
Tak berapa lama setelah itu, Made, Toni Adam, Nugroho dan Jhon langsung menubruk Ilham, disusul oleh Dilan, Sam, Wisnu dan para pemain Sekolah Perawat Kesehatan lainnya. Mereka benar-benar senang bisa memenangkan pertandingan. Bahkan ada yang menangis terharu karena peristiwa bahagia tersebut. Perjuangan mereka tak sia-sia selama ini. Keringat yang membanjiri baju mereka, rasa lelah yang hampir membuat mereka pingsan sudah tak berarti apa-apa setelah peluit wasit berbunyi.
"Ini semua karena elo, Ham!" kata Nugroho senang. "Kita benar-benar beruntung bisa mengenal elo sebagai teman dan kapten kami!"
"Tidak! Ini semua karena kerja sama kita semua!" kata Jhon sambil tertawa. "Kalau dari dulu kita tak berlatih keras, kita pasti tidak akan menang! Gue sangat berterima kasih kepada semuanya!"
Made mengangguk-angguk. "Ini juga karena Dilan. Dia yang membantu kita mengejar skor ketika Ilham cedera. Gue benar-benar tidak menyangka. Elo adalah pemain yang sangat hebat, Dil!"
Dilan tersenyum. "Ya, sama-sama. Maafkan gue ya, teman-teman. Gue salah dulu mengikuti keinginan Fauzi Rizal untuk menghancurkan kalian. Ternyata, kalian sangat baik. Seharusnya dari dulu gue tak begitu keras kepada kalian! Gue hampir saja merusak semuanya!"
Ilham tertawa kecil mendengarnya. Ia menepuk-nepuk pundak Dilan pelan.
"Itu sudah tak penting lagi, Dil. Yang penting sekarang kita berteman, oke? Masalah yang sudah berlalu biarlah menjadi pelajaran untuk kita semua." kata Toni Adam sambil tersenyum.
Dilan mengangguk, kemudian menyalami tangan Toni Adam.
"Eh, tapi kenapa elo tak mengatakan dari awal kalau selama ini Ilham tidak bersalah? Jhon, elo sudah tahu soal ini sebelum aku memergoki Dilan dan Fauzi Rizal, kan?" tanya Nugroho penasaran.
Jhon tertawa. Ia langsung menjitak kepala Nugroho. "Kepo sekali kau, Nugroho!"
"Aduh!" kata Nugroho langsung menggembungkan pipinya. "Gue kan hanya bertanya! Kalau waktu itu elo mengatakan yang sebenarnya kepada kami, konflik kita pasti selesai, tahu!"
"Jangan terlalu yakin," kata Jhon sambil tersenyum. "Bukankah waktu itu kau, Toni dan Made sangat ngotot bahwa Ilham yang bersalah? Walaupun ide awalnya dari gue, tapi kalau gue bilang yang sebenarnya di saat kalian marah, kalian pasti lebih marah lagi kepada gue karena menganggap gue mengada-ada untuk menyelamatkan Ilham. Gue benar, kan? Bukannya membuat suasana mencair, malah justru memanas." Jelas Jhon.
Seketika Nugroho, Toni Adam dan Made nyengir mendengar ucapan Jhon. Benar, mereka bertiga memang susah meredakan emosi jika sudah meledak. Apalagi dicampur dengan kekecewaan yang mendukung mereka.
"Benar juga sih." kata Nugroho sambil menggaruk-garuk tengkuknya malu.
"Makanya, jadi orang harus baik!" kata Dilan mencibir.
"Hei, speak for yourself, Dil!" Nugroho balik mencibir, sukses membuat Dilan rada ngambek.
__ADS_1
"Anak-anak, selamat ya!" Tiba-tiba Pak Ridwan hadir di tengah-tengah mereka bersama seseorang yang belum pernah mereka lihat.
"Terima kasih, Pak!" seru semuanya kompak.
"Pak, ini siapa?" tanya Made penasaran menatap orang yang ada di sebelah Pak Ridwan. Orang itu berpakaian formal. Wajahnya bulat dan tubuhnya kurus. Tingginya hampir sama dengan Pak Ridwan.
"Oh, ini adalah Pelatih Klub Basket Nasional Indonesia Muda di Jakarta. Namanya Pak Rusli. Mungkin kalian pernah mendengarnya," kata Pak Ridwan sambil tersenyum. "Dia ini sudah menonton kalian dari awal turnamen sampai final karena dia ingin merekrut beberapa pemain basket handal untuk seleksi pemain."
"Seleksi pemain?" tanya Toni Adam tertarik.
"Ya, Indonesia Muda rencananya ingin membentuk tim basket putra yang baru untuk kompetisi musim tahun depan. Setelah saya telusuri berbagai sekolah yang ikut dalam turnamen ini, saya telah mendapatkan beberapa orang di turnamen ini untuk ikut seleksi. Dan saya tertarik untuk mengajak kalian seleksi juga," kata Pak Rusli. "Bagaimana?"
"Serius?!" kata Nugroho girang. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Rasanya seperti mimpi bisa masuk seleksi klub basket nasional.
"Tentu saja. Jadi bagaimana, kalian mau?" tanya Pak Rusli lagi.
"Tentu saja kita mau!" kata Made dan Toni Adam kompak.
"Tentu saja, Jhon!" kata Dilan mengangguk mantap.
"Ham?" tanya Jhon.
Ilham hanya tersenyum menanggapinya.
"Berjuanglah dengan semangat, teman-teman. Gue akan sangat bangga melihat kalian menjadi pembasket nasional di kemudian hari."
"Tapi, elo juga ikut, kan?" tanya Nugroho.
Tak disangka, Ilham menggeleng. "Tidak, Nugroho. Gue tidak ikut."
Semuanya langsung tercengang mendengar keputusan Ilham. Semuanya tidak menyangka bahwa Ilham akan menolaknya. Bahkan setelah mereka berjanji dan berjuang untuk impian mereka berlima. Masuk ke liga nasional.
__ADS_1
"Tapi, kenapa, Ham?" tanya Jhon tak mengerti. "Bukankah dari dulu kita memiliki impian yang sama? Mimpi yang sama? Kenapa elo melepaskan kesempatan ini?" Tanya Jhon beruntun.
Ilham tersenyum. Ia menepuk pundak Jhon. "Jhon, gue meminta elo menjadi kapten bukan tanpa alasan. Dan gue sudah membulatkan keputusan gue".
"Keputusan apa?" tanya Nugroho penasaran.
"Pertandingan ini sudah berlangsung panjang, guys. Dan gue mendapatkan banyak pelajaran. Selain perjuangan, gue juga sadar, bahwa kalian sudah cukup kuat tanpa gue. Dan gue memutuskan Jhon dan Dilan bisa menjadi kapten White Team yang baru." kata Ilham sambil tersenyum.
"APA?!" teriak semuanya kaget.
"Ham, apa maksudmu dengan semua ini?" tanya Pak Ridwan heran.
"Pak, saya sudah menjalani perjalanan yang panjang dalam bidang basket. Dari perjuanganku meminta izin kepada Ayah agar tetap bisa bergaul dengan dunia basket, berjuang untuk melawan Fauzi Rizal, turnamen, dan juga mengenal banyak orang," kata Ilham. "Aku sadar, aku sudah menyusahkan banyak orang selama ini karena basket. Terutama Ayah. Karena itu, aku memutuskan untuk menjadikan basket sebagai hobiku saja. Untuk profesi... aku akan membantu Ayah menjalani bisnisnya dan fokus ke profesi kelak sebagai seorang Perawat Kesehatan." Jelas Ilham.
"Tapi... apa elo tidak merasa sayang, Ham?" tanya Made masih belum puas. "Selama ini elo telah menyatu dengan basket. Akan susah jika elo menjalani sesuatu yang tak elo suka."
Ilham tersenyum, kemudian ia menggeleng. "Gue yakin gue bisa, De. Ini semua untuk kedua orang tua gue. Lagi pula, sebentar lagi ujian. Gue harus fokus. Kadang-kadang kita memang harus bisa melepaskan keinginan kita. Walaupun kita memiliki jalan yang berbeda, gue tetap sahabat kalian, bukan?" Lanjut Ilham.
Jhon, Made, Toni Adam dan Nugroho menghela nafas kecewa.
"Kalau begitu, Jhon, Made, Toni Adam, Nugroho dan Dilan yang akan ikut?" tanya Pak Ridwan.
Yang merasa namanya disebut Pak Ridwan langsung mengangguk.
"Tapi, guys...," kata Jhon pelan, membuat semuanya menoleh ke arahnya. "Kalian tahu kan, gue setelah lulus ke Sekolah Perawat Kesehatan. Gue akan melanjutkan kuliah. Jadi, gue tidak akan ikut latihan lagi. Tidak apa-apa, kan?" Ucap Jhon.
"Apa?!" seru Toni, Nugroho dan Made syok. Sementara mata Ilham membesar.
"Jhon, elo... kenapa elo tak bilang dari dulu?!" kata Made syok.
Jhon nyengir.
__ADS_1