
* swips * Anma kembali ke mansion tempat ia tinggal.
" Selamat sore semua... " Anma menyapa para maid yang ia pikir ada di hadapannya.
" Hm.... Sepertinya mereka belum pulang " Anma tersadar ketika tidak ada seorang pun di area depan maupun area dalam mansion.
" Ayah~ Flora merasa khawatir dengan mereka. " Kata Flora khawatir.
" Tak perlu dipikirkan, Flora. Lagi pula mereka sudah di temani Crsi. " Jelas Anma untuk menghilangkan rasa khawatir Flora.
" Tapi..... Tetap saja Flora merasa khawatir ayah. " Flora kembali mengeluh.
" Ya sudah jika kamu memang khawatir pada mereka, ayo cari mereka di sekitar kota sebelum hal buruk menimpa para penjahat yang mengganggu mereka. " Ucapnya setelah mengingat kekuatan crsi dalam beberapa waktu lalu.
Diantara waktu sore menjelang malam itu, Anma dan Flora berjalan menyusuri jalan menuju tempat tempat yang mungkin para maid itu kunjungi.
Sebelum berjalan mengelilingi kota Raizn, Anma mengubah bentuk sayap milik Flora agar tidak menjadi pusat perhatian.
" Ayah. Sepertinya mereka tidak ada di sini. " Kata Flora setelah mengunjungi tiko baju ke empat yang ada di kota Raizn.
" Kamu benar, Flora. Dimana ya kira kira mereka? Sebentar lagi malam dan mereka juga belum kembali " Anma menanggapi perkataan Flora.
" Permisi tuan. Sedari tadi, anda dan putri anda terlihat gelisah. Apakah tuan sedang mencari sesuatu " Salah seorang prajurit yang berdiri di depan sebuah bangunan asing menghampiri Anma dan Flora.
" Ah, iya. Kami sedang mencari para pelayan milik kami. Apakah anda melihatnya?" Tanya Anma pada prajurit itu.
" Bagaimana ciri ciri mereka tuan? Mungkin saya bisa membantu tuan " Prajurit itu menawarkan bantuan.
" Yah.... kira kira mereka itu terdiri dari dua orang perempuan dewasa, lima belas orang perempuan seusia dengan anakku, tiga orang perempuan dalam usia puber dan seorang anak anak " Jelas Anma pada Prajurit itu.
" Sebentar tuan, saya ingat ingat dahulu.... " ucapnya meminta ijin
" Empat orang anak, dua orang wanita, dan lima belas orang remaja putri.... " Prajurit itu berusaha mengingat sesuatu.
Prajurit yang ada di hadapan Anma memiliki bentuk tubuh menyerupai laki-laki dengan postur tubuh ideal. Namun karena suaranya terdengar seperti perempuan, ia sempat merasa penasaran mengenai Prajurit itu, karena ia tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup armor besi.
" Apakah salah satu dari mereka berpakaian gotic berwarna merah? " Tanya Prajurit itu pada Anma.
__ADS_1
" Ya, benar. Apakah anda melihatnya? " Jawab Anma
" Sepertinya mereka mereka masih ada di pasar raya dekat alun alun kota " Prajurit itu menjelaskan.
" Wah. Syukurlah jika seperti itu. Terima kasih atas bantuannya, tuan Prajurit. " Anma membungkuk dan berterima kasih.
" Apakah tadi kamu mendengarnya, Flora? Mereka ada di dekat sini. Ayo kita pergi dan mengajak mereka kembali " Kata Anma sembari mengusap kepala Flora dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
" Ya ampun.... Aku harap aku punya ayah seperti itu " Prajurit bergumam pada dirinya sendiri ketika Anma pergi.
" Tapi, pria tadi memanggil namanya dengan Flora, apakah ini berhubungan dengan keanehan pada sikap Lana kemarin? " Prajurit tadi melepas pelindung kepalanya sembari menatap Anma pergi.
......................
" Hena!!! Akhirnya, kami menemukan kalian " Flora berlari menghampiri para maiden.
" Ara.. Ara.. Nona Flora. Kenapa anda bisa ada disini " Tanya Hena pada Flora
Belum sempat Flora menjawab, Anma datang ke arah mereka.
" A.... m... I-iya tuan. Kami baik baik saja " Raut wajah para maiden yang ceria langsunb berubah ketika Anma datang.
" Tidak usah setakut itu terhadapku dan lagi, apakah kalian bersenang senang di sini " Jelas Anma sembari melihat beberapa maiden sedang berada di kios yang tidak jauh dari mereka berada.
" Kamu kenapa Hena? Seperti melihat hantu saja? " Taka berjalan menghampiri Hena yang akan menjawab pertanyaan Anma.
" Hm... Taka, ya? Apakah makanan itu enak? " Tanya Anma sembari melihat ke arah Taka yang berada di sampingnya sembari memakan sebuah sate telur.
" Ah... Ya ampun. Maafkan saya tuan. Saya tidak melihat anda tadi. " Taka langsung berubah sikap dan menyembunyikan makanannya di balik badannya.
" Ya, tak apa. Tidak usah setakut itu padaku. Lalu kenapa kalian bisa ada di sini? " Tanya Anma pada Taka.
" A---ano Iya~ Itu~ Tadi kami semua berniat pulang ke mansion. Tapi, setelah berjalan di jalan yang sama ketika kami pergi, jalan menuju mansion itu seolah tidak berakhir. " Jawab Taka dengan keraguan
" Seperti berjalan di antara labirin pohon. " Tambah Hena mencoba meyakinkan
" Ah. Benar, ketika kami kembali dengan jalan yang sama, kami seolah berjalan di labirin pohon itu tanpa tahu ujungnya. Tapi untungnya, Cris meminta Ryuu, Bacta dan Moli untuk berubah dan membawa kami pergi dari jalan itu dengan cara menerbangkan kami sampai ke depan mansion. " Jelas Taka kembali
__ADS_1
" Tapi sesampainya di sana, kalian tidak bisa membuak pintu dan akhirnya kalian sampai di tempat ini? " Tanya Anma.
" Heheh.... Iya. Itu semua adalah idenya Hena " Jawab Taka menyalahkan.
Merasa di salahkan oleh Taka di hadapan tuannya, Hena menundukkan kepalanya sembari memeluk erat tubuh Flora.
" Hm~? " Anma menatap Hena yang ketakutan dengan serius
" Tenanglah, aku tidak mempermasalahkan tindakan apa yang telah kalian lakukan. Lagipula itu juga salahku karena aku lupa menjelaskan pada kalian bagaimana mekanisme pertahanan yang aku buat di area mansion. Jadi Hena~ Ini bukan salahmu. " Anma mengusap kepala Hena disaat Hena menundukkan kepalanya.
" Dan lagi, Flora. Kenapa kamu belum melepas pelukanmu dari Hena? " Tambah Anma sembari menyentuh pipi Flora.
" Hehhe... Habisnya ini sangat lembut dan nyaman ayah. Apakah ayah mau mencobanya? " Kata Flora sambil mempererat pelukannya.
Anma tertawa sesaat setelah mendengar jawaban polos dari Flora yang memeluk erat tubuh Hena yang menggoda.
" Yah. Mungkin ayah akan melakukannya nanti. " Jawab Anma sembari mengawasi sekotarnya.
Mendengar jawaban Anma, wajah Hena sempat memerah sesaat.
" Flora, bisakah kamu membantu Hena dan Taka untuk mengumpulkan para maiden? " Tambah Anma setelah memastikan sesuatu.
" Hehehe... Iya ayah, Flora akan membantu. Ayo, Hena, Taka. Kita kumpulkan yang lain" Jawab Flora setelah melepas pelukannya sembari mengajak Hena dan Taka mengumpulkan para maiden.
Ketika Flora mulai mencari dan mengumpulkan para maiden, Anma menatap tajam ke beberapa orang yang bersembunyi di kegelapan.
" Sepertinya kalih ini aku harus lebih berhati hati. " Gumam Anma pada dirinya sendiri.
" Anma~ Bukankah lebih baik jika kamu membunuh mereka? " Tanya Quinn yang tiba tiba
" Tidak. Itu tidak perlu. Aku tidak ingin membunuh untuk sesuatu yang tidak ada untungnya bagiku. Lagipun dengan membiarkan mereka mengawasiku, aku akan mendapat beberapa keuntungan yang mungkin bisa membantuku menemukan para demi human lain ataupun sebuah koneksi baru. " Jelas Anma.
" Ya baiklah jika itu keputusanmu. Tapi jika kamu benar benar butuh bantuan ku, panggil saja aku seperti biasanya. " Quinn menyombingkan diri.
" Iya, Quinn. Walaupun aku tidak memintanya pun, terkadang kamu langsung mengambil inisiatif sendiri dan membuat ku kerepotan membatku kerepotan" Anma mengingatkan Quinn.
" Hehehe.... Ya, habisnya.... aku tidak ingin kalah dari mereka..." Quinn terpancingoleh perkataan Anma.
__ADS_1