
" Ano, cinta itu apa ya? " Dengan polosnya, Flora bertanya pada Hena.
" Soal itu, m.... " Hena mencoba mencari sebuah jawaban sederhana untuk menjelaskan apa itu cinta.
" He..... Sepertinya kamu dan nona Flora terlihat serius. Apakah ada hal menarik yang sedang kalian bahas? " Tanya Taka yang datang menghampiri mereka berdua.
" Ne.. Taka, cinta itu apa? " Tanya Flora pada Taka.
" Apa yang kamu ajarkan pada Flora, Hena? " Taka berisarat pada Hena dengan tatapan matanya.
" Ah, mengenai itu. Mungkin saat ini belum ada jawaban untuk itu. Tapi mungkin nanti, atau saat Flora sudah dewasa, Flora dapat memahami arti kata itu dengan sendirinya " Taka memegang kedua tangan Flora lalu menempelkan nya ke dada miliknya.
" Disaat Flora sudah dewasa, Flora dapat mengetahui arti dari kata cinta? Baiklah, Flora akan berusaha menjadi dewasa untuk mengetahui hal itu " Flora tersenyum senang ketika mendengar jawaban dari Taka.
" Terima kasih taka " Flora memeluk Taka sebentar.
" Nah, sekarang, saatnya Flora menyelesaikan hukuman dari ayah " Flora mengepalkan kedua tanganya sembari bersorak semangat.
" Yey... Semangat nona Flora " Hena dan taka yang kebingungan hanya mengikuti sorakan dari Flora lalu menyemangatinya
" Oh iya, Hena, Taka. Kata ayah, kalian jangan mendekati ataupun memasuki lingkaran sihir yang ada di atas itu karena mungkin itu berbahaya. " Tambah Flora
" Hena... Tuan memang memperbolehkan kita mengajari nona Flora mengenai apa yang ia tidak ketahui. Namun untuk urusan cinta dan sejenisnya, aku rasa belum saatnya bagi nona Flora untuk mengetahui hal itu. " Taka merangkul Hena sembari berbisik.
" Hehehe... Maaf Taka, kata kata itu terucap begitu saja tanpa aku sadari. " Hena tertawa kecil.
" Tapi kamu cukup pintar untuk mengalihkan pembicaraan tadi dan berkatmu pula aku tidak harus memberi tahu nona Flora mengenai apa itu cinta. " Tambah Hena
" Ano. Bisakah kalian membantu Flora untuk membersihkan ruangan ruangan di sekitar sini? " Tanya Flora pada keduanya.
" Ah... Iya, nona Flora. Kami akan segera membantu. " Hena dan Taka mulai membantu Flora sesaat setelah mereka berbincang mengenai kepolosan Flora.
Disaat Flora, Hena, Taka dan para Iron maiden membersihkan ruangan yang ada di lantai pertama dan kedua, Anma duduk dan memperhatikan lingkaran sihir yang ada di atasnya.
" Sihir pemisah dimensi, sihir aura positif, sihir summon guardian, sihir alkemis ( al kimia dan mesin sihir) , sihir barierl dan sihir recofery hp. " Anma menyebutkan satu persatu sihir dari lingkaran yang berputar.
__ADS_1
" Untuk apa kamu memperhatikan ke enam lingkaran sihir itu? Apakah kamu menghawatirkan sesuatu? " Quinn muncul di samping Anma yang sedang serius.
" Ah... Quinn. Aku sedang menghawatirkan sihir sihir itu dan juga Flora serta para iron maiden " Jawab Anma sesaat setelah melihat kearah Quinn.
" Hm... ? Yah, itu memang patut di khawatirkan. Terlebih lagi, menumpuk satu sihir dengan sihir lain, mungkin hanya kamu lah satu satunya orang yang bisa seperti itu " Quinn memukul pundak Anma.
" Maka dari itu aku khawatir dengan keberhasilan dari sihir ini " Anma mengusap pundaknya yang di pukul Quinn
" Selain itu, jika kamu melihat nya tadi, tombak dari sesosok makhluk yang tidak diketahui berhasil menembus tubuh Flora. " Anma melihat ke arah Flora yang sedang bercanda tawa bersama Hena dan Taka.
" Oleh karna itu, aku yakin makhluk yang menyerang tadi, memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari Flora. " Tambah Anma sembari mempererat pegangan tongkatnya.
" Em..... Tapi Anma, bukankah makhluk itu sudah di kalahkan oleh Crsi? " Quinn mencoba menenangkan Anma.
" Itu benar. Tapi, Crsi mengalahkan makhluk tadi setelah berubah ke tahap dua. " Anma menjawab dengan nada kesal.
" Anma... Sedari dulu aku berfikir mengapa kamu selalu menciptakan monster monster se jenis dengan Crsi? " Quinn mendorong Anma untuk duduk di sofa yang telah lapuk.
" Tidak perlu di pikirkan Quinn. Alasanku menciptakan mereka semua itu demi melindungi keluargaku. Dan itupun termasuk kamu, Quinn... " Anma menjelaskan
" Oh... Benarkah itu Anma? Bukankah dulu aku sempat berkata bahwa di suatu hari nanti kita akan berpisah setelah aku me membalaskan amarahku pada mereka. " Quinn terkejut atas jawaban Anma.
" Mohm..... Anma.....!!! " Quinn mencoba melepaskan tangan Anma yang mencubit pipinya.
" Hehehe.... habisnya kamu ini menggemaskan..." Anma melepas cubitannya dari pipi Quinn.
" Oh iya, Anma. Tadi kamu sempat bilang bahwa Crsi harus merubah kekuatannya ke tahap dua untuk menghancurkan musuh tadi kan? " Quinn duduk di samping Anma
" Iya, Lalu? " Jawab Anma singkat
" Apakah kamu benar benar se serius itu untuk menciptakan para monster sejenis Crsi? "
" Tentu saja aku serius Quinn. Sama seperti jawaban sebelumnya. Semua itu hanya untuk melindungi kamu, Flora dan Iron maiden yang telah aku anggap sebagai keluargaku. " Anma melihat ke arah para Iron maiden dan diakhiri dengan melihat wajah Quinn.
" Jika seperti itu, itu berarti kamu sudah siap akan kehilangan monster sejenis Crsi ?" Quinn menggenggam baju Anma dengan erat.
__ADS_1
" Ya, aku siap atas segala kemungkinan itu Quinn. Jadi tenanglah " Anma menjawab pertanyaan Quinn
" ..... " Quinn terdiam dengan raut wajah sedih ketika mendengar jawaban dari Anma.
" Tapi jangan khawatirkan mereka, Quinn. Selagi aku hidup, mereka akan terus hidup. " Anma mengeluarkan sebuah prisma berwarna pelangi yang melayang di tangan kanannya.
" Jadi maksudmu.... ? " Quinn terkejut.
" Iya, Quinn.... Meski mereka terbunuh, mereka akan selalu bangkit selama aku masih hidup karena aku menciptakan mereka berdasar pada sistem dalam spesial item ini. " Jawab Anma sembari mengepalkan prisma pelangi itu.
" Ya ampun... aku tidak habis fikir bagaimana caramu sampai berfikir sejauh itu demi melindungi keluarga, Anma. Sampai sampai aku sendiri tidak tahu apakah aku harus memujimu sebagai seorang jenius atau mengejek mu dalam kegilaan ini. " Quinn yang semula murung kini kembali ceria sampai memeluk Anma untuk sesaat.
" Hehehe..... Kamu memang benar Quinn. Aku memang sedikit gila. " Anma tertawa bersama Quinn
" Dan itu mengingatkan ku pada seorang yang dulu pernah berkata seperti itu padaku. Entah itu hinaan atau pujian, aku sudah tidak memperdualikannya. Namun berkatmu, aku mengingat bahwa ada beberapa orang yang sangat berharga bagiku " Tambah Anma sembari tersenyum.
Quinn menghilang beberapa saat setelah merasa puas berbicara dengan Anma. Sementara itu setelah Quinn menghilang, Anma mulai mengeluarkan layar sihir dan mengerjakan sesuatu.
" Ano.... Ayah.... Flora sudah menyelesaikan hukuman yang ayah berikan. " Flora mendekat ke arah Anma.
" Hm.... " Anma memandang area sekitarnya
" Seperti kata ayah tadi, Flora hanya boleh membersihkan ruangan ruangan di bawah lingkaran sihir milik ayah " Tambah Flora.
" Anak pintar. " Anma menjawab Flora dengan senyuman.
" Ano.... Ayah sedang apa? " Tanya Flora pada Anma.
" Ayah sedang membuat catatan untuk menyimpan beberapa informasi yang masih ayah ingat. " Jawab Anma sambil menatap ke arah layar sihir di depannya.
" Em....? Bukankah ini adalah tempat dimana Cararagus berada? " Flora mendekat dan menyentuh layar sihir di hadapan Anma.
" Iya, itu benar Flora. " Anma terkejut ketika Flora menunjuk salah satu tanda yang masih belum berisi informasi di dalamnya.
" Tepatnya di lereng gunung Cartofagos. Dekat kota Karanofia. " Tambah Anma sembari memasukkan informasi kedalam tanda yang di tunjuk Flora.
__ADS_1
" Ternyata kamu masih mengingatnya ya? Flora " Anma memuji Flora
Dalam posisi yang masih berdiri, Anma meminta Flora untuk duduk di sampingnya.