ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 65 : ADA APA DENGAN ILHAM?


__ADS_3

"Toni! Elo sudah datang!" Nugroho langsung menyambut ketika melihat batang hidung sahabatnya itu sudah terlihat memasuki kelas satu. Saat itu, dia sedang membaca buku Asuhan Keperawatan.


Toni hanya tersenyum melihat sahabatnya tengah melambai-lambaikan tangan kepadanya. Ia berjalan melangkah menuju kursinya dan segera duduk di samping Nugroho.


"Gue mendapatkan bocoran dari kelas sebelah. Akan ada pengambilan nilai Asuhan Keperawatan dadakan. Mungkin karena sebentar lagi pekan semester genap." kata Nugroho tanpa ditanya. "Ayo kita belajar bersama. Gue ingin bertanya beberapa soal kepada elo." Lanjutnya.


Toni yang sedang sibuk membongkar tasnya tidak menjawab. Ia segera mengeluarkan buku paket Asuhan Keperawatan dan catatannya. Sementara ia belajar dari buku paket, ia memberikan catatannya kepada Nugroho. "Mungkin ini membantu." ucap Toni santai.


Nugroho mengambil buku catatan sahabatnya tersebut dan membaca-baca sekilas isinya. Ia tersenyum melihat semua praktek dan cara penggunaannya tertulis di sana. Kemudian, dia menatap Toni kembali. "Terima kasih, Ton." Lanjutnya.


Toni tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari buku paket. Setelah itu, mereka berdua kembali sibuk masing-masing dengan persiapan ambil nilai Asuhan Keperawatan mereka. Kalau rumor dari kelas sebelah itu benar, bisa menjadi kesempatan mereka untuk meningkatkan nilai Asuhan Keperawatan mereka agar tidak terlalu buruk jika saat ulangan nanti mereka tidak mendapatkan nilai bagus.


***


"Mi ayam dan es teh empat porsi!" seru Jhon sambil memberikan uang kepada penjual mi ayam di kantin. Kemudian, ia langsung kembali bergabung dengan teman-temannya di meja yang tak jauh dari sana. Rasanya cukup lega bisa keluar dari keramaian anak-anak itu. Badannya benar-benar terdesak, membuatnya kesulitan bernafas. Mi ayam di kantin mereka selalu penuh dengan pembeli, kalau tidak cepat, mungkin dia tidak dapat makan sama sekali.


"Hei, nanti setelah selesai makan, kalian mau latihan?" tanya Sam setelah Jhon duduk di sampingnya. Matanya menatap satu-satu teman-temannya dengan penuh semangat.


"Elo gila! Bermain basket setelah makan akan membuatmu sakit perut!" kata Made sambil menggelengkan kepalanya. "Gue akan ikut kalau hanya latihan shooting." Jawabnya.


Ilham dan Jhon mengangguk setuju.


"Lagi pula, pulang sekolah nanti kita pasti bertanding. Pak Ridwan selalu menyuruh kita untuk melatih fisik dan mental sebelum kita masuk ke dalam pertandingan yang sesungguhnya." kata Ilham.


"Ya, itu benar-benar cara yang sangat cerdas untuk mempersiapkan kita." kata Jhon. "Kalau kita sudah mengetahui bagaimana proses pertandingan yang sesungguhnya, maka kita akan selalu siap untuk bertanding. Urusan grogi bisa belakangan." Lanjut Jhon lagi.


"Untuk apa grogi kalau memiliki kapten sehebat Ilham?” tanya Sam asal.


Semuanya tertawa mendengar celotehan Sam. Mereka semua tentu setuju dengan pernyataan Sam tersebut. Ilham bukanlah sekedar pemimpin untuk mereka, tapi juga navigator. Dia selalu bisa mengarahkan mereka berempat dengan caranya sendiri. Dan yang paling mereka senangi dari Ilham adalah Ilham selalu mendengarkan pendapat-pendapat mereka. Mau itu salah atau tidak, dia selalu tersenyum.


"Omong-omong kenapa Toni dan Nugroho tidak ikut ke kantin?" tanya Ilham.


Sam mengangkat bahu. "Gue tidak tahu. Nugroho tadi hanya bilang kalau hari ini dia dan Toni sedang ingin makan di kelas saja. Gue pikir dia sedang tidak ingin berada di keramaian." Lanjutnya.


"Memangnya ada apa dengannya?" tanya Jhon sambil mengerutkan dahinya.


"Gue juga tidak tahu. Dia sama sekali tidak bercerita kepada gue." Ucap Sam.

__ADS_1


"Silahkan makanan dan minumannya." seorang wanita paruh baya membawakan pesanan mi ayam mereka. Kemudian, langsung pergi meninggalkan mereka. Sam, Made, Ilham dan Jhon langsung menyantap makanan mereka masing-masing sambil meneruskan pembicaraan mereka.


"Kalau begitu, apa tidak terasa ganjal jika kita hanya berlatih berempat?" tanya Jhon bertopang dagu. "Bagaimana kalau Toni melihat dan dia merasa kita menjauhinya hanya karena tidak ikut ke kantin?" Lanjutnya.


"Elo yakin dia akan berpikir seperti itu?" tanya Sam sambil mengunyah.


Jhon mengangkat bahunya. "Mungkin saja."


"Akan terasa lebih baik jika kita mencoba mengajaknya dulu." kata Made menyimpulkan. "Kalau pun dia memang tidak ingin ikut, setidaknya kita sudah mencoba mengajaknya." Lanjunya.


Keempat laki-laki itu mengangguk...!!!


"Hei Ton, kudengar kelas elo di adakan ambil nilai Asuhan Keperawatan dadakan ya? Bagaimana hasilnya?" tanya Made sambil menunjuk Sam dengan sendok yang ia gunakan.


"Ah, jangan ingatkan gue pada mimpi buruk, De!" kata Sam sebal. "Elo tahu gue tak pintar soal membuat Asuhan Keperawatan!"


Made tertawa...!!!


***


"Toni...!"


"Kami ingin berlatih shooting di lapangan. Elo sebagai salah satu team inti tentu harus diajak. Mau tidak?" tanya Sam sambil tersenyum. "Hitung-hitung pemanasan sebelum ekskul nanti." Lanjutnya.


"Ya, ayo kita berlatih bersama, sekalian ajak Nugroho!" kata Made menambahkan.


"Ton, elo tahu hanya elo dengan Ilham yang selalu bisa mengajari kami bagaimana cara melakukan teknik basket yang benar." kata Jhon.


Toni menggeleng sambil tetap tersenyum...!!!


"Kami bisa menunggu kalau elo mau, Ton." kata Sam sambil menepuk pundak sahabatnya pelan. Namun, Toni tetap saja menggeleng. Ilham, Made, Jhon dan Sam saling bertatapan mendengar jawaban toni. Kemudian, mereka langsung pamit kepadanya untuk ke lapangan. Satu per satu mereka tepuk pundak Toni, kemudian mereka langsung meninggalkan kelas. Sementara Toni kembali duduk di tempatnya.


***


Kegiatan ekskul basket sore ini berjalan seperti biasa. Sebagian anak-anak basket tampak sibuk masing-masing di lapangan. Ada yang sedang pemanasan, ada yang sudah sibuk dribble atau lay up. Sebagian kecil lainnya berteduh di pinggir lapangan.


Ilham sendiri termasuk anak yang baru saja selesai pemanasan. Ia sedang sibuk memantulkan bola basketnya di tempat secara terus-menerus. Matanya terus memandang ke atas, menatap salah satu dari sekian banyak ring kesuksesan yang harus ia taklukkan. Salah satu hal penting harus ia lakukan selama mengejar mimpinya.

__ADS_1


Tadi Pak Ridwan mengatakan bahwa White Team masih memiliki sebulan lebih untuk berlatih sebelum pertandingan itu tiba, sehingga beliau membebaskan mereka berlima plus cadangan tim inti Nugroho di tambah dengan team Wisnu untuk bermain-main sejenak sementara ia melatih anak-anak basket yang lain. Nanti sesaat sebelum pulang, Pak Ridwan baru akan melatih mereka satu persatu sejenak. Karena itulah Ilham di sini. Di tengah lapangan yang berbeda dengan anak-anak yang lain. Sendiri melihat ring basket, karena teman-temannya masih bersiap-siap.


"Hei, sendirian saja kak!" tiba-tiba Toni muncul di belakangnya dan menepuk pundaknya sambil tertawa. "Elo kenapa? Sepertinya dari tadi pagi elo tidak enak badan. Elo sedang sakit kak Ilham?" Tanya Toni.


Ilham hanya tersenyum, kemudian mengacak-acak rambut toni sembarangan layaknya mengasihi anak kecil. "Gue nggak apa-apa, Toni Adam." Lanjutnya.


"Ah! Gue bukan anak kecil, kak Ilham!" kata Toni sambil mencibir Ilham dan segera membereskan rambutnya. Namun, yang dicibir hanya tertawa geli. "Tapi serius, Ilham Alfarizi, kau tak terlihat seperti biasanya." Lanjut Toni. Ilham menggeleng, tetap membantah ucapan Toni.


"Ah, elo benar-benar!" kata Toni tak puas. Ilham hanya tertawa.


Tak lama kemudian, Jhon, Made, Nugroho dan Sam juga bergabung bersama mereka di lapangan. Tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung bergantian melakukan tembakan tiga angka untuk latihan. Haha, mereka memang tak pernah mengenal lelah dalam hal basket. Waktu istirahat mereka sering kali dihabiskan oleh latihan kecil-kecilan.


Namun, Toni tidak menyerah. Ia tetap merasa bahwa kapten basketnya yang juga sebagai kakak kelasnya itu sedang ada masalah. Ia juga membahasnya dengan Jhon, Nugroho, Made dan Sam saat Ilham sedang sibuk dilatih oleh Pak Ridwan.


"Gue tidak setiap saat melihat kegiatannya di sekolah, tapi dia jelas lebih pendiam dari biasanya." kata Made. "Kalian ingat saat kami mengajaknya latihan tadi? Senyumannya berbeda." Lanjutnya.


Nugroho mengangguk. "Gue tahu, kak Made. Gue pikir kalian tidak merasakannya." Ucap Nugroho mengemukakan pendapatnya.


"Elo bercanda? Kami mengenal Ilham bersama-sama saat elo dan Toni masuk ke sekolah ini. Kita juga mengenal Ilham sebaik elo mengenalnya." kata Jhon.


"Tapi, gue masih penasaran apa yang terjadi dengannya. Sebagai sahabatnya, gue tidak boleh tinggal diam jika dia sedang dalam masalah." kata Toni sambil bertopang dagu dengan kedua tangannya.


Sam menggeleng. "Elo tak bisa memaksanya untuk bercerita. Kita semua bukannya tidak tahu kalau Ilham adalah anak yang tertutup. Biarlah kita tunggu sampai dia siap. Di samping itu, kita harus tetap memantaunya." Lanjut Sam lagi.


Toni, Jhon, Made dan Nugroho mengangguk setuju. Kemudian, mereka langsung pura-pura sibuk masing-masing ketika Ilham sudah berjalan menuju tempat duduk mereka. Bahkan sampai selesai ekskul, mereka juga tidak menyinggung-nyinggung tentang hal itu kepada Ilham. Sampai akhirnya, ketika jam setengah empat sore tiba, saatnya waktu pulang.


"Gue rasa elo harus segera pulang ke asrama, bukan?" tanya Jhon sambil menoleh ke arah Ilham yang sudah selesai membereskan tasnya.


Ilham mengangguk...!!!


"Kalau begitu, sampai jumpa besok ya kak!." kata Toni sambil tersenyum sengaja menunggu Ilham bersama Nugroho.


Ilham mengangguk lagi, kemudian menoleh ke arah Made yang sudah menunggunya di kejauhan. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang langsung mempersilahkannya untuk pulang terlebih dahulu. Kemudian, ia langsung membalikkan badannya untuk meninggalkan lapangan.


"Ilham!" panggil Sam sebelum bayangan sahabatnya itu menghilang dari hadapan mereka berempat.


Ilham menoleh perlahan-lahan ke arah mereka. Menatap mereka dengan pandangan tanpa ekspresi. Tak ada sedikitpun senyuman manis yang biasa ia tebarkan kepada semua orang dengan ramahnya.

__ADS_1


"Kita selalu siap membantu elo." kata Jhon sambil tersenyum kecil, yang langsung dibalas oleh senyuman manis dari Ilham. Ah, kalau saja Ilham jeli, dia pasti bisa menyadari bahwa tersimpan kegetiran di dalam senyum Jhon itu.


Dari Nugroho, Jhon, Toni maupun Sam, semuanya menatap kepergian Ilham dalam diam. Senyuman yang terpancar di wajah mereka masing-masing memudar setelah bayangan Ilham menghilang. Mereka merasa khawatir. Perubahan sikap Ilham mungkin terlihat samar di mata anak-anak lain, tapi tidak untuk mereka. Walaupun sehari-hari Ilham memang pendiam, dia tidak akan sependiam ini jika tak ada hal yang tidak beres. Tapi, aku tidak apa-apa. Itu yang selalu dikatakannya.


__ADS_2