
* Hyuppppph..... Huuuuuuuuuh..... * Laura meniupkan nafasnya untuk menghangatian kedua tangannya yang kedinginan.
" Seharusnya ini sudah tengah malam tapi kenapa dia belum datang? " Laura mengalihkan pandangannya ke arah gerbang menuju mansion
" Du.....h apakah aku hanya salah dengar mengenai permintaan tuan Anma tadi sore....? " Laura memegang erat pintu gerbang mansion yang sangat dingin kala itu.
* Hyuppppph..... Huuuuuuuuuh..... * Laura kembali menghangatkan dirinya.
" Jika ia tidak datang, mungkin sebaiknya aku mulai mencari tempat untukku tidur saja " Laura berbalik ke arah jalanan yang sunyi senyap dengan kondisi cahaya yang remang remang.
" Hm.....ph kenapa aku harus seperti ini...... " Laura mnggosokkan kedua tangannya ke arah lengan serta pundaknya beberapa kali untuk menghangatkan tubuhnya
" Apakah ini kesalahanku untuk lahir sebagai anak seorang simpanan " Laura bergumam sembari melihat ke sekitarnya sembari berharap Anma akan datang menemuinya.
" Terlebih lagi..... Nia sudah dua hari menghilang tanpa jejak. " Laura kembali terduduk di depan gerbang mansion
" Dan sekarang hanya tersisa diriku yang sebatang kara " Laura menenggelamkan wajahnya ke pangkuannya.
" Aku harap..... Aku bisa seperti keluarga yang lain. Mempunyai sosok ayah yang perhatian serta ibu yang penuh kasih sayang. " Laura berguman dalam kesendiriannya.
" Lalu, apakah ada harapan lain? " Anma berjongkok di hadapan Laura yang sedang sedih.
" Aku tidak berharap untuk makan makanan yang terlalu enak atau pakaian yang begitu wah.... Aku hanya ingin menikmati hidup yang sederhana ini bersama keluarga ku. Dan lagi.... Aku harap Nia baik baik saja " Laura menjawab pertanyaan Anma tanpa menyadari keberadaannya.
" Apakah dia adalah seorang anak berperempuan dengan rambut merah kecoklatan dengan potongan pendek sebahu ? " Tanya Anma pada Laura.
" Hm.... Iya. Dia juga memiliki bentuk wajah sedikit oval dengan pipi yang tidak terlalu tembam " Kata Laura sebelum dirinya tumbang di hadapan Anma.
" Hoooooh.... Jadi dia sudah memiliki nama. Ya, baguslah. Aku tidak perlu repot repot mencarikan nama untuknya." Anma mengganggukkan kepalanya.
" Kalau begitu.... Mari Laura, aku akan mencoba mewujudkan harapan milikmu. Yah, walau tidak sepenuhnya terwujud, setidaknya aku akan mencoba merawat kalian seperti keluargaku yang lain " Anma mengusap kepala Laura sesaat sebelum membawanya ke dalam mansion miliknya.
......................
__ADS_1
" Ne... Ibu... Makanan ini terasa sangat...... enak " Nia mengangkat kedua tangannya kegirangan
" Hehehe..... Nia benar ibu. Ini adalah makanan yang paling enak yang pernah kami makan " Laura kecil setuju dengan pendapat nia.
" Rasanya begitu lembut dan hangat " Tambah Laura.
" Syukurlah jika kalian suka " Ibu dari Laura dan Nia tersenyum sembari menyantap makanan di hadapannya.
Laura, Nia dan ibunya ti ggal di sebuah gubuk kayu sederhana yang telah di tinggalkan. Walaupun hanya sebuah gubuk tua di tengah hutan, gubuk itu tidak pernah sekalipun di datangi oleh binatang buas maupun monster lainnya.
Di gubuk itu terdapat beberapa lubang yang mungkin dulunya bekas pertarungan atau semacamnya. Di sana hanya terdapat sebuah ranjang ranting yang mampu menampung tiga orang. Dengan sebuah area kosong yang cukup lenggang tak jauh dari ranjang itu, Laura dan keluarganya nampak makan dengan lahap seolah mereka lupa bahwa mereka ada di tengah hutan.
" Kalau kalian mau lagi, ibu akan memasakkannya lagi besok " Tambah ibu Laura.
" Terima kasih ibu.... Aku sangat menantikannya " Teriak Nia bersemangat sembari memakan makanannya.
" Iya, Nia. Ibu janji. " Ibu Laura kembali mengusap pipi Nia untuk membersihkan makanan yang berantakan.
" Untuk itu, Laura.... Bisakah kamu menemani ibu untuk berburu besok? " Kata Ibu Laura sembari tersenyum ke arah Laura.
" Eh.... Tunggu... Ini... Aku ingat kejadian ini.... Ini adalah saat dimana..... " Gumam Laura ketika tersadar pada waktu itu.
" Ibu.... Aku mohon... Hentikan.... Jangan.... Jangan ke sana..... " Laura mencoba berteriak ke arah ibunya yang sedang berjalan menuju guild petualang untuk mencari penawar racun yang akan di berikan pada Nia.
" Ibu.....!!!!! " Laura berteriak.
Laura terbangun di sebuah kamar tidur yang cukup luas.
Dilihat dari dindingnya yang kokoh dan mengkilap, Laura menganggap bahwa dinding itu terbuat dari marmer. Selain itu, ia juga melihat beberapa jendela kaca di samping tempat tidurnya yang terlihat mengkilao dengan beberapa gorden yang telah di buka. Laura juga melihat ke arah sebuah meja rias kosong dengan sebuah cermin yang tidak jauh dari tempat tidur yang ia rasa sangat empuk dan hangat. Sedangkan di sisi lainnya, ia melihat sebuah lemari yang terbuat dari kayu yang juga mengkilap.
" Ara..... Ternyata itu tadi teriakanmu ya. " Hena membuka pintu kamar yang di tempati oleh Laura.
" Ano... Kenapa aku bisa di sini? " Tanya Laura Spontan pada seorang wanita yang memakai simple dress berwarna ungu kehitaman.
__ADS_1
" Saat ini kamu sedang berada di dalam mansion milik tuan Anma. " Jawab Hena sembari mendekati Laura dengan membawa sebuah baju.
" Jadi.... Ajakan Anma waktu itu benar benar terjadi. " Gumam Laura sesaat sembari melihat ke arah Hena.
" Tuan sedang menunggu mu di aula utama. Untuk itu, silahkan pakailah pakaian ini dan bergegaslah menemui tuan. " Hena memberikan pakaian yang ia bawa pada Laura.
" Eh.... ? Kenapa...? Sejak kapan....? Apakah mungkin....? " Laura terkejut ketika tersadar bahwa dirinya tidak memakai apapun
" Kamu tenanglah. Tuan tidak seperti yang kamu kira. Dia tidak akan melakukan hal semacam itu pada mu. " Hena membuka kancing baju yang ia bawa sebelum membantu Laura untuk memakainya.
" Jika kamu tidak percaya, aku bisa mengeceknya untukmu " Tanya Hena sembari merapikan bagian bawah dari gaun biru yang Laura kenakan.
" Ah... Tidak... Itu tidak perlu. " Laura menolak permintaan Hena.
" Nah... Sekarang cobalah lihat dirimu sendiri di cermin itu. Bukankah kamu terlihat cantik dan menawan? " Kata Hena setelah membantu Laura berpakaian.
" Wah... Iya.... Ini terlihat cukup bagus... dan... terimakasih..... " Senyum senang Laura memudar ketika ia ingat bahwa dirinya berada di status sosial yang rendah.
" Tidak.... Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada tuan kami " Hena menggerakkan kedua tangannya sebagai tanda penolakan.
" Ah... Iya... Baikalah. Aku akan segera berterimakasih padanya. " Laura mencoba tersenyum senang.
" Kalau begitu baguslah. Mari, aku antar menuju aula utama. " Hena mempersilahkan Laura untuk berjalan di depannya.
" Baiklah... " Jawab Laura yang sempat kebingungan untuk memanggil wanita itu
" Maaf, jika aku lupa memperkenalkan diri. Namaku adalah Hena. Aku adalah salah satu penanggung jawab dari kelompok yang tuan panggil Iron Maiden. " Hena segera memperkenalkan dirinya pada Laura.
" Kenapa tiba tiba kamu berbicara seperti itu? Hena? " tanya laura yang terkejut
" Mengenai itu. Sebenarnya aku lupa untuk mengatakannya lebih awal tadi. Ini pun juga pesan dari tuan padaku untuk mengenalkan diriku pada dirimu " Jawab Hena sembari melihat ke arah sekitarnya.
" M..... Baiklah.... Oh iya, kenalkan aku adalah Laura Vian Naira. Senang bertemu denganmu Hena dari kelompok Iron maiden " Laura mencoba bersikap ramah.
__ADS_1
" Iya.... Salam kenal juga. " Balas Hena sopan.