
* Swarp * Anma sampai di gerbang perbatasan dari Kota Raizn.
" Ah....? Apa yang barusan terjadi? " Seorang prajurit melihat Anma melakukan teleportasi
" Permisi, tuan prajurit. Apakah ada anggota keluargaku yang datang? Seharusnya mereka sudah sampai di sekitar kota hari ini " Anma bertanya pada prajurit yang melihatnya.
" Mohon tunggu sebentar tuan, akan saya tanyakan ke bagian sisi luar gerbang. Siapa tahu orang yang tuan maksudkan sedang berada di sana " Jawab Prajurit itu sembari berjalan pergi
" Baiklah. " Balas Anma sembari merapal sebuah mantra ketika prajurit itu berbalik pergi.
Sembari menunggu prajurit itu memanggil Flora, Arc dan Quinn, Anma sempat memikirkan sesuatu yang mengganjal pada dirinya.
" Kerajaan menyuntikan sebuah potion yang serupa darah agar seorang dapat beregenerasi dan pulih bahkan setelah menerima fatal damage. Namun jika dipikirkan lebih mendalam, potion itu tidak seharusnya di suntikan ke dalam tubuh manusia.... dan atau mungkin sekarang penggunaan dari potion tingkat tinggi seperti itu sudah berbeda ? atau mungkin....." Gumamnya sembari memikirkan hal logis yang dapat yakini mengenai potion merah yang katanya mirip seperti darah
" Ayah..!!!!! " Flora memanggil Anma yang sedang termenung dalam pikirannya sendiri.
" Akh.... Flora?! Senang melihat kamu lagi " Anma yang semula memikirkan hal buruk, langsung mengalihkan pemikiran itu dan langsung mengusap kepala Flora yang telah memeluk dirinya
" Selamat datang kembali kalian berdua " Tambah Anma sembari memandang Arc dan Quinn.
" Ne... ne... Ayah.... Apakah dengan ini Flora sudah menjadi dewasa? " Flora melepaskan pelukannya yang di lanjutkan bertanya dengan wajah yang penuh harap.
" Hehehe... Iya, Flora. Kamu sudah sedikit lebih dewasa dari sebelumnya " balasnya memuji.
" Tapi kamu belum bisa ayah beri tahu apa arti kata yang kamu inginkan itu " Tambahnya sembari menutup mulut Flora sebelum Flora kembali bertanya
__ADS_1
" Hm.... " Flora yang ceria mulai berubah ke wajah kecewa.
" Arc... Quinn... Terima kasih telah membantu Flora. " Ucap Anma sembari mengalihkan pandangannya pada Arc dan Quinn.
" Iya tuan... Sama sama " Jawab Arc dengan hormat.
" Tidak masalah bagiku, Anma " Jawab Quinn dengan malu malu.
" Kalau begitu, Flora.... Arc dan Quinn. Mari kita lanjutkan ke tahap selanjutnya. " Ucap Anma sembari mengajak mereka pergi sebelum Flora kembali menanyakan apa yang ingin dia tanyakan.
Arc dan Quinn yang merasa bahwa Anma bukanlah Anma yang sebelumnya mulai bertanya mengenai apa yang terjadi pada dirinya. Sembari menempatkan Flora di sampingnya berjalan dan di ikuti dengan Quinn dan Arc yang ada di sisinya, Anma pun mulai menjelaskan apa yang terjadi ketika mereka berdua pergi. Dengan nada yang diubah menjadi serius, Anma mulai menjelaskan mengenai Tama yang telah kehilangan nyawa akibat sesuatu yang sudah di rencanakan oleh dirinya. Sembari berjalan dan bersikap layaknya orang biasa yang sedang berjalan di jalan tujuannya, mereka membahas kembali beberapa hal melalui telepati.
Arc, Flora dan Quinn sempat terkejut atas apa yang Anma katakan dan membuat mereka merasa khawatir mengenai baju yang mereka pakai karena mungkin Anma melakukan sesuatu yang sama seperti ia melakukan pada ke empat maiden malang itu. Namun setelah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mereka bertiga itu merasa lega dan justru ingin membalaskan amarah dari Anma karena secara diam diam mereka adalah penghianat.
" Sudah, Tidak apa. Kalian tidak perlu memikirkan masalah itu. Kalian hanya perlu fokus pada rencana yang telah aku siapkan untuk kalian " Kata Anma sembari mengusap kepala Flora yang ada di sampingnya sembari melihat ke arah jalan di hadapannya.
" Aku sudah tahu mengenai sikap berlebihan mu mengenai perlindungan untuk keluargamu. Tapi mendengar kejadian seperti ini.... Perasaan takut yang dulu sempat hilang sepertinya mulai kembali" Sahut Quinn terhadap perkataan yang keluar dari wajah Anma yang terlihat tenang.
" Hehehe.... yah, maafkan aku jika ucapanku kembali membuatmu merasa ketakutan." Jawab Anma dengan sebuah tawa
" Daripada sekedar takut, aku pun sampai ngeri melihat apa yang telah kamu lakukan kepada mereka.... dan lagi, siapa juga yang akan tidak takut dan ngeri jika seorang yang ia temani dapat menghancurkan sebuah sarang besar dari ras Menticora dalam sekali serang dan membinasakan semua yang ada di dalamnya " Balas Quinn dengan pandangan yang di alihkan ke sisi lain dari jalan yang ia lalui.
" Hehe.... Itu salah Quinn... Aku tidak membinasakan semuanya. Buktinya, masih ada Clara yang selamat " Jawab Anma sembari membenarkan.
" Hempf... Terserah padamu Anma " Balas Quinn kesal.
__ADS_1
" Ne... Ne... Ayah... Kenapa Flora tidak tahu hal itu? " Tanya Flora penasaran
" Saya pun tidak mengingat hal itu pernah terjadi tuan? " Tanya Arc setelah Flora
" Hm....? Kamu tidak mengingat hal itu arc? Seharusnya Clara ada setelah kamu? Tapi sepertinya aku salah ya? " Anma terkejut atas pertanyaan Arc.
" Kamu memang tidak memikirkan hal lain selain Flora dan keluarga pertamamu ketika kamu ada di dalam goa itu, ya? " Quinn masuk kedalam pembicaraan.
" Heheh..... Yah... Maafkan aku akan hal itu. Sedari awal kelahiran mereka, memang aku tidak peduli " Jawab Anma dengan tawa singkatnya.
Sebuah psical damage diterima oleh Arc yang terkejut atas perkataan Anma yang menganggap bahwa ia tidak peduli pada mereka yang dalam artian adalah Arc dan seluruh re legium yang Anma ciptakan.
" Tapi, setelah aku melihat bahwa mereka dapat memiliki jiwa dan tingkah laku seperti Arc, aku mulai menempatkan perhatianku pada mereka kan? Re legium utama dan satu satunya saat itu " Tambah Anma sembari mengingat kejadian yang telah lalu
" Hm... yah, Arcanest adalah makhluk ciptaan mu yang pertama dan sekaligus awal mula dari dibentuknya sebuah Re legium penghancur dan beberapa legium lainnya" Quinn memotong perkataan Anma.
" Akh... Benar juga.... Clara ada sebelum Arc. Karena saat itu Arc belum berevolusi menjadi seperti Arc yang sekarang " Kata Anma yang terkejut.
" He? Eh? Jadi seperti itu kejadian yang terjadi? " Arc terkejut dan membuat orang orang di sekitar mengarahkan pandangannya padanya karena keluar dari jalur telepati.
" Arc.... Senang rasanya kamu sudah berubah " Ucap Anma yang baru pertama kalinya mendengar Arc mengatakan sesuatu dengan tingkah laku yang tidak biasa.
Arc hanya terdiam tanpa kata sembari menundukkan kepalanya
" Jadi... Ada saat diamana aku seperti Re legium minor yang masih berwujud monster lemah terlebih lagi..... " Arc merenungkan dirinya sembari mencoba memberanikan diri berjalan mengikuti tuannya yang tanpa sadar telah meninggalkannya.
__ADS_1
" Jadi seperti itu ya ayah.... Wah... Sayang sekali Flora tidak ada disana untuk melihat ayah menunjukkan kekuatannya " Arc melewatkan sebuah kisah yang luar biasa dari tuannya karena sempat tertinggal jauh di belakang.
" Iya Flora. Jika saja Flora ada di sana. Mungkin ayah akan menjadi lebih bersemangat dan menghancurkan mereka " Anma mengusap kepala Flora yang memeluk tangan kirinya dengan senang.