
Satu bulan kemudian, Dessy dan Ilham semakin merenggang, bahkan tidak pernah lagi Rita dan Eliza melihat mereka bersama, berdua!
“Dessy, loe lagi ada masalah sama kak Ilham?” tanya Eliza saat kelas pembelajaran sudah bubar, mereka duduk di undakkan tangga asrama sebelum kembali ke kamar.
“Za, gue sama kak Ilham udah nggak ada hubungan apa-apa lagi! Kita udah putus.” Sahut Dessy.
“Loh? Des? Lo serius? Nggak nyesel lo!” tanya Yernita meyakinkan.
Dessy mengangguk lemah.
“Sejak kapan? Dan.. apa sebab kalian putus?” tanya Eliza ingin tahu detailnya.
“Sebulan yang lalu, karena...karena... gue punya pilihan lain..” kata Dessy ragu, temannya saling bertatapan, pasalnya mengapa mereka nggak pernah tau, padahal sudah sebulan? sebulan! dan alasan Dessy yang meyatakan bahwa dirinya memiliki pilihan lain.
“Des... loe! Loe nggak bersyukur punya kak Ilham yang notabene cowo' setia dan tulus sama loe?” Eliza tampak geram, meskipun cewe' bernama Eliza ini nggak deket sama yang namanya Ilham, tapi dia tau seberapa besar cinta cowo' itu pada temannya ini, Dessy.
“Iya. Gue tau kak Ilham tulus cinta sama gue, tapi ada yang lebih tulus lagi di banding kak Ilham.” Dessy membela diri agar tidak di salahkan oleh Eliza akibat ketidak bersyukurannya menjadi pacar Ilham.
“Maksud loe cowo' mantan elo di SMS dulu yang sering jalan sama loe belakangan ini?” tebak Eliza. Dessy langsung menoleh kearah sahabatnya itu.
“Loe? Sering liat gue jalan?” tanya Dessy.
“Secara nggak sengaja, gue pikir itu cuma temen loe, tapi yang kemaren gue liat dia kok mesra banget ya?" Jelas Eliza lagi.
“Mesra? loe liat dimana?” Dessu bingung, seingat Dessy, dia nggak pernah mesra-mesraan di depan umum, paling jika dia sedang berdua jalan ke suatu tempat itu pun paling cuma sekedar pegangan tangan, bersandar di bahu Herisman, atau paling banter ya kissing. Kissing aja paling baru satu kali selama mereka pacaran.
“Pas dines pagi kemarin, gue liat di Rumah Makan Ayam Bakar Solo kemaren, bukan sama loe tapi.” Jawab Eliza malas. Hati Dessy seperti tergetar.
Antara pecaya dan tidak...!!!
“Gue rasa loe salah pilih Des!, kak Ilham memang yang terbaik buat loe." Balas Eliza menimpali.
"Bentar bentar, cowok yang kalian maksud itu Herisman ya?” Yernita yang sedari tadi hanya mendengarkan, kini mengumpat ke dalam pembicaran tersebut.
“Iya Yer, Gue balikkan lagi sama Herisman sejak kita makan di warung sate beberapa waktu lalu.” Aku Dessy.
“Ya Ampun Des... jadi? ckckck.. loe masih percaya aja sama dia?” Yernita berdecak tak percaya.
“Hm.. gimana pun juga, dia udah rela balik ke Lampung cuma untuk gue!” Dessy membela diri.
“Gue nggak mungkin ngada-ngada Des, tapi semoga secepatnya loe bisa tau sendiri.” Eliza menepuk pundak Dessy sembari berdiri menarik tangan Yernita mengajak masuk ke dalam kamar asrama meninggalkan Dessy sendiri dalam pikirannya antara benar dan tidak, sungguh penuh keragu-raguan dalam hatinya.
“Sekarang gue sama Yernita balik ke kamar duluan ya, Yuk Yer!” Yernita terbingung-bingung dengan sikap Eliza, namun akhirnya ia berdiri juga dan menaiki setiap undakkan tangga besar itu menuju kamar asrama setelah sebelumnya pamit pada Dessy.
“Za? Kok buru-buru banget sih?” tanya Yernita, setelah mereka berdua sudah ada dalam kamar.
“Elo nggak liat tadi ada kak Ilham?” Yernita mengerutkan keningnya dan menggeleng.
“Gue ngerasa kak Ilham mau menemui Dessy dan mungkin pengen ngomong sesuatu ke Dessy, jadi lebih baik kita tau diri kan dengan cara membiarkan mereka berdua?” ucap Eliza membuat Yernita akhirnya mengerti.
Jauh dari dugaan Eliza, ternyata Ilham tidak mendekati Dessy, dia hanya melihat Dessy dari jauh yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Ren... Reni!,” panggil Ilham pada seorang cewe' yang lewat tepat didepannya.
“Manggil Reni ya kak Ilham?” tanya Reni.
“Iya, tolong loe kasih ini buat Dessy, please...!” mohon Ilham pada teman sekelasnya Dessy.
“Oh.. Oke deh kak!” ucap Reni tersenyum senang.
“Sip! Makasih ya!” Ilham pun berlari turun dengan cepat.
***
Dessy... seperti janji kita, meskipun kita udah nggak ada hubungan lagi, kita tetep sebagai teman kan? Malam ini, kakak punya kejutan buat Dessy, datang ya ke Cafe Biru samping Asrama ada acara Hiburan Musik untuk umum, tapi OSIS yang mengadakan untuk anak-anak asrama, jam tujuh malam ini... Ilham.
Itulah isi surat yang dititip kan oleh Ilham melalui Reni siang tadi.
“Kejutan? Kak Ilham mau kasih kejutan apa ya?” gumam Dessy sekali lagi. Hm... yang pasti sih ini nggak bakal biasa, soalnya kak Ilham ngasih taunya lewat tulisan tangan langsung.
Diam-diam Dessy merasa senang, tapi dia bingung nanti malam mau ngajak Herisman apa enggak? Dessy mondar mandir akhirnya berjalan menuju telepon umum di depan kantor asrama Sekolah Perawat Kesehatan dan dia melakukan kontak juga ke sang pacar. Tedengar nada tunggu, tak lama ada sahutan dari seberang sana.
“Halo? Ada apa Des? Aku lagi sibuk banget nih...” ucap Herisman.
“Oh.. emh.. nggak, nggak papa, Cuma mau tanya ntar malam mau nemenin aku kan? Aku dapat undangan nih!” balas Dessy.
“Hm... liat aja entar.” Herisman datar menjawab.
“Ya udah deh Ris, aku tunggu kabar dari kamu aja.” ucap Dessy nggak yakin.
__ADS_1
“Hm.. kalo memang aku nggak bisa nemenin, nggak papa kan kalo kamu pergi sendiri?” balas Herisman lagi.
“Oke nggak papa!” balas Dessy kesal.
“Ya udah say, telponnya aku tutup dulu ya! Nggak enak soalnya aku lagi ada di acara resmi.” Terdengar suara Heeisman dari seberang sana semakin mengecil. Terutama pada kata ‘say’
“Ya iya.. bye!” saut Dessy.
“Bye” balas Herisman cuek.
Sambungan telphone pun terputus. ‘masa gue sendiri sih? apa gue ajak Rita aja ya?’ batin Dessy.
***
“Ngapain sih loe mau ngadirin acara yang di buat anak-anak OSIS, kak Ilham ketua OSIS nya kan?” tanya Rita jutek.
“Namanya juga diundang Ta...! nggak enak dong kalo gue nggak datang,” balas Dessy.
“Tapi Des, kak Ilham itu mantan loe! Bisa gawat urusannya kalo sampai Herisman tau loe masih berhubungan sama Kak Ilham!” Rita semakin ngotot.
“Kalo nggak mau nemenin juga nggak papa kok, masih mending gue ajak loe biar loe bisa ngawasin gue!” kata Dessy sambil berlalu keluar dari kamar asrama putri B.
“Dessy!” panggil Rita. Dessy menoleh karena ia baru sampai di depan pintu kamar.
“Okey gue temenin, satu jam lebih awal kita udah ada di sana!” sambung Rita, Dessy mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum.
***
Seperti keinginan Rita, mereka sudah berada di Cafe Biru samping Asrama pukul 18.00 Waktu Indonesia Barat. Entah mengapa si Rita mengajaknya berangkat satu jam lebih awal.
“Aduh Ta... kenapa sih loe ngajak gue berangkat lebih awal begini?” tanya Dessy gemas.
“Um.. nggak tau sih Des, gue pengen aja!” ucap Rita jujur.
“Dasar aneh Loe!” ucap Dessy.
“Haha.. gue ke toilet bentar ya! Biasa, panggilan alam.” Tanpa menunggu jawaban dari Dessy, Rita langsung melesat menuju toilet.
Dessy memilih untuk memesan minuman, yang lumayan bisa menghilangkan kehausannya untuk sementara. Sambil melirik panggung kecil di depannya, Dessy yakin pasti akan ada penampilan dari salah satu kelompok Band. Rita nampak pucat pasi melihat adegan yang di luar dugaannya, melihat seseorang cowo' yang sangat ia kenal sedang memeluk perempuan yang tak di kenalnya. Perasaan kesal muncul di hati kecil Rita, dengan tergesa dia kembali ke meja di mana Dessy berada dan duduk di seberangan dengan Dessy yang terhalang oleh meja.
“Des, gue.. gue nggak nyangka kalo selama ini...!” Rita nampak ragu melanjutkan perkataannya.
Dessy mengerutkan kening, “Apa Ta? Ngomong yang jelas dong..” kata Dessy lembut, ia tau bahwa sahabatnya ini sedang kalut.
“Yang bener Ta?” ucap Dessy rada kaget.
“Gue nggak tau pasti, tapi.... loe liat itu!” Rita menunjuk meja di pojok cafe biru itu dan terlihat dua anak manusia cewe' dan cowo', Si cowo' alias Herisman menarik kursi, mempersilahkan cewe' itu untuk duduk.
Wajah Dessy memerah menahan amarah.
Herisman dan cewe' cantik, tinggi dan putih itu duduk sambil berkata, “Terima kasih sayang.” Keduanya nampak asik, bercanda, tertawa pokoknya bisa di bilang mesra. Perlahan Dessy mengusap cairan bening yang mulai keluar dari matanya yang sayu.
‘Apa ini ada hubungannya sama acara yang dibuat kak Ilham?’ batinnya.
Rita merasa bersalah saat ini, ia menunduk dalam-dalam, jari-jarinya ia sibukkan menyusuri tepi meja. Dia tak ingin melihat kekecewaan dari sahabatnya. Orang yang selama ini ia percaya untuk sahabatnya itu, ternyata malah.... selingkuh dalam tanda kutip “Lagi”.
“Des..” Rita memberanikan diri menatap wajah Dessy dan dia pun menoleh dengan pipi masih di basahi oleh air mata sakit hatinya, dan dengan terisak halus.
“Des, jangan nangis, please... karena kalo loe nangis berarti kesalahan gue semakin banyak sama loe.” Kata Rita.
“Kesalahan loe? apa maksud loe Ta?” suara Dessy pelan dan kurang jelas karena isakkannya.
Rita menarik nafas dalam...!
“Pertama, loe gue ajak kesini satu jam lebih awal dari permintaan kak Ilham, coba kalo tadi kita nggak datang cepat, pasti nggak bakal kita ngeliat ini semua.” Dessy hanya mendengarkan Rita, menurut Dessy, yang pertama ini bukan kesalahan Rita.
“Dan yang kedua... loe pasti nyadarkan kalo gue selama ini selalu ngedukung loe biar sama Herisman lagi, dan gue pengen ngejauhin loe dari kak Ilham?” Dessy masih mendengarkan kalimat-kalimat Rita.
“Gue ngerasa bersalah Des, dulu gue sering bilang ke elo kalo kak Ilham itu sering deket ama cewe'-cewe' di asrama dan dia nggak bisa di percaya bakal bikin loe nangis dan sering jahatin loe! Makanya gue nggak setuju sama hubungan loe. Sebenarnya semua gue lakukan karena gue suka ma kak Ilham, Des!” Kata Rita lirih, sementara Dessy mulai bersuara.
“Ta..?” kata Dessy nggak percaya.
“Kak Ilham kan nggak pernah nyakitin elo sedikit pun, tapi.. tapi kenapa loe bikin berita palsu kayak gitu? Gue kecewa sama loe!” Pandangan Dessy beralih pada kedua orang yang sudah membuat hati Dessy terbakar api cemburu.
“Makanya itu, gue ngaku salah... banyak kesalahan gue yang loe nggak tau Des!” kata Rita semakin terdengar lirih.
“Ada berapa banyak lagi Ta? Cerita sama gue! Biar gue makin kecewa sama loe!” kata Dessy tajam. Sambil menyaksikan adegan Herisman yang dengan lembut membersihkan wajah gadis di depannya dengan tissue.
“Gue pernah di ajak ketemuan dengan Herisman Des, dia tahu kalau gue sahabat elo... Gue pernah bilang kalau elo sudah punya cowo' tapi dia bilang ke gue kalau dia sudah berubah, asal gue mau bantu dia. Gue mau bantu dia, dia mau gue ngejelek-jelekin kak Ilham di depan elo dan jika elo bisa putus dengan kak Ilham lalu jadi dengan Herisman, dengan begitu gue bisa deketin kak Ilham!" Dessy termenung mendengarkan kata-kata Rita.
__ADS_1
“Apa jaminan dia buat loe ngelakuin itu semua?” tanya Dessy dengan pandangan nanar.
“Dia janji bakal balik ke Lampung, dan juga nggak bakal lagi ngecewain loe!” balas Rita.
“Itu sebabnya waktu itu loe bilang, ‘Jangan loe sia-siain Herisman yang udah rela pindah kesini, Cuma untuk nebus kesalahannya’ hmmm? Terus yang ada di hadapan kita ini apa jawabannya? Busuk!” Rita sudah benar-benar nggak sanggup lagi menatap mata sahabatnya yang penuh amarah itu, ia lebih memilih menunduk. Dessy tersadar, nggak semuanya salah Rita. Ia kasian melihat Rita jika sedang seperti ini, mungkin niat Rita baik dia ingin sahabatnya bahagia dan dia pin bahagia, tapi cara Rita salah jika seperti itu.
“Ta... Sudahlah, loe nggak sepenuhnya salah... tapi tolong loe harus klarifikasi ini ke kak Ilham. Gue nggak mau terjadi kesalahpahaman lagi. Soal gue dengan kak Ilham akan seperti apa elo nggak usah ambil pusing, itu biar menjadi urusan diri gue sendiri karena ini kesalahan gue!” Suara Dessy melembut.
Membuat Rita berani lagi menatap sahabatnya itu.
“Gue janji Des, apa pun yang loe pinta gue bakal lakuin! Terlebih menyangkut masalah ini. Apa perlu gue temui Herisman saat ini?!" Tanya Rita.
“Ta, jangan! masalah ini nggak bakal selesai kalo caranya begitu. Nggak perlu Ta! Yang penting gue udah tau sifat dia itu nggak akan bisa berubah!” Dessy melirik sinis kerah Herisman dan Cewe' yang bersamanya itu.
“Dessy, Rita...!” Suara itu... suara yang familiar di telinga Dessy dan Rita. Ilham! Keduanya pun menoleh.
“Eh, kak Ilham...!” Dessy terlihat canggung, sudah lama ia tak mendengar suara cowo' ini.
“Kak Ilham, duduk Kak!” respon Rita. Ilham pun mengerutkan kening.
“Acaranya lima belas menit lagi,” sahut Ilham setelah duduk di samping Dessy, Ilham nampak gagah dengan kemeja hitam lengan panjangnya yang sedikit di singsing hingga siku, serta wangi aroma parfumnya yang menguar.
“Feeling gue kak!” Ilham bingung apa maksud Rita, tapi dia tidak memperdulikan, ia pikir itu omongan ngelantur yang lebih tepatnya ‘menyinggung’ Ilhan. Perhatian Ilhan beralih pada ‘mantan’ tersayangnya.
“Des, mata loe kok sembab sih?” Raut khawatir yang dulu selalu di rasakan Dessy dari sosok Ilham kini hadir lagi.
Dessy hanya menggeleng...!!!
“Ta, Dessy kenapa? Cowo' lo si Herisman mana?” Rita melirik ke arah meja pojik cafe biru itu. Kekagetan merajai tubuh Ilham. Ilham memang nggak pernah ketemu Herismab langsung apalagi sampai ngobrol, tapi Ilham sering liat Herisman menjemput Dessy jika hari minggu jam keluar asrama. Namun yang membuatnya kaget pasti... cewek di depan Herisman!
“Sebentar...!!!” Ilham berdiri, sepertinya ingin menuju meja itu. Namun sama halnya seperti Rita, Dessy melarangnya.
“Jangan kak, biarkan.. biarkan dia! Mungkin dia nggak bisa ngilangin sifat buruknya itu. Lebih baik, kita biarkan keburukkannya itu berkembang, aku sudah muak sama dia!” Dessy mengeluarkan lagi butiran hangat dari matanya Ilham kembali duduk dan menghadap ke arah Dessy, tangannya bergerak menelusuri sungai kecil di pipi Dessy itu.
“Jangan nangis karena dia, menangislah karena diri Dessy sendiri.” ucap Ilham.
“Hiks... iya kak, Dessy tau ini semua murni kesalahan Dessy sendiri, Dessy terlalu cepat percaya sama dia! Aku nyesal telah melepas kak Ilham demi orang kayak dia.... maafin Dessy, kak!,” Dessy menangis di dalam rengkuhan Ilham, Rita hanya menopang dagu dengan tangannya yang terlipat di atas meja, ‘Semoga Dessy bisa jalan lagi sama Kak Ilham, dan gue akan tebus semua kesalahan gue dengan mengklarifikasi perkataan gue ke kak Ilham, gue yakin hidup kalian bahagia.’ Batin Rita sambil tersenyum.
Ilham melepaskan rengkuhannya, begitupun Dessy. Herisman benar-benar tidak melirik sedikit pun ke arah mereka berada, meja Dessy, Rita dan Ilham. Sampai Akhirnya Herisman menggandeng cewe' itu dengan mesra menuju pintu keluar cafe biru.
“Des... Kakak tau dari Eliza, beberapa hari lalu, bahwa cowo' yang sering jalan sama Dessy itu, adalah tunangan temennya yang kalo kakak nggak salah, namanya... Cindy, kemungkinan besar itu tadi yang sama Herisman adalah Cindy.” Kata Ilham, ia teringat perkataan Eliza.
“Tunangan?” ceplos Rita.
“Hmmmm...!” sahut Ilham.
***
“Lima menit, setelah lampu cafe biru ini padam.” Ujar Ilham sambil menjunjukkan kelima jari tangan kanannya.
“Apaan sih? Gue jadi ikut penasaran nih.” Goda Rita. Dessy salah tingkah sementara Ilham tersenyum miris, seiring dengan hatinya.
"Kakak kebelakang dulu ya!” Dessy dan Rita mengangguk. Ilham berdiri namun baru selangkah ia membalikkan dirinya lagi. Sedikit membungkuk untuk menyamakan posisinya pada Dessy yang masih duduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Dessy.
“Satu hal yang Dessy harus tau,” Bisik Ilham.
Suaranya semakin lirih dan kecil.
“Kakak akan tetap sama dengan pendirian kakak Des!” Ilham terdiam, ia memejamkan matanya seperti tidak rela dengan kata-katanya sendiri barusan. Selintas ingatan beberapa bulan lalu dirasakan oleh Dessy, tapi cewe' ini bersikeras untuk tidak mengingatnya. Ilham kembali keposisi tegak, di hampirinya Rita, “Ta! Titip sahabat loe ya! Jangan sampai dia kemana-mana saat acara kakak berlangsung! Oke!” Dessy dan Rita saling tersenyum.
Lalu Ilham benar-benar pergi melangkah...!!!
“Ehhem, apa yang bakal di kasih kak Ilham buat loe Des?” Rita menaik turunkan alisnya, menggoda!
“Paan sih loe...” Dessy jadi salah tingkah.
“Jangan jangan... loe mau di tembak Kak Ilham lagi! Hehe...” Dessy tidak yakin dengan kata-kata Rita barusan, apalagi ketika beberapa saat ia mendapat peringatan dari Ilham. namun dari dalam lubuk hati Dessy yang terdalam ia mengamini kata-kata Rita juga.
Glek! Lampu padam, lima menit berjalan... intro sebuah lagu terdengar dari sudut cafe biru, sebuah Band yang Dessy tidak kenal siapa personilnya, kecuali yang berada di paling depan, tepat di depan mikropon. Ilham! Gadis itu ingat, dia harus mengamati ‘Acara’ khusus untuknya itu. Saat itu juga Dessy berdiri, Rita memilih untuk berdiri di samping Dessy agar ia juga bisa melihat dengan jelas aksi panggung Ilham tersebut, pasalnya tadi ia duduk di hadapan Dessy dan membelakangi panggung.
“Kau membuat diri ini.... Hancur tiada terkiraa....Kau membuat ku luka....”Suara Ilham yang merdu itu tidak hanya di dengar oleh Dessy dan Rita, tapi para pengunjung cafe biru. Semua menoleh ke arah Ilham dan anggota dalam band tersebut, pop melankolis itu seketika membuat cafe biru menjadi hening, kecuali suara merdu Ilham yang berpadu dengan Gitar, Bass, serta Drum.
“Dirimu yang slama ini...Selalu aku banggakan... Tenyata kau... menduaaaa!!!!” Dessy tersentak! Lagu itu untuknya... untuknya! Ilham bernyanyi dengan penghayatan yang luar biasa, Dessy yang notabene bukan cewe' tegar, langsung kembali menangis terisak. Sahabatnya Rita, yang memang lebih tinggi sedikit dari Dessy, langsung merangkulnya. Rita tidak menyangka, ‘Bukan ini yang gua pengin!’ batin Rita.
“Dan Jiiikaaa... dia lebih daaaariiiku...Lebih baik untuk...mu....Ku bisa terima..”
Ilham menatap Dessy dari atas panggung, sebenarnya dia tak tega melihat Dessy terpuruk seperti ini, setelah apa yang menimpanya satu jam lalu, saat ia melihat cowo' pilihannya bersama dengan cewe' lain dan sekarang Ilham menyanyikan lagu yang benar-benar dia buat khusus untuk Dessy. Ia tau pasti apa yang di rasakan Dessy saat ini, sama seperti dirinya dulu, hati serasa pecah berhamburan. Bukan Ilham balas dendam, tapi ini memang sudah takdirnya...!!!
Lagi pula Ilham adalah cowo' yang tetap pada pendiriannya. Apa yang dikatakannya dulu pada Dessy, sama dengan apa yang dikatakannya sekarang lewat lantunan lagu.
__ADS_1
“Tapi biiilaa..Kau tak temukan bahagia...Kau harus bisa teri..ma...!" Dan jangan kembali...” Cewe' yang berada di rangkulan sahabatnya itu, kini menelungkupkan wajahnya ke bahu Rita.
“Jangan sesali... Hoo ooow... Jangan kembali...!!!”