
" Kyah..... Senangnya dapat beristirahat dengan layak setelah bekerja cukup berat " Taka merenggangkan tubuhnya sembari duduk di ruang utama mansion
" Iya... Syukurlah. Tuan kita yang baru tidak memperlakukan kita seperti para tuan sebelumnya. " Hena mengungkapkan pendapatnya sembari mengambil beberapa makanan dalam toples.
" A... Ano.... M... Maaf jika aku tidak pernah berbicara bersama kalian di tempat tuan kita yang dulu.... Ka... Karena " Lilim mencoba berbaur dengan para Iron Maiden
" Iya, Lili. Kami paham atas perlakuan itu. " Moli memegang pundak Lilim sembari berusaha untuk duduk di kursi yang empuk.
" Lagi pun, tuan kita yang baru menyuruh kita untuk tidak memaksakan diri. Jadi, kita nikmati saja dulu waktu yang bisa kita nikmati " Sahut Wole yang sedang berbaring menikmati waktu istirahat nya.
" Tuan kita memang berkata seperti itu. Tapi kita juga harus mengingat aturan aturan yang telah tuan jelaskan pada kita, agar kita tidak kembali merasakan dunia luar yang kejam " Ryuu melakukan perenggangan pada kedua tangannya yang sebelumnya terasa pegal
" Yah.... Aku pun sependapat dengan Ryuu. Salah satu hal yang membuat tuan kita marah adalah kemalasan. Oleh karena itu kita jangan sampai terlihat malas ketika waktu bekerja telah di mulai " Ucap Mori sembari meminum teh yang telah tuannya sediakan di sebuah teko besar.
" Ya... Kamu benar " Para maiden yang berada sedang beristirahat menjawab bersamaan.
" Hont, berhati hatilah dengan ekormu ketika berlari " Pixi menasehati Hont yang sedang bermain dengan Ip, Menti, Crsi, Nia dan Sho.
" Baik, Pixi.... " Jawab Hont sambil mengabaikan peringatan pixi.
" Kami akan hati hati ka ixi " Jawab Menti sembari berusaha menangkap Hont.
" Sho.... Apakah kamu melihat Nami, Tama, Tsuki dan Airi? " Tanya Hena setelah menyadari ke empat orang itu tidak ada di ruang utama bersama mereka.
" Sepertinya mereka ber empat sedang pergi ke luar untuk melakukan hal seperti yang biasa mereka lakukan." Jawab Sho sembari mencoba menangkap Nia dan Ip.
" Jadi seperti itu ya Sho? Syukurlah, aku kira mereka hilang entah kemana. " Hena merasa lega.
" Ne... Apakah kalian ingat bahwa mereka ber empat selalu di perlakukan lebih hangat dari tuan kita yang sebelumnya? " Taka membuka topik pembicaraan.
" Hm... Yah... Aku ingat. Selama beberapa kali, aku melihat ke empat dari mereka selalu keluar masuk ruangan mantan tuan kita. " Lilim menyahut topik dari Taka.
" Bukankah itu wajar bagi tuan kita yang dahulu? Mereka memiliki waja cantik, bentuk tubuh yang ideal dan juga mereka masih terlihat polos nant lugu " Hena menanggapi topik itu dengan pandangannya sendiri.
" Yah.. Mungkin karena mereka sering di lembur oleh tuan kita yang dulu, sebagai balasannya mereka di berikan sedikit kebebasan dengan memperbolehkan mereka untuk pergi ke gereja atau semacamnya." Moli sependapat dengan Hena.
" Lagi pula juga mereka terlihat lebih muda dari kita kita ini " Sahut Mori sembari mencubit genas pipi wole.
" Hey.... Jangan mencubit nya terlalu keras " Wole marah.
" Hehehe... Maaf " Mori meminta maaf.
" Apakah wajar bagi kita untuk iri dengan mereka yang terlihat lebih muda dari kita saat ini? " Tanya Neuro yang baru saja keluar dari sebuah ruangan
__ADS_1
" Jangan membahas antara usia tua dan muda, Uro. Karena mereka yang lebih dahulu dari kita mungkin akan kesal jika di banding bandingkan " Sahut Ro yang keluar tidak lama setelah Neuro.
" Ro!! Kamu juga sama tuanya dengan kami " Ryuu menarik Ro dan melemparkannya ke kursi di ruang utama.
" Kalian berdua hati hatilah. " Hena menasehati.
" Meskipun kami sudah terlihat seperti ini, untuk aku sendiri aku masih percaya diri dengan tubuh dan wajahku ini " Jawab Taka sambil menunjuk ke arah bagian tubuh yang di sebutkan
" Hahahahah..... " Para maiden yang usianya lebih tua tertawa bersamaan.
Di waktu Iron maiden yang lain sedang menikmati waktu bersantai mereka, Nami, Tama, Tsuki dan Airi pergi ke sebuah rumah kecil yang tak jauh dari mansion.
" Jadi... Bagaimana tugas kalian untuk mengawasi penjahat sekelas Brotus? " Tanya seorang dengan pakaian hitam layaknya assasin.
" He~em yah. Sesuai rencana yang telah di susun oleh pemimpin kita. Rencananya sukses besar dan kami ber empat berhasil menggali informasi lain mengenai Brotus dan komplotannya " Nami membuka jubah yang ia kenakan ketika berjalan menuju ke lokasi tempatnya berada sekarang.
" Lalu, apa yang kalian dapatkan? " Tanya seorang berjubah itu.
" Kami mendapat sebuah tangkapan besar. Walaupun kami sempat merasa bahwa penyamaran kami akan terbongkar akibat seorang yang tidak terkait dengan rencana kita. " balas Tsuki sembari membersihkan sebuah kursi yang berdebu sebelum duduk di kursi itu.
" Tangkapan besar separti apa? " Tanya seorang itu
" Seorang komplotan dari Brotus membeli kami beserta para pelayan wanita lainnya. " Jawab Tama sembari memeluk sosok itu dari belakang.
" Tidak heran jika kalian tadi menyebutnya tangkapan besar " Sosok itu tertawa sembari menarik tangan Tama untuk mempererat pelukan darinya.
" Tapi, untuk sasaran kalih ini kami rasa kami tidak bisa lebih sering memberikan informasi. Karena sosok yang yang kami maksudkan itu jauh lebih berbahaya dari yang kami kira " Nami duduk sembari meminum sebuah kopi yang baru saja ia buat di dapur yang tak terawat.
" Sekuat apa sosok itu? " Tanya sosok assasin itu pada mereka.
" Entahlah, kami tidak bisa membandingkan kekuatannya untuk sekarang. Tapi yang jelas, dari kisah yang sempat ia katakan sendiri, ia mampu mengalahkan monster bernama Neuro yang katanya adalah monster yang sangat kuat. " lanjutnya menambahkan
" Selain itu pun, kami melihat secara nyata bahwa ia menciptakan sebuah monster yang memiliki kecerdasan baik dalam bertarung dan juga bertahan. " Tama menghentikan pelukannya dan mulai duduk di samping sosok itu.
" Apakah dia seorang penyihir tipe thamer ? Atau tipe Summoner? " Tanya sosok itu atas ketidak tahuannya.
" Menurut pendapat pribadiku, dia tidak termasuk kedalam dua tipe penyihir tadi. Karena kekuatan dan kemampuan nya melebihi apa yang aku sendiri tidak mampu memahaminya " Nami menjelaskan
" Ia mampu memperbaiki apapun secara cepat, ia mampu memanggil makhluk apapun yang ia mau, ia dapat menggunakan banyak sihir dalam satu rapalan, dan yah... Baju yang kami kenakan pun adalah baju buatan miliknya " Tsuki menambahkan sembari menunjuk dan memukulkan bajunya yang sekeras baja.
" Hm.... Menarik " Sosok itu mulai tertarik dengan sosok yang mereka berempat katakan.
" Lalu, apakah kalian bisa meninggalkan satu barang untuk di analisis? Mungkin kerajaan dapat menciptakan baju sihir sekuat baju yang kalian pakai. " Sosok itu meminta sesuatu yang cukup sulit dei berikan oleh mereka.
__ADS_1
" Mohon maaf, Jil. Tapi jika salah satu saja perlengkapan dari baju kami menghilang, kekuatan penuh dari baju ini pun akan menghilang " Tsuki menjelaskan
" Ah... Ayolah. Kita coba saja sekarang " Dengan paksa Jil merobek baju dari Tama secara paksa.
" Jil!!! Apa yang kamu lakukan!! " Jil menarik paksa baju itu dengan sekuat tenaganya.
* dzmzmzm...... * sebuah aliran energi tiba tiba muncul bersamaan dengan baju yang mulai tersonek.
* ngiiiiiiiiiiiingsssst!!! Duaaaaar!!!!!!! * sebuah lengkingan memekakan telinga keluar tidak lama setelah baju itu benar banar robek.
Dalam waktu yang hampir berdekatan, sebuah ledakan energi menghancurkan seluruh area itu.
" Hmph.... Seperti yang aku harapkan. Kalian benar benar membawa ku ke tempat orang yang penting dalam misi kalian " Anma menghela nafasnya di saat melihat Nami, Tama, Tsuki dan Airi berada di satu tempat yang bersamaan.
Dalam sebuah ruang dan waktu yang berbeda dengan dunia yang mereka jalani, Anma berdiri menatap mereka sembari memegang sebuah bola yang didalamnya adalah kejadian nyata di dunia yang sebenarnya.
" A----apa yang terjadi?! Apakah kami sudah mati? Kenapa bisa seperti ini? " Nami, Tsuki dan Airi bertanya secara bersamaan.
" Dapat di katakan bahwa kalian telah mati. Namun kalian seharusnya bersyukur karena kalian masih menggunakan armor yang lengkap. " Jelas Anma sembari memberikan mantra silent pada mereka bertiga.
" ...... " Nami, Tsuki dan Airi tidak dapat berbicara walaupun mereka sudah berusaha berteriak sekuat mereka.
" Kalian tidak perlu berteriak seperti itu. Jika kalian sayang dengan pita suara kalian, kalian dapat diam sekarang atau hal buruk akan kembali terjadi " Jelas Anma sembari mendekat ke arah mereka
.
" Akibat kecerobohan kalian, Tama dan orang orang yang ada di sekitar tempat itu harus tewas. Yah tentunya juga seorang yang sempat kalian ajak bicara itu " Anma memperbesar bola ilusi itu agar ketiganya dapat mengerti maksud dari perkataannya.
Mereka yang tak dapat berbicara hanya bertingkah seakan merek tidak percaya atas apa yang Anma katakan. Mereka berusaha meronta dan bahkan mencoba menyerang Anma. Namun mereka gagal karena tubuh dari mereka tidak mampu menyentuh tubuh Anma dan justru bagian tubuh mereka lah yang hancur ketika bersentuhan dengan tubuh Anma.
" Aku kan sudah bilaang bahwa kalian cukup diam dan dengarkan. Tapi kalian justru melawan. " Anma mengabaikan ketiganya yang sedang merasakan sakit akibat hancurnya beberapa bagian dari tubuh mereka.
" Melihat kalian seperti ini, aku benar benar kehilangan niat untuk menolong kalian. " Anma berbalik dan menghilangkan bola ilusi itu.
" Jadi yah. Nikmati saja akhir hidup kalian di ruang yang telah aku sediakan " Tambahnya sembari menbuka sebuah gerbang dari ruangan yang di dalamnya terdapat sesosok tubuh lain yang sedang meronta kesakitan.
Nami, Tsuki dan Airi mencoba berbagai cara agar mereka tidak terhisap dalam ruangan itu.
Melihat kengerian didepan mata mereka, mereka mencoba meronta - ronta, merangkak dan bahkan berusaha berguling agar tidak masuk ke dalam ruang mengerikan itu.
" Sayonara " Anma melambaikan tangannya dan setelahnya mereka bertiga masuk kedalam ruang yang mengerikan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
* Ses sama artinya dengan crutu atau bisa dikatakan sebagai rokok tembakau