangnya, kamu menyerang siren itu kembali. Singkat cerita, sebuah ledakan air langsung memaksa kita berdua keluar dari lantai itu dan membuat kita berada di lantai 49. " Quinn melanjutkan


" Di saat saat terakhir sebelum siren tewas, dia sempat membisikan sebuah mantra untuk menetralkan sesuatu yang jahat yang ada di dalam dirimu. Oleh karena itu, aku meminta Anma untuk melakukan penyucian secara rutin. Baik itu lima atau enam kali penyucian dalam setiap penaklukan lantai. " Quinn menjelaskan pada Flora dan para pelayan yang telah tersadar.

__ADS_1


" Namun karena setiap penyucian nampaknya menyakiti dirinya, maka dengan kepintaran yang ia miliki.... Pada akhirnya ia membuat baju pelindung ini supaya kekuatannya bisa terkendali dan sesuatu yang jahat pada dirinya tidak kembali menguasainya. " Tambahnya sesaat.


" Tapi, karena sekarang kita sudah keluar dari dalam dungeon, aku tidak tahu pasti kapan dan berapa kali penyucian, agar kekuatan Anma tetap setabil. " Quinn mengusap kepala Anma yang tertidur di pangkuannya.


" Ano... Quinn. Tadi kan kamu sempat bercerita bahwa Ayah baru menyadari adanya keberadaanmu di lantai ke 50. Tapi kenapa ayah baru bisa tersadar di lantai 49 ? Lalu... Monster seperti apa saja yang ayah kalahkan? " Flora membrondong pertanyaan


" Yah, mengenai kejadian di lantai ke 50, aku tidak bisa menjelaskannya. Namun, satu hal yang aku sadari. Anma, selalu mengucap kalimat yang sama setiap harinya. Dia selalu mengatakan... " Quinn menjawab pertanyaan Flora


" Kalimat seperti apakah itu? " Flora bersama para pelayan merasa penasaran.


" .... Kembali... Aku... Harus kembali " Anma mengucap kata dalam tidurnya.


" Eh...? " Seluruh penghuni ruangan itu menatap ke arah Anma sesaat.


" Yah... Seperti itulah kalimat yang terus ia ucapkan " Quinn mengusap tangan Anma yang mengepal.


" Hehehe..... " Flora sedikit tertawa ketika melihat kejadian tadi.


" Jadi.... Ayah sudah berjuang sangat keras, ya. Untuk kembali bersama seseorang bernama Lilitiah. " Flora mengusap kepala Anma yang tertidur di atas pangkuan Quinn.


" Sedih rasanya mendengar hal itu. Terlebih lagi, aku tidak mengingat apapun tentang Lilitah. " Flora melihat ke arah wajah Quinn untuk sesaat.


" Itu tidak apa Flora. Jika kamu bisa lebih memperhatikannya, Ayahmu kini lebih memberikan perhatiannya padamu dan dia ingin kamu belajar mengenai lingkungan sekitarmu supaya sosok Lilitiah bisa tergantikan dengan keberadaan dirimu. " Quinn mengusap kepala Flora yang terlihat sedih.


" Terima kasih karena telah menghiburku, Quinn. " Flora menunjukan sedikit senyumannya.


" Tidak apa Flora, ini hanya pendapat pribadiku saja. Karena mungkin sosok nyata dari Lilitiah saat ini telah tiada. " balasnya sembari melihat ke atap


" Apa maksudmu, Quinn? Jika Flora saja masih bisa hidup hingga sekarang ini, mungkin Lilitiah juga masih hidup " jawab Flora dengan polosnya.

__ADS_1


Untuk sesaat Quinn terdiam karena mengingat bahwa ingatan dari Flora telah diubah disaat pembangkitan dirinya beberapa waktu lalu.


" Ahaha.... iya, Flora. Maafkan aku karena mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. " balas Quinn setelahnya.


" Iya Quinn.. tidak apa " jawabnya dengan senyuman


Tidak lama setelahnya mereka kembali membahas hal lain untuk sesaat sebelum akhirnya tidur dalam kedamaian


......................


Di malam itu, Anma terbangun sesaat setelah dirinya merasa lebih baik


" Akh.... ya ampun, ternyata itu kamu.. " ucapnya pada seorang


" ...... " sosok yang menjadi lawan bicaranya hanya diam tanpa kata dengan menunjukkan sebuah isyarat


" Hmph, ya... kamu benar. Sekarang adalah saat yang penting untuk memperbaharui segel yang ada. " jawabnya disaat sosok itu menunjukkan bagian dada Anma.


Sosok hitam dengan mata merah menyala itu mendekati Anma sebagai tanda khawatir


" Iya, iya... tidak apa.Lagipula aku harus memperbaharui ini seperti yang kamu inginkan. Supaya kejadian waktu itu tidak kembali terlulang. Terlebih lagi, saat ini aku sendiri sudah melihat sebagian ingatan dari mereka berdua yang mungkin itu adalah sebab dari munculnya kebencian di kedua matamu itu kan? " ucapnya pada sosok itu sembari mengusap wajahnya.


" Untuk sekarang, kamu tetaplah berada di sana. Sementara diriku mencari sosok dirimu yang sesungguhnya " tambahnya setelah mengubah wujud dari sosok hitam itu menjadi sosok Liah yang diciptakan berdasarkan rasa cinta dan kasih yang masih tersisa dalam hatinya.


" Saya sadar bahwa saya hanyalah ciptaan tuan yang hanya hadir setiap pelindung itu mulai melemah. Namun tuan haruslah mengingat bahwa saya hanyalah sosok ciptaan yang tuan ciptakan sebagai ganti dari wujud seorang bernama Liah. " Balasnya sembari memeluk kepala Anma yang tengah bersedih.


" Meskipun begitu.... perasaan cinta dan kasih sayang yang tuan berikan di waktu itu.... membuat hati saya terasa sangat pedih disaat mengingat bahwa saya hanyalah sosok pengganti. " ucapnya dalam hati disaat memeluk Anma


" Untuk kesekian kalinya, maafkan aku ya... karena telah menciptakan sosokmu tanpa berfikir bahwa kamu akan memiliki jiwa dan keinginan tersendiri " ucapnya dalam hati ketika sosok itu memeluk dirinya.

__ADS_1


" Requiem.... Narnia.. ava.. antareata.... " ucapnya sembari memeluk tubuh dari sosok itu.


__ADS_2