Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Saudara tertua


__ADS_3

" Ka Lis? pakah kak Fra masih lama? " Tanya Luna yang terlihat lelah berada di dekat gerbang pemeriksaan


" Tadi kan kaka sudah bilang agar kamu tetap menunggunya di rumah. Tapi kamu tidak mendengarkan dan justru diam diam mengikuti kaka " Jawab Listia sembari menasehati


" Ya... Tapi kan tapi kan, aku ingin menjadi yang pertama menyambut ka Fra " Respon Luna sembari menginjak injakkan kakinya untuk menunjukkan sikap kesal atas nasehat dari Listia.


" Iya.... Sudah, kamu boleh bermain di sekitar sini sebentar. Tapi ingat jangan membuat onar dan merepotlan para penjaga yang lainnya. Mengerti ?" Listia memberikan ijin pada Luna agar dia berhenti membuat keributan.


" Siaaap. " Lunastia menjawab kegirangan dan mulai berlari dengan tangan yang direntangkan layaknya naga yang sedang terbang.


" Luna!!! " Listia berteriak ketika Luna sudah menghilang di hadapannya


" Lain kali akan aku pastikan dia tetap berada di rumah " Listia memegangi kepalanya sembari terduduk di meja kerja yang letaknya ada di dekat gerbang kota.


*Hmph * Listia menghela nafas ketika melihat beberapa tumpukan kertas hasil laporan dari pos pemeriksaan.


" Mari kita lihat apa yang kita temukan disini " Listia mulai membaca satu demi satu kertas laporan dengan malas.


" Petualang.... Petualang... Pedagang.... Petualang.... Pedagang.... Alkemist..... Pedagang.... " Listia membaca kertas laporan itu yang di bagian atasnya terdapat tanda merah sebagai tanda petualang dan tanda emas sebagai pedagang.


" Sebentar.... Jika tidak salah, Shofia sempat menceritakan sosok alchemis yang membuatnya tertarik. Tapi entah kenapa aku pun sempat bermimpi mengenai sosok itu beberapa hari yang lalu " Listia berhenti ketika ia membaca sebuah kertas tanpa tanda yang justru di tulis tangan menggunakan tangan.


" Mari kita baca. " Listia membaca detail dari laporan itu yang berisi bahwa seorang alcemist datang ke Kota Riz dengan alasan mencari bantuan.


" Alasan dari dirinya datang adalah meminta bantuan dari teman dekatnya. Tapi.... Ini terasa janggal " Listia merasa aneh pada bagian dimana seorang yang merupakan teman dekat dari alcemist itu adalah Shofia.


" Nama, Floran...., Job, Alkemist. Unknow party. Unknow rank. 1 ova. " Listia membaca status dari Anma melalui sebuah tugu kecil berwarna putih dengan layar hijau yang letaknya berada di dekat jendela ruang kerjanya.


" Bagaimana mungkin?! Seorang bisa mendapat sebuah mana dengan kategori ova? " Listia yang semula terlihat penasaran namun berada di antara tertarik dan mengabaikan justru terkejut dan semakin ingin tahu mengenai sosok bernama Floran ini.


Sembari melihat ke arah jendela yang menembus ka arah hutan dan perbukitan di sisi luar benteng, sesuatu yang kecil nampak bergerak mendekat.


" Hmph? " Listia mencoba melihat sosok apa yang mendekat.

__ADS_1


* slings * tombak yang separuh hancur milik Fra di angkat sebagai tanda bahwa ia membutuhkan bantuan.


" Permisi nona Listia. Sesosok wanita dengan baju yang rusak dan sesosok pria dengan pakaian pladin terlihat meminta bantuan " Seorang penjaga masuk kedalam ruang Listia sembari melaporkan.


" Hmph? Pladin yah.... Kalau begitu, siapkan beberapa makanan dan obat obatan di ruang introgasi. " Jawab Listia sembari memerintah.


" Laksanakan " Jawab prajurit itu lalu pergi setelah memberikan sebuah tanda hormat.


" Jika mereka adalah pasukan bantuan dari pusat kerajaan, seharusnya kak Fra ada di sana. Tapi kenapa hanya ada dua orang disana. Apa mungkin hal buruk terjadi " Gumam Listia sembari terburu buru pergi ke arah ruang introgasi dan tanpa sadar memegang kertas dari laporan Anma.


" Kaka...... " Luan berlari ke arah sesosok wanita berpakaian dress berwana putih kemerahan yang telah rusak akibat sesuatu.


" He....eh? Luna.... Ternyata kamu sudah besar yah... " Sosok itu menyambut Luna dengan pelukan.


" Ka Fran... Apa yang terjadi pada kaka... Kenapa kaka menjadi seperti ini? " Tanya Luna sembari menangis.


" Kaka tidak apa Luna. Tapi tolong jangan pangil kaka dengan nama Fran. Panggil kaka dengan nama Siska. Apakah kamu sudah lupa? " Fra memeluk kepala Luna sembari mengusap air matanya.


" Ka Siska....? Apakah ini benar benar Kasiska? " Tanya Listia yang terlihat khawatir.


" Tapi kan seharusnya kaka datang dengan pasukan bantuan dari Kerajaan? Tapi kenapa hanya kaka dan.... " Ketika Listia memarahi Fra, ia tidak ingat dengan sosok lelaki yang ikut bersamanya.


" Dia, Max. " Framenyahut dengan nada kesal.


" Yah... Kenapa hanya kaka, dan Max saja yang sampai kesini? Dimana pasukan yang lain? Apakah hal buruk terjadi? Lalu... " Listia kembali bertanya dengan pertanyaan beruntun.


" Hey... Prajurit. Tolong jaga Luna sebentar " Fra memanggil salah seorang prajurit di samping pintu ruang introgasi.


" Ba... baik, " Prajurit itu nampak takut pada Fra karena mendengar bahwa Fra adalah utusan Kerajaan.


" Tidak... " Luna memberontak


" Ne Luna... Kaka akan menceritakan apa yang ingin kamu dengar nanti ya. Kaka ingin menenceritakan hal ini pada Listi dahulu. Jadi... Tolong jadi anak yang baik ya " Fra mencoba menenangkan Luna sembari mengusap kepalanya karena ingat bahwa sosok peri itu memperlakukan hal itu untuk membuat suasana hati lebih baik.

__ADS_1


" Kaka janji ya?! " Luna menarik tangan dari Fra dan mengaitkan kelingkingnya.


Setelah Luna pergi bersama prajurit yang mengawasi mereka, Fra pun mulai bercerita mengenai apa yang terjadi pada dirinya sesaat setelah menendang keluar sosok Max daro tempatnya berada.


" Jadi... Sosok penjaga hutan memang benar benar ada? " Listia bertanya sembari melihat situasi sekitarnya.


" Sosok itu memang ada, Listi. Tapi, sebenarnya kaka tidak ingin menceritakan ini kepadamu. Namun, sosok yang ada di dalam sana mengatakan bahwa ia akan menghancurkan siapapun jika kedamaiannya terganggu " Kata Fra sembari berbisik.


" Beberapa hari yang lalu Lana juga mengalami hal yang sama sepeti itu. " Listia merespon balik perkataan Fra.


" Tapi... Lana tidak apa apa kan? " Fra khawatir.


" Iya ka, Lana tidak apa. Hanya saja di malam setelah itu, beberapa senjata yang tersimpan di rumah mengalami suatu keanehan dan seakan ingin keluar dan mencari sesuatu. " Jawab Listia sembari mengajak Fra duduk.


" Apakah mereka seperti memberontak dan mengeluarkan sebuah sosok bercahaya? " Fra bertanya.


" Itu tidak sepenuhnya benar namun jika tidak sepenuhnya salah. " Jelas Listia


" Di malam itu, sebuah gelombang energi seakan mengguncangkan kota. Gelombang itu hanya bisa di rasakan oleh Luna, Linda dan beberapa petualang pengguna roh. " Tembah Listia sebelum kejadian pemberontakan senjata iblis berlangsung.


" Hm.... Jadi seperti itu ya. Kejadian itu pun hampir sama seperi yang aku alami ketika singgah di kota Asby. Tapi, di saat tombak milikku memberontak, sesosok makhluk bercahaya sempat berusaha keluar dari bagian lingkaran pembatas tongkat dengan ujung besi mengkilap berwarna emas. " Jelas Fra sembari menunjuk bagian yang di sebutkan pada tombak yang rusak.


" Namun belum sempat sosok itu keluar, energi besar yang semula terasa seperti mengamuk mulai menghilang dan sosok bercahaya itu hanya sempat mengangkat tangannya. " Tambah Fra.


" Ini benar benar aneh. " Listia berfikir sembari melihat ke arah sekitarnya untuk mengalihkan pemikirannya yang kacau.


" Iya. Kau benar Listi. Ini aneh " Fra menundukkan kepalanya.


Beberapa saat setelah melihat area sekitarnya, Listia mengambil sebuah kantung kain yang terlihat cukup besar di sebuah meja dekat tempat tombak paran penjaga berada.


" Listi!! Jangan!!! " Fra yang tersadar atas apa sedang di pikirkan Listia, menyuruhnya untuk menghentikan niatannya.


" Akh..... " Listis yang terkejut tidak sengaja menarik paksa ikatan dari kantung kain itu dan membuat isi dari kantung kain itu keluar.

__ADS_1


" ....... " Keheningan tiba tiba terjadi di saat Fra langsung menutup mulut Listia yang akan berteriak.


" Aku mohon Listi. Jangan berteriak atas apa yang kamu lihat. " Fra berbisik pada Listia sembari memeluknya dari belakang dan menutup mulutnya


__ADS_2