Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Alpa dan Flairia arc 2


__ADS_3

Pagi itu, Flairina terbangun dari tidurnya dengan hanya menggunakan sebuah kain berlumuran darah.


" Akh.... Kepalaku.... " Flairina memegangi kepalanya.


" Kenapa aku berada di sini? " Flairina melihat area sekitarnya yang hanya berupa reruntuhan sebuah bangunan yang diselimuti oleh batuan karang.


" Selamat pagi, nona Fla " Alpa memanggil Flairina.


" Eh.... Siapa Flairina? Dan... Siapa kamu? " Flairina menjawab panggilan Alpa.


" Hm... Apakah kamu baik baik saja? " Alpa menaruh seekor ikan besar ke atas sebuah bebatuan.


" Ah... Alpa, selamat pagi juga. " Flairina menyambut Alpa seolah bukan dirinya yang menjawab Alpa pertama kali.


" Aku kira kamu kenapa napa. Jadi aku berfikir untuk melakukan sesuatu kepadamu " Alpa membatalkan sebuah sihir yang sudah siap ia berikan pada Flairina.


" Heheh.... Maafkan aku, Alpa. Mungkin karena semalam kepalaku terbentur sesuatu, jadi. Yah, lupakan saja apa yang sebelumnya aku katakan. Hehehe... " Flairina mengusap bagian belakang kepalanya.


" Ya, syukurlah jika seperti itu. " Alpa kembali untuk mengambil ikan yang ia taruh di atas bebatuan.


" Ano... Alpa, apakah ada yang bisa aku bantu? " Flairina mendekat ke arah Alpa.


" Tidak apa Fla. Biar aku saja yang mengurus semuanya. " Alpa menolak penawaran Flairia.


" Ayolah, Alpa. Lagi pula, ini seharusnya pekerjaan seorang wanita. " Flairia menempelkan tubuhnya pada punggung Alpa.


* Se...srt..... * Ekor beracun Alpa berdiri solah bersiaga.


" Eh.... ? A----alpa? " Flairia terkejut ketika ekor Alpa memanjang dan mengawasi tubuhnya.


" Tidak apa, Fla. Dia tidak berbahaya " Kata Alpa tanpa melihat Flairia.


* Tsrp... * Ekor beracun itu menyerang Flairina yang mencoba mendekati Alpa


* Bru.....ust!!! * Sebuah air mancur darah keluar seketika


" Nah, Fla. Bukankah aku sudah bilang bahwa dia tidak berbahaya? " Alpa membalikkan tubuhnya sembari menunjukkan seekor monster yang tertancap di ekornya.


" A.... " Flairia hanya ternganga melihat monster ikan jenis Baholoch tertancap di ekor Alpa.


" Jika saja, tuan berada di sini. Pasti bahan makanan ini tidak akan mubazir. " Alpa menatap ke arah monster yang tertancap.


" Tapi ya, tak apa lah. Biar aku masak sekalian " Alpa menghantamkan ekornya ke batuan karang beberapa kali untuk memastikan bahwa monster itu telah mati.


" A---alpa, apakah kamu serius ingin memakan ikan baholoch itu? " Flairia bertanya pada Alpa.


" Dari yang aku tahu, semakin terang warna pada garis pada tubuh ika itu, maka semakin tinggi pula tingkat racun yang ada. " Tambah Flairia.


" Tidak apa Fla. Semakin mematikan racun yang ada di dalam monster ini, maka semakin kuat juga daya tahan ku terhadap racun. Selain itu, racun yang ada dalam tubuhku pun, mungkin akan meningkat " Jelas Alpa sambil mengmainkan tubuh ikan yang telah mati itu dengan ekornya.

__ADS_1


" Ah, aku lupa jika kamu tidak memiliki ketahanan atas racun. Jadi, mungkin sebaiknya aku menyiapkan makanan yang tidak beracun untukmu, ya? Fla " Alpa yang baru saja mencabut ikan itu dari ekornya tiba tiba teringat bahwa Flairia hanyalah manusia biasa.


" Tidak perlu repot repot seperti itu Alpa. A--aku justru sangat berterima kasih karena kamu mau memasakkan sesuatu untk seorang wanita hina seperti diriku. " Flairia menundukkan kepalanya.


" Tidak boleh seperti itu, Fla. Jika nanti makanan itu membunuhmu, bagaimana? " Alpa mendekat ke arah Flairia yang murung.


" Yah, mungkin aku akan mati dengan keadaan perut kekenyangan. Hehehe... " Flairia tertawa dengan wajah muramnya.


" Tidak, Fla... Itu tidak boleh terjadi. Lagi pula, aku sudah berjanji bahwa kamu akan aku pertemuakan dengan tuanku. Jadi, sini bantu aku untuk menyiapkan bahan makanan yang tidak beracun. Walaupun Aku tak yakin dengan rasanya, tapi aku akan berusaha yang terbaik. Jadi, cerialah sedikit. Karena aku akan memasakkan untukmu" Alpa memarahi Flairia yang terlihat murung.


" Hehehe... Baru kalih ini, aku melihat seorang marah demi diriku " Flairia bergumam.


" Ya, baiklah, Alpa. Biar aku bantu. Tapi, sebagai gantinya, kamu harus memasakkan sesuatu yang enak untukku " Flairia menepuk wajanya sendiri dengan kedua tangannya sebelum mulai membantu Alpa.


" Ya, baiklah Fla. Sekarang, kita mulai saja dulu dengan mengolah ikan ini " Alpa menunjukan ikan yang ia bawa sebelumnya.


" Apakah ikan ini sama seperti ikan itu? " Tambah Alpa.


" Em..... Sepertinya ini ikan kiveer. " Flairia mengamati.


" Jadi " Alpa penasaran.


" Ikan ini tidak beracun. Namun, ikan ini memiliki kulit yang keras, Alpa. " Jelas Flairia.


" Tenag Fla. Ini tidaklah sulit. " Alpa mengubah salah satu tangannya ke bentuk capit kalajengking dan mulai memotong ikan itu.


" Ah... Iya, aku lupa. Alpa adalah seorang monster. Eh... Bukan, alpa justru sesosok demi human yang misterius. " Gumam Flairia lirih.


" Wah... Kamu terampil sekali Alpa " Flairia mengusap potongan daging dari ikan kiveer.


" Tidak.. Tidak... Ini hanya hal yang mudah " Jawab Alpa merendah.


" Medium fire " Alpa menggunakan sedikit sihir api untuk membakar daging ikan itu.


" Nah, Fla... Silahkan dinikmati " Alpa tersenyum sambil menyajikan daging ikan panggang.


" Wah.... Alpa... Kamu benar benar hebat " Fla tidak bisa menyembunyikan wajah senangnya.


" Sekarang, mari makan " Alpa mengajak Flairia untuk makan bersama.


Di tengan sebuah pulau yang di kelilingi oleh lautan, Alpa dan Flairia menikmati makanan itu tanpa peduli area sekitarnya.


" Ne... Alpa... Apakah kita bisa keluar dari ini? " Kata Flairia sambil melihat area sekitarnya.


" Tenanglah Fla. Semua pasti ada jalannya " Jawab Alpa setelah menelan makanannya.


" Benarkah itu alpa? Disaat terakhir kali ada orang sepertiku yang mencoba kabur dari sini... Dia tewas secara mengenaskan " Flairia mulai bercerita tanpa sadar.


" Memang kenapa ia tewas? Apakah karena prajurit prajurit itu? atau apa? " Alpa menunjuk ke arah tubuh yang tidak lagi utuh yang tersebar di antara reruntuhan.

__ADS_1


" Ya, mungkin." Flairia sempat menelan ludahnya ketika ia melihat para prajurit itu.


"Tapi, aku dengar ada monster yang menjaga area di sekitar pulau ini. Oleh karena itu, aku harap, kita bisa keluar dari sini dengan selamat " Flairia melanjutkan.


" Yah... Terima kasih atas makanannya " Alpa menepukkan kedua tangannya dan setelahnya bangkit dari duduknya.


* Fiu....it * Alpa mengeluarkan suara siulnya dengan bantuan kedua tangannya.


" Alpa? Apa yang sedang kamu lakukan? " Tanya Flairia penasaran.


" Ah... Mengenai itu, cukup tenang dan perhatikan " Kata Alpa sambil memandangi gunungan tubuh yang tidak lahi bernyawa.


" Gyasssssessss.......!!!! " Seuara desisan keras muncul bersamaan dengan rubtuhnya beberapa gunungan tubuh yang tidak bernyawa.


Sesosok monater keluar dari tempat itu dengan tubuh kadal gurun dengan bentuk kepala antropoda serta memiliki beberapa tanduk di setiap bagian kepalanya.


" Nah, Fla... Kenalkan teman baru kita.... " Alpa mengajukan tangan kanannya tepat ke arah monster yang bergerak.


" I---Itu... " Flairia yang terkejut akhirnya kehilanhan kesadarannya tidak lama setelah terpaku tanpa suara.


" Fla? Fla...? Fla....? Apakah kanu baik baik saja? " Alpa berusaha membangunkan Flairia.


" Gh....m...... " Mata dari monster itu menunjukkan tanda penyesalan dan mengusap kan kepalanya pada Alpa.


" Tak apa Ro.... Dia mungkin terkejut saat melihatmu " Alpa mengusap wajah monster bernama Ro.


" Grahm..... " Ro mengubah pandangan pada sesuatu.


" Hm.... ? " Alpa melihat ke arah yang di lihat oleh Ro.


" Ro... Sepertinya ini saatnya kita pergi dari sini. Aku merasa bahwa akan ada sesuatu yang buruk " Alpa mengangkat ekornya tanda ancaman.


* Gresis..... * Dengan rongga tubuh yang nampak seperti insang, Ro mendesis sebagai tanda pertahanan diri.


" Ayo, Ro. Saatnya kita pergi dari sini " Alpa menepuk bagian samping tubuh Ro dan mulai pergi memanggul Flairia.


* Gra!!!! * Ro meraung sesaat sebelum ia mengikuti Alpa pergi.


Tidak berselang lama setelah mereka pergi, beberapa kapal besar berlabuh di tempat itu. Dari dalam kapal itu seorang arc wizard turun layaknya seorang yang memegang comando beberapa saat sebelum beberapa pleton prajurit turun dan memerikaa area sekitar.


" Seperti dalam legenda. Ia yang terbebas akan kembali membawa petaka " Arc wisard itu mengusap sebuah jejak kaki milik Ro sembari melihat ke arah reruntuhan kastil.


" Baiklah semua!! Carilah apapun yang nampak janggal sebagai sebuah sumber informasi untuk kita!! " Arc wizard itu menghantamkan tongkatnya ke tanah sembari memberikan perintah.


" Laksanakan " Seluruh pleton menjawab bersamaan.


" Jadi, apakah monster itu benar benar terbebas? " Tanya seorang wanita dengan pakaian hitam dari dalam gerbang kapal.


" Itu benar nona.... Dia telah terbebas. Terlebih lagi, dia mungkin tidak pergi sendirian " Jawab arc wizard itu.

__ADS_1


" Apa magsudmu? Bukankah seharusnya hanya ada satu monster saja yang ada di sini? " Wanita itu marah dan menggoyahkan kapal akibat tinju yang dia hantamkan dengan keras.


" Maafkan saya nona. Sebenarnya.... " Arc wizard itu menjelaskan.


__ADS_2