Armageddon Maker 2nd Family

Armageddon Maker 2nd Family
Saudara jauh yang bertemu


__ADS_3

* slash..... * sebuah tubuh terpotong menjadi dua bagian


" Ini yang terakhir. " Lanastia mengusap dahinya yang berkeringat


" Satu... Dua... Em... Lima belas " Lanastia menunjuk ke arah mayat makhluk yang telah ia kalahkan.


" Sepertinya hanya ada beberapa war boar yang masih bertahan di area ini. Tapi ya sudahlah.... Setidaknya aku cukupkan saja untuk hari ini. " Lanastia mencabut kedua pedang miliknya yang masih tertancap di salah satu war boar.


* Sprimpt..... * lanastia mengeluarkan sihir yang hampir sama seperti sihir milik Lista.


" Ah... Lana.... Ada yang bisa aku bantu... ? " Wajah susan keluar dari dalam layar sihir Lanastia.


" Susan, aku ingin memperlihatkan hasil buruan hari ini. " Kata Lanastia yang duduk diatas mayat war boar.


" Ya, baiklah. Kalau tidak salah misi yang kamu ambil tadi pagi, itu tentang pemantauan rutin kan? " Susan mengambil beberapa kertas yang ada di dekatnya.


" Iya, Susan. Seperti biasa. " Lanastia mengangguk setuju.


" Dan ini untuk hasil hari ini " Lanastia menepuk layar sihirnya untuk memperlihatkan pada Susan mengenai war boar yang telah ia kalahkan.


" Totalnya sekitar lima belas. " Tambah Lanastia.


Layar sihir yang di buat oleh Lanastia berbalik ke arah yang berlawanan dengan wajahnya.


" Ya, baiklah Lana. Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini " Kata Susan melihat ke arah yang di tunjukkan Lanastia.


Setelah melihat dengan teliti, dari dalam layar sihir itu, susan mengacungkan tangannya sembari merapal mantra.


* Zlooom..... * sebuah lingkaran hitam melahap seluruh war boar yang telah Lanastia kalahkan.


" Baik, Lana. Misi hari ini sudah terlaksana. Untuk hadiahnya, kamu bisa langsung mengeceknya di status milikmu seperti biasa. " Kata susan sesaat setelah tubuh war boar lenyap.


" Baik, Susan. Terima kasih untuk hari ini " Lanastia ber Terima kasih.


" Iya, Lana. Terima kasih juga atas kerja kerasmu hari ini. " Balas susan sebelum layar sihir kembali menghitam.


* sprimpt * layar sihir menghilang dari hadapan Lanastia.


Setelah menghilangkan layar sihir yang telah ia gunakan, Lanastia mengambil kartu nama miliknya sembari merapal sebuah mantra.


" Em.... Yah. Harga yang lumayan untuk separuh koloni. " Lanastia tersenyum sesaat setelah melihat nilai dari war boar yang ia kalahkan.


" Hm.... Bagusnya membawa oleh oleh apa ya, untuk kak Linda.... " Gumam Lanastia sembari menatap ke sekitarnya.


Setelah ia menikmati keadaan hutan untuk sesaat, dia teringat untuk menjenguk kakaknya yang berada di rumah sakit.


" Buah....? Tidak.... Daging segar....? Heheh.... Sepertinya tidak.. Em.... Yah, tanaman herbal sepertinya cocok untuk kaka. " Lanastia yang terduduk di atas tubuh war boar mulai mencari sesuatu untuk kakaknya.


" Eto..... " Setelah memutuskan apa yang akan ia bawa untuk kakaknya, Lanastia merapal mantra ke arah tubuh war boar yang baru ia duduki


" Saatnya mencari tanaman obat untuk kaka " Lanastia berjalan melewati noda darah yang merupakan bekas pertempurannya dengan sekelompok war boar.

__ADS_1


" Hm..... Hm.... Hm.... " Lanastia bersenandung di dalam lebatnya hutan.


" Cepat....!!! Ayo... Cepat....!!! " Teriak seorang tak jauh dari tempat Lanastia berjalan


" Hm...? Sepertinya ada orang lain di sini... " Lanastia yang berjalan santai mulai berjalan meng endap endap.


" Sepertinya ini tempat yang aman. Ayo cepat lepaskan dia... " Kata seorang pria bertubuh besar pada pria yang bertubuh kurus kering.


" Em....... Em.... " Seorang gadis demi human dengan ras rusa mencoba melepaskan diri dari tali yang mengikat tubuh dan mulutnya.


" Hehehe..... Saatnya ber senang senang " Kata seorang pria bertubuh kurus kering.


" Em.....!!! " Gadis demi human ras rusa menunjukkan ekspresi takutnya.


" Ya ampun.... Ini gawat. " Kata Lanastia yang bersembunyi di balik semak semak.


" Apakah aku harus menolong wanita iblis itu.... Atau mengabaikannya..... " Pikir Lanastia dalam semak semak.


* bruuu.......m...... Daaaaaarrrrrr.....* sesuatu menghantam tempat para pria dan demi human tadi dan meremukkan tubuh si pria gemuk.


" Dasar manusia sampah " Kata seorang dari balik debu yang berterbangan.


" Ah..... Siap... Siapa kamu.... " Bentak pria bertubuh kurus yang terbaru batuk.


" Kamu tidak perlu tahu siapa diriku. Yang harus kamu tahu adalah pikirkanlah hal baik yang pernah kamu lakukan " Sesosok perempuan demi human ras kelinci mulai terlihat jelas setelah debu tadi menghilang.


Perempuan demi human dengan ras kelinci itu memiliki kulit ke coklatan dengan tubuh nampak keras dan berotot.


" Ah.... Kurang ajar! Satu lagi sampah yang harus di bersihkan " Pria kurus itu bangkit dari duduknya sembari mengepalkan kedua tangannya tanpa tahu bahwa rekannya telah tewas.


" Heh.... Menarik. " Kata perempuan demi human dengan ras kelinci ketika menyadari bahwa si pria kurus itu berhasil menahan serangannya


" Tapi... Coba rasakan ini..... " Tambah perempuan demi human dengan ras kelinci.


* dash..... Druuuuuuduuuuuduuuuduuum.... * perempuan demi human dengan ras kelinci itu melompat untuk memberi sebuah jarak dengan si pria kurus dan setelahnya ia melesatkan pukulan serta tendangan bertubi tubi ke arah tubuh pria kurus itu.


" De Rock... Kick..... " Teriak perempuan demi human dengan ras kelinci sebagai tanda akhir dari serangannya.


* Boooooom....... Krataktaktaktak.......* tubuh pria kurus tadi terlempar jauh dan merobohkan beberapa pohon di hutan itu.


Tidak lama selah memastikan bahwa si pria kurus itu tidak bergerak, perempuan demi human dengan ras kelinci itu menunjuk ke arah semak semak


" Hey.... Kamu..... Apakah kamu masih berniat untuk bersembunyi di situ.... Atau kamu ingin maju dan menghajarku?! " Perempuan demi human dengan ras kelinci itu mengajukan kepalan tangannya ke arah Lanastia bersembunyi.


" Ah.... Tidak... Tidak.... Aku tidak ingin bertarung dengan mu.... Sungguh.... Aku hanya seorang petualangan biasa yang sedang mencari tanaman obat untuk kakak ku.... " Lanastia langsung keluar dari semak semak sembari menjelaskan alasannya.


" Hm....... " Perempuan demi human dengan ras kelinci itu menatap tajam ke arah Lanastia.


" Aku mohon percayalah. Aku tidak ingin mencari masalah dengan makhluk makluk seperti kalian. Aku mohon percayalah pada alasanku. " Isi dari pikiran Lanastia di baca jelas oleh perempuan demi human dengan ras kelinci.


Beberapa saat sebelum perempuan dengan ras demi human itu bertanya pada Lanastia, sesuatu terdengar masuk kedalam pikirannya.

__ADS_1


" Ka.....? Apakah kaka bisa mendengarku? " Suara Willa terdengar dari sebelah tubuh perempuan dengan ras kelinci.


" Ah... Willa, aku bisa mendengarmu. " Perempuan demi human dengan ras kelinci itu menjawab Willa.


Melihat adanya kesempatan, Lanastia mulai pergi secara diam diam.


" Apakah aku mengganggu mu, kaka? " Tanya Willa pada perempuan demi human dengan ras kelinci.


" A...... " Perempuan demi human dengan ras kelinci itu melihat ke tempat Lanastia semula.


" Sepertinya tidak. Ada apa memang? " Perempuan demi human dengan ras kelinci itu kesal ketika Lanastia telah menghilang dari tempatnya.


" Sci dan anak buahnya berniat untuk menghancurkan kota Tryfon " Willa memberikan informasi.


" Jadi.... Aku membutuhkan bantuan ka Willna untuk menghentikannya. " Tambah Willa.


" Akh.... Anak itu. Memang apa si tujuannya menghancurkan kota itu? Apakah dia lupa pesan dari ibunya dulu... " Kekesalan dari perempuan demi human bernama Willna memuncak.


* gbram...... * dalam sekali pukulan, Willna menghancurkan deretan pohon di sebelahnya.


" Ka....? Apakah kaka sedang bertarung atau semacamnya...? " Tanya Willa pada Willna.


" Ah... Tidak. Aku hanya kesal pada perilaku anak ini. " Jawab Willna pada Willa.


" Willa, butuh waktu berapa lama dari lokasimu saat ini untuk sampai ke kota Tryfon " Tambah Willa.


" Menurut yang aku dengar, kami akan sampai di sana sekitar 2 - 3 jam dari sekarang. " Jawab Willa pada Willna.


" Baiklah, aku akan menunggu kalian di Dermaga Pixi. Sampai saat itu tiba, tolong nasehati Sci agar mengubah niatannya untuk menghancurkan. " Ucapnya engan tangan yang masih mengepal.


" Dan tolong siapkan kapal untuk para pengungsi tahap dua " Tambahnya mengakhiri.


" Baik ka, aku akan berusaha sebisaku. " Jawab Willa.


" Kalau begitu, sampai bertemu nanti. " Willna yang kesal mengalihkan pandangannya ke arah gadis demi human dengan ras rusa.


" Ah, iya. Ka, apakah kaka masih ingat dengan tuan Anma? " Tanya Willa pada Willna.


" Yah, tentu saja masih ku ingat. Terlebih lagi di saat dia menyelamatkan kita waktu kecil dulu. " Jawab Willna dengan emosi yang mulai terkendali.


" Memang ada apa kamu mengingatkanku akan tuan Anma? " Tambah Willna penasaran.


" Aku merasa sedikit energi sihir milik tuan Anma di sekitarmu, ka. " Jawab Willa lirih.


" Walau terkesan sangat kecil, namun aku yakin energi yang aku rasakan ini adalah energi sihir milik tuan Anma. " Tambah Willa.


" Hahaha.... Jangan membuatku tertawa La, setidaknya jika itu energi sihirnya, mungkin saja itu hanya serpihan sesaat seperti tahun lalu. " Jawab Willna.


" Yah, mungkin itu benar. Tapi, setidaknya aku terus berharap bahwa tuan masih hidup. " Tambah Willna.


" Tapi ka... " Willa bersikukuh.

__ADS_1


" Sudah ya, ada beberapa musuh di dekatku. Jadi... Sampai nanti La. " Willna menutup paksa jalur telepati Willa.


" Seharusnya jika tuan masih hidup, kita mungkin tidak akan bernasib seperti ini " Willna menundukkan kepalanya sambil melihat ke arah bayangannya.


__ADS_2