
" Selamat datang kembali tuan. " ucap Taka menyambut kepulangan dari Anma, Hena dan Laura
" Terima kasih atas sambutannya Taka. " balasnya tersenyum
" Mari.... " ucap Taka sembari mengantarkan mereka ke aula utama
" Untuk sekarang kalian pergilah membersihkan diri sebelum kita makan malam bersama dengan beberapa hal yang tentunya akan kita bahas bersama. " lanjutnya sembari berjalan di depan keduanya
" Baik tuan, kami akan segera membersihkan diri... " balas Hena sesaat setelah menahan Laura untuk mengatakan sesuatu
Sembari berjalan menuju aula utama, Anma bertanya mengenai keadaan para maiden lain yang telah menyelesaikan pelatihan pertamanya.
Dengan nada halus dan ramah, Takan menjelaskan bahwa keadaan mereka sangatlah baik terlebih sesaat setelah mereka melihat beberapa sosok yang disebut sebagai Reil dan membantu mereka seperti yang Anma katakan sebelumnya
" Sepertinya akan ada beberapa hal yang akan aku bahas bersama kalian nanti. Terlebih melihat apa yang telah terjadi tadi, aku ingin beristirahat tanpa ganguan di ruanganku sebentar. " ucapnya pada Taka yang berperan layaknya pengganti dari sosok Hena sebagai kepala pelayan.
" Baik tuan, akan saya sampaikan pada maiden lainnya mengenai permintaan tuan. Dan maaf jikalau saya lancang kepada tuan. Apakah tanpa gangguan itu berarti baik nona Flora maupun nona Quinn juga masuk dalam larangan itu? " balas Taka dengan khawatir
" Mungkin akan lebih baik jika begitu. " balasnya setelah menghirup nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan
Sebuah aroma harum dari beberapa bunga yang nampak familiar baginya membuat dirinya merasa lebih tenang dan damai
" Dan tolong bawakan secangkir teh dengan hiasan dari bunga azela, ya. " lanjutnya meminta
" Baik tuan akan saya antarkan ke ruangan tuan sesegera mungkin " balas Taka setelah menutup pintu dari sebuah ruangan yang Anma tempati
Ruangan tempat ia berada saat ini merupakan sebuah taman kecil di lantai dua yang langsung terhubung dengan taman utama di lantai dasar.
Dengan sebuah sihir dasar yang sempat dia rapalkan pada seluruh area mansion itu, dia dapat dengan mudahnya mengubah satu ruangan menjadi ruangan lain tanpa ada yang mengetahuinya maupun radomalisnya ruangan lain yang tidak ia inginkan.
Sembari menatap sebuah balkon yang menampakkan langit sore yang indah kala itu, Anma sempat tersenyum bahagia sembari sesekali memejamkan matanya
__ADS_1
" Tuan... ini teh yang anda maksudkan... " ucap Taka sembari menghidangkan apa yang Anma minta
" Baik, Taka. Terima kasih... " balasnya dengan senyuman setelah menyeruput teh herbal tersebut
" Mari tuan, saya undur diri untuk melanjutkan tugas saya... " balasnya sembari membungkuk dan pergi.
" Taka... duduklah dan temani aku sebentar di sini... " ucapnya sesaat setelah mengubah pintu keluar yang akan Taka buka agar membawanya langsung ke hadapan dirinya.
" Tapi tuan... para maiden lain mungkin akan kerepotan atas... " ucap Taka yang berusaha menyembunyikan rasa takutnya
" Ussusususuuts..... cukup diam dan duduklah... " ucap Anma setelah menempelkan jarinya ke bibir Taka agar berhenti berbicara serta bagian tangan yang lain memegang pundaknya agar Taka bisa duduk bersamanya.
Pada akhirnya Taka duduk menemani Anma sembari berusaha menikmati pemandangan yang ada di hadapannya meskipun rasa takut dan tegang masih tersisa dalam benaknya
" Taka~ apakah kamu pernah berfikir mengenai apa yang akan kamu lakukan jika kamu kembali muda? " ucapnya bertanya setelah meghela nafas panjang
" Me---mwngenai pola pikir seperti itu~ dahulunya saya sempat berfikir demikian. Namun sekarang saya telah menjauhkan pola pikir seperti itu setelah tuan menjadi tuan saya.... " balasnya dengan sesekali menggigit lidahnya karena berniat berkata yang tidak perlu
" Hal itu tidaklah diperlukan tuan... lagipula masa itu adalah masa yang kelam bagi saya. " balasnya menolak secara halus
" Hm~ ya, baiklah jika seperti itu kemauanmu. Tapi, bisakah kamu jelaskan alasanmu bersyukur bisa berada dalam naungan diriku? " balasnya yang menghargai balasn dari Taka meskipun dirinya telah tahu masa lalu seperti apa yang telah Taka alami.
" Mengenai itu~ saya hanya merasa sangat dihargai di sini. Bukan bermaksud sebagai seorang yang lancang kepada tuan. Namun yang saya maksudkan adalah harga diri dari seorang manusia. Terutama harga diri dari seorang wanita. " balsanya menjelaskan
" Hm~ benarkah hanya itu? " ucap Anma selagi mendekatkan kursinya dengan Taka sembari menatapnya dengan penasaran
" Hehehe..... Selebihnya saya sanangat senang atas apa yang tuan perintahkan kepada saya maupun para maiden yang tentunya sangat normal dan tanpa adanya sesuatu hal yang hina. Terlebih tuan pun mengijinkan kami untuk beristirahat dan melakukan hal yang kami inginkan secara bebas tanpa melanggar aturan yang tuan jelaskan sebelumnya " balsnya dengan senyuman
" Lalu~ " sahut Anma sembari memberikan aura positif
" Hal yang anda lakukan kepada saya mengingatkan saya kepada Hena yang dahulunya adalah teman masa kecil saya. Meskipun kami berbeda kasta, dirinya tetap memperlakukan saya layaknya teman meskipun dirinya telah menjadi seorang putri. Namun semenjak kerajaan yang menjadi hak warisnya di alihkan ke tangan penguasa itu, hidup kami saat itu membuat kami serasa ingin kembali ke masa damai kala itu. Meskipun dalam status yang sama, Hena tetap menjalani semuanya dengan senyumannya walau terkadang aku menghianatinya... " lanjut Taka sembari mengusap air matanya
__ADS_1
" Hmph... tenaglah..... semua telah berlalu... dan kini kamu sudah aman bersamaku... " ucap Anma sembari membantu mengusap air matanya dengan penuh kehati hatian
" Tua~n... sebenarnya kemana Hena pergi... aku sudah mencarinya kesana dan kemari, baik di dalam mansion maupun di sekitar tempat yang Hena biasa kunjungi..." ucapnya sembari menahan diri untuk tidak memeluk tuannya yang ada di dalam jangkauannya
" Kamu tidak perlu sekhawatir itu padanya.. Hena masih ada di sini" balas Anma sembari menahan wajah dari Taka dengan tangannya agar tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain
" An~ maaf mengganggu.... " ucap Quinn sesaat sebelum menutup pintu ruangan itu kembali.
" Qui~nn.... " ucap Anma melalui telepati
" Maaf.... maaf.... itu tadi salahku... sungguh... aku minta maaf... seharusnya tadi aku mematuhi nasehat Taka tadi.... " balas Quinn dengan nada ketakutan
" Hmph... unutk masalah dimana Hena berada saat ini, aku akan menjelaskannya di saat makan malam nanti. " ucapnya setelah melepas kedua tangannya dari pipi Taka
" M~ " gumam Taka sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain selagi menahan rasa malunya yang teramat sangat.
Tidak lama setelah kejadian itu, hanya hembusan nafas diantara keduanya yang terdengar karena keduanya masih merasa canggung atas situasi yang terjadi
" Ne... Taka... " ucapnya memanggil
" I--iya tuan " Balas Taka sembari berbalik untuk menghadapkan pandangannya ke wajah tuannya
" Ayah?!! " Flora langsung terbang dan mendorong tubuh Anma agar menjauhi tubuh Taka yang sesaat setelah pintu dibuka tadi, Flora melihat sosok ayahnya hendak melakukan hal yang selama ini ia inginkan dengan ayahnya
" Akh... Flora... " ucap Anma selagi mengusap kepala dari Flora
" Ayah?!!!! Ayah tidak boleh?!!!! Ingat perkatwan ayah sebelumnua!!!! " ucap Flora dengan nada cemas lagi ketakutan
" Maafkan saya tuan..... " Taka berlari meninggalkan rungan itu disaat pintu ruangan itu masih terhubung dengan aula dalam mansion
" Taka?!!! " ucapnya memanggil Taka
__ADS_1
" Ayah!!!!!! " ucap Flora sesaat setelah ayahnya memanggil sosok Taka