ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 77 : TERTAWA JAHAT


__ADS_3

Jhon tengah fokus dengan buku pelajarannya dan begitu pun hal teman-temannya sibuk belajar pula. Ya, mereka masih tetap melakukan jadwal rutin belajar bersama. Namun, tanpa adanya kehadiran Ilham di tengah-tengah mereka, suasana belajar yang biasanya sangat menyenangkan kini berubah menjadi sepi. Sunyi senyap tanpa suara apapun, seolah-olah mereka hanya belajar sendiri-sendiri. Mungkin ini sudah ketiga kalinya suasana belajar mereka terasa membosankan.


"Jhon..." tiba-tiba Nugroho memutar kursinya dan menatap Jhon.


"Apa?" tanya Jhon tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang masih dibacanya.


"Apa kita melakukan hal yang benar menjauhi Ilham seperti ini?" tanya Nugroho. "Sebetulnya, Ilham tidak salah apa-apa, kan? Belum terbukti bahwa ucapan Dilan itu tepat. Kita juga belum membahas ini dengan Ilham." Lanjut Nugroho.


Jhon menghentikan kegiatannya. Ia menoleh ke arah teman-temannya. "Kalau saja Ilham tidak bersikap aneh belakangan ini, gue juga tidak ingin menjauhinya, Nug. Tapi, ia benar-benar sudah berubah. Bukankah elo sudah melihatnya sendiri?" Ucap Jhon.


"Setiap kali terburu-buru, mencoba sebanyak mungkin merebut bola agar dapat banyak mencetak angka. Dia seperti tak peduli ada kita di sekitarnya yang bisa membantu," kata Toni menambahkan. "Coba elo ingat saat pengumuman perwakilan waktu itu. Dia bahkan tidak ikut senang kita semua terpilih." Lanjutnya.


Nugroho diam saja. Pikirannya melayang ke masa lalu, mengingat saat mereka semua benar-benar terpilih untuk ikut turnamen Se-Lampung. Setelah Pak Ridwan membubarkan ekskul basket, mereka berempat hampir tak bisa mengekspresikan bagaimana gembiranya mereka bisa ikut turnamen. Hanya Ilham yang tidak.


"Teman-teman, kita masuk! Kita masuk!" teriak Nugroho saat itu sambil menatap teman-temannya girang. Saking girangnya, ia bahkan sampai melompat-lompat.


"Kerja bagus, teman-teman!" kata Jhon saat itu.


"Jangan sebut kita White Team kalau kita tak bisa ikut turnamen!" kata Toni sambil tertawa. "Kita sudah satu langkah ke depan menuju impian kita!" Terusnya.


"Ya! Dan kita pasti bisa menaklukkan langkah-langkah lain yang menanti!" kata Made. Ia merangkul Jhon dan Toni yang ada di kiri dan kanannya. "Benar kan, teman-teman?"


"Tentu saja, De! Apalagi dengan kapten baik seperti Ilham!" kata Made sambil merangkul teman sebangkunya itu. Kemudian, setelah itu dia menoleh ke arahnya. "Ham, ayo kita berjuang bersama! Nanti kita keluarkan semua tenaga untuk mengharumkan nama sekolah! Kita pasti bisa, oke?!" Lanjut Made.


Namun, bukannya ikut gembira dengan mereka, Ilham justru hanya tersenyum kecil dan segera menyingkirkan tangan Made dari bahunya. Ia mengambil tasnya dan segera berlari meninggalkan lapangan. Made dan kawan-kawannya sampai heran melihat tingkah lakunya. Dia bahkan tak pamit kepada mereka, hanya menepuk-nepuk bahu Made sejenak kemudian langsung pergi.


"Tapi, hanya tersenyum bukan berarti dia itu tak senang kita masuk, bukan?" tanya Made masih tidak yakin. "Jujur, sebenarnya gue tidak enak hati harus mengabaikannya setiap hari. Masalahnya, gue teman sebangkunya. Gue tidak mungkin tak bicara padanya, bukan? Pasti ada sesuatu di balik sikap anehnya itu!" Jelas Made.


"Kalau dia merasa dia tak salah, seharusnya dia berusaha agar kita tidak menjauhinya. Tapi, dia tak pernah melakukan apa-apa semenjak kita menjauh," kata Jhon. "Bahkan kegiatan rutin kita ini dia tak pernah datang lagi."


"Bagaimana dia bisa datang kalau dia tak tahu dimana kita akan belajar?" kata Nugroho masih tetap mencari alasan.


"Ah, sudahlah, Nug. Tak penting kita membicarakan dia. Lebih baik sekarang kita belajar. Terutama kau Jhon, jangan bermain terus. Ujian Nasional sudah di depan mata." Jhon hanya nyengir mendengar ucapan Made. Memang, sedari tadi dia bukan belajar atau membuat tugas di komputer, dia hanya bermain-main saja.


"Baiklah. Ayo belajar. Lebih baik kita tak usah mengurus masalah ini."


***


Sekitar jam sebelas menjelang jam dua belas Ilham tiba di sebuah rumah sakit yang telah disebutkan Bundanya tadi. Ia segera bertanya kepada suster dimana ia harus pergi dan langsung menaiki lift dengan terburu-buru. Tampak Bunda dan Rosa sudah berada di depan salah satu ruang perawatan di lantai tersebut. Mereka langsung berdiri ketika mendapati telah tiba.


"Akhirnya kau tiba juga!" kata Rosa sambil tersenyum sekilas. "Om sedang diperiksa di dalam. Kita hanya bisa menunggu." kata Rosa.


"Ini, Bunda sudah membawakanmu bekal jika kau lapar." kata Bunda sambil menyodorkan sebuah kotak bekal kecil kepada anak bungsunya.

__ADS_1


Ilham tersenyum sekilas kepada Bunda saat menerima kotak bekal tersebut. "Terima kasih, Bunda. Tapi, bagaimana bisa ini terjadi? Ayah bukannya sembuh malah justru menjadi lebih parah."


"Sepertinya Ayah tidak tahan harus izin terus-menerus dari kantor. Ia tak ingin menumpukkan semua pekerjaannya kepada asistennya terus. Di rumah tadi, Ayah memaksakan diri untuk bekerja." kata Bunda. "Padahal, tadi Ayah hanya sarapan sedikit. Tidak nafsu makan katanya. Mungkin itu yang membuat Ayah menjadi pusing dan lemas." Lanjutnya.


 


Ilham menghela nafasnya. Ayah memang tipe orang pekerja keras dan mandiri. Mungkin terlalu mandiri sehingga beliau tak pernah rela merepotkan orang lain terlalu lama. Tapi, kalau seperti ini caranya, Ayah bisa sakit jangka panjang. Ilham benar-benar tak tahu harus berbuat apa jika itu benar-benar terjadi. Pada hal, masalah di kehidupannya sudah terlalu banyak. Mulai dari teman-temannya, sekarang keluarganya.


"Sudah, ayo kita duduk saja." kata Bunda mengajak. "Oh ya bagaimana dengan izinnya untuk sementara kau tidak tinggal di asrama dulu, tetap masuk sekolah dari rumah?" Tanya Bunda melanjutkan.


"Sudah Bun, untuk sementara Ilham di perbolehkan Bapak Kepala Sekolah untuk menemani Ayah di Rumah Sakit!" Jawab Ilham.


Bunda menganggukkan kepala. Mereka bertiga duduk di depan ruang perawatan sambil menunggu dokter selesai memeriksa Ayah. Sekitar setengah jam mereka diam saja di sana, membiarkan suara-suara rumah sakit dan bau-bau obat di sana menemani mereka. Hingga pada akhirnya, dokter tersebut akhirnya keluar juga.


"Kalian kerabat pasien?" tanya Dokter.


Mereka bertiga mengangguk.


"Bagaimana keadaan Ayah, Dok?" tanya Ilham khawatir.


"Ayah kalian terkena tifus karena terlalu lelah. Dia harus diopname untuk memulihkan kondisinya. Kalau tiga hari ke depan kondisinya sudah stabil, dia sudah boleh pulang. Biarkan dia istirahat lebih banyak daripada bekerja agar bisa cepat sembuh." kata Dokter sambil tersenyum.


"Begitu? Baiklah, Dokter, terima kasih. Boleh kami masuk?" tanya Bunda.


Dokter itu langsung pergi meninggalkan Bunda, Ilham dan Rosa di sana. Mereka bertiga langsung masuk ke dalam ruang perawatan Ayah dan menjaganya di sana. Ayah tampak tersenyum pucat ketika melihat keluarganya masuk ke dalam. Tangan kanannya tampak diinfus.


"Ilham... kau sudah pulang?" katanya lirih.


Ilham mengangguk. "Istirahatlah, Yah. Aku ingin Ayah sehat."


"Ayah tidak apa-apa, Ham. Ayah hanya kelelahan." Ucap Ayah lagi.


"Yah, kata Dokter Ayah terkena tifus karena terlalu lelah bekerja. Ayah harus diopname untuk memulihkan kondisi tubuh Ayah. Biar nanti Ilham yang akan menjaga Ayah di sini menemani Bunda." kata Ilham.


"Rosa juga om, kebetulan Rosa juga tidak ada jadwal dinas jadi di perbolehkan menemani Ilham di sini!" Ucap Rosa.


"Ah, kalian tidak perlu repot-repot. Kalian kan juga sibuk, apalagi Ilham, kau harus tetap latihan untuk turnamen itu?" tanya Ayah terbata-bata. Sesekali ia juga terbatuk-batuk.


Ilham diam saja...!!!


"Biar Bunda saja yang menjaga Ayah. Kalian berdua tetap sekolah saja dengan baik. Kuliah dengan baik. Setelah jadwal kalian selesai, baru berkunjung ke sini kalau ada waktu kosong," kata Bunda.


"Baik, Bunda." kata Ilham dan Rosa hampir bersamaan.

__ADS_1


"Kalau begitu, kalian pulanglah terlebih dahulu. Biar Bunda yang menjaga Ayah di sini. Oke?"


Ilham dan Rosa mengangguk, kemudian langsung keluar dari ruangan tanpa bicara apa-apa. Mereka bertiga menuju parkiran, masuk ke mobil dengan pak sopir yang sudah menanti disana lalu langsung melesat pergi menuju rumah. Selama perjalanan, mereka berdua mengobrol panjang tentang sekolah. Hingga akhirnya, Rosa menyinggung-nyinggung soal teman-teman Ilham.


"Ham, belakangan ini rasanya kau tak bergabung dengan teman-temanmu di kantin. Memangnya kau sibuk berbuat apa?" tanya Rosa. "Setiap kali aku bertanya Jhon dan yang lain, mereka selalu menjawab elo selalu ada urusan."


Ilham diam mendengar ucapan itu.


"Elo bertengkar dengan teman-temanmu, Ham? Pantas saja belakangan ini kau sering menyendiri di kamar." Lanjut Rosa.


Ilham menggelengkan kepalanya. "Kami tidak bertengkar."


"Lalu, kenapa?" tanya Rosa penasaran. "Elo kan selalu bersama mereka setiap waktu. Kalian berlima itu sudah seperti amplop dan prangko. Hampir kemana-mana kalian bersama. Aneh kalau tiba-tiba kalian memisah seperti itu." Lanjut Rosa yang paham akan keadaan mereka di asrama.


"Sahabat juga butuh waktu sendiri, bukan?" kata Ilham sambil tersenyum.


"Waktu sendiri apa? Kalau kau butuh waktu sendiri, berarti kau memang bermasalah dengan mereka. Ceritalah, sebenarnya ada apa? Aku tidak mungkin bertanya kepada Jhon atau Made lagi, mereka tak pernah mau menjawab." Lanjut Rosa.


Ilham menggelengkan kepalanya lagi, bersikeras tak ingin berbicara.


Rosa menghela nafasnya putus asa. Kekasihnya itu memang tak pernah bisa diajak bercerita tentang masalahnya. Susah sekali rasanya bagi Ilham itu untuk terbuka, walaupun kepada kekasihnya sendiri.


"Ya sudah kalau elo tak ingin bercerita. Tapi ingat, Ham, sahabat itu berharga. Elo beruntung bisa menemukan sahabat-sahabat baik seperti mereka. Teman-teman baik seperti mereka itu jarang ada di dunia ini. Jangan sampai elo kehilangan mereka begitu saja." kata Rosa.


Ilham menatap keluar jendela sambil menghela nafas. Ia mengangguk pelan. Sahabat seperti Made dan kawan-kawan memang tidak ada duanya. Tidak ada yang bisa menggantikan mereka. Dari merekalah Ilham memperoleh hidup yang menyenangkan. Tapi, mereka juga yang membuat hidupnya menyedihkan lagi.


***


Sore itu, Dilan pergi ke rumah seseorang dengan membawa kabar yang pasti akan menyenangkan orang tersebut. Begitu sampai di sana, Dilan langsung menceritakan semua yang ia alami di sekolah tanpa melewatkan sedikit pun adegan-adegan ‘seru’ pada saat ekskul basket. Setelah selesai bercerita, senyum perlahan-lahan mengembang di wajah orang itu.


"Bagus. Kau mengerjakan tugasmu dengan baik, Dil." kata orang itu tersenyum puas. "Sekarang, pastikan mereka tidak akan bersatu lagi. Kalau sampai misi ini gagal, kau akan tahu akibatnya!"


Dilan tersenyum sinis. "Tenang saja. Elo akan segera mendapatkan kehormatan elo lagi di keluarga. Gue juga tak akan diremehkan lagi."


Orang itu mengangguk. "Tapi, karena elo tak berhasil mencegah dia masuk turnamen, elo gue berikan misi tambahan."


"Apa?" Ucap Dilan.


"Tendang dia dari turnamen itu!"


Dilan mendengus sekilas mendengarnya. "Elo pikir gue tidak berencana untuk melakukannya? Gue jelas ingin melakukannya lebih dari yang elo pikirkan. Bagaimanapun dia sudah menghancurkan kita. Kitapun akan menghancurkannya!"


Orang itu mengangguk, kemudian tertawa jahat. "Bagus!"

__ADS_1


__ADS_2