Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Mimpi buruk Flora


__ADS_3

" Hehehe.. Maaf ya, brotus. Kalau begitu, Flora. Mengenai penjelasan selanjutnya, kita akan bicarakan nanti ketika kita sampai di mansion ya? " Anma tertawa sesaat sebelum meminta Alpa dan Flora berhenti berdebat.


" Nah, Brotus. Bisakah kita lanjutkan perjalanan kita? " Tanya Anma pada Brotus.


Anma, Flora, Alpa, Brotus dan para pelayannya mulai berjalan kembali dan mengabaikan seluruh isi kota yang menatap mereka penuh kebencian. Namun, ketika mereka sampai di sebuah mansion yang di tuju, sebuah retak kan dimensi keluar di antara pintu gerbang mansion.


Sesosok pria dewasa mulai berjalan keluar dari retak kan itu sembari mengepalkan tangannya seolah bersiap untuk menyerang dirinya.


Anma yang melihat bahwa sosok itu adalah ancaman langsung mengambil sikap siaga. Dan, benar saja. Sosok pria tadi langsung melesat cepat ke arah Anma sembari mengepalkan tangannya yang kini telah berbentuk tombak hitam.


" Cprats... " Tombak itu mengenai tubuh Anma.


" A... " Flora kehilangan suaranya ketika ia hendak memanggil Anma.


Disisi lain, para pelayan yang telah terlatih, menunjukkan ekspresi terkejutnya.


" ... " Flora mencoba berteriak kepada para pelayan tadi agar menyerang pria tadi sekaligus menyelamatkan ayahnya


" Senang melihat anda kembali tuan. " Alpa membungkuk hormat pada pria yang menyerang Anma.


" .... " Flora mencoba berteriak.


" Nah, sekarang giliran kamu " Sosok pria itu melepaskan tombak hitam yang telah menembus kepala Anma sembari melihat ke arah Flora.


" A.... " Flora mencoba merapal mantra.


" .... " Sosok pria itu mengarahkan telunjuknya ke arah Flora sambil mengucap mantra.


* Brush..... * Sebuah bayangan hitam tajam mengikat tubuh Flora hingga dia tidak bisa melakukan apapun untuk melawan pria itu.


* Brump.... * Pria itu menyerang Flora dengan menusuk bagian jantung Flora dengan tombak hitam yang sama.


* Brual.... *Jantung Flora meledak beberapa saat setelah sosok pria tadi menghina Flora.


" A... A... Arma... " Flora mencoba memanggil nama ayahnya untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


Pengelihatan yang semula melihat tubuh Anma yang terkapar, perlahan mulai berubah gelap. Begitu pun pendengaran yang semula mendengar dentuman pertempuran, mulai terdengar lirih dan secara perlahan berubah menjadi sebuah keheningan.


Dalam keyakinan hati dan pikirannya yang masih tersisa, Flora menangis sembari berharap dirinya akan kembali melihat ayahnya kembali.


" Armaggedon. Nama lain dari dewa pembawa bencana. He...he... He... Dewa yang seharusnya membawa mala petaka pada dunia. Justru tewas tak terduga. He... He... He... Dengan ini, takdir alam semesta tidak lagi terancam bahaya. " Sebuah suara terdengar dari kegelapan.


" Hey... ? Apakah ada orang di sini? Dan... Dan apakah aku sudah mati? " Flora bertanya.


" He...he...he... Sepertinya hidup di alam fana bersama dengannya sudah membuatmu lupa dengan suaraku. Ya? Flora? " Jawab suara itu.


" Alam fana? Hidup bersama dengannya? Sebentar... Em... Em... Em... " Flora berusaha mengingat sesuatu.


" S-s-- Sfiral...them....mor....of...yggdrassil!!! " Tanpa sadar, flora mengeluarkan sebuah mantra sihir.


" Bum..... * Sebuah cahaya hijau menentangi kegelapan yang Flora lihat.


* Brush...!! " Sebuah ledakkan dari cahaya hijau tadi membawa sebuah gelombang kejut yang memekakkan telinga sembari membuka sebuah ruang hampa berwarna putih tanpa noda.


" Hey.... " Sebuah tangan menyentuh pundak Flora


" .... " Flora memanggil nama dari pemilik suara itu.


" A...!! " Flora yang semula melihat seorang wanita dengan rasa elf, terkejut ketika wajah itu berubah menjadi wajah ayahnya.


" Syukurlah kamu sudah sadar, Flora. " Anma mengusap dahi Flora.


" Ayah..!!! Ayah...!!! Ayah....!!! " Flora yang semula kebingungan mulai memanggil Ayahnya.


Anma yang bingung hanya membiarkan Flora memeluk nya sambil menangis karena sesuatu.


" Yosh... Yosh... Yosh... Ayah tidak apa apa Flora. Maaf ya, tadi ayah sempat membuatmu khawatir " Anma mengusap kepala bagian belakang Flora yang memeluk dirinya.


" Ayah... Ak--ku kira ayah akan kembali meninggalkan Flora " Flora mempererat pelukannya.


" Ayah tidak akan melakukan hal seperi itu Flora. Lagi pula, bukankah kita sudah berjanji untuk saling menjaga satu sama lain " Anma melepas pelukannya dan menggantinya dengan memegang erat tangan Flora.

__ADS_1


" Ta-tapi... Ta-tadi, ak--aku... melihat ayah tewas di bunuh oleh seorang pria. P--pria itu sangat menakutkan ayah. Ak--aku takut... Terlebih lagi, pria it...itu mampu membunuh ayah dalam satu serangan. He~ He~ Ayah~ Ak--aku takut " Flora menundukkan kepalanya sambil menggenggam erat tangan Anma.


" Benarkah itu Flora? Jika itu benar, mungkin ayah harus berlatih lebih keras lagi. Supaya ayah bisa menjadi pelindung untuk Flora " Anma menghibur Flora yang sedih.


" La-lalu, ak-aku juga melihat Alpa, ayah. Di-dia yang semula baik, tiba tiba menunjukkan sikap hormat pada pria yang membunuh ayah. Dan... Dan, Alpa... Alpa juga membantu pria itu untuk me... me... " Flora berusaha mengatakan sesuatu.


" Sudahlah... Sudah... Tenangkan lah dirimu, Flora. Sini, sandarkan lah kepalamu di dada ayah. Agar kamu bisa lebih baik lagi. " Anma menutup mulut Flora dengan jarinya sebelum ia menawarkan pelukan untuk Flora.


" Ayah...!!! " Bukannya menyenderkan kepalanya, Flora justru meluk kembali tubuh Anma dengan penuh tenaga.


" Ayah.... Ayah... Ay...yah... " Flora yang semula menangis, perlahan mulai tenang dan kembali tidur dalam pelukan Anma.


Anma menggendong Flora layaknya seorang ayah menggendong putri kecilnya.


" Jadi... Apakah yang lain sudah sadar, Quinn? " Anma bertanya pada Quinn setelah mencium kening Flora.


" Saat ini mereka masih kehilangan kesadaran, Anma. Namun, dengan adanya kebocoran pelindung seperti tadi, mungkin mereka akan tersadar esok hari. " Quinn memberikan pendapat pribadinya.


" Ya, kamu mungkin benar Quinn. Seharusnya, aku tidak melepaskan belenggu ini demi keinginan Shofia..." Anma menatap tajam ke kedua tangan miliknya.


" Iya, Kamu mungkin benar Anma. Tapi untungnya hanya bagian itu saja yang kamu tunjukkan. Aku tidak berani memikirkan hal lain jika kamu melepaskan seluruh perlindungan yang kamu pakai itu. " Quinn memegang tangan yang Anma tatap.


" Hehe..... Kamu benar Quinn. Mungkin tidak untuk sekarang. Namun, jika sebuah takdir menyudutkan diriku. Aku mungkin akan melepaskan seluruh pelindung yang kita buat. Agar aku bisa melindungi kalian semua " Anma menatap ke arah wajah Quinn.


" Jika hal itu terjadi, mungkin sebaiknya aku lari. " Quinn melepas pegangan tangannya dan terbang mengitari Anma.


" He..he... Yah, mungkin itu adalah hal yang bagus untukmu." Anma mengepalkan tangannya.


" Lantai dua Dungeon Zean setara dengan dua kali lantai pertama. Dan lantai ketiga dari dungeon, setara dengan tiga kali luas dungeon ke dua. Jadi, jika aku berhasil mencapai akhir lantai dungeon, mungkin itu setara dengan mengelilingi seluruh penjuru negri... atau mungkin semesta raya..." Tambah Anma setelah memandang Quinn yang terbang.


" Ne.... Anma... Apakah kamu ingat kapan pertama kalinya kamu sadar bahwa aku ada di sampingmu ? " Quinn bertanya setelah mendengar gumaman Anma tentang lantai dungeon.


" Em..... Entahlah. Yang aku ingat, aku pertama kali melihatmu di lantai terakhir dungeon itu. Lagi pula, di saat itu, kamu mengenalkan dirimu di sana. Tepat setelah kamu keluar dari Rune Suci. " Anma duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur Flora.


" Hm..... Sudah aku duga. " Quinn berhenti terbang sembari menyedekapkan kedua tangannya.

__ADS_1


" Apakah kamu ingin membahas hal itu lagi? Ah... Ayolah. Kita sudah pernah membahas itu selama di dungeon. " Anma berdiri ketika melihat Quinn dalam posisi serius.


__ADS_2