
" Berikutnya " Prajurit penjaga gerbang memanggil antrian penduduk yang ingin memasuki kota.
" Tolong tunjukkan dokumen mengenai data diri kalian " Prajurit itu bertanya tanpa melihat ke arah siapa dia berbicara.
" Ah... Ano.... Ayah tidak memberikan dokumen apapun pada Flora.... " Jawab Flora dengan polosnya.
" Hm... Jika begitu, tolong kembalilah lain kali " Sahut pajurit itu tanpa melihat ke arah Flora.
" Tuan penjaga. Ini adalah dokumen mengenai kami bertiga " Arcanest yang ada di belakang Flora langsung melangkah dan menyerahkan kertas dari Anma.
" Hm.... Floran ma Valentia..... Magicecaster..... Arcan Ets Atnma.... Lancers... Quin nara lainnama.... High Priest..... " Prajurit itu membaca dengan malas dan melewati beberapa bagian.
" Jadi kalian adalah satu keluarga dengan seorang anak titipan dari paman kalian? " Prajurit itu bertanya sembari menyerahkan dokumen diri dari ketiganya.
" Benar, tuan prajurit. Terima kasih " Arcanest mewakilkan.
" Kalau begitu silahkan masuk ke ruang itu sembari menunggu paman kalian datang. " Kata prajurit itu sembari menunjukkan ke sebuah ruangan di dekat pintu gerbang.
" Apakah kami tidak boleh masuk ke dalam kota sekarang? " Quinn bertanya setelah merasa curiga pada prajurit itu.
" Tidak, nona. Dalam surat yang tuan tadi berikan, tertulis jelas bahwa kalian harus menunggu paman kalian di ruangan itu sampai paman kalian menjemputnya. " Jawab prajurit itu dengan malas.
" Selain itu, sembari menunggu paman kalian, saya akan menyiapkan beberapa dokumen yang harus kalian isi. Karena aku sendiri tidak bisa membaca beberapa kalimat di dokumen kalian karena memakai aksara yang berbeda. " Jawab prajurit itu.
" Baiklah tuan, kami akan mengikuti apa yang anda katakan. " Jawab Arcanest Quinn dan Flora untuk bertanya.
" Kalau begitu, mari saya antarkan ke ruang tunggu " Kata Prajurit itu sembari berjalan menuju ruangan yang ia bicarakan.
* creek.... * Prajurit itu membuka pintu ruang tunggu dengan malas hingga terdengar decitan yang cukup keras di ruangan hening itu.
__ADS_1
" Wah... Kals. Sepertinya kamu melakukan tugasmu dengn benar ya? " Lanastia menyapa Prajurit yang mengantarkan Arcanest, Flora dan Quinn.
" Tentu saja, Lana. Walaupun diriku terlihat seperti ini. Aku tetap berusaha melakukan tugasku dengan baik. Lagi pun sudah hampir dua malam aku menggantikan Roam karena dia sedang sakit. " Jawab Kals pada Lanastia.
" Maaf ya, jika aku tidak tahu kamu sudah begadang selama itu. " Lanastia menutupi tawanya ketika mendengar apa yang Kals katakan.
" Terserah padamu lana. Mari, tuan, nona, silahkan masuk " Kals mempersilahkan Arcanest, Flora dam Quinn untuk masuk ke dalam ruangan bersama Lanastia di dalamnya.
" Kalian bisa duduk di sini sebentar sembari melihat pemandangan sekitar atau membaca buku membosankan di rak rak itu sementara aku menyiapkan dokumen untuk melengkapi dokumen kalian. " Tambah Kals sembari meninggalkan ketiganya.
Di saat Kals pergi meninggalkan ruangan itu, Flora merasa sangat senang karena bisa kembali bertemu dengan Lanastia yang sedang duduk dan membaca sebuah buku. Namun, Quinn segera mengatakan pada Flora mengenai apa yang Anma katakan padanya.
Flora yang di saat itu masih berniat mencoba menyapa Lanastia akhirnya membatalkan niatannya karena Arcanest ikut mengatakan hal yang sama seperti yang Quinn katakan.
" Ya, baiklah Arc, Quinn. Flora tidak akan menyapa Tia sementara waktu. " Flora menunjukkan wajah murungnya
" Jika Flora menunjukkan sikap seperti itu, sama artinya bahwa tuan merasakan hal yang seperti itu. " Tambah Arcanest dengan sikap yang sama sekali belum berubah.
" Hehhe.... Iya, maaf. Flora hanya sempat merasa sedih saja tidak bisa menyapa Lana. " Jawab Flora sembari mengubah ekspresi wajahnya.
Di saat yang sama dengan Flora yang akan menyapa Lanastia, Lanastia pun sempat melirik ke arah tiga orang yang terasa tidak asing baginya.
" Seorang Rogue dan Prist itu nampak tidak asing bagiku. " Lanastia melirik ke arah ke tiga orang petualang sembari menutupinya dengan buku yang ia baca.
" Jika tidak salah dia sempat memanggil nama Tia beberapa kali. Apakah mungkin mereka itu seperi yang aku pikir adalah ilusi? " Lanastia memejamkan matanya sembari mengingat kejadian di mana dia bertemu dengan Anma, Flora dan Quinn
" Baiklah, Tuan Arca, Nona Quinn dan Nona Flora. Silahkan lengkapi dokumen kalian. Setelah selesai mengisi dokumen ini, kalian bisa menyerahkannya di saat paman kalian menjemput atau kalian bisa menyerahkannya segera setelah selesai melengkapi data yang ada. " Kata Kals sembari membawa beberapa kertas data diri untuk kelengkapan mereka.
" Terima kasih " Arcanest menunjukkan sikap hormatnya.
__ADS_1
* sclings.... * Lanastia terkejut ketika Kals memanggil nama yang tidak asing kepada mereka.
" Quinn...? Flora....? Benar benar nyata? " Lanastia yang terkejut menghantamkan buku yang ia baca ke atas meja di hadapannya.
* brak.....!! * Arcanest, Quinn dan Flora secara bersamaan mengarahkan pandangan mereka ke arah Lanastia karena membuat suara yang mengejutkan mereka.
" Aduh.... Aku harap mereka tidak melihat wajahku " Gumam Lanastia sesaat sebelum mereka melihat ke arah dirinya.
" Ne... Quinn... Apakah Tia sudah mengingat tentang kita? " Gumam Flora sembari mengarahkan pandangannya ke arah Lanastia.
" Aku rasa memang seperti itu, Flora. Tapi, akan lebih baik jika kita mengabaikannya dulu dan terfokus pada masalah kita saat ini " Jawab Quinn sembari menasehati Flora untuk berhenti melihat ke arah Lanastia.
" Ne... Arc... Apakah ayah sudah memberikan penjelasan mengenai aksara di kota ini? " Tanya Flora setelah mengalihkan pandangannya.
" Sudah, Flora. Tuan sudah memberikan informasi mengenai bahasa di dunia ini. Walaupun hanya berupa susunan abjad yang tidak beraturan, tapi tuan sudah memberikan pengetahuan itu lewat kertas ini " Jawab Arc sembari memberikan penunjuk.
Dalam ketiga kertas yang menunjukkan data diri mereka, secara tidak langsung menunjukkan sebuah urutan alfabet yang di gunakan di kota ini.
Arcanest menjelaskan bahwa ada kesamaan pada setiap huruf baik dari A kapital sampai z dengan cara penulisan yang normal di setiap kata dalam dokumen mereka. Sebagai contohnya, Arcanest menuliskan sebuah huruf A kapital yang di ambil dari namanya dan dengan a kecil yang di ambil dari nama Flora.
" Hooh.... Jadi seperti itu ya Arc. Terima kasih atas penjelasannya " Sahut Quinn dengan ekspresi yang masih di paksakan.
" Terima kasih Arc. Dengan begini, ujian dari ayah pasti akan terselesaikan dengan cepat. " Sahut Flora dengan senyuman manis miliknya.
" Sama sama Flora, Quinn. senang rasanya bisa membantu kalian " Jawab Arcanest sembari membalas senyuman mereka dengan senyuman yang lebih ramah dari sebelumnya.
" kalau begitu, ayo kita selesaikan dokumen ini. supaya nanti jika ayah sudah datang, ayah tidak akan menunjukkan wajah kesalnya yang mengerikan. Melainkan sebuah senyuman manis dan pujian " Flora mengepalkan tangannya sembari membayangkan Anma memuji dirinya.
Arcanest dan Quinn yang mendengar hal itu sama sama tertawa untuk beberapa saat sebelum akhirnya mereka kembali melanjutkan.
__ADS_1