Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Pilihan sulit


__ADS_3

* srisiiiiing....... sting.... sting.... * sebuah lengkingan dari pedang yang bergesekan terdengar dari sisi dalam hutan bersamaan dengan suara beberapa dentingan pedang yang nampak sedang di adu.


" Ne..... Ayah.... Apakah ayah tidak akan menolong mereka? " Fora terbang di samping Anma yang sedang memperhatikan sebuah pertempuran.


" Ayah rasa.... Tidak Flora... Lagi pun, apa untungnya membantu mereka? Terlebih lagi, mereka nampaknya mampu menangani masalah itu sendiri " Jawab Anma sembari memperhatikan sekitarnya.


" Tapi.... Ayah.... Dari yang Flora lihat, mereka sepertinya sudah kualahan. Bolehkah Flora menolong mereka? " Flora terbang ke hadapan Anma sembari memohon.


" Jawaban ayah tetap tidak, Flora. " Anma mengusap kepala Flora yang menunjukan ekspresi berharap


" Bukankah dulu ayah sudah bilang bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bertahan hidup. " Tambahnya sembari terbang mengabaikan pertempuran itu.


" Tolong....... " Salah seorang kusir dari pembawa stok bantuan berteriak meminta pertolongan


" Aku mohon.... Tolong...... " Kusir itu kembali berteriak sembari berlari ke arah hutan yang mana di atasnya adalah tempat kedua sosok itu berada


" Flora merasa kasian terhadap mereka yang kualahan. Namun di sisi lain Flora tidak bisa melawan perintah ayah. " Gumam Flora setelah mendengar dua hal berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan dan membuat Flora berusaha berfikir cepat mengenai langkah apa yang akan ia ambil.


" Flora.... Ayah tidak melarang mu untuk menolong mereka. Namun, Flora harus siap menghadapi masalah yang mungkin akan timbul setelah Flora menolong mereka. " Kata Anma sembari mengalikan pandangannya ke arah Flora yang tertinggal cukup jauh.


" Em.... Yah.... Eto..... " Flora kembali berfikir mengenai apa yang harus ia lakukan.


" Mungkin jika Flora bisa bertindak atas kemauannya itu, mungkin dapat membawanya ke arah kedewasaan " Pikir Anma sebelum ia memberikan opsi pada Flora yang bingung.


" Tapi.... Jika masalah baru timbul dan keberadaan Flora di anggap sebagai dewi, mungkin Flora akan hidup terpisah dengan ku. Di sisi lain pun jika keberadaan Flora justru di benci, walaupun harus memaksakan diriku, aku mungkin akan menghancurkan dunia dengan amarah yang telah ku segel sebelumnya " Pikirnya setelah memberi opsi pada Flora yang masih berfikir.


" Yah.... Keputusan ada di tanganmu Flora " Tanpa sengaja Anma mengatakan apa yang ia pikirkan dengan nada yang cukup untuk di dengar oleh Flora.


" Celaka.... " Anma memunggungi Flora agar Flora tidak melihat ekspresi cemasnya.


Sembari berharap bahwa Flora mengambil keputusan yang sama seperti yang ia harapkan, Anma seolah berjalan menjauh sebagai tanda untuk Flora membuat keputusan sesegera mungkin


" Emno...... Ayah..... Flora akan menolong mereka walaupun ayah tidak ingin melakukanyanya " Flora langsung terbang jatuh ke arah area pertempuran sekala kecil itu.


" Ya ampun.... Flora memilih pilihan yang tidak aku inginkan.." Anma membalikkan tubuhnya dan melihat bahwa Flora sudah tidak ada dalam tempatnya semula.


* dzm...... * Anma mengangkat kedua tangannya sembari menghentakkan tongkatnya di atas langit seolah langit tempatnya berada merupakan sebuah permukaan tanah.

__ADS_1


* Srasaaaaaaaapt * sebuah kabut hitam tiba tiba muncul di sekitar tubuhnya yang perlahan membuat langit cerah kalau itu menjadi mendung


" Sepertinya tidak ada yang memantau kejadian ini mengunakan alat sejenis miror seperti terakhir kali. " Gumam Anma sembari melihat reaksi awan gelap yang tidak menampakkan kejanggalan.


" Sepertinya ini hari keberuntungan kalian. " Anma mengambil semacam topeng dari item box miliknya.


" Ne.... Revn.... Aku pinjam tubuhmu untuk menutupi kekuatan asliku " Gumamnya sembari memegang sebuah topeng gagak yang terbuat dari kristal putih nan bercahaya.


* swush...... * Anma melesat jauh ke bawah untuk mencari Flora sesaat setelah ia berganti pakaian.


" Tolong..... Siapapun.... " Satu satunya kusir yang selamat menutupi kedua matanya ketika salah seorang bandit ingin memberikan fatal dammage padanya


* splash * sebuah kilatan menyambar yang tidak berapa lama setelahnya langit yang cerah kalau itu mulai mendung.


" Tch...... " Bandit yang sempat berniat menyerang itu justru membatalkan niatnya dan kembali ke arah teman temannya.


* Brush....... * beberapa akar berduri melesat ke arah bandit tadi sesaat sebelum dirinya pergi ketempat teman temannya.


" Ne.... Tuan.... Kamu sekarang sudah aman.... " Flora memegang tangan kusir tadi yang sempat merasa ketakutan.


Ketika pandangannya melihat ke arah bandit yang telah tak bernyawa, Anma memberikan sedikit psical dammage yang membuat kusir itu pingsan.


" Jangan menunjukan sikap kasarmu pada putri kesayanganku " Kata Anma dari balik kegelapan hutan sembari mengenakan sebuah zirah hitam dengan beberapa ornamen kristal yang menutupi setiap bagian jahitan serta mengenakan sebuah topeng gagak yang serupa.


" Ne..... Siapa kamu? " Akibat dari kekuatannyata Anma yang tersamarkan, Flora pun tidak menyadari sosok ayahnya.


" Ini aku, Flora. Ayahmu " Anma menggeserkan sedikit topeng gagak itu sembari tersenyum ke arah Flora.


" E......?! Bagaimana mungkin? Katanya ayah tidak ingin berurusan dengan mereka " Tanya Flora kesal.


" Ayah memang tidak berniat membantu mereka. Tapi ayah berniat membantu Flora " Anma berjalan sembari mengubah tongkat yang ia pegang menjadi sebuah senjata Gream Reaper besar dan memanggulnya.


" Empuh... Ayah.... Terima kasih " Flora mencoba memeluk Anma dalam mode barunya.


" Tidak.... Kamu tidak boleh berterima kasih pada ayah. Karena ayah hanya akan melakukan apa yang ayah inginkan. Jadi, mengenai Flora yang ingin menolong mereka, ayah hanya akan memantaunya. Namun jika mereka membuat Flora terluka. Maka ayah akan membinasakan mereka " Anma menahan Flora dengan memegangi bagian kepalanya dengan tangan kiri agar Flora berhenti sementara tangan kanannya memutarkan sabit yang ia pegang untuk mengaktifkan sebuah negatif aura.


" Mno..... Ayah.... " Flora kembali menunjukan ekspresi keaalnya.

__ADS_1


" Hehehe..... Jangan cemberut seperti itu Flora~ Katanya Flora ingin menolong mereka " Anma


mencubit pipi Flora yang sedang menunjukkan ekspresi marah.


" Ah... Iya.... Baiklah ayah... Flora akan menunjukan kemampuan Flora pada ayah " Dengan semangatnya yang berkobar, Flora mulai berjalan masuk ke pertempuran sekala kecil itu.


Anma menyemangati Flora dengan tepukan tangan dan beberapa kata penyemangat dari belakang Flora.


Ketika Flora sudah cukup jauh ke depan, Anma menggunakan ujung dari sabitnya untuk menyeret tubuh kusir yang pingsan.


" Hey!! Hentikan pertengakaran kalian sekarang juga " Flora membentak ke arah pladin dan bandit yang sedang bertarung.


Pladin dan bandit yang fokus bertarung tidak menyadari keberadaan dari Flora dan terus mengadu pedang mereka.


" Nmo..... Hey.... Flora bilang hentikan " Flora meninggikan nada bicaranya yang secara tidak sadar mengaktifkan sebuah serangan berupa thorn bind.


Berbeda dengan akar pengikat yang sebelumnya dia gunakan untuk menahan dua sosok yang sempat berhadapan dengannya, akar pemgikat yang dia gunakan saat ini adalah akar pengikat biasa yang fungsinya hampir sama seperti tali pengikat pada umumnya.


" Nah... Sekarang lebih baik " Gumam Flora sembari melihat pladin dan bandit yang terikat oleh akar berduri miliknya.


" Hey!! Apa apaan ini? Siapa kau dan apa urusanmu datang kemari " Salah seorang bandit berjubah coklat membentak ke arah Flora.


" Eto... Yah..... Ano.... Flora datang kemari untuk menyelamatkan kalian. Tapi.... Di antara kalian, siapakah yang penjahatnya? " Jawabnya pada bandit berjubah coklat dengan wajah yang polos.


" Graa...... Apa apaan itu.... Aku tidak punya waktu untuk hal seperti ini " Bandit berjubah coklat itu marah dan meledakkan ikatan dari akar yang mengikatnya menggunakan sebuah mantra.


Setelah beberapa kali mencoba. dan mengorbankan sebagian tubuhnha, bandit itu berhasil keluar dari jerat akar berduri dari Flora.


" Siapapun kau.... Karena telah mengganggu rencanaku... Akan aku pastikan kau akan menyesalinya " Bandit berjubah coklat itu memainkan ke dua pedang kecil yang ia pegang di tangannya.


" He....eh....?! Sepertinya kamu penjahatnya yah " Dengan ekspresinya yang masih tersenyum, Flora menunjuk ke arah bandit dengan jubah coklat itu seakan ia sudah siap memberi hukuman.


" Tapi jika dilihat lebih seksama, mungkin kamu akan menjadi barang bagus di pasaran " Gumam bandit berjubah coklat itu sembari menjilati bagian tajam senjatanya.


" Poisonnosleeep.... Camuflage.... Fastosteeep " Guamam bandit berjubah coklat sebelum mulai melesat ke arah Flora.


* swught..... * bandit itu melesat dengan cepat ke arah Flora sembari berniat memberikan fatal dammage.

__ADS_1


__ADS_2