Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Mengingat sosok yang hilang


__ADS_3

* Era.........rgh!! * sci mengerang kesakitan ketika Willa mencoba memulihkan luka yang di alami olehnya.


" Sci....!! Tenanglah!!! Kami ada di sini sekarang !!! Jadi tenanglah!!! " Demi human dengan ras naga memegangi tubuh Sci yang terus memberontak.


" Willa?! Apakah tidak ada cara lain lagi untuk menyadarkan Sci?! " Willna bertanya pada Willa sembari memegang kampak milik Sci.


" Maaf ka..... Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi! Seluruh mantra yang aku ketahui telah aku gunakan. Tapi tidak ada satupun yang berhasil!! " Willa meluapkan amarahnya pada Willna dengan air mata yang berlinang di matanya.


" Jika begini.... Bagaimana cara kita akan menjelaskannya pada bibi Lili!! " Demi human dengan ras naga khawatir.


* gra!!!!!! * Sci kembali menggerang sembari mencoba meraih kampak yang di pegang oleh Willna.


" Ne.... Ka.... Apa mungkin... Kita coba berikan apa yang ia mau " Willa mengusap air matanya sembari menawarkan cara terakhir.


" Apakah kamu sudah kehilangan cara berfikirmu Willa? " balasnya marah


" Tapi ka.... " Willa mencoba mengatakan sesuatu.


" Tenanglah Willa, Willna. Jangan membuat keributan yang tidak perlu. Fokuskan saja bagaimana cara kita untuk menyembuhkan Sci. " Demi human dengan rasa naga menegahi pertengkaran mereka berdua.


" Willna... Cobalah berikan kampak itu pada Sci seperti kata Willa. Siapa tahu sesuatu yang baik akan terjadi. " Tambah demi human dengan rasa naga.


" Itu benar willna. Cobalah dekatkan tubuhku pada dirinya " Sebuah suara tiba tiba keluar dari kampak yang di pegang willna.


" Eh....? " Ketiga orang itu terkejut ketika kampak itu berbicara.


* gragh!!!! * erangan Sci memecah keheningan kalau itu.


" Tenanglah kalian. Bukankah ada seorang yang harusnya lebih kalian khwatir kan? " Kata kampak darah sembari menggerakkan dua buah orb layaknya sebuah mata sembari berbicara melalui telepati kepada ketiganya


" Eh... Iya... Baiklah jika itu memang kemauanmu " Dengan perasaan takut, Willna memberikan kampak darah itu pada Sci yang terus meminta.


* gra!!!!! * tubuh Sci meledakkan energi sihir yang berbeda dari energi sihir yang ia miliki.


Nico, Willa dan Willna yang berda di dekat ledakkan itu merasakan bahwa energi yang mereka rasakan perna di rasakan sebelumnya.


" Etn's dark'n...." bagian paling tajam dari kampak darah terbelah seakan membuka mulutnya sembari merapal sebuah mantra

__ADS_1


* suuuuuuuusppppp * kampak darah menghisap energi sihir asing yang menyelimuti mereka hingga tidak bersisa.


" Bariarel Protection, Head of sunflower king " Liah dan Flora mengaktifkan perlindungan di kala Anma akan menyerang para prajurit yang menghina para demi human.


Tidak menunggu waktu yang lama, ketika kedua pertahanan telah di aktifkan, sebuah ledakan energi sihir menghempaskan para prajurit serta menghancurkan mantra pertahanan milik Liah. Namun untungnya pertahanan milik Flora masih bertahan walaupun memiliki beberapa retakkan di beberapa bagian.


" Ini..... " Nico mengangkat kedua tangannya yang gemetaran setelah Sci berhenti memberontak, begitupun pada Willa dan Willna yang saling memandang satu sama lain dan tanpa sadar telah memeluk kedua lutut mereka


" Hey... Willa, Willna.... Apakah kalian pernah merasakan energi ini sebelumnya? " Nico bertanya pada Willa dan Willna sesaat setelah mengingat kejadian yang mereka alami ketika kecil dahulu.


" Sepertinya aku pernah merasakan ini sebelumnya. " Willna jawab Willna yang mulai membaik


" Jika tidak salah di saat itu, bibi Lili dan seorang lagi menahan seseorang dengan energi sihir yang lebih besar dari energi tadi. " Tambah Willa sembari mendekat ke arah Willna.


" Jadi... Kalian juga merasakan hal yang sama dengan ku yah? Tapi... Kenapa aku tidak mengingat siapa yang bersama dengan bibi Lili. " Nico menggaruk bagian belakang kepalanya.


" Iya, kamu benar. Kita merasakan hal yang sama. Namun... Ini adalah ke tiga kalinya kami merasakan energi yang sama. " Willa menepuk punggung Willna untuk mengatakan yang sebenarnya.


" Eh...? Bagaimana maksudnya? Jika dihitung dari kejadian pertama dan yang kedua bersama yang ini, lalu kapan kejadian ketiga yang kalian alami? " Tanya Nico penasaran.


" Begini Nico. Apakah kamu ingat penyerangan pasukan Sci beberapa hari yang lalu? " Willa bertanya sembari mencoba mengatakan sesuatu.


" Iya, yang itu. " Willna membenarkan tebakan Nico.


" Berbeda dengan kamu yang terlambat datang. Kami berdua yang baru tiba di sana, terkejut dengan energi sihir yang cukup kecil namun auranya sangat mengerikan. " Willa menjelaskan.


" Ehehhehe.... Maaf. Ada hal yang harus aku lakukan saat itu. Jadi lupakan saja yah. " Nico menundukkan kepalanya sembari meminta maaf.


" Lalu, apa yang terjadi di sana? Se ingatku ketika aku sampai di sana, hanya ada kalian bertiga yang tidak tersadarkan diri " Tambah Nico


" Kamu ini.... Yah, sudahlah. Tak apa. " Willna mencoba memukul Nico namun di tahan oleh Willa.


" Disaat kami tiba di sana, Sci sedang bertarung dengan seorang yang memiliki energi sihir yang kami maksudkan itu " Willa menjelaskan.


" Tapi dari yang aku lihat. Dari pada bertarung dengan Sci, orang itu justru lebih memilih untuk menghindari semua serangan dari Sci. " Jawab Willa yang sempat mengawasi pertarungan itu.


" Lalu apa yang terjadi di sana? Dan mengenai kawah kawah berapi serta deretan monster yang terbunuh dengan luka yang sama, apakah pertarungan itu benar benar dasyat? " Nico penasaran

__ADS_1


" Sebenarnya kawah kawah itu di ciptakan setelah sebuah badai aneh di ciptakan oleh orang itu ketika orang itu memegang kampak ini. " Willa menjelaskan


" Sedangkan deretan monster yang kamu maksudkan itu sebenarnya adalah monster monster peliharaan ku yang aku gunakan untuk menahan serangan orang itu.... Tapi sayangnya mereka justru mati akibat serangan itu. " Tambah Willa


" Apakah orang itu menggunakan benda sihir atau semacamnya? Bukankah mereka itu cukup kuat? Bahkan Sci dan Willna pun tidak akan mampu membunuh mereka dalam sekali serang?" Tanya Nico yang penasaran.


" Gray Salammander, Iron Nessy, Mega Dzila, Kraghas Turtle, Rhino Rix dan Spinx. Setidaknya mereka adalah monster terkuat yang pernah aku panggil dan ku kendalikan. Namun... Sedih rasanya jika melihat mereka tewas seperti itu " Willa mengusap air matanya.


" Sudahlah Willa. Iklaskan saja. Lagipu, mereka juga mungkin telah mencapai batasannya. " Willna mengusap kepala Willa


" Bukankan mereka sudah berjuang cukup lama. Yah... Walaupun berat harus mengatakan nya dua kali, tapi ya setidaknya ikhlaskan saja mereka dan mungkin akan ada beberapa monster yang lebih baik dari mereka ketika kamu mencoba pemanggilan lagi " Tambah Willna sembari mengusap air mata Willa.


" Maafkan aku mengenai pertanyaaanku tadi dan maaf karena aku tidak memikirkan mengenai perasaanmu pada mereka. " Nico memeluk Willa dan Willna bersamaan.


" Iya... Tak apa Nico. Lagi pun benar kata kaka. Mungkin ini sudah saatnya mereka pergi " Willa mulai kembali tersenyum.


" Yah... Karena hari sudah semakin malam, mungkin sebaiknya kalian istirahat saja dulu. Aku akan mengawasi area sekitar sini sebentar dan mencari beberapa makanan. " ucapnya setelah melepaskan pelukannya dari kedua saudari itu.


" Kalian tidak perlu khawatir. Anggap saja ini permintaan maafku pada kalian, ya " Kata Nicole sembari berubah ke wujud Naga merah


* Swuuuuusp !!!!!! Swungh!!!!!!!!!! * Nicole berlari sembari mengepakkan sayap besarnya sebelum akhirnya ia menghilang di antara hitamnya langit kala itu.


" Ne... Kaka... Apakah kaka merasa ada perbedaan di antara ketiga energi yang kita rasakan waktu itu? " Tanya Willa tidak lama setelah Nico pergi.


" Sepertinya tidak ada, Willa. Memang kamu merasakan sesuatu yang berbeda? " Jawab Willna.


" Em... Yah, tidak juga si ka. Tapi...... Dari yang aku rasa, sepertinya kekuatan dari energi itu melemah atau hanya kita saja yang justru semakin kebal? " Willa menggambar sesuatu di atas tanah vulkanik.


" Entahlah Willa. Aku pun tidak tahu hal semacam itu karena yang aku tahu hanya memukul musuh dan mengalahkan ya. " Jawab Willna sembari menunjukkan otot lengannya.


" Heheheh.... Iyah.. Lagipun kaka belum pernah di kalahkan siapapun saat ini. " Willa memuji


" Kecuali para monster ciptaan ku dan sosok yang kita hadapi itu " Tambah Willa.


" Hemph..... Kamu ini " Willna memeluk kepala Willna sembari mengusap kepalanya.


" A....e..... Kakak " Willa berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


Setelah Willa berhasil melepaskan diri, mereka berdua pu saling membalas perbuatan yang masing masing dari mereka lakukan dan berakhir dengan sebuah canda tawa.


__ADS_2