
Sesaat setelah kembali menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang harus dan apa yang tidak harus dilakukan oleh para maiden disaat mereka akan menjalankan setiap tugas yang diberikan, Anma pun menjelaskan kepada mereka untuk pergi ke dalam hutan jika ada beberapa orang yang mereka anggap sebagai mata-mata dan setelahnya mereka boleh mencabut nyawa mereka melalui bantuan legium dari unit Revn yang selalu siap dalam hutan mengingat potensi dari setiap individu yang mungkin masih perlu untuk ditingkatkan kembali kewaspadaan nya.
Meskipun sempat terjadi beberapa perbedaan pendapat dan keinginan untuk sesuatu yang lebih mudah, dia kembali menyarankan kepada mereka untuk melakukan itu sesuai kemampuan mereka. Terlebih karena dia telah menentukan setiap tugas termudah berdasarkan kemampuan mereka, mereka dapat menolak itu dan boleh menjalankan tugas normal dalam mansion tanpa adanya perbedaan perlakuan dan lain sebagainya.
Pada akhinya mereka yang memiliki jiwa sebagai petarung bersedia dengan apapun resiko yang akan mereka terima meskipun dalam kenyataannya hal tersebut telah di minimalkan ke tahap terendah, sedangakan mereka yang masih anak anak pun akan melakukan tugas mereka dengan baik melalui pelatih ringan dari Crsi yang tidak lain adalah sosok yang lahir dari zero to hero berkat bimbingan arc.
Lalu untuk mereka yang merasa bahwa tugas itu terlalu berat di usia mereka yang sudah dianggap tidak muda lagi pun bersedia menjalankan tugas mereka sebelumnya meski harus menggantikan beberapa tugas dari mereka yang telah menerima rencana tadi.
" Meskipun dapat dikatakan bahwa ini adalah hal yang mustahil dilakukan untuk kalian, setidaknya aku ingin kalian berusaha semaksimal mungkin dan untuk itu pun pilihlah salah satu senjata untuk membantu menunjang kekuatan kalian dan satu alat normal yang biasa kalian gunakan sebagai kamuflase atau lebih tepatnya semacam perlengkapan yang cukup normal. " ucapnya sebagai akhir dari rencana besarnya sembari membuka sebuah portal ilusi untuk menampilkan seluruh item drop dari dungeon yang telah diperkuat.
Dari seluruh item yang ada, Moli mengambil sepasang sayap membran ungu dan sebuah syal. Bacta mengambil sepasang sebuah earphones dan masker gas, Hont mengambil cakar sihir dan sepasang gelang oranye, Ip mengambil sebuah gada dan gelang hitam, Neuro mengambil lingkaran aura dan ikat kepala putih, Pixi mengambil dua blade dan sarung tangan biru, Ryuu mengambil cakar besi dan sisanya adalah mereka yang tetap berada dalam rumah sebagai seorang maiden normal.
" Sekarang kalian dapat mengubah senjata kalian hanya dengan membayangkan wujudnya seperti yang sudah saya ajarkan kepada kalian. " ucapnya sambil mengarahkan tangan kosong ke udara dan setelahnya sebuah tongkat yang biasa dia bawa muncul seketika.
Para maiden yang sudah mengetahui bahwa tongkat itu bukanlah tongkat biasa kembali terkejut ketika tongkat itu dapat berubah menjadi berbagai senjata seperti reaper milik Crsi maupun beberapa senjata lain dengan mudahnya.
Sesaat setelah para maiden yang melihat hal tadi, dengan sebuah permintaan dari dirinya secara bersamaan para maiden mulai mencoba hal yang sama dengan mewujudkan perlatan normal tadi dan mengubahnya menjadi senjata utama seperti yang telah mereka pilih.
Syal ungu dari Moli langsung melebur menjadi sebuah membran yang menyatu dengan sayap miliknya, masker gas yang dipakai Bacta menciut dan berubah menjadi sepasang earphones. Gelang hitam, ikat kepala dan beberapa cincin yang di pakai oleh Hont, Ip, Neouro, Ryuu dan Pixi mulai melebar membentuk sebuah lingkaran kecil sebelum akhirnya berubah menjadi senjata mereka sementara sapu yang di pegang oleh Ro mulai membelah diri di bagian tongkat dan ijuknya sebelum akhirnya berubah menjadi sebuah pedang dan perisai.
__ADS_1
Para maiden yang melakukan percobaan tadi sangat senang dan beberapa kali melakukan perubahan pada benda yang telah mereka pilih sampai - sampai Anam harus menahan tawa dibuatnya.
* Stingssss dwarmsssss* sebuah lengkingan dan glombang energi sempat dirasakan oleh para maiden dan membuat mereka berhenti melakukan apa yang sedang mereka lakukan.
" Aku tahu bahwa kalian sangat menyukai perubahan benda dan senjata itu. Namun karena hari sudah semakin larut, akan lebih baik jika kalian beristirahat terlebih dahulu agar pekerjaan kalian di hari esok tidak akan terganggu" ucapnya sembari menasehati.
" Sekarang saatnya kalian bersiap diri untuk tidur, sebelum aku kembali mengambil senjata kalian karena kalian melanggar jam malam dan membatalkan semua rencana tadi." tambahku dengan akhiran menepuk kedua tangan dengan sebuah senyuman.
Disaat mereka berhenti sejenak dan mendengarkan perkataan dariku, mereka sempat tertawa karena mereka melupakan aturan yang harus mereka tepati. Setelah menyadari kesalahan itu, mereka membungkuk hormat sembari meminta maaf atas kelalaian mereka sebelum akhirnya mereka mulai pergi ke kamar masing-masing walaupun sempat terlihat beberapa dari mereka kembali mencoba perubahan item itu disaat kembali ke kamar mereka.
Disaat para maiden lain mulai meninggaljan aula utama itu, dia sengaja menahan Hena untuk suatu alasan.
" Untuk sekarang kamu ikutlah bersamaku " balasnya sambil mengangkat tubuh dari Hena secara langsung seperti seorang putri.
" T---tuan!? Apa yang tuan lakukan?!Saya bisa berjalan sendiri tanpa tuan melakukan hal seperti ini!!" ucapnya yang terkejut ketika dirinya yang sedang berhadapan dengan Anma langsung dipeluk dengan tiba tiba sebelum akhirnya di gendong layaknya seorang putri.
" Tenanglah... saya hanya ingin sedikit bermanja dengan dirimu. Maka dari itu, cara seperti apa yang kamu ingin saya lakukan padamu? berjalan dengan pelan untuk sampai ke kamarku atau kamu memilih untuk langsung berpindah ke ruanganku dengan cepat. " ucapnya sembari mendekatkan wajah Hena ke wajahnya.
" Emph~ me-nengenai itu~ saya tidak bisa memutuskannya tuan. Karena saya tidak berhak mendapatkan perlakuan seperti ini. " balasannya dengan mengalihkan pandangan dariku.
__ADS_1
" Hena~ apa yang kamu bicarakan? Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan bahwa aku ingin bermain dengan dirimu. Apakah kamu menolak permintaan langsung dari tuanmu? " ucapnya dengan akhiran berbisik di bagian telinga Hena.
" Emh~ tuan~ ki--kita langsung saja ke kamar tuan agar tidak ada yang melihat hal seperti ini. " balasnya setelah menyadari bahwa dirinya melayang diatas sebuah pangkuan sihir.
" Hm~ ya, baiklah." balasnya dengan membelai pelan wajah dari Hena.
Suara dari Hena yang menelan ludah sempat terdengar di keheningan aula utama mansion itu dan membuat suasana kala itu semakin memanas
" Nah... Hena... apakah kamu sudah siap? " ucapnys sesaat setelah berada di depan sebuah kamar tidur besar yang nampak nyaman.
" Tu---tuan. Sa--sya mohon perlakukan saya dengan lembut " ucapnya sebari memalingkan wajahnya yang memerah
" Hehehe.... tenanglah, saya tidak akan melakukan hal hina kepada dirimu. " balasnya sesaat setelah meletakkan tubuhnya dengan lembut ke atas tempat tidur itu
" Ne... Hena... Bukankah kamu adalah salah satu yang tertua dari mereka? Lalu kenapa disaat kamu berhadapan denganku, kamu nampak canggung dan tidak terlihat seperti seorang yang ahli dalam pelayanan yang selalu kamu lakukan pada mereka ? " bisiknya dengan posisi dimana Hena tengah terlentang diatas tempat tidur itu dan berhadapan langsung dengan tubuhnya
" A---ano... se--sejujurnya saya masih merasa takut kepada tuan da---dan mungkin akan membuat tuan marah ji---ika permainan yang saya lakukan tidak memuaskan hasrat tuan " balasnya dengan pemikiran yang kacau.
" Tidak apa, Hena... seperti yang aku katakan tadi... tujuanku membawamu kesini bukan untuk melakukan hal yang kamu pikirkan. Alasan ku membawamu kemari karena wajahmu mengingatkanku pada seorang yang pernah membuatku tertarik dan bermimpi bisa hidup dengan dirinya. " ucapku sambil mengusap wajahnya yang nampak ketakutan.
__ADS_1
" Namun karena beberapa alasan, aku tidak bisa memenuhi harapan itu dan pada akhirnya dia menghilang bersaman dengan seluruh harapan dan keinginan saya yang terpendan " tambahnya sambil mengusap keningnya.