
" Nah... ayo, Fla, Ro. Cepatlah bangun dan mulai bersiap pergi." ucap Alpa setelah keluar dari sebuah goa
" Emph.... sebentar lagi... ya... Alpa.... " balas Flaira sembari mengusap kedua matanya.
" Jangan begitu, Fla. Hari ini kita harus mengambil beberapa Quest terakhir sebelum kita kembali melanjutkan perjalanan kita. " balas Alpa setelah melihat Flairia yang sedang tertidur disamping Ro.
" Hmph....? bukankah berkat pertolongan darimu kemarin anak dari bangsawan itu sudah memberikan banya uang untuk kita~, Jadi~bolehlah diriku bermalas-malasan di sini... hehehehe... " Jawab Flairia dengan malas.
" Fla... " Alpa memanggilnya dengan nada lirih tepat di samping telinga Flairia.
" Hmno... baiklah, baik... aku bangun Alpa.... " balas Fla yang kesal karena bisikan dari Alpa.
Siang itu, Alpa, Flairia dan Ro tengah berada di sebuah goa dekat dengan sebuah kota yang sempat mereka singgahi untuk pergi ke sebuah kota jatuh yang menurut penjelasan dari Flairia sebelumnya, kota itu merupakan sebuah kota yang ditempati banyak orang orang berbahaya dimana status yang kuat dapat mengambil segalanya karena sistem penataan kota yang buruk dan penuh dengan unsur korupsi.
" Wahm....." Flairia merenggangkan tubuhnya sembari melihat ke arah sekitarnya yang berupa pepohonan yang rimbun.
" Untuk saat ini, kita sebaiknya kembali ke kota Lefenan dahulu, ya, Alpa? " ucapnya sebari menggambarkan sebuah peta sederhana di atas tanah yang lembek.
" Tentu, Fla. Lagipula kemarin kan kamu juga sempat berkata bahwa kita akan menjual beberapa barang ini ke kota terdekat. Meskipun jarak antara kota Lefenan dengan kota jatuh lebih dekat ke kota jatuh, kita tetap akan kembali ke sana selagi mempersiapkan apa yang kita butuhkan. " balasnya sembari mengikatkan beberapa kain berisi jerami untuk di taruh di atas punggung Ro.
* Graaasssasasaps.... * Ro merespon perkataan Alpa seolah setuju atas pendapat Flairia.
" Tapi sebelum itu~ aku ingin mandi dahulu ya, Alpa. " ucap Flairia setelah menciun bau badannya.
__ADS_1
" Ya, baiklah. " balasnya yang masih sibuk membereskan perlengkapannya.
" Ano... Alpa.... " ucap Flairia dengan lembut dan penuh harap.
" Tunggu sebentar lagi ya, Fla. Aku harus memastikan tidak ada barang yang tertinggal. " balas Alpa seolah tahu keinginan dari Flairia.
" Kalau begitu aku akan membantumu supaya bisa lebih cepat. " ucapnya sebelum mengambil sebuah peti berisi item hasil buruan yang akan diambil oleh Alpa.
Untuk sesaat, Flairia membantu Alpa dengan penuh semangat agar dirinya dapat segera mendapatkan apa yang ingin dirinya dapatkan.
Dengan sebuah tali panjang yang sempat dirinya buat nenggunakan akar pepohonan yang ada di sekitarnya, mereka berdua pun selesai mengepak barang mereka dan mulai melangkah meninggalkan goa yang sebenarnya itu.
" Ne... Alpa... bagaimana menurut dirimu mengenai masalah kemarin? apakah kamu masih memikirkannya? " ucap Flairia sembari memasukkan tubuhnya ke sebuah sungai yang tenang lagi berair jernih.
" Hm....? mengenai para petualang itu? atau mengenai sosok bangsawan itu? " balasnya sembari melihat ke arah berlawanan dengan tubuh Flairia.
" Hm... yah... menurutku sendiri, para petualangan itu nampak kuat. Baik dari kekuatan ketahanan yang dimiliki sosok laki laki itu, serta sosok perempuan yang mampu mengendalikan sihir bumi dengan sesuatu yang nampak tidak normal. Selain itu seorang penyihir yang nampaknya tidak terlalu kuat justru memberikan dukungan menarik melalui kecepatannya dalam mengambil keputusan tepat dalam memilih potion maupun sihir support. " balasnya ketika mengingat kembali sekelompok petualang yang mereka temui di depan goa beberapa malam sebelumnya.
" Wah... jadi mereka benar benar hebat ya, Alpa. Dari sudut pandang yang diriku lihat, mereka nampaknya seorang keluarga yang memutuskan untuk mengembara.. karena dilihat dari manapun juga kereta besi yang mereka bawa menggunakan sosok seperti golem dengan moncong panjang itu. Terlebih disaat mereka berkata bahwa kakek mereka telah tiada beberapa tahun sebelumnya dan mungkin karena mereka sudah putus asa pada para petualang yang terus menipu mereka pada bisnis pandai besi...." balasan menanggapi.
*Grrrwaaaamss grgrgrgrs * Semburan air dari Ro yang kala itu keluar dari bagian sungai yang lebih dalam dengan sebuah ikan yang cukup besar
" Terima kasih, Ro. Dengan hadiah darimu itu, kita tidak perlu membeli beberapa bahan makanan untuk makan sore nanti. " ucap Alpa sesaat setelah mengusap kepala Ro yang sengaja di dekatkan kepada dirinya.
__ADS_1
* Gbruffss * Balas Ro yang nampak senang
" Tapi, menurut diriku, kemungkinan mereka justru 70 % itu, Fla. Karena Dilihat dari ketahanan laki laki itu yang sangat luar biasa sampai dirikupun mungkin tidak akan menggores nya. Selain itu, perempuan yang kukatakan tadi juga memiliki pola serangan yang unik seperti sebuah meriam batu yang dapat menembakan ratusan batu dengan cepat tanpa perlu menggunakan banyak mana.. " lanjut Alpa menyanggah pernyataan dari Flairia sesaat setelah Ro pergi ke tepi sungai.
" Dan~ disaat kamu pingsan kala itu, kita juga sempat bertemu mereka disaat mereka sedang bertarung melawan bandit. " tambahnya mengingat kejadian itu.
" Ho~oh... pantas saja dirimu langsung menerima mereka tanpa curiga sedikitpun disaat kita berada di goa tadi. Siapa yang menyanka bahwa kamu sudah bertemu dengan mereka sebelumnya. " balasnya dengan nada datar.
" Lalu, bagaimana dengan si bangsawan? apakah ada sesuatu yang menari yang dapat kanu lihat dari dirinya? dari sudut pandang yang aku lihat waktu itu... dia nampaknya menahan diri untuk tidak menyerang para hewan buas yang membahayakan nyawanya. Terlebih lagi dia nampak begitu mengenal dirimu yang bahkan dirimu saja tidak mengetahui siapa dirinya. " balasnya mengalihkan topik lain sembari berbalik dan menempelkan tubuhnya ke tubuh Alpa.
" Entahlah, Fla. Dari aura yang diriku lihat... dirinya hampir mirip seperti tuanku. Namun~. Dia nampak lebih muda darinya. Selain itu dia juga nampaknya sudah berpengalaman mengenai pengendalian energi sihir dalam dirinya. " Balasnya tanpa menanggapi kelakuan dari Flairia yang nampak ingin bermanja.
" Hm~. Sosoknya hampir mirip dengan tuan mu? Berati... apakah mungkin bahwa dirinya telah ber reinkarnasi menjadi sosok itu? " balasnya sembari memainkan jairnya ke dada Alpa
" Tidak, Fla. Itu tidaklah mungkin. Tuan memiliki energi sihir yang lebih melimpah dari dirinya. Selain itu, dalam kondisi tertentu pun, tuan akan mengeluarkan aura kekejamannya pada makhluk hidup yang dianggap musuh dan aura lembut jika dirinya bukanlay musuh. " ucap Alpa setelah mengingat kejadian disaat Party Gellen mendatangi tuannya serta disaat kelahiran Sese.
" Tapi, Alpa... apakah kamu tidak berfikir bahwa mungkin karena tubuhnya yang telah terlahir kembali tidak memiliki kekuatan yang sama ataupun kekuatannya telah menghilang. " Tambahnya dengan sengaja menghadapkan tubuhnya ke depan tubuh Alpa.
" Itu tidaklah mungkin, Fla... Lagipula... firasatku mengatakan hal yang demikian. " balas Alpa setelah mengambil sebuah kain panjang dengan ekornya sembari menutupi tubuh dari Flairia.
" Nmo.... Alpa masih saja tidak menginginkan tubuhku... " pikirnya kesal.
" Fla... bukankah sudah aku bilang untuk selalu mempersiapkan kebutuhanmu sendiri disaat kamu ingin mandi. " ucap Alpa sembari mengusap kepala Flairia layaknya tuannya mengusap sosok bernama Flora.
__ADS_1
" Hm... yah... maaf... " balas Flairia menyesal.
" Dan... Aku sangat yakin bahwa tuan masih hidup di dunia ini.. karena diriku merasakan adanya kebangkitan energi kehidupan dari Sese. " Tambahnya setelah matanya yang menghitam kembali normal.