
"Kalau begitu, Tuan Anma, Nona Linda, saya mohon ijin untuk kembali bertugas. " Ucap pamit prajurit yang mengantarkan Anma.
" Sekali lagi Terima kasih atas bantuannya. " Jawab Anma pada prajurit itu.
" Selamat melanjutkan tugasmu. " Jawab Lindastia sembari menyemangati.
Setelah prajurit itu pergi dan tidak terlihat lagi, Anma mulai melangkah menuju ruangan dimana Nami, Tsuki dan Airi berada mengingat penjelasan yang sebelumnya telah Linda ucapkan.
" Jadi, tuan.. Bisakah anda jelaskan mengenai hubungan tuan dengan para korban? " Lindastia bertanya sembari berjalan di samping Anma.
" Seperti yang sudah di katakan oleh prajurit tadi. Mereka adalah pelayanku " Jawab Anma dengan santai.
" Jadi begitu ya. Lalu, Dimanakah tuan membeli mereka? Setahuku, tidak ada seorangpun di kota ini yang dapat melakukan transaksi seperti ini..." Lindastia menjelaskan.
" Itu mudah saja. Jika kamu ingin mengintrogasi diriku lebih lanjut, kamu bisa melakukannya nanti. Aku akan sangat berterima kasih jika kamu menunjukkan ruangan ke empat pelayanku. " Sahut Anma dengan nada dan ekspresi yang sama.
* glp * Lindastia menelan ludahnya karena terkejut dengan apa yang Anma katakan.
" Tidak... tidak... Saya tidak bermaksud seperti itu pada tuan. Saya bertanya seperti itu karena saya merasa penasaran. " Jelas Lindastia.
" Syukurlah jika begitu. Aku senang mendengar nya. Dan lagi, apakah kamu seorang dokter disini? " Sahut Anma dengan sebuah pertanyaan
" Hehehe.... Iya. Bisa dikatakan begitu. Hanya saja, saya di sini berperan sebagai seorang dokter pengganti untuk sementara waktu. " Jelas Lindastia.
" Jadi, semacam anak magang ya? Itu berarti pengetahuanmu cukup luas pada hal hal yang berkaitan dengan alkemi dan sejenisnya..." Anma merespon dengan sebuah nada bersahabat.
" Ah... Itu benar tuan. Saya memang mengetahui berbagai macam hal semacam itu. Selain itu pun saya mengetahui beberapa tumbuhan herbal tingkat sedang dan cara menggunakannya dengan baik, Namun saya tidak tahu maksud tuan tentang anak magang seperti yang anda katakan. " Jelas Lindastia
" Yah... Lupakan saja apa yang baru aku katakan tadi. " Sahut Anma.
" Em... Ya, baiklah jika tuan berkata begitu. " Lindastia merasa bersalah pada Anma karena tidak mengetahui apa yang telah ia katakan sebelumnya.
Lorong demi lorong dalam rumah sakit telah dilewati hingga Lindastia berhenti di sebuah ruangan yang cukup jauh dari ruang utama rumah sakit.
" Ini adalah ruangan mereka tuan " Lindastia membuka ruangan itu.
__ADS_1
" Ya ampun. Ini melebihi apa yang aku bayangkan " Anma menutup mulutnya agar gumamannya tidak di dengar oleh Lindastia.
" Tuan... Saya mohon kuatkan diri anda. Memang ini terasa berat. Namun saya minta tuan bisa menguatkan diri tuan ketika melihat mereka " Kata Lindastia sembari menasehati.
" Heh... Kamu pikir aku kasihan melihat mereka? Aku hanya tidak menyangka bahwa mereka benar benar di bawa kemari bahkan saat jiwa mereka ada dalam ruang penyiksaan..." Gumam Anma dalam wajah yang di palsukan.
" Mari, tuan. Mereka mungkin masih belum tersadar dari koma. Namun dengan adanya tuan, mungkin mereka akan mendapat sebuah keajaiban " Lindastia kembali menasehati.
" Iya, baiklah. " Jawab Anma dengan wajah yang tetap di palsukan.
Di hadapan Anma, tergeletak tiga tubuh dari Iron Maiden yang penuh luka.
Airi mengalami sebuah luka bakar hampir 50℅ dengan bagian wajah, tangan kanan dan kaki kanan yang melepuh serta terlihat mengalami luka dalam dan beberapa bagian tubuhnya nampak di amputasi. Sedangkan Tsuki mengalami luka bakar hampir 100% dimana di bagian wajah dan kedua tangannya hampir tidak dikenali serta beberapa kengerian yang tidak dapat dijelaskan melalui kata-kata. Sementara Nami mengalami luka yang cukup ringan di bandingkan dengan Airi dan Tsuki karena hanya separuh badannya saja yang nampak hangus dan terkoyak di beberapa bagian.
" Ano... Maaf, sedari tadi aku sempat terfikir kan suatu pertanyaan. Mengapa kalian tahu bahwa aku mengenali mereka dan tahu dimana aku tinggal? " Tanya Anma sembari mengalihkan pandangannya ke arah Lindastia setelah melihat ke arah Iron maiden yang terluka.
" Mengenai itu, sebelum mereka di bawa kemari, salah satu dari mereka bertiga sempat berteriak memanggil seorang bernama Anma sembari meminta pertolongan sebelum kesadaran diri mereka menghilang. " Jelas Lindastia.
" Lalu untuk informasi dan lokasi yang menyangkut diri tuan, kami berhasil menemukan nya dari data yang ada di papan akhdar. " Tambah Lindastia.
" Ne... Bolehkah aku tahu namamu? " Tanya Anm ketika suasana mulai sepi
" Nama saya Lindastia XVI Anaraiz. Tuan bisa memanggil saya denah nama Linda. " Lindastia mengenalkan diri.
" Kalau begitu, Lida, apakah mereka akan seperti ini dalam waktu yang lama? " Tanya Anma dengan wajah khawatir.
" Seperti yang sudah saya katakan tadi tuan. Mereka sedang berada dalam kondisi koma. Oleh karena itu. Mereka mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk tersadar. " Lindastia kembali menjelaskan
" Bukan itu maksudku. Apakah di rumah sakit ini, tidak ada seorang pun yang tahu mengenai mantra penyembuhan atau semacannya? " Tanya Anma pada Linda.
" Hehehe.... Tuan ini bicara apa? Mantra penyembuhan terakhir di gunakan sekitar lima ratus tahun lalu. Atau tepatnya saat berakhirnya Perang besar. " Jelas Lindastia.
" Sebagai ganti atas mantra itu, sebagian besar penduduk di kota tidak termasuk pada demi human, selalu mendapatkan suntikan darah dari Kerajaan setiap mereka berumur enam tahun. "Tambahnya.
" Jika boleh aku bertanya, apa guna dari suntikan darah itu ? Dan darah siapa yang di suntikan pada kalian? " Tanya Anma penasaran
__ADS_1
" Suntikan itu bertujuan untuk meningkatkan daya regenerasi tubuh ketika terkena sayatan dan semacamnya. Mengenai darah yang di suntikkan, kami tidak tahu asal muasalnya dan pihak dari kerajaan pun berdalih bahwa sesuatu yang dianggap sebagai darah itu merupakan sebuah potion tingkat tinggi yang berhasil dikembangkan. " Jelas Lindastia.
" Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Kerajaan mengenai kasus ini " Pikirnya sesaat.
" Jadi, mereka akan di suntikkan darah itu lagi atau bagaimana? " Tanya Anma kembali
" Tidak. Mereka akan di biarkan seperti itu agar tubuh mereka pulih dengan sendirinya. Namun untuk meminimalkan pembusukan dari luka yang fatal, saya sendiri akan memberikan mereka mantra penetralan seperti pofuri dan sesekali membalut luka mereka dengan ramuan yang terbuat dari tanaman herbal " Jelas Lindastia.
" Jadi untuk itu, kamu akan mengawasi mereka sampai sembuh seutuhnya? " Anma penasaran.
" Iya tuan. Saya akan melakukannya " Jawab Lindastia
" Kalau begitu aku minta maaf ya, karena mungkin akan menambah beban kerjamu karena mereka " Kata Anma sembari melihat ke arah ketiganya.
" Tak apa tuan. Ini adalah hal yang biasa saya lakukan. Terlebih disini ada beberapa perawat yang mampu melakukan seperti yang saya lakukan. Jadi tuan tidak perlu sungkan dan merasa khawatir " Jelas Lindastia.
" Syukurlah. Dengan ini aku bisa menyerahkan mereka pada mu tanpa khawatir" Kata Anma dengan sebuah senyuman di wajahnya.
" Hehhe... " Lindastia tersenyum dengan sebuah tawa sebelumnya.
" Jika ada biaya mengenai pengobatan mereka, kamu bisa menemuiku langsung di tempat aku tinggal. " Bisiknya setelah bangkit dari duduknya.
" Baiklah jika seperti itu tuan. Saya akan mengunjungi rumah tuan jikalau mereka telah pulih sepenuhnya. " Lindastia meberterima kasih sembari mengantarkan Anma keluar rumah sakit.
* hmph * Anma menghela nafas ketika Lindastia tidak lagi terlihat di depan rumah sakit.
" Secara kasar, mereka menyuntikkan sebuah darah seorang yang memiliki kekuatan regenerasi pada penduduknya dengan dalih bahwa darah itu merupakan potion tingkat tinggi sebagai ganti dari mantra healling yang sudah di anggap punah. Tapi... Kenapa mereka lebih memilih melakukan itu ketimbang menghafal mantra healling? Terlebih mereka dapat mengucap mantra penetral efek negatif yang jelas mantra tersebut sama tuanya dengan mantra healling. " Gumamnya di tempat ia berada.
" Mengingat apa yang dia katakan sebelumnya, mungkin akan lebih baik jika aku lebih berhati hati." pikirnya sesaat sebelum mulai melangkah sembari melakukan teleportasi di tempat itu dalam kondisi sepi.
* swarp * Lindastia mengintip dari balik jendela lantai dua rumah sakit itu sembari memegang sebuah kertas.
" Seorang yang memiliki " Ova " Benar benar mengagumkan. " Gumamnya sembari meremas kertas data diri Anma.
" Mungkin akan lebih baik jika aku memanfaatkan dia, agar dia bisa membuat Luna menjadi seperti dirinya " Tambahnya sembari tersenyum mengerikan
__ADS_1
" Dengan begitu... Aku bisa lebih akrab dengannya " Senyum itu berubah manis setelah Lindastia memeluk kertas data Anma.