
Di hadapan Anma berdiri saat ini hanyalah sebagian bangunan hangus yang tak nampak lagi bentuk awal mulanya. Beberapa bagian tubuh manusia terlihat hangus dan beberapa lagi di penuhi dengan sabetan senjata serta anak panah.
" Dengan ini kehancuran kota tryfon sudah di pastikan " Kata Seorang berpakaian putih yang melihat ke arah sebuah layar sihir
" Sungguh para iblis itu benar benar kejam " Kata seorang berpakaian merah muda di sebelah seorang berpakaian putih.
" Sepertinya tidak ada lagi harapan bahwa akan ada seorang yang selamat dari peristiwa ini " Kata seorang berpakaian putih selagi mengamati kota yang hancur itu
" Tunggu sebentar Cris. Coba perbesar area di sekitar rumah besar yang terbakar itu " Seorang berpakaian merah muda meminta seorang bernama Cris.
Setelah seorang bernama Cris memperbesar layar sihir itu, seorang berpakaian putih dan merah itu terkejut bahwa ada seorang yang selamat.
" Hm...... " Seorang berpakaian putih melihat lebih teliti
" Coba lihat itu, Elin. Orang itu berdiri di tengah hujan anak panah, namun tidak ada satupun dari anak panah itu menusuk dirinya. " Kata seorang berpakaian putih pada seorang berpakaian merah muda
" Bukan hanya itu, Athem. Cobalah lihat aura sihir dari layar itu. " Elin berkata pada seorang berpakaian putih untuk melihat sisi lain dari layar sihir.
" Astagah.... Apa... Apa ini mungkin? Energi sihirnya hanya satu digit!!! " Athem terkejut melihat layar yang ditunjuk Elin.
" Cris... Apakah kamu sudah menggunakan mantra yang benar!! " Athem bertanya pada Cris
" Saya sudah memastikan bahwa mantra pengawasan yang saya gunakan sesuai dengan apa yang telah saya pelajari selama ini tuan. " Cris menjelaskan.
" Tapi.... Bagaimana mungkin ini terjadi. " Athem memegangi kepalanya sembari berfikir.
" Elin.... Apakah kamu tahu bahwa ada kemungkinan seperti ini? " Tanya Athem pada Elin.
" Seperti yang Cris katakan, Athem. Dari semua hal yang telah aku lihat di negri ini, baru pertama kali aku melihat hal seperti ini " Elin menjelaskan.
" Dari pada memperdebadkan hal dan kemungkinan yang telah terjadi, lebih baik kita awasi saja dia dulu " Seorang berpakaian merah tua menengahi keduanya
" Selain itu, Reghn. Tolong catat dengan baik segala hal yang terjadi. " Seorang berpakaian merah tua memerintahkan pada seorang bernama Reghn.
" Baik tuan. Saya akan melaksanakan perintah tuan. " Reghn yang berada di samping tuannya mulai mencatat menggunakan layar sihir miliknya.
" Sepertinya Rob telah tewas " Setelah menghela nafas, Anma berjongkok di depan salah satu tubuh yang hangus terbakar.
" Ayah.... Apakah ayah akan mengabaikan serangan tadi ? " Tanya Flora melalui telepati.
__ADS_1
" Ah... Benar. Tadi kita di serang oleh hujan anak panah ya. " Jawab Anma sembari melihat area di sekitarnya
" Sepertinya kita pergi saja dari sini ya, Flora. Lagi pun tidak ada untungnya juga jika kita masuk kedalam konflik dari orang orang di sini. " Anma bangkit dari posisinya yang berjongkok dan mulai bersiap kembali ke kota Riz
* gabru.......m * sebuah gada besar menghantam tempat Anma berdiri.
" Ah.... Merepotkan " Anma mememindahkan gada besi yang hanya menyisakan pegangannya.
" Pergilah. " Anma menunjuk ke arah sosok hitam yang menyerangnya menggunakan gada besi itu.
Perlahan sosok Orc dengan armor basi berjalan melewati Anma.
" Apakah tadi itu Orc? Ayah? " Tanya Flora sembari memperhatikan Orc itu.
" Sepertinya begitu Flora. " Jawab Anma sembari melihat Orc besar ber armor tadi berjalan menjauh.
" Tapi bagaimana itu terjadi ayah? Bagaimana Orc bisa sebesar itu dan memakai pelindung tubuh yang lengkap? " Tanya Flora kembali.
" Entahlah Flora. Ayah tidak tahu. Terlebih lagi.... " Anma menatap ke arah langit jingga di atasnya.
* sbush.... * sesuatu menembus layar sihir yang di awasi oleh lima orang berpakaian berbeda.
" Apakah kamu ingin berada dalam bentuk aslimu atau kamu ingin tetap berada di dalam bentuk ini? " Tambah Anma
" Flora ingi kembali ke bentuk asli. Ayah. Tapi, tadi pagi Flora sudah berubah. Jadi mungkin saat ini Flora tetap berada dalam bentuk ini. " Jawab Flora.
" Dan lagi, Flora tidak ingin energi kehidupan ayah berkurang karena perbuahan Flora " Tambah Flora.
" Ya, baiklahFlora. " Anma mengusap dada tempat hati Flora berada.
" Hehehe.... Flora sayang ayah. " Sahut Flora sembari tertawa kecil.
Selagi mencari benda benda yang di anggap nya bergberguna, sesosok bayangan hitam melewati Anma dengan membawa sebuah kampak besar.
* swush..... * angin yang di bawa sosok itu membuat kobaran api semakin membesar.
" Apa mungkin tadi itu Liah? " Anma yang menatap ke arah sosok tadi
" Liah? Dimana? Dimana Liah? Ayah?" Tanya Flora yang terkejut
__ADS_1
" Ah... Tidak, Sertinya tadi ayah hanya berhalusinasi saja, Flora. Tak perlu dipikirkan. " Anma mengabaikan sosok tadi dan kembali mencari barang yang berharga.
" Baik ayah. " Jawab Flora.
Tidak lama setelah Anma akan kembali mencari, sebuah serangan berupa tebasan angin mengarahkan pada tempatnya berada.
" Baguslah, semua api susah padam. Dengan ini benda yang masih tersisa pun tidak terlalu hangus terbakar. " Kata Anma setelah mengambil sebuah koin di tanah
* sping..... * koin yang Anma pegang terpotong menjadi dua bagian akibat sebuah serangan
Dari balik koin yang terpotong itu, beberapa pleton prajurit terlihat begitu gagah dengan dilengkapi armor dan senjatanya. Beberapa pleton terlihat memakai armor hitam dan beberapa lagi menggunakan armor putih. Adapun beberapa pleton yang memakai baju khas penyihir dan ada pula yang memakai baju khas pemanah.
" Hey..... Manusia yang di sana!!! Kenapa kamu masih hidup!!!! " Teriak kesal seorang perempuan berpakaian hitam di depan pasukan
" Hm.....? Bukankah itu kampak darah? " Anma mencoba melihat senjata yang di pegang perempuan itu.
" Kampak darah? Bukankah itu senjata yang dibuat oleh ayah untuk Liah? " Sahut Flora
" Itu benar, Flora. Untuk itu, ayah akan mencoba sesuatu " Kata Anma sambil mengangkat tangan kanannya.
* Dapt.... Dapt.... Dapt... * Cris berusaha menggerakkan layar sihirnya ke tempat Anma berada.
" Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Area yang di pantau layar sihir tidak bisa di ubah " Seorang berpakaian merah tua memukulkan tangannya ke pegangan bangkunya.
" Maaf tuan, sepertinya orang itu telah mengambil alih pengamatan kita!" Cris berkata sambil berusaha mengubah area yang sedang mereka pantau.
" Elin, Athem. Apakah kalian bisa mengambil alih? " Kata seorang berpakaian merah tua pada Elin dan Athem.
" Tuan.... Panatua screen mendeteksi sebuah lojakan energi sihir." Athem mendahului Elin yang akan menjelaskan.
" Hm..... ?! Peningkatan energi yang luar biasa. " Seorang berpakaian merah tua melihat sebuah laporan di sisi lain layar sihir.
" Apakah itu dari orang yang selamat tadi? Atau ada sesuatu yang lain? " Tambah seorang berpakaian merah tua.
* swups....... * kampak darah melesat ke arah tangan Anma yang terangkat
* Swugh.... Swugh.... Swugh... Swugh.... Swups.... * Anma memutar mutarkan kampak darah itu sesaat setelah memegangnya.
Ketika kampak darah milik Liah yang berada di tangannya diputar, secara perlahan sebuah energi sihir aneh berkumpul di sekitarnya Anma.
__ADS_1
Energi sihir yang terkumpul itu mulai menyatu dengan hembusan angin dari kampak yang ia putarkan. Tak lama hembuasan angin itu membentuk sebuah tornado berwarna merah bercampur hitam dan disaat tornado itu semakin membesar, tornado itu menyedot beberapa pasukan yang berada di belakang perempuan berpakaian hitam.