Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Hal terakhir untuk dilakukan


__ADS_3

Hela nafas panjang yang di iringi dengan perengganggan tubuh yang kaku, dirinya lakukan tidak lama setelah kembali ke ruangan khusus yang biasa dia tempati untuk beristirahat tanpa adanya distorsi ruang maupun waktu.


" Setelah menggunakan dimensi ruang untuk membawa mereka ke interlar Ivory, sepertinya masih ada waktu yang tersisa untuk mengunjungi mereka yang mungkin telah mencapai batasannya. " gumamnya setelah duduk di sebuah kasur yang mana di atas kasur itu pun terdapat Flora dan Quinn yang telah tertidur dengan pulas lagi menunjukkan ekspresi yang menggemaskan


" Mengingat ucapan mereka mengenai sosok yang di sebut pahlawan, aku rasa aku harus melatih diri kembali serta memanaskan beberapa senjata itu dan kembali memperbarui status data dari mereka" tambahnya setelah membuka layar sihir yang menampakkan sebuah wajah yang berputar dengan beberapa jendela kecil berisikan senjata, status dan statistik anggota Re legium dan beberapa grafik energi sihir.


" Ne~ arc.... apakah kamu masih terjaga, di sana? " ucapnya melalui telepati


" Akh... tuan... maaf jika saya lancang * Dbruuuums * saat ini saya tengah melakukan latihan rutin seperti yang pernah tuan katakan dahulu " jawabannya dengan sebuah akhiran berupa rapalan mantra dan perintah pada legiun utama


" Akh, maaf ya. Sepertinya aku bertanya di waktu yang kurang tepat. " balasnya dengan wajah yang kecewa.


" He, em. Tidak apa tuan... * dzriiiingsss * apakah ada yang bisa saya bantu untuk tuan sekarang? " balas Arc setelah mengucapkan sebuah mantra pertahanan agar mereka berhenti sesaat untuk mendengar permintaan yang mungkin akan di ucapkan oleh Anma


" Sebenarnya tidak juga, Arc... hanya saja aku akan mengunjungi kedua saudaramu di lantai itu sembari melakukan beberapa pelatihan kecil di sana" jawabnya setelah menarik nafas panjang


Arc yang mendengar hal itu, tiba-tiba menarik seluruh anggota legium utama untuk kembali ke dalam kastil agar dirinya bisa ikut bersama tuannya untuk bertemu dengan tiga saudaranya yang menurut unit pemanen, mereka hampir sama kuatnya dengan Alpa, Sese dan bahkan Arc sendiri.


" Unutuk sekarang, kamu teruskan saja pelatihanmu saat ini bersama unit utama dan selebihnya jangan memaksakan dirimu ataupun mereka untuk melampaui batas diri. " ucapnya yang diabaikan oleh Arc disaat Arc menarik seluruh legium utama untuk kembali.


" Tuan!!!! " Teriak Arc di kala melihat sosok tuannya yang melambaikan tangannya sebelum menutup sebuah gerbang yang disampaikan sebelumnya


" Maaf, Arc. Sepertinya belum saatnya kamu melihat mereka. Namun setidaknya mereka pernah melihatmu dan bersama dengan hal itupun mereka memberikan tambahan kekuatan kepadamu dan unit utama..." ucap seorang wanita yang tiba tiba masuk ke dalam jalur telepati keduanya


" Laisia, bukankah aku sudah bilang bahwa kamu tidak boleh mengatakan hal yang berhubungan dengan mereka..... " ucapnya sembari memutus jalur komunikasi dengan Arc

__ADS_1


Terkejut mendengar ucapan dari sosok pemanen yang bahkan dirinya sendiri belum pernah melihatnya, Arc langsung meminta kepada unit utama untuk memeriksa statistik mereka.


......................


Di sebuah lantai terdalam dari sebuah dungeon, Anma tengah berjalan bersama sosok bayangan hitam yang sebelumnya selalu menunjukkan dirinya di beberapa waktu tertentu.


Dengan menampakkan tubuh sesosok pria dewasa dengan ras yang hampir mirip dengan dark elf ber rambut putih, dirinya berjalan sembari menampakkan luka yang ada dalam tubuhnya yang biasanya tertutup oleh baju yang selalu dirinya kenakan.


Bersama dengan sebuah lingkaran yang terbentuk dari ribuan pedang yang berukuran seperti jarum, dirinya pun memakai sepasang sarung tinju yang nampak membara dengan api biru kehitaman serta sepasang plasma sword dengan bentuk segi tiga yang nampak terpasang di kedua lengannya.


" Plaraiz Halo sword, Tao`s Hand Oboros, Plasma sword Palestra dan Distraistra other bone. " ucap sosok Laisa sembari tersenyum ke arah Anma dengan menahan keinginannya untuk menyentuh tubuhnya yang hanya tertutup oleh kain lusuh seperti saat pertama Anma datang ke dunia alternatif


" Dari sekian banyak senjata yang ada di sana, tidak aku sangka bahwa kamu akan menggunakan senjata itu. " tambahnya sembari menunjuk sebuah cambuk tulang yang mengikat pinggangnya selayaknya ikat pinggang


" Hehehe... apakah kamu terkejut atas apa yang aku gunakan ini? bukankah kamu pun sama sama menggunakan senjata senjata itu seperti saat kita bertarung dahulu? " balas Anma sembari mengarahkan pandangannya ke arah sosok Laisa


" Adamantium Frokens sword, Blizzard eaten spirit, demolush whiled, beberapa panthom sword of Nafia dan Darken Darren. Sepertinya kamu juga menggunakan beberapa spesial item tambahan yang tidak aku minta, bukan?" balasnya sembari menyebutkan berbagai senjata yang kenakan oleh Laisa.


" He~mh. Seperti yang kamu tahu bahwa berbagai hal dapat terjadi di sini, jadi aku membawa beberapa item ini untuk berjaga-jaga... hehehehe. " balasnya sembari memberikan alasan.


" Jadi, sudah berapa lama kita tidak kemari? " ucapnya sesaat setelah terhenti disebuah gerbang besar yang tidak lain adalah gerbang kehancuran


" Hm~ yah, sepertinya sudah sangat lama. Lagipula watch of entaros juga sudah mencapai butiran jiwa yang terakhir. " balas Laisa sembari mengarahkan pandangannya ke beberapa jam pasir yang terikat di beberapa tulang tajam dari Distraisa other bone.


Setelah tertawa atas jawaban dari Laisa dan beberapa pembicaraan singkat, Anma mengangkat Plaraiz Halo sword dan memecahkan rangkaian dari ribuan pedang tersebut dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang kecil yang terbuka di gerbang kehancuran dengan sebuah mantra yang telah terucap sebelumnya

__ADS_1


" Aku tidak akan pernah bosan ketika dirinya melakukan hal ini " gumam Laisia saat melihat Anma membuka gerbang kehancuran dengan aura hitam yang mulai berubah menjadi biru ke unguan


" Maestro!!! " ucapnya sembari membuka kedua tangannya di depan gerbang itu


*Splendums* Sebuah ledakan energi besar menghempaskan sosok Laisia sesaat setelah gerbang kehancuran menunjukan dua bua cahaya dari batuan rune yang ada di bagian matanya


* Scrapst. Swussungs. * Melihat Laisia terhempas cukup jauh, Anma menarik tubuhnya menggunakan cambuk tulangnya.


* Errrrraaaaaaaggggghhh!!!!!! * teriak tangis dari gerbang kehancuran itu sembari mengeluarkan cairan merah layaknya darah dari ukiran beberapa makhluk mengerikan seperti saat gerbang kehancuran terbuka saat itu.


Bersama dengan sepasang lengan raksaksa berwarna hitam yang menyambut dirinya, Anma yang masih mengikat tubuh dari Laisia mulai ditarik masuk oleh lengan tersebut dan setelahnya gerbang kehancuran itu mulai berkamuflase menjadi sebuah dinding batu obsidian yang serupa dengan area lantai tersebut.


" Jailin!!!, Jailangkung!!! " ucap dua sosok yang tiba tiba muncul dari sebuah pentagon yang ada di bagian dalam ruang dari gerbang kehancuran.


" Maestro Entaros!!! " ucap sosok lain yang muncul bersamaan dengan kedua sososk tadi namun dengan cahaya dari beberapa glich.


Dari ketiga sosok yang muncul, sosok Maesto memiliki bentuk yang hampir sama dengan Anma namun sebagian tubuhnya terlihat jelas bahwa Maesto merupakan sebuah cyborg.


Berbeda dengan Maestro, Sosok Jailin memiliki tubuh yang hampir sama seperti Flora namun memakai pakaian putih bergaya cyber dengan sebuah topeng tanpa ekspresi serta sebuah sayap plasma yang nampak memancarkan energi sihir berwarna biru muda.


Meskipun Jailangkung merupakan sosok yang di anggap sebagai saudara dari kedua sosok tadi, bentuk tubuhnya yang hampir mirip seperti Alpa justru menampakkan diri layaknya orang-orang sawah yang mana di bagian kayunya terbentuk dari batuan obsidian dengan sayap aura berwarna merah kekuningan serta bagian tangan dan kaki yang tertutup oleh aura hitam dengan beberapa garis hijau.


" Akh, Ailin, Akun, dan Aestro. Senang melihat kalian dalam kondisi yang baik " ucapnya sembari menyambut ketiga sosok tadi dengan membuka kedua tangannya


* Scripts * sebuah glic muncul dan menampakkan sebuah pemberitahuan sistem.

__ADS_1


" Kamu telah mencapai bab terakhir pada Arc kalih ini. Author sangat senang atas segala support yang telah kamu lakukan hingga sampai ke tahap ini. Meskipun banyak hal yang masih belum terungkap, setidaknya author harap kalian puas untuk chapter ini " ucap sosok reader dalam hati sembari membaca kalimat berikutnya.


__ADS_2