
* dzum.....z...... * Anma menghentakkan tongkatnya kembali ke atas lantai guild dan membuat badai electro di dalam bangunan guild.
Seluruh penghuni guild tanpa terkecuali para pelayan yang tidak tahu apapun mulai melayang bersamaan dengan sengatan listrik yang terus mereka rasakan
* Swisp.... * Anma menarik seluruh penghuni guild itu dan menempatkannya di hadapannya.
Para penghuni guild yang tersengat listrik itu semakin kesakitan ketika mereka berada lebih dekat dengan dirinya dan adapun beberapa dari mereka yang nampak kehilangan kesadarannya akibat tidak mampu menahan rasa sakit dari sihir yang telah diaktifkan.
* Ting..... * Anma menghentakkan tongkatnya lagi untuk menghilangkan seluruh efek negatif dari para penghuni guild.
" Ghm.... Jadi... Apakah ada yang bisa menjelaskan kepadaku. Siapakah di antara kalian yang mulai memukuli saudara iparku dan membuat keributan di sini " Ucap Anma dengan aura Intimidasi pada seluruh penghuni guild.
Para penghuni guild hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain. Adapun beberapa dari mereka yang berusaha kabur dan adapun beberapa tubuh yang meledak akibat dari beberapa orang yang mencoba melarikan diri. Melihat hal yang mengerikan telah terjadi dihadapan mereka dengan begitu cepatnya, mereka yang berniat melarikan diri akhirnya hanya terdiam ketakutan.
" A--ayah... Ayah tenanglah... Ji--jika ayah seperti itu, me--ereka hanya akan berakhir dengan gangguan kesadaran. " Flora berusaha menenangkan Anma dengan keberanian yang telah ia kumpulkan.
" Hmph... Baiklah Flora. " Anma menjawab permintaan Flora dan menghilangian skill intimidasi miliknya.
" Ne... Shofi. Maafkan aku karena menyebabkan keributan di tempatmu bekerja. " Ucap Anma dengan positif aura serta nada yang lebih bersahabat.
" Walaupun aku sudah sering menahan amarah dan kekesalanku dalam tingkatan tertentu, tapi... Jika melihat adanya keluargaku yang di lukai... Aku tidak akan segan membunuhnya walaupun dia raja sekalipun " Tambahnya sembari mengeluarkan negatif aura bersamaan dengan nada yang lebih meninggi.
__ADS_1
Shofia hanya terdiam tanpa kata dan tidak mampu bergerak maupun berkedip di hadapan Anma.
" Aurora healling.... " Anma menunjuk Arc dan Quinn yang sempat terluka cukup parah.
" Hyuuuuuuph..... Hyu.........h.... " Anma menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa marahnya.
" Ne... Kalian yang ada di sini. Aku peringatkan pada kalian untuk yang pertama dan terakhir kali. Kami berada di sini bukan untuk menimbulkan keributan. Kami kemari hanya untuk mencari tempat tinggal dan seorang yang dapat di panggil teman. Selama ini kami menjelajahi beberapa kota dan berakhir dengan menghancurkan kota itu karena mereka memiliki sifat seperti kalian. Suka memandang rendah orang lain dan dengan seenaknya menindas orang yang lemah. Untuk itu, berhati hatilah dengan kami sebelum kalian atau penduduk kota ini akan kami hancurkan seperti kota - kota yang pernah kami tinggali. " ucapnya memberikan sebuah peringatan dengan menunjukkan sebuah lingkaran aura kuning kemerahan di belakang tubuhnya sebagai perlambangan dari kekuatan dan kekuasaan yang setara dengan dewa.
Shofia yang menyadari kekuatan besar dari Anma akhirnya memahami bahwa kekuatan besar itu berasal dari aura dewa yang di sembunyikan darinya.
" Satu hal lagi... Putri kecilku bilang bahwa ada di antara kalian yang menggoda dirinya serta menindas saudara iparku dengan sengaja. Oleh karena itu, aku ingin memberikan sebuah tantangan dimana mereka yang terlibat dalam keributan tadi harus ikut dalam tantangan yang aku berikan. " Ucap Anma sembari meremaskan kepalan tangannya di hadapan penghuni guild.
* tpuk * Anma menepukkan tangannya dan seketika itu, para penghuni guild kembali ke posisi mereka semula.
Mereka yang terluka parah hingga hampir mati telah di sembuhkan secara instan. Dinding - dinding guild serta perlengkapan dan perabotan yang semula rusak kembali seperti semula seolah tidak pernah terjadi apapun dan di saat mereka yang ada di dalam guild berfikir bahwa suatu yang telah mereka alami hanyalah sebuah ilusi dia kembali melakukan sesuatu.
" Aku harap kalian semua siap untuk tantanganku esok hari. Jika kalian yang bersalah mengakuinya, aku hanya akan menghukum kalian. Namun jika tidak ada yang mengakui kesalahannya, maka kalian semua lah yang akan aku jadikan pelampiasan dari kekesalan ini. " Ucap Anma setelah mengetuk meja dari konter guild untuk mendapatkan perhatian.
Para penghuni guild terfokus pada tubuh Anma dengan rasa takut dan gelisah.
Di tengah aula dekat konter guild, Anma berdiri dengan di dampingi oleh Flora, Quinn dan Arc yang telah kembali normal tanpa luka dan lecet di bagian tubuh maupun armor yang mereka pakai.
__ADS_1
" Aku tunggu kalian di bagian persimpangan jalan di dalam hutan. Jika kalian tidak datang, tubuh kalian akan meledak dengan sendirinya " Ucap Anma sembari menunjukkan ke sebuah tanda merah di bagian tenggorokan mereka.
Para penghuni guild yang semula merasa lega kembali di buat panik dengan sesuatu di bagian tenggorokan mereka. Sesuatu yang menyerupai batu merah mengganjal di bagian itu namun tidak terasa sakit maupun gatal.
" Ah... Iya hampir aku lupa. Bagi kalian yang menyayangi orang di sekitar kalian, aku harap kalian tidak memberitahukan kejadian ini dengan orang luar. Atau yah... Rasakan sendiri kenyataan dari peringatan yang telah aku berikan. " Dengan santainnya Anma memperingatkan mereka dan mulai mengalihkan perhatiannya pada seorang pelayan yang ada di konter guild saat itu.
" Ah... Ano... Pelayan, tolong urus pendaftaran mereka sebagai anggota petualang. Mengenai kelengkapan dokumen, aku sudah menyiapkannya. Sisanya hanya di bagian ovl mereka. Untuk bayarannya akan aku berikan setelah mereka selesai terdaftar di guild ini " Anma mengubah nada bicaranya kembali dan bersikap layaknya seorang asing yang ingin mendaftar ke guild
" Ah. I--iya tuan.. A--aku.. Ma--maksudku kami, kami akan mengerjakannya sekarang. " Jawab pelayan guild itu yang tidak lain adalah Susan.
" Ma--mari tuan dan nona sekalian... si--silahkan mengikuti saya untuk menilai ova, akh.... maksudku ovl kalian " Ajak Susan dengan tubuh yang masih gemetaran.
Anma mengisyaratkan lambaian tangan sebagai tanda bahwa mereka cukup mengikuti apa yang pelayan itu minta.
Sembari menunggu ketiganya selesai, Anma hanya duduk dengan santai tanpa memperdulikan rasa cemas para penghuni guild tanpa terkecuali Shofia.
" L---loran.... A--apakah... Ka--kami tidak bisa menyarankan jalur perdamaian kepadamu? " Shofia bertanya dengan seluruh keberanian yang dipaksakan.
" Hehehe.... Tentu saja bisa shofi. Tentunya setelah para pembuat onar menyerahkan dirinya sekarang juga di hadapanku. Atau jika tidak, kamu dan seluruh orang di sini akan menerima ajalnya besok. " Jawab Anma dengan senyuman manisnya.
" Akh.... Em.... Iyah... Ba--aiklah. A--aku akan berusaha menemukan mereka sekarang juga. Ja--adi, tolong jangan pergi dari sini sebelum a--aku menemukan mereka. " Jawab Shofia dengan rasa kecewa karena tidak dapat mengubah keputusan Anma.
__ADS_1