ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 12 : SEMI SENIOR


__ADS_3

Jika dulu begitu berat di jalani, tapi tanpa cerita dan perjalanan yang merupakan bagian dari diri untuk terjadi dan hal itu semua yang menjadikan kita semua yang sekarang. Walau nyatanya semua itu adalah sebuah pembelajaran yang sangat mahal, sebuah pembelajaran untuk menghargai orang lain, meniti tangga-tangga dengan sifat yang menuntut sebuah kesabaran, menanggalkan status anak mama, anak papa atau anak manja, putra dan putri orang kaya, putra dan putri orang hebat, tidak ada cerita demikian semua dalam kondisi yang sama.


Semua harus memegang sapu untuk membersihkan asrama, semua mendapat giliran yang sama dalam piket kebersihan asrama baik secara khusus maupun keseluruhan dengan bergiliran, semua harus mengepel lantai, menggosok dan membersihkan toilet asrama. Semua harus belajar memahami perbedaan dan menghargai kebersamaan, teman ada yang salah ingatkan, diri sendiri salah teman yang akan mengingatkan. Jika lupa saling mengingatkan dan itulah kenyataannya kehangatan yang tidak sama dengan kehangatan di rumah, pembelajaran yang berbeda dari mata pelajaran apa pun, di sekolah mana pun.


Tapi Semua tergantung kita, bisakah kita baik dengan orang lain?


Bisakah kita berusaha menjaga perasaan dan menghargai orang lain?


Maukah kita belajar dari sebuah perbedaan dan perselisihan?


Itu semua datang dari kita dan akan kembali pada kita, dari orang yang sama, atau dari orang yang berbeda. Dan pembelajaran itu yang nantinya akan menjadi modal untuk hidup kita.


Dan setahun yang lalu kita baru melewati tingkat dua, dengan hal ini maka perjalanan hidup pun saat-saat di asrama pun berganti judul, "Hebatnya Menjadi Semi Senior".


Walaupun semakin lama ajaran didikan secara otodidak kepada junior yang sudah di wariskan dari leluhur semakin mulai terhapuskan sedikit demibsedikit. Tetap saja menjadi senior itu adalah impian kita semua, tak ada yang berani asal-asalan memberikan pernyataan yang mementingkan diri sendiri, yang selalu merasa benar tanpa mau di persalahkan, atau pun pelajaran-pelajaran yang berharga lainnya yang akan ada di masa itu.


Tapi saat sekarang sangat berbeda jauh yang mencari pelajaran sendiri, pelajaran hidup untuk belajar menyesuaikan diri, belajar menjaga diri, Bagaimana kita tetap bertahan disini? berusaha mati-matian melawan godaan negative baik berasal dari diri sendiri atau pun berasal dari kawan-kawan terdekat dengan dukungan lingkungan yang bisa baik dan sebaliknya, yang selalu terbayang di fikiran utuk mencoba dan semakin rasa ingin tahu besar dalam hati semakin kuat rasa ingin mencoba itu datang menghujam hati dan perasaan yang rapuh.


Tiap orang tua pasti tidak pernah melarang untuk mencoba hal baru, melihat hal yang sebelumnya tidak pernah di lihat, yang tak pernah mencoba di tempat asal dahulu, khususnya bagi yang mungkin sedang berada di kota lain. Tapi bukan kah baik nya mencoba sesuatu yang menghasilkan sesuatu baik pula, sesuatu yang dapat di pertanggung jawabkan, yang sesuai kemampuan dan kebutuhan yang tentunya masih di terima sesuai tradisi asal.


Bukan kah salah satu hal yang paling utama membuat mampu bertahan di sini dan mampu melewati setahun yang berat lalu, karena menghargai pilihan orang tua kita, wajah yang selalu terbayang di depan mata saat sedih, di mana tak ada teman yang mengerti keadaan dan orang tua yang selalu punya do'a.


Semester tiga berjalan, dari muasal polos dan penuh dengan ratapan wajah dengan derita, sebuah cahaya mulai bersinar sebagai seorang kakak tingkat yang cukup membuat sedikit kesombongan dengan wajah yang tengadah ke atas.


"Ham, tidak terasa kita sudah kelas dua sekarang!" Ucap Rosa memecah keheningan saat mereka duduk santai di depan kantin asrama, menikmati mi ayam gerobakan yang masuk ke dalam asrama.


"Ya, masa-masa sulit dalam setahun berlalu Cha, dulu satu tahun terasa lama sekali, tapi saat sekarang satu tahun kemarin terasa baru beberapa hari saja lewat di depan mata!" Balas Ilham.


"Besok anak-anak baru masuk asrama, seperti kita dulu Ham, mereka mencoba mencari jati diri yang sebenarnya sudah ada di diri masing-masing, membentuk dan menemukannya yang susah!" Ucap Nelly ikut masuk dalam obrolan mereka.


"Ya biarkan saja Nel, gue nggak akan memaksakan sesuatu hal yang pernah gue rasakan dahulu kembali terulang dan terulang lagi, cukup gue yang merasakan sebuah ketidakadilan yang lain jangan namun terserah dengan kalian dan lainnya!" Jelas Ilham.


"Gue rasa tidak seperti itu Ham, suka atau tidak kita harus imbangi semua yang terjadi di asrama ini, kawan-kawan pasti tidak akan membiarkan sikap elo seperti itu karena kepala elo dengan kepala lainnya berbeda, artinya pikiran satu dan lainnya jelas berbeda!" Jelas Rosa.


"Gue tahu Cha, setidaknya dari diri sendiri kita memulai perubahan ini, ya pasti banyak yang akan bertentangan dengan niat dan dengan apa yang akan kita lakukan, karena mereka memandang benar itu banyak bukan yang sendirian!" Balas Ilham.


"Ya begitu lah Ham, kalau kita merubah sendirian, kita akan teranggap aneh dan lucu, seakan-akan kita berniat keluar dari angkatan kita, ini hal yang harus elo pikirkan juga Ham!" Jelas Nelly.


"Kita lihat saja Nel, Cha... Sebisa apa tangan ini merubah sesuatu yang seharusnya di rubah, walau gue tahu mungkin luka dan berdarah namun gue akan tanggung semua akibatnya demi kebaikan yang menurut gue harus di lakukan walau secara bertahap!" Ilham menarik nafas berat dan menghembuskannya perlahan.


Gue terpilih menjadi ketua Pengenalan Program Study (PPS) untuk siswa baru dengan jumlah siswa sama seperti tahun kemarin 80 orang dengan rincian 19 cowo' dan 61 cewe'. Gue tidak pernah menampakkan muka saat siswa baru masuk di antar oleh orang tua mereka, karena dengan melihat dan menyambut kedatangan mereka berarti sama saja gue mengenang masa satu tahun yang lalu di mana banyak orang tua yang mengeluarkan air mata saat anak-anak mereka akan di lepaskan di dalam kurungan bernama "Asrama".

__ADS_1


"Ini kamar anak saya ya mas!" Tanya seorang ibu pada Made yang menjadi panitia penerima siswa baru.


"Namanya anak ibu siapa ya?!" Tanya Made.


"Namanya Yusuf mas!!" Jelas ibu itu.


"Ooh ya benar, Yusuf ada didaftar nama yang tertera di kamar ini!?" Jelas Made.


"Anak ini kakak kamarnya Yusuf ya!" Tanya ibu itu lagi.


"Bukan bu, kakak kamarnya Ilham Alfarizi dan kebetulan dia juga ketua Pengenalan Program Study (PPS) untuk sepuluh hari kedepan!" Jelas Made.


"Bisa bertemu dengan nak Ilham apa!" Pinya Ibu itu lagi.


"Sepertinya Ilham masih dinas pagi di Rumah Sakit bu, kalau ibu ada pesan bisa saya bantu sampaikan!" Jelas Made lagi.


"Tidak ada yang penting sebenarnya nak, cuma ingin berkenalan saja dan mau nitip Yusuf padanya, terus terang saja anak ibu ini baru sekali ini jauh dari orang tua, jadi musti banyak belajar biar bisa betah dan kerasan di asrama ini!" Jelas ibu itu lagi.


Semua orang tua akan selalu berbuat terbaik untuk anaknya, siapa pun itu. Terkadang kita sebagai anaknya yang melupakan ke dua orang tua kita dengan alasan sibuk dan masih banyak kerjaan.


Ilham pulang dinas pagi langsung berjalan ke ruang makan, namun di koridor utama antara asrama dan ruang makan masih banyak siswa baru yang masih berkumpul bersama ke dua orang tuanya, Ilham tidak memperhatikan itu, karena perutnya sudah terasa berbunyi dengan irama musik yang lumayan kencang, Ilham melanjutkan langkahnya di iringi Rosa dan Nelly kebetulan mereka bertiga dinas pagi pada tempat yang sama.


"Enak banget kok Nak Ilham, soto ayam special pokoknya!" Jelas Bibi Dapur lagi.


"Wah... Tumben Bi, kok menunya enak begini!" Ucap Nelly.


"Aduh Non, kalau itu bibi nggak tahu, tahu bibi mah masak apa yang sudah di tulis pada buku menu!" Bakas Bibi Dapur lagi. "Pada kelaperan ya habis dinas!?" Tanya Bibi Dapur.


"Pasti lah bi, ini perut Ilham sudah seperti kareng bolong kalau di pukul suaranya cembreng bi!" Jelas Rosa tertawa.


"Elo aja kali Cha, gue yang di jadiin tumbalnya!" Ilham ikut tertawa.


"Pada mau makan di mana nih?!" Tanya Bibi Dapur.


"Di Ruang Makan lah bi!" Jawab Nelly.


"Yakin Non?" Ucap Bibi Dapur lagi.


"Kenapa emangnya bi!?" Tanya Rosa ingin tahu.


"Di Ruang Makan masih ramai siswa baru pada makan dan beres-beres barang bawaannya, ntar ke ganggu lo makannya!" Jelas Bibi Dapur.

__ADS_1


"Ooo... Nggak pa-pa bi!" Jelas Ilham.


Setelah mengambil nasi beserta kawan-kawannya dengan tempat makan atau di kenal dengan nama "plato", mereka bertiga bergegas keluar dari dapur menuju ke samping sebelah kanan dapur di sana letak Ruang Makan yang akan mereka datangi untuk tempat menyantap makanan yang sudah ada di tangan masing-masing.


Mereka sengaja mencari meja di pojok ruang makan yang jauh dari keramaian siswa baru dengan barang bawaan dan masih bersama ke dua orang tuanya masing-masing seakan-akan ke dua orang tua tersebut belum rela meninggalkan anaknya sendiri dalam memulai kehidupan asrama.


"Kak ilham ya!" Tiba-tiba seseorang cewe' yang tidak di kenal Ilham menegurnya.


"Iya, adik siapa ya, apa pernah kita bertemu sebelumnya?!" Tanya Ilham heran, tangannya berhenti dari menyuap makanan ke mulutnya.


"Saya Dessy kak!" Jawab cewe' itu.


"Dessy siapa ya!?" Tanya Ilham lagi.


"Siswa Baru kak!" Jawab Dessy lagi.


"Iya tahu, maksudnya kenal dengan kak Ilhamnya dari mana?!" Rosa ikut komentar melihat Dessy mengganggu makan Ilham.


"Belum kenal kak, cuma Dessy di suruh kak Ambar mencari kak Ilham kalau sudah di asrama nanti, kak Ilham ketua Pengenalan Program Study (PPS) untuk siswa baru kan!" Jelas Dessy polos.


"Ambar?!" Nelly ikut komentar.


"Ya, salam ya buat kak Ambarnya, siapanya Dessy emangnya!?" Tanya Ilham terlihat santai.


"Kak Ambar sekarang kakak angkat Dessy kak!" Jawab Dessy dengan kepolosannya.


"Okey, sekarang Dessy udah tahu kan dengan kak Ilhamnya, terus ada lagi yang Dessy ingin katakan!" Rosa menjawab rada kesal.


"Kata kak Ambar bilang ma kak Ilham kalau Dessy adik angkat dia!" Jawab Dessy lagi.


"Okey, kak Ilhamnya sudah tahu sekarang! Cukup apa masih ada yang mau di bicarakan lagi?" Jawab Nelly mulai kesal.


"Nggak kak, Dessy pamit!" Kata Dessy polos dan kemudian dia meninggalkan mereka bertiga setelah mengucapkan permisi.


"Ambar baru awal sudah cari gara-gara nih!" Ucap Nelly kesal.


"Santai Nel, tidak apa-apa! Mendingan kita habiskan dulu makanan lalu pulang ke asrama istirahat dari pada elo kesal nggak pada tempatnya gitu!" Balas Ilham tersenyum.


"Kalau suasana begini Ham, mana bisa kita istirahat!" Jelas Rosa.


"He... Kita ke kantin aja yuk Ham, Cha, kita cari makanan tambahan buat ganjel nih perut dan minum fanta plus susu enak kayaknya!" Ucap Nelly.

__ADS_1


__ADS_2