
" Hehehehe... sepertinya dia sedang memimpikan hal yang indah " ucap sosok hitam itu disaat dirinya masih membahas sesuatu dengan Anma
" Hm~yah... kamu mungkin benar. " balasnya sembari mengusap kepala Hena yang tertidur dalam pangkuannya
" Akh, iya. Selagi dia masih seperti ini, bagaimana jika kita mencoba hal itu kepada dirinya? " tambahnya setelah sosok hitam yang ada di hadapannya mengatakan sesuatu mengenai perubahan wujud dari beberapa sosok dalam re legium
Pada mulanya sosok hitam itu terlihat khawatir dan secara langsung menolak permintaan itu sembari menjelaskan hal hal yang mungkin akan berakibat fatal bagi tubuh Hena.
Selain daripada itu pun, sosok itu juga kembali mengingatkan Anma mengenai beberapa kegagalan yang pada akhirnya membuat sosok Arc dan Quinn harus bertarung satu sama lain dan terus membekas hingga sekarang
Setelah menarik nafas panjang, baik Anma maupun sosok hitam itu saling meminta maaf satu sama lain sebelum akhirnya sosok hitam itu kembali ke alam fana dengan pesan bahwa Anma harus memikirkan kembali mengenai sebab dan akibat yang akan timbul disaat dirinya melakukan sebuah percobaan subyek yang tidak lain adalah makhluk hidup.
......................
Pagi itu Hena terbangun dari tidurnya dengan tuannya yang masih tertidur pulas disamping dirinya. Untuk beberapa saat, dirinya menikmati waktu itu meskipun hanya bisa memandang wajah tuannya dari dekat tanpa mampu melakukan sesuatu meski dia inginkan.
" Selamat pagi, tuan. " sapanya ketika tuannya mulai membuka kedua matanya secara perlahan
" Selamat pagi juga Hena. " balasnya sembari mengusap kedua matanya sesat setelah melihat tubuh Hena yang baru
Setelah beberapa pertanyaan mendasar berhasil di jawab oleh Hena, Anma kembali memeluk tubuh Hena sesaat karena percobaan yang dirinya lakukan bisa dikatakan sukses meskipun Hena sandiri tidak menyadari hal mengerikan yang telah dirinya lakuakn.
" Tu---tuan.... a---apakah tuan benar benar melakukan ha--hal itu kepada saya tadi malam?!!! " ucapnya yang terkejut sesaat setelah melihat tubuh tuannya yang hanya mengenakan kain putih untuk menutupi bagian bawah tubuhnya
Dihadapan sosok tuannya, Hena menyadari bahwa semua kekuatan yang tuannya miliki saat ini adalah bukti dari kerja keras dan usahanya hingga sekarang. Dengan melihat beberapa bekas luka yang saling menumpuk satu sama lain baik itu sebuah sayatan maupun luka bekas luka yang cukup dalam, secara tidak sadar dirinya menyentuh salah satu luka yang ada pada punggung tuannya
* Sbrals.... * sepasang sayap tiba tuba muncul dan sempat membuatnya terpental hingga hampir menghantan dinding dari ruangan tempatnya berada dan beruntungnya sosok Anma berhasil menangkap dirinya sesaat sebelum dirinya nenghantam dinding itu
Tanpa adanya ucapan dari tuannya untuk dirinya selain dari helaan nafas panjang, Hena sempat merasa bersalah atas apa yang telah dirinya perbuat
" Untuk saat ini kamu boleh tetap berada disini untuk sementara waktu ataupun kamu boleh pergi dari sini jika itu menang keinginanmu. " ucapanya sesaat setelah menurunkan Hena ke tempat semula dirinya berada
Hena yang masih merasa bersalah hendak menjawab pertanyaan itu dengan pilihan untuk meninggalkan tempatnya berada saat ini.
" Namun karena sebuah sihir yang telah melekat dalam ruangan ini, perbedaan waktu yang ada di ruang lain dapat membuatmu mengalami kekacauan mana yang cukup serius " tambahnya sembari mengenakan pakaiannya kembali seperti sedia kala
" Em... Tu---tuan... maafkan saya jika tadi saya berbuat lancang kepada anda. Da~n lagi, jikalau tuan berkenan menjawabnya, A---apakah tuan be--benar benar melakukan hal itu kepada.... " ucapnya sembari memberanikan diri untuk bertanya
" Hm~ph.... Hena... untuk saat ini aku sedang tidak ingin melakukan hal lain selain berada dalam kehangatan dari pelukan tubuhmu tanpa adanya pertanyaan yang mengganggu " balasnya sembari memeluk tubuh Hena dengan pelan sebelum akhirnya kembali memejamkan kedua matanya disaat Hena mencoba bertanya beberapa hal
__ADS_1
Hena yang saat itu tengah memiliki banyak hal yang ingin dirinya tanyakan pada tuannya kembali terdiam sesaat setelah menyadari bahwa tuannya telah tertidur dalam pelukannya.
Beberapa saat setelah tuannya melepaskan diri dari pelukan itu dan beralih ke posisi tidurnya, pandangan dari dirinya teralihkan oleh sebuah layar sihir yang melayang tidak jauh dari tempatnya berada.
Merasa bahwa mungkin itu adalah sesuatu yang dirahasiakan oleh tuannya, secara perlahan dia mulai mendekati layar sihir tersebut dengan sesekali melihat ke arah tuannya untuk memastikan bahwa tuannya masih tertidur dengan lelap
" Helenia Marista Neoempheria.... Level 5...Age 29...Ras Kitsune.... " ucapannya ketika membaca baris pertama dari status yang ada dalam layar sihir
" Apakah ini aku? " ucapnya tidak percaya
" Monk magic type.... Sta 29, Str 17, Will 8, Dex 15, Fer 4, Cha 10..... " lanjutnya sembari membaca status yang disebelahnya terdapat sebuah gambaran mengenai bentuk tubuh dari Hena yang belum berubah.
* Scrips * Hena dikejutkan dengan kedipan dari layar sihir yang ada dihadapannya
Hena yang merasa takut atas perubahan yang tiba tiba itu mencoba mengembalikan kembali layar sihir yang hanya menampilkan layar hitam
" Selamat malam, tuan.... " ucap seorang pria yang nadanya disamarkan
Mendengar sesuatu yang tidak terduga, Hena semakin takut karena mungkin itu adalah suara dari seorang yang hampir sama dengan sosok Crsi dalam wujud yang menakutkan
" Perubahan dari sosok bernama Hena telah berhasil dilakukan. Dengan beberapa peningkatan yang sebelumnya telah tuan berikan, beberapa keahlian baru berhasil diperoleh.... Demitar Nelvia aravian.... Legiun Minor.... Null akses Sweet Harts P1692.... aktivasi kebangkitan -Marin- " ucap sosok yang sama sembari menampilkan sebuah layar sihir baru yang menampilkan perubahan wujud dari sosok Hena yang sekaligus menampilkan beberapa peningkatan yang cukup tinggi.
" STA 812, STR 962, Will 504, Dex 1100, Cha 794, Fer 404.... " lanjutnya membaca beberapa statistik yang telah berubah sesat sebelum layar sihir tersebut kembali menampilkan layar hitam dengan sebuah tanda konfirmasi berupa tiga lingkaran berisi pentagon yang terikat dalam satu segitiga dengan sebuah lingkatan pelindung yang berisikan beberapa lambang dari elemen dasar yang ada dalam dunia tersebut
" Ano..... Konfirmated? " ucapnya dalam keraguan sesaat setelah mengingat kembali sebuah kata dalam layar suhir itu sebelum menghilang tadi
* Splendums * sebuah guncangan energi hebat tiba tiba meledak dari dalam tubuh hena yang bersamaan dengan hal itu tubuhnya mulai kehilangan kesadaran.
" Konfirmasi berhasil dilakukan..... kondisi prematur akan berubah dalam waktu kurang dari 3 jam waktu Celestial..... perlengkapan yang telah dipesan akan segera ditampilkan dalam 3, 2, 1 *Scripsts* " ucap sosok itu sesaat sebelum layar sihir kembali merubah statistik data yang ada menjadi statistik data dari tubuh Hena yang baru beserta beberapa perlengkapan yang sebelumnya telah Anma siapkan
......................
" Selamat pagi, Hena " ucap Anma sesaat setelah Hena terbangun dari tidurnya
" Hm~ yah? Selamat pagi juga, tuan... " balasnya yang belum tersadar sepenuhnya dari tidurnya
Dengan tetap membiarkan tubuh Hena tetap tertidur di atas tempat tidur itu, Anma membuka sebuah buku yang menampilkan statistik dari Hena yang telah berubah sembari menunggu kesadaran diri dari Hena kembali sepenuhnya
" Ehm~ buku itu... " gumam Hena sesaat setelah merasa mengingat buku yang tuannya pegang dalam kesadaran yang belum pulih sepenuhnya
__ADS_1
" Hm? apakah kamu pernah melihat buku ini, Hena? " ucap Anma sesaat setelah mendengar gumaman dari Hena
" Em~ sesuatu seperti "Scripsts, Demitar Nevi, lalu~, M~ " Balas Hena sembari mencoba bangkit dari tidurnya dan mendekat ke arah Anma
" *Scripsts* Akh.... iya!! buku itu!! ano... tuan, maafkan saya mengenai beberapa hal yang mungkin telah rusak dalam buku itu!!! " ucap Hena yang secara tiba tiba selagi membungkuk meminta pengampunan
" Jadi~ beberapa hal yang ada di sini telah berubah, ya Hena? Pantas saja beberapa halaman nampak kosong dan beberapa lagi nampak menghilang... " balasnya sesaat setelah menutup buku yang dirinya baca
Dengan posisi yang masih sama seperti sebelumnya, Anma kembali bertanya hal yang sama seperti tadi malam dan menambahkan beberapa pertanyaan lain terkait ingatan terakhir yang dirinya ingat.
Merasa bahwa dirinya mengulang waktu yang hampir sama seperti saat ini, Hena kembali menjawab beberapa pertanyaan itu dengan jawaban yang sama dan dengan sebuah permintaan maaf sebelum melanjutkan jawaban atas pertanyaan terakhir dari tuannya, Hena mulai mengatakan ingatan terakhirnya yang berkaitan dengan perubahan status dan sesuatu yang nampak seperti layar sihir.
Dengan sebuah usapan lembut di bagian kepala pada Hena, Anma tersenyum senang untuk sesaat sebelum menjelaskan apa yang telah terjadi pada Hena
Sembari memberikan sebuah set baju dengan asesoris lengkap beserta sebuah senjata, Anma meminta kepada Hena untuk melihat tubuh barunya di hadapan sebuah cermin yang ada
" Tuan.... apakah itu adalah saya... " balas Hena disaat melihat dirinya yang berada dalam cermin telah kembali ke muda.
Tubuh dan wajah yang semula terlihat gemuk dan berisi, kini telah berubah menjadi tubuh ramping dengan pipi yang pirus beserta dengan rambutnya yang kembali memanjang dengan anggun.
" Tadi malam kan kamu sepat berkata bahwa kamu sudah tidak mempunyai rasa kepercayaan diri akibat tubuhmu yang terlihat tua dan lagi disaat kamu berbicara dalam tidurmu, kamu berkata bahwa " Jika saja tubuh ini masih dalam keadaan suci... maka mungkin saya bersedia menerahkan kesucian saya pada tuan Anma. " ucpanya sambil membelai wajah Hena dalam tubuh barunya.
Sambil melihat dan memastikan tubuhnya sendiri, dirinya merasa sangat malu ketika mendengar perkataan tuannya mengenai keinginannya tentang hal yang telah disebutkan tadi.
" Sekarang... kamu sudah menjadi lebih muda. Tubuh dewasamu yang semula setara dengan tubuhku kini telah menyusut dan membuatmu lebih kecil dari diriku... " ucpanya setelah membalikkan tubuh dari Hena agar saling berhadapan.
" Sekarang cobalah pakai pakaian itu sementara aku mengembalikan ruangan ini seperti semula " tambahnya sembari meminta
Sesaat setelah mengembalikan ruangan tempatnya berada seperti semula, Hena menampilkan dirinya dengan sebuah bisnis dress berwarna ungu bercorak coklat yang nampak sedikit ketat.
" Hehehe.. sepertinya aku salah memperkirakan ukuran tubuhnya di bagian itu " tawanya dalam hati ketika melihat bagian yang dimaksud membuat pakaian yang seharusnya nampak sempurna justru terlihat ketat
" Sekarang kamu nampak lebih cantik lagi menawan, Hena. " ucapnya memuji penampilan Hena kini terlihat lebih menawan lagi menarik hati bagi siapapun pria yang melihat dirinya.
" Terlebih dengan sepasang anting prmata biru dan kacamata persegi ini, sebuah kesan intelektual dapat dirasakan begitu kental walaupun hanya dilihat secara sekilas. " tambahnya lagi membelai wajah Hena
" A--no, T---tuan bolehkah saya bertanya mengenai alasan tuan mengenai perubahan ini? " ucap Hena dengan wajah yang memerah
" Alasanku cukup sederhana, Hena. Karena aku...... " balasnya sembari menjelaskan maksud dan tujuannya pada Hena.
__ADS_1