
Wajah dari Hena yang semula terlihat begitu merah seakan sedang demam mulai terlihat normal setelah dirinya merasa bahwa tujuanku membawanya bukan untuk melakukan hal hina.
" T---tuan... " ucapnya lembut.
" Jangan berfikiran buruk mengenai tindakanku ini, ya Hena. " balasku ketika dirinya memanggil.
" Ti---tidak apa tuan. Ju--justru sayalah yang seharusnya meminta maaf karena sempat berfikiran buruk terhadap tuan " balasnya setelah mengubah posisi tubuhnya agar terduduk disamping Anma.
" Hehehe... iya... tidak apa. " balasnya setelah mendengar ucapan dari Hena.
" Ji---jika tuan berkenan, maukah tuan mengatakan apa yang ingin tuan katakan? walaupun sa--saya tidak mampu memberikan saran kepada tuan, se--setidaknya saya bisa menjadi pendengar yang baik " balasnya sambil meremas kedua telapak tangannya.
" Hm.... yah... bagaimana ya caraku menjelaskannya kepadamu... " balasku disaat dirinya selesai berbicara
" Tidak apa tua... saya akan mendengarkan semua keluh kesah dari tuan. Jadi, tidak apa meskipun harus pelan pelan. " balasnya setelah memberanikan diri untuk mememegang kedua tangan dari Anma yang sedang mengepal kesal.
" Hmph.... yah, mungkin ini saatnya diriku untuk membuka diri. " balasku setelah melepaskan genggaman tangannya.
" Hena.... entah apa yang ada dalam benakku saat ini ketika melihat nasib dirimu sewaktu masih ada di bar miliknya. Entah itu sebuah simpati maupun empati dalam diri, ataukah hanya sesuatu yang tidak penting, aku merasakan rasa sakit di bagian ini " ucapku sembari menyentuh bagian dadaku.
" Ara... ara... " Hena terkejut ketika mendengar penjelasan dari Anma.
" Hehehe... apakah kamu berfikir bahwa itu adalah sebuah perasaan cinta kepadamu, Hena? " balasku menanggapi dirinya.
" Akh... iya... itu... " balasnya seolah mencari sebuah jawaban yang tepat.
__ADS_1
" Kamu terlalu naif, Hena. Tidak semua hal yang berhubungan dengan hati adalah perasaan yang berkaitan dengan cinta dan kasih sayang. " jawabnya disaat dirinya akan mengatakan sesuatu.
" Maafkan saya tuan... Saya tidak bermaksud seperti itu. " balasnya dengan perasaan kecewa.
" Cerialah Hena. Bukan maksudku untuk melukai perasaanmu dengan perkataanku tadi. Hanya saja, setiapkali diriku melihatmu~ bayangan dari sosok dirinya selalu hadir dan membuat suasana dalam hati ini tidak terkendali. " balasnya sembari merangkul Hena sembari mendekatkan diri.
Hena yang terkejut hanya terdiam sembari menutup mulutnya agar tidak mengatakan sesuatu yang dapat membuat perasaat tuannya semakin memburuk.
Sembari menepuk bagian lengan Hena yang masih terdiam tanpa kata, Dirinya mulai berfikir mengenai bagaimana caranya mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya tanpa menyakiti perasaan dari Hena.
" Hena.... " ucapnya lembut.
" I--iya tuan... " balasnya dengan nada yang sama
" Mungkin dahulu aku terlalu menahan diri untuk melakukan sesuatu terhadap perasaanku padanya. Namun sekarang, karena sosokmu mengingatkan diriku kepada dirinya, maukah kamu melakukan sesuatu untukku " ucapnya setelah membulatkan tekad.
" Mungkin hal ini akan bertentangan dengan aturan yang telah aku buat sebelumnya. Namun... setidaknya bolehkanlah diriku untuk mewujudkan impianku sejak dahulu untuknya kepadamu " ucapku sembari memegang erat kedua bahu Hena.
Hena yang tidak mampu menahan perasaan yang dia miliki sedari awal tuannya memeluk erat dirinya hanya mampu terdiam sembari menganggukkan kepalanya tanda setuju.
" Kalau begitu... tolong tetaplah seperti ini untuk sementara waktu. " ucapnya sesaat setelah memeluk erat tubuh Hena yang ada di hadapan tubuhnya.
Untuk sesaat, Hena hanya terdian tanpa melakukan apapun karena keinginan dari tuannya tidak seperti yang dia pikirkan.
Tuannya hanya memeluk erat dirinya untuk waktu yang lama sebelum akhirnya dirinya tersadar bahwa tuannya menyembunyikan sesuatu baik dari dirinya maupun orang lain didekatnya.
__ADS_1
" Yoshiyosh.... " ucap hena secara tidak sada sembari mengusap punggung tuannya.
Meskipun tuannya tidak membalas perkataan darinya, dirinya menyadari bahwa saat ini perasaan tuannya jauh lebih baik dari pada saat memeluk dirinya.
Dengan terus mengusap punggung tuannya, Hena menahan air mata yang mulai mengalir akibat bayangan dari sosok seorang yang dirinya cintai.
" ...... " keduanya mengatakan sebuah nama berbeda dengan nada lirih sebelum akirnya menangis di waktu yang berdekatan.
" Maaf ya, Hena. Aku harus menunjukkan sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat. " ucapku setelah membaringkan tubuh Hena yang telah tertidur lelap dalam pelukannya tadi.
" Jadi... bagaimana keputusanmu kedepannya? apakah kamu yakin akan membiarkan dirinya mengetahui luka itu? " ucap sosok pengganti Liah yang sedang terduduk di samping Anma
" Untuk kedepannya, dia mungkin akan merasa canggung kepadaku karena hal tadi dan tentunya, diriku akan tetap membiarkan apa yang telah terjadi tadi sebagai peringan beban yang ada dalam benakku sekaligus untuk membuatku merasa lebih lega. " balasnya pada sosok itu.
" Tentunya dirikupun tidak akan melupakan sosok dirinya yang asli maupun dirimu yang menjadi sosok mu sendiri. " tambahnya sembari meminta agar sosok itu menidurkan kepalanya ke pangkunya.
" Walau bagaimanpun juga, saya tetap mengingat bahwa saya adalah sosok pengganti dan karena itu saya tidak boleh berharap lebih dari apa yang selalu tuan berikan. " balasnya sembari menolak permintaan itu.
" Bukankah sudah aku sudah pernah menjelaskan bahwa aku akan tetap menyayangimu sepenuh hati tanpa berfikir bahwa kamu hanyalah sosok pengganti. " balasnya sembari menarik paksa sosok itu untuk duduk dengan sihir
" Selagi hanya ada kita berdua dan terlepas dari peran utamamu sebagai sosok pemanen, ungkapkanlah semua hal yang selama ini kamu ingin katakan kepadaku agar kamu pun bisa merasa lebih baik dan tidak terbebani atas hal yang masih mengganjal di benakmu itu. " ucapnya setelah mengusap wajah dari sosok itu setelah dirinya tidak merespon ucapannya sebelumnya.
Setelah membisikkan sebuah kata, sosok itu langsung mendorong Anma dan mulai menangis sejadi-jadinya sembari berusaha mengatakan apa yang dia rasakan.
Mungkin jika sosoknya tidak sekuat saat ini, akan sangat mudah untuk tubuh itu terjatuh akibat dorongan dari sosok itu dan membuat sebuah latar belakang yang menyentuh hatinya dan membuatnya merasa nyaman untuk bercerita. Namun sayangnya harapan itu tidaklah terjadi karena perbedaan yang mereka berdua miliki.
__ADS_1
Dengan kembali mengubah bentuk bayangan hitam menjadi sosok yang hampir serupa dengan sosok yang Anma cintai, sosok itu mulai menceritakan hal hal yang mengganjal dalam dirinya mulai dari sebuah perasaan asing yang tiba tiba dirinya rasakan ketika melihat sosok Anma dengan Flora, Quinn, Arc hingga para maiden. Serta beberapa hal baru yang dirinya temui ketika mengaktifkan beberapa portal yang membatasi tempat yang disebut alam fana dengan tempatnya berada saat ini.
Mendengar hal yang sama sekali tidak pernah dia perkirakan sebelumnya, Anma pun membalas setiap ungkapan hati dari sosok itu dengan hati hati dan adapun beberapa hal yang tidak dapat dia jelaskan karena dirinya pun tidak pernah mengetahui bahwa hal tersebut dapat terjadi.