
" Pernyataan itu tidak sepenuhnya benar tuan Brotus. Kami yang ada di sini memang pimpinan dari para legium namun ada beberapa orang yang di undang khusus agar memeriahkan suasana. " Def tersenyum
" Eh?! Jadi semua orang di sini dapat di kategorikan sebagai kapten prajurit? " Tanya Brotus yang terkejut.
" Dalam bahasa kalian mungkin itu adalah arti yang sama " Def melepaskan tangan Brotus yang terkejut.
" Jadi tuan Anma itu benar benar orang yang berbahaya. Dengan semua tamu penting yang dapat di katakan sebagai pemimpin pasukan saja sudah ada ratusan seperti ini. Lalu berapa jumlah mereka sebenarnya. Jika dibandingkan tuan Rob, ini tidak ada apa apanya. Terlebih lagi bagaimana cara dia mengurus mereka semua. Ah.... Kepalaku pusing ketika aku terus memikirkan setiap kemungkinannya " Brotus melamun sembari menatap kosong ke arah Def.
" Hm...? Halo...? Tuan Brotus? " Tanya Def pada Brotus yang masih berada dalam posisi yang sama.
Merasa perkataannya tidak dihiraukan oleh Brotus Def pun mengabaikannya sembari mengambil beberapa tusuk sate lagi.
* spendoown * sebuah hentakan energi yang luar biasa menggetarkan seluruh area dalam mansion yang mengakibatkan seluruh cahaya di dalamnya padam sesaat.
" Apa apaan itu tadi " Shofia terkejut ketika hentakan itu terjadi.
" Kaka... Aku takut " Luna memeluk erat Lindastia
" Nona Quinn? Apa yang terjadi? " Tanya Listia pada Quinn
" Ka....? Apakah kaka baik baik saja? " Lanastia mendekat ke arah Lenastia yang terjatuh.
" Ah.... Energi apa itu tadi. " Lenastia memegangi kepalanya sembari melihat area di sekitarnya.
* crsing....... Crsing..... Crsing.... * sebuah cahaya mulai bermunculan di sekitar dinding mansion sembari menerangi area dalam itu.
" Dimana.... Diamana semua keramaian tadi? " Listiana mulai bertanya pada saudaranya karena tidak melihat Quinn yang semula berada di sampingnya.
" Ka... Sepertinya kaka harus melihat ini " Lindastia berkata pada Listia sembari berdiri di dekat pengaman lantai dua dengan Luna yang ketakutan.
* tap.... tap.... tap....tap * sebuah langkah kaki terdengar di keheningan itu
" Maaf mengejutkan kalian " Kata Anma sembari membungkukkan tubuhnya
__ADS_1
" Tidak tuan. Kami justru senang melihat anda dengan salah satu baju terbaik tuan " Arcanest berbicara mewakili para manusia ciptaan.
Anma berjalan keluar dari lorong utama yang berada dekat dengan aula utama sembari mengenakan baju yang berbeda dari sebelumnya.
Baju yang ia pakai memiliki dasar putih bersih layaknya armor putih dari para pasukan Pladin namun dengan bahan yang lebih tipis dan lembut. Di bagian dada dari baju itu terjahit sebuah benang benang berwarna emas dengan sebuah lubang kecil untuk meletakkan sebuah batu orb. Dengan sebuah tambahan sepatu putih dan clana yang merupakan satu set dari baju itu, tubuh Anma nampak bersinar terang di tengah mansion yang remang remang.
" Syukurlah jika begitu. " Jawab Anma sembari mengeluarkan tongkat dari tangan kanannya.
" Kalian boleh berdiri sekarang " Tambah Anma sembari menghentakkan tongkat miliknya.
" Terima kasih atas kebaikan anda tuan " Arcanest berdiri lebih awal yang di ikuti para manusia ciptaan yang lain.
" Nah, kalian boleh keluar sekarang " Anma membalikkan tubuhnya sembari mempersilahkan Flora serta para iron maiden keluar satu persatu.
Ketika Anma berbalik, sebuah sayap putih terlihat menempel di belakang tubuhnya.
" A.... A... " Ketika Shofi akan berteriak, Listia buru buru membungkamnya sembari memberikan tanda diam pada para saudarinya.
Sama seperti Anma yang telah berganti pakaian, Flora dan para maiden pun telah berganti pakaian yang lebih menawan.
" Selamat malam semuanya... Flora sangat senang bisa bertemu dengan kalian. Semoga kita bisa akrab ya " Flora menundukkan dirinya sesaat sembari tersenyum kepada manusia ciptaan.
Melihat Flora yang begitu cantik, Quinn menyapanya dari sisi Arcanest secara diam diam.
Setelah membalas sapaan Quinn, Flora berjalan mendekat ke arah Anma.
" Kalian juga, ayo kenalkan diri masing masing " Anma meminta para maiden untuk mengenalkan diri.
Namun karena merasa malu akan baju yang mereka pakai terlalu biasa, mereka menggelengkan kepala tanda tidak ingin mengenalkan diri.
" Hmh..... " Anma menghela nafas sesaat sebelum kembali ke tengah aula.
" Para tamu dan kerabatku sekalian. Aku ingin, kalian mengenal beberapa tambahan keluarga baruku. Hena... Taka... Moli... Bacta.. Airia... Ip.. Pixi... Hont.. " Anma memanggil nama satu persatu maiden dengan merapalkan sebuah mantra.
__ADS_1
Tidak lama setelah nama mereka di panggil, satu persatu dari mereka mulai berjalan mendekati Anma sembari memejamkan mata mereka.
Di tengah aula utama itu, para maiden tetap menundukkan kepala mereka sembari memejamkan matanya karena tidak tahu apa yang akan mereka katakan.
" Hey... Para tamu sudah menunggu sepata atau dua patah kata dari kalian. Apakaha ada di antara kalian yang ingin menjadi perwakilan untuk menyampaikan perasaan kalian? " ucapnya dengan lembut sembari memotivasi.
"...... " Keheningan masih terasa di ruangan itu karena para maiden masih terdiam sembari menutup mata mereka.
" Ya sudah, tidak apa apa jika kalian memang tidak ingin menyampaikan sesuatu. Namun setidaknya cobalah buka mata kalian sembari melihat para tamu " Anma kembali berbisik.
Dengan perlahan, seorang yang Anma harapkan mulai melangkah maju tanpa terpengaruh sebuah mantra sembari membuka matanya.
Disaat maiden itu mulai berjalan, beberapa lingkaran hitam mulai mengelilingi tubuh maiden itu dengan cepat.
* gu....ar.....!!!! * tubuh dari maiden itu berubah menjadi sosok hitam yang sama seperti sosok hitam sebelumnya.
Melihat maiden yang di harapkan berubah menjadi monster, para legium hanya menganggap bahwa maiden itu merupakan karya baru dari tuan mereka. Namun pemikiran itu berubah ketika sebuah hawa mengerikan keluar dari balik sosok hitam itu.
Para legium utama yang tahu akan hawa mengerikan itu mulai membuat pagar hidup sembari mudur menjauhi tempat tuannya berada.
* Gr.......!!!! * sosok hitam itu tersenyum seolah para legium takut kepadanya.
" A....ayah..... " Flora yang berada di samping Anma mulai mundur tanpa sadar.
" Ayah...!!! " Flora mencoba memanggil Anma yang masih terdiam
" Hey... I--ini.... Sepertinya akan menjadi hal yang buruk bagi kita " Kata Shofia sambil berjalan mundur dari tempatnya semula.
" Apa yang kau katakan, Shofi? Dan kenapa kamu terlihat ketakutan? " Tanya Listia pada Shofi yang berjalan mundur.
" I---itu.... " Shofia menunjuk area kosong yang tidak menampakkan apapun.
" Ka.... Aku merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi " Lindastia mengalihkan pandangan Listia pada Shofia
__ADS_1
" Tidak biasanya kamu seperti itu. Apakah ada sesuatu? " Tanya Listia yang masih belum memahami situasi.
" Aku tidak tahu ka. Tapi dilihat dari reaksi mereka, sepertinya akan ada hal buruk yang akan datang " Lindastia menunjuk ke arah para tamu.